Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.
Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.
Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.
Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.
Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auvy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Ketiduran atau Keenakan?
Tepat pukul delapan pagi, Bela sudah berdiri mematung di depan pintu kamar hotel Melani. Perasaannya menggantung tidak karuan, seperti ada beban berton-ton yang menekan dadanya akibat kejadian di *basement* tadi pagi. Jantungnya masih berdebar setiap kali ia teringat detail kulit putih yang bergoyang liar di dalam Fortuner hitam itu.
Begitu pintu terbuka, Bela sempat menahan napas. Melani muncul dengan aura yang justru terlihat jauh lebih segar. Wajahnya berseri-seri, senyumnya lebar, dan binar matanya nampak sangat hidup seolah-olah skandal panas beberapa jam lalu itu tidak pernah terjadi. Tidak ada raut kelelahan, apalagi rasa bersalah. Melani nampak seperti wanita yang baru saja memenangkan lotre kehidupan.
Jadwal pagi ini adalah mengunjungi kafe baru untuk bertemu dengan manajer baru guna mendiskusikan teknis operasional. Namun, begitu mobil yang dikemudikan Bela memasuki area parkir kafe, napas Bela tercekat. Di sana, terparkir sempurna di dekat pintu masuk, sebuah Toyota Fortuner hitam dengan plat nomor yang sudah Bela hafal luar kepala.
"Loh, mobil ini kayak gak asing," batin Bela. Pikirannya langsung bekerja keras. Ia tahu Melani berselingkuh, tapi ia belum bisa memastikan siapa lawannya. Apakah manajer baru ini?
Kalau dilihat dari posisi parkirnya, mobil ini baru saja diparkirkan karena berada di posisi depan. Bela paham itu. Karena cafe ini punya tukang parkir khusus, setiap kendaraan disusun berdasarkan jam kedatangan. Jikalau cepat datang artinya berada di deretan dalam, jikalau baru maka berada di deretan depan dan paling luar.
Begitu masuk, mereka menuju ruang kantor yang terletak tepat di samping area kafe. Di sana, seorang pria sudah menunggu. Penampilannya rapi, berwibawa, dan usianya mungkin sekitar lima tahun di atas mereka. Namun, ada satu hal yang membuat Bela merasa gawat jikalau tebakannya benar. Karena masalahnya, sebuah cincin pernikahan melingkar di jari manis pria itu.
'Masa sih pria ini yang tadi pagi? Melani berselingkuh dengan suami orang?' Bela meradang dalam diam. Sangat disayangkan jika wanita sekelas Melani harus menjadi perusak rumah tangga orang lain.
"Sudah lama?" tanya Melani berbasa-basi dengan nada yang sangat akrab.
"Enggak, saya naik mobil kok, makanya sempat kena macet tadi di jalan. Ini juga baru sampai," jawab si manajer dengan nada santai.
Hanya berselang beberapa menit setelah obrolan dimulai, Melani tiba-tiba menoleh pada Bela. "Bel, bisa keluar sebentar? Ada diskusi internal yang sangat penting soal manajerial," pinta Melani dengan nada halus namun tegas.
Bela tertegun. 'Hmm, ada apa nih?' Sebagai asisten, biasanya ia dilibatkan dalam diskusi teknis. Kenapa tiba-tiba ia disingkirkan? Kecurigaannya semakin menggunung. Akhirnya, Bela keluar ruangan dan memutuskan untuk menunggu di area kafe. Namun langkah kakinya seolah dipandu oleh rasa penasaran, ia lalu kembali melewati area parkiran.
Bela merogoh saku celananya, membuka galeri ponsel, dan mencocokkan plat nomor mobil Fortuner itu dengan foto yang ia ambil tadi pagi. Sama persis. Tidak meleset satu huruf pun.
'Klik!'
Suara kunci pintu mobil terbuka disertai lampu hazard yang menyala kuning cerah membuat Bela tersentak. Seseorang mendekat. Bela langsung mematung, matanya menyisir area parkir, menunggu siapa yang akan masuk ke dalam perangkap kenyataan ini.
Dan... BOM!
Sebuah ledakan kenyataan menghantam kesadaran Bela. Ia salah mengira. Bukan sang manajer pemilik mobil itu, melainkan si Chef bule yang semalam berdiri di depan pintu kamar Melani. Pria itu masih memakai kemeja biasa, bergerak dengan terburu-buru membuka pintu mobil, lalu keluar membawa seragam koki kebanggaannya.
Bela menutup mulutnya yang menganga lebar. Ingatannya terlempar ke kejadian semalam.
'Apa dia sudah masuk ke kamar Melani semalam, tapi karena gue ada di sana jadi mereka enggak jadi ngelakuin itu? Makanya mereka pindah ke mobil subuh tadi?'
Bela segera menunduk dan berjalan cepat menuju kafe, berusaha pura-pura tidak melihat keberadaan sang Chef. Ia duduk di pojok, menutupi wajahnya dengan buku menu yang lebar, mencoba menenangkan pikirannya yang berantakan. Ia langsung teringat Raka. Pria itu secara tidak langsung sudah memberikannya amanah untuk memantau Melani, namun Melani punya trik yang terlalu licin untuk ditangkap mata awam.
"Oh, hei!" sapa seseorang.
Bela tersentak. Karena wajahnya tertutup buku menu yang ia pegang cukup tinggi, ia tidak menyadari ada seseorang yang sudah berdiri di depan mejanya. Begitu ia menurunkan buku menu, jantungnya hampir copot. Si Chef sudah duduk tepat di hadapannya dengan senyum santai.
Bela meneguk ludah, berusaha keras menyembunyikan rasa gugup yang membuat tangannya gemetar. "Oh, hai!" sapa Bela dengan senyuman kaku yang terlihat sangat dipaksakan. Dalam hati, ia mengumpat habis-habisan. Ia tidak ingin bicara dengan bajingan ini, tapi si bajingan inilah yang menghampirinya duluan.
"Kamu tidak bersama Ibu Melani?" tanya si Chef dengan aksen khasnya.
"Ibu Melani lagi diskusi sama pihak manajer di dalam. Saya disuruh keluar, katanya ada hal penting yang mau dibahas," jawab Bela jujur. Ia sengaja ingin melihat reaksi pria ini jika tahu Melani sedang berduaan dengan pria lain yakni sang manajer, di dalam ruangan tertutup.
Benar saja, usai ucapan Bela, si Chef langsung celingak-celinguk ke arah kantor dengan wajah yang mendadak penasaran dan sedikit tidak nyaman.
"Kamu shift siang atau gimana? Kok bajunya belum dipakai?" tanya Bela, melirik seragam koki yang masih tersampir di lengan pria itu.
Pria itu melirik bajunya, lalu menggaruk kepala yang tidak gatal sama sekali. "Oh, ini! Iya, saya terlambat soalnya ketiduran. Jadi harus ganti shift sama teman," jawabnya berusaha terlihat natural.
Dalam hati, Bela mencibir sinis.
'Ketiduran atau keenakan di basement sampai lemas?'
Bela menatap pria di depannya dengan pandangan yang kini jauh berbeda. Di balik wajah tampan dan bakat memasaknya, pria ini hanyalah seorang pencuri yang tengah menikmati milik orang lain di dalam sebuah mobil Fortuner yang bergoyang. Kebenaran, sesusah apa pun disembunyikan, memang selalu punya caranya sendiri untuk menampakkan diri dan Bela baru saja menyadari bahwa ia memegang sumbu dari ledakan yang bisa menghancurkan semuanya.