NovelToon NovelToon
Royal Route To Bukit Lawang

Royal Route To Bukit Lawang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / TimeTravel / Komedi / Cinta Murni / Mengubah Takdir
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ranu Kallanie Jingga

Enam tahun pengabdian dan cinta jarak jauh (LDR) berakhir sia-sia bagi Aurora. Ia didepak begitu saja lewat pesan singkat, diblokir dari seluruh aspek kehidupan sang mantan, dan digantikan oleh sosok "penjual kesedihan" yang ahli memanipulasi simpati. Luka itu dibawa pulang ke Medan, terkubur di balik kesuksesan yang ia bangun dalam diam.
​Tiga tahun berlalu, ego sang mantan akhirnya runtuh. Di bawah tekanan kebutuhan penelitian S3 ibunya di pedalaman Bukit Lawang yang keras dan rawan, ia terpaksa menelan ludah sendiri (mengubungi kembali nomor yg dulu ia blokir). Ia mengharapkan bantuan, mungkin sedikit rasa iba.
​Namun, yg ia temukan bukanlah mantan kekasih yg meratapi nasib.
​Aurora menerima permintaan itu dengan senyum paling tenang. Bukan dengan amarah, ia menyambut mereka dengan kemewahan yg tak pernah mereka bayangkan. Sebuah Hiace VVIP dengan kursi pijat elektrik menanti di bandara, dikawal oleh sahabat2 loyal dan seorang fotografer yg siap mengabadikan penyesalan sang mantan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema dari Masa Lalu

Jumat pagi di Medan selalu punya aroma yang khas—perpaduan antara udara lembap sisa hujan semalam dan keheningan yang sakral. Di atas sajadah, aku baru saja menyelesaikan salam terakhir saat ponsel di atas nakas bergetar hebat. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali, memecah kesunyian kamar yang biasanya tenang.

Aku menghela napas, melipat mukena dengan rapi sebelum meraih benda pipih itu. Layarnya menyala terang, menampilkan notifikasi yang sempat membuat jantungku berhenti berdetak sejenak.

> 4 Panggilan Tak Terjawab: Adrian

> 1 Pesan Baru: Adrian

Adrian. Nama yang setahun lalu kukunci rapat-rapat di gudang ingatan paling gelap. Pria yang memutus hubungan enam tahun kami hanya dengan satu paragraf dingin di WhatsApp saat aku sedang berjuang menahan rindu di perantauan, sebelum memblokir seluruh akses komunikasiku seolah aku adalah wabah yang harus dihindari.

Aku membuka pesannya.

“Aurora, maaf ganggu subuh-subuh. Aku tahu aku nggak berhak, tapi aku butuh bantuanmu. Ibu harus penelitian S3 di pedalaman Bukit Lawang hari Minggu besok. Katanya daerahnya rawan dan kami butuh kerabat atau orang lokal yang bisa jaga keamanan di sana. Kami sekeluarga (Ayah, Ibu, Nenek, dan adikku) sampai di Kualanamu Minggu jam 9 pagi. Oh iya, pacarku, Sherly, juga ikut. Tolong, Ra... aku nggak tahu harus minta tolong ke siapa lagi di Medan.”

Aku terdiam sejenak. Sherly ikut? Si penjual kesedihan yang merebut posisiku itu akan menginjakkan kaki di kotaku?

Alih-alih marah, sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirku. Ini bukan lagi tentang rasa sakit hati. Ini tentang martabat seorang Aurora.

Aku mengetik balasan dengan jempol yang sangat tenang:

“Oke, Dri. Kabari saja nomor penerbangannya. Biar aku yang atur semuanya dari sini. Sampai ketemu di hari Minggu.”

Misi Dimulai

Lupakan dendam kekanak-kanakan. Aku punya cara yang lebih berkelas untuk membalas enam tahun yang disia-siakan itu. Aku langsung mencari kontak Bram, sahabat karibku yang mengelola bisnis luxury rent car terbesar di Sumatera Utara.

"Halo, Bram? Ganggu tidurmu ya?" sapaku saat sambungan tersambung.

"Aurora? Tumben amat jam segini. Ada apa, Ra?" suara serak Bram terdengar di ujung telepon.

"Aku butuh Hiace Premio terbaru. Yang kasta tertinggi, yang kursinya sudah pakai pilot seat dan fitur pijat elektrik di setiap kursinya. Aku butuh dua supir paling rapi dan profesional yang kau punya. Hari Minggu jam 8 pagi sudah harus standby di rumahku."

"Wih, mau jemput menteri kau?" canda Bram.

"Lebih dari menteri. Aku mau menjemput 'penyesalan' seseorang," jawabku tenang namun tajam.

Setelah urusan transportasi beres, aku beralih ke kontak berikutnya:

Rico "The Flash".

Fotografer profesional yang gayanya lebih mirip model runway Paris daripada tukang potret hutan.

"Halo, Rico. Minggu pagi kosong?"

"Halo, Sayangku Aurora! Untukmu, jadwal pemotretan majalah pun aku geser. Ada apa nih? Mau bikin pre-wedding dadakan?" suara melengking Rico terdengar ceria.

"Bukan. Aku mau kau mendokumentasikan sebuah perjalanan penelitian ke Bukit Lawang. Bawa semua lensa terbaikmu. Aku ingin setiap detail, setiap ekspresi, dan setiap momen terekam dengan kualitas 4K. Kau akan ikut di dalam Hiace mewah."

"Bukit Lawang? Aduh, kulitku bisa eksotis kena matahari hutan. Tapi oke lah, kalau Hiace-nya mewah dan ada kau, aku berangkat! Siapa objeknya?"

Aku menatap pantulan diriku di cermin. "Keluarga mantan, Rico. Dan pacar barunya."

Di ujung telepon, aku bisa mendengar Rico menjerit tertahan.

"Oh... This is going to be a masterpiece! Aku siapkan kamera, dan aku siapkan mental mereka!"

​Sabtu malam di kediaman Adrian penuh dengan keriuhan yang canggung. Koper-koper besar terbuka di ruang tamu, berisi tumpukan baju lapangan dan tumpukan camilan—mulai dari kering tempe hingga roti kaleng—seolah-olah mereka akan pergi ke ujung dunia yang tak berpenghuni.

​Bagi keluarga Adrian, ini adalah sejarah. Penerbangan pertama mereka.

​Di sudut kamar, Adrian tampak gelisah, jempolnya terus mengusap layar ponsel yang menampilkan percakapan singkatnya dengan Aurora.

Ia masih tak percaya Aurora membalasnya dengan begitu tenang, bahkan menawarkan bantuan total.

​"Sayang, kamu yakin kita nggak perlu sewa mobil travel dari bandara saja?" tanya Sherly sambil melipat syal tipisnya.

Wajahnya yang sering dibuat-buat melankolis itu tampak berbinar.

"Aku takut nanti di sana susah sinyal, terus aku pusing kalau mobilnya panas."

​Adrian berdehem, menyembunyikan kegugupan.

"Sudah ada yang urus, Sher. Teman lama. Kamu tenang saja."

​Adrian sengaja tidak menyebut nama Aurora. Ia tahu, jika Sherly tahu bahwa mereka akan bergantung hidup pada wanita yang dulu ia depak demi "kesedihan" Sherly, perjalanan ini akan berubah menjadi drama sebelum dimulai.

​Di ruang makan, Ayah Adrian meletakkan kacamata bacanya setelah berjam-jam menatap artikel tentang hutan hujan tropis dan kerawanan akses di pedalaman Langkat. Wajahnya tegang.

​"Dri, sini kamu," panggil Ayahnya tegas.

​Ibu Adrian, yang sedang merapikan berkas penelitian S3-nya, ikut menoleh. Wajah sang Ibu tampak kaku.

Dulu, ia adalah orang pertama yang tidak setuju Adrian berhubungan dengan Aurora. Baginya, Aurora terlalu dominan, terlalu mandiri, dan sulit "disetir" sebagai menantu. Ia lebih menyukai Sherly yang penurut dan selalu butuh perlindungan.

​"Kenapa, Yah?" Adrian mendekat.

​"Ayah sudah baca semua referensi. Bukit Lawang itu bukan tempat main-main untuk penelitian dosen. Medannya berat, apalagi masuk ke zona penyangga. Kita butuh orang yang punya 'kaki' di sana. Orang yang disegani warga lokal dan tahu celah keamanan," ujar Ayahnya serius.

"Kamu sudah hubungi Aurora?"

​Adrian terdiam, melirik ke arah Sherly di ruang tengah.

"Sudah, Yah. Dia bilang dia yang atur."

​Sang Ibu mendengus kecil, meski ada raut lega yang disembunyikan.

"Kenapa harus dia? Memang tidak ada orang lain? Ibu malas kalau nanti dia merasa besar kepala karena kita butuh dia."

​"Bu," potong Ayahnya tajam.

"Buang ego Ibu. Ini soal keselamatan kita semua dan kelancaran gelar S3 Ibu. Di Medan, kita butuh kerabat yang kompeten. Dan Ayah tahu, Aurora itu anak yang cakap. Adrian, pastikan dia benar-benar menjemput. Jangan sampai kita terlantar di Kualanamu."

​Adrian hanya bisa mengangguk pasrah. Ia merasa seperti seorang pecundang yang baru saja membuang berlian, namun harus memohon kembali pada sang pemilik berlian karena ia tak sanggup membeli perlindungan.

​...

​Minggu, pukul 09.00 WIB.

​Pesawat mendarat di Bandara Internasional Kualanamu. Keluarga Adrian melangkah keluar dari garbarata dengan wajah pucat karena mabuk udara pertama kali, namun tetap berusaha terlihat bergaya.

Sherly menggandeng lengan Adrian dengan erat, sesekali mengeluh tentang suhu udara Medan yang mulai terasa menyengat.

​"Sayang, mana temannya? Katanya dijemput?" keluh Sherly sambil mengipas wajahnya dengan tangan.

​Ibu Adrian merapikan blazernya, matanya mencari-cari sosok Aurora yang mungkin akan datang dengan mobil kota kecil yang sudah tua—bayangan yang ada di kepala sang Ibu sejak dulu.

​Namun, di pintu kedatangan, bukan pemandangan itu yang mereka dapatkan.

​Seorang pria tinggi dengan kacamata hitam frame putih dan kemeja sutra motif tropis berdiri memegang papan nama besar bertuliskan:

"WELCOME VVIP GUEST OF MS. AURORA".

​Pria itu adalah Rico, yang berdiri dengan pose bak model Vogue, sementara di belakangnya, sebuah Toyota Hiace Premio hitam mengkilap dengan kaca gelap yang sangat elegan sudah terparkir di area penjemputan khusus.

​"Selamat pagi, keluarga Adrian?" sapa Rico dengan suara bariton yang dibuat-buat cool, namun gestur tangannya tetap tidak bisa menyembunyikan sisi kemayu yang estetik.

"Silakan, Nona Aurora sudah menunggu di rumah dengan jamuan istimewa. Mari, koper-kopernya biar asisten kami yang urus."

​Sherly ternganga melihat mobil mewah itu.

Ibu Adrian terpaku.

Adrian? Ia merasa dunianya baru saja berputar balik.

1
Anonymous
tuhkan bener kalo authornya ranu pasti plotwisnya banyak banget😍😍
Anonymous
firaannnnn sing eling firaannn😭😭
R_Bell
atasnya wanita surgawi, bawahnya wanita binal juga 🤣🤭
Durrotun Nasihah
karyamu luar biasa kak..../Rose//Rose//Rose/
Ranu Kallanie Jingga: Waah Makasih kak🤭
Tetap pantengin kelanjutannya ya kak😍
total 1 replies
Durrotun Nasihah
luar biasa kak ......semngat....
Ranu Kallanie Jingga: Terima kasih kak🤭😍
total 1 replies
Anonymous
sherly kata gue mending lu beneran tobat deh...
aurora ni kepribadian ganda ato gimana sih kadang dingin kadang welcome😭
Anonymous
sherly jadi kalem malah bikin curiga🙄😬
Ranu Kallanie Jingga: hihi trust issue bgt ya sama sherly😄
total 1 replies
Anonymous
aurora udh jadi mantan aja masih royal ke kluarga nya adrian apalagi kalo belum jadi mantan gak kebawang semewah apa🤭
nyesel banget deh tu si adrian lebih milih ulet bulu kaya sherly
Sinta Harianto
Suka dengan alur cerita nya
Ranu Kallanie Jingga: terima kasih kak
jangan lupa pantengin terus kelanjutanya ya😍🤭
total 1 replies
Andriani
lah katanya orang beriman. dhuha gak pernah tinggal... wih drama x ni cewek🤭
Allea
jalang banget sih si serly😑
Andriani
lanjut kk... bagus ni ceritanya... anak medan kereenn😍
Ranu Kallanie Jingga: siap kakk..
pantengin terus ya kelanjutannya🤭🤭

Salam Anak Medan...
HORAASSSS😍
total 1 replies
Fita Lidya
ak suka sindiranx😄
Anonymous
ayoo buruan lanjut lagi thor😍😍
Anonymous
pasti selalu banyak plot twisnya...
semoga endingnya aurora gak usah balikan sama adrian deh...
Ranu Kallanie Jingga: balikan gak yaaa hihi🤭
total 1 replies
Allea
semoga endingnya Aurora ga balik ma andrian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!