NovelToon NovelToon
ISTRIKU SANTRIKU

ISTRIKU SANTRIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: ZIZIPEDI

Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.

Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.

Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.

Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.

Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.

Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.

Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?

Ikuti kisahnya yuk...!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Hati Yang Patah

Suara Ibu Nyai Laila kembali terdengar, dari dalam, Anisa bersandar di dinding sembari meremas kantong yang berisi oleh-oleh.

“Romo… apa ndak sebaiknya pernikahan mereka dibatalkan saja?”

Kata dibatalkan itu seperti petir di siang bolong. Anisa yang masih berdiri di balik pintu terasa kehilangan pijakan.

“Toh kita tahu sejak dulu Hafiz bertahan ndak nikah-nikah itu karena apa…” lanjut Ibu Nyai, suaranya lebih pelan namun sarat makna. “Bukankah dia nunggu Afifah?”

Nama itu lagi.

Afifah.

Satu nama itu berhasil membuat dadanya sesak.

“Sekarang Afifah sudah pulang ke Indonesia. Studinya di Kairo sudah selesai. Bahkan jadi ustadzah di pondok ini. Kenapa ndak kita nikahkan saja Hafiz dengan Afifah…?”

Sunyi.

Tak ada jawaban langsung dari Kiai Arsyad.

Keheningan itu justru lebih menyakitkan daripada bantahan.

Seolah-olah… usulan itu bukan sesuatu yang mustahil. Seolah-olah… itu hanya perkara waktu dan keputusan.

Anisa memejamkan mata.

Ya Tuhan…

Apa lagi ini?

Kenapa di saat hatiku sudah terbuka lebar untuk Gus Hafiz…

di saat namanya sudah memenuhi seluruh ruang di dadaku…

kenapa justru ada rencana besar yang sedang mereka susun?

Napasnya gemetar.

Selama ini ia berusaha menata perasaannya sendiri. Meyakinkan diri bahwa ia tak berhak cemburu. Tak berhak berharap. Pernikahan mereka hanya karena keadaan.

Tapi hati tidak bisa diajak kompromi.

Cinta yang tak diundang pelan-pelan tumbuh.

Dan kini, sebelum sempat ia genggam erat, rasa cinta itu, seseorang sudah hendak melepaskannya.

Anisa mundur satu langkah.

Lalu satu langkah lagi.

Tas di tangannya terasa berat.

Ia datang dengan niat memberi kejutan.

Ingin membuktikan diri, sebagai menantu yang bisa dibanggakan.

Ingin berubah.

Ingin pantas.

Tapi rupanya, di dalam rumah itu, dirinya sedang dipertimbangkan untuk dilepas statusnya sebagai menantu.

Dengan satu gerakan cepat, ia berbalik.

Langkahnya tergesa menuruni serambi belakang. Ia tak ingin siapa pun melihatnya. Tak ingin ada yang tahu ia mendengar semuanya.

Begitu sampai di halaman, tangannya gemetar saat meraih ponsel.

Ia mengaktifkannya.

Layar menyala.

Puluhan notifikasi masuk bersamaan, termasuk beberapa panggilan tak terjawab dari satu nama.

Gus Hafiz.

Jantungnya mencelos.

Tapi ia tak membuka apa pun.

Ia langsung memesan taksi online.

Beberapa menit kemudian ia sudah berdiri di luar, jauh dari ndalem.

Matahari mulai condong ke barat.

Jam menunjukkan pukul tiga sore.

Tempat yang dulu ia anggap rumah… kini terasa seperti asing baginya.

Ia duduk di bangku halte kecil tak jauh dari gerbang pondok pesantren.

Dan untuk pertama kalinya sejak tadi, air matanya benar-benar jatuh.

Bukan setetes, bukan dua, tapi deras.

Wajahnya tertunduk, ia tahan semua rasa pedihnya sendiri. Bayangan masa kecilnya seketika berseliweran di benaknya.

“Kenapa… tak ada satu pun yang memberi tahu aku…?” suaranya pecah dalam bisikan.

Jika aku bukan anak kandung Mama Sarah…

Kalimat itu seperti luka baru yang belum sempat ia pahami.

Pertanyaan-pertanyaan itu tak punya jawaban.

Hanya jatuh ke tanah, bercampur dengan isak yang ia tahan mati-matian.

Ia teringat masa kecilnya.

Tatapan yang terasa berbeda.

Pelukan yang tak pernah benar-benar lama.

Pujian yang jarang sekali ia dapatkan.

Apakah selama ini ia memang hanya anak yang dititipkan… bukan yang dimiliki?

Anisa terisak, sesekali menyeka air matanya.

Suara mobil berhenti tepat di depannya.

“Mbak Anisa, ya?”

Anisa cepat-cepat menyeka wajahnya, meski jejak tangis masih jelas.

“Iya, Mas… ke loket bus ya.”

Sopir taksi online itu mengangguk.

Sore itu juga, tanpa pamit, tanpa bertemu siapa pun, tanpa setoran hafalan, tanpa kejutan. Ia kembali ke Jawa Tengah.

Sepanjang perjalanan menuju loket, ia menatap kosong pepohonan di pinggir jalan yang berkelebat.

Di dalam mobil itu tak ada obrolan. Tapi hatinya lah yang paling berisik.

Tentang darah yang tak pernah ia pilih.

Tentang pernikahan yang bisa saja dibatalkan.Tentang lelaki yang mungkin memang sejak dulu bukan untuknya.

Dan di dalam bus yang membawanya menjauh dari Jawa Timur, Anisa memeluk dirinya sendiri.

Kali ini ia benar-benar merasa sendirian.

Bukan karena tak punya teman.

Tapi karena untuk pertama kalinya ia sadar,

Ia mungkin tidak pernah benar-benar diinginkan.

Anisa kembali teringat pada obrolannya dengan Nabila, tentangnya kedekatan Gus Hafiz dan Ustadzah Afifah.

Jadi semua itu benar...? itu bukan gosip...?

Anisa meremas tas di pangkuannya, rasanya ia tak lagi punya kekuatan untuk sekedar bertanya, tentang kebenaran yang ia dengar.

Dan ucapan Ibu Nyai Laila, sudah cukup jelas baginya, tak ada yang perlu dipertanyakan, hanya tinggal dirinya lah yang harus mengambil sikap.

Bus terus melaju, membelah jalur Pantura yang padat.

Anisa membuka ponselnya, mencoba melihat pesan masuk yang Gus Hafiz kirim untuknya.

Semua berisi tentang pertanyaan.

"Gimana kabarmu...? kok nomornya ndak aktif?"

"Maaf, mas ndak bisa sambang."

"Nisa, Mas izin ke Jakarta selama 3 hari."

"Jaga pola makanmu, semangat hafalannya. Mas janji, selesai acara, mas langsung ke Kudus."

Anisa baca pesan itu satu persatu.

Jadi apa maksud dari semua perhatiannya?

Pertanyaan itu meluncur begitu saya dalam hatinya.

Tanpa sadar Anisa meremas ponselnya hingga jemarinya memutih.

Di tempat lain, Gus Hafiz menyipit saat melihat notifikasi dari ponselnya, saat chat-chatnya sudah terbaca dan centang dua biru.

Gus Hafiz tak membuang kesempatan, ia langsung menekan tombol panggil.

Lama nada sambung itu berdering, Gus Hafiz dengan gelisah menunggu panggilannya diangkat oleh Anisa.

"Angkat Dek..." gumamnya dengan nada frustasi.

Sementara Anisa menatap datar ke layar ponsel yang berdering di tangannya, ia tak mengangkat dan tak pula menyentuh layar pipih itu, ia hanya diam membisu.

Sampai pasangan duduknya menatap Anisa heran.

"Mbak, ponselnya bunyi." ujar Mas-Mas yang duduk di sebelahnya.

Anisa menoleh, hanya tersenyum.

"Iya Mas..." hanya itu jawabannya, tapi panggilan itu tetap dibiarkan hingga mati.

Dan beberapa suara panggilan itu kembali terdengar nyaring.

1
Elen Gunarti
huh mlai dilema
Pa Dadan
karyanya bagus
Simkuring, Prabu
mana kelanjutannya
Alim
akhirnya
Elen Gunarti
jujur lah Anisa biar semua jelas
Alim
😭😭😭
Listio Wati
mewek baca y
Elen Gunarti
huh nyesek bingot ceritay, double up Thor
Listio Wati
kasihan bener si anisa
Titik Sofiah
lanjut Thor
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
Elen Gunarti
ceritanya bgus tp up-nya lama Thor
Zizi Pedi: makasi kk🥰
total 1 replies
Elen Gunarti
kuintip bolak balik blm up🤭
Elen Gunarti
double up Thor 👍👍👍👍
Elen Gunarti
lanjut
Elen Gunarti
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!