NovelToon NovelToon
Menantu Pilihan Untuk Sang CEO Duda

Menantu Pilihan Untuk Sang CEO Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romantis / Diam-Diam Cinta / Duda / Romansa
Popularitas:129.1k
Nilai: 5
Nama Author: ijah hodijah

“Fiona, maaf, tapi pembayaran ujian semester ini belum masuk. Tanpa itu, kamu tidak bisa mengikuti ujian minggu depan.”


“Tapi Pak… saya… saya sedang menunggu kiriman uang dari ayah saya. Pasti akan segera sampai.”


“Maaf, aturan sudah jelas. Tidak ada toleransi. Kalau belum dibayar, ya tidak bisa ikut ujian. Saya tidak bisa membuat pengecualian.”


‐‐‐---------


Fiona Aldya Vasha, biasa dipanggil Fio, mahasiswa biasa yang sedang berjuang menabung untuk kuliahnya, tak pernah menyangka hidupnya akan berubah karena satu kecelakaan—dan satu perjodohan yang tak diinginkan.

Terdesak untuk membayar kuliah, Fio terpaksa menerima tawaran menikah dengan CEO duda yang dingin. Hatinya tak boleh berharap… tapi apakah hati sang CEO juga akan tetap beku?

"Jangan berharap cinta dari saya."


"Maaf, Tuan Duda. Saya tidak mau mengharapkan cinta dari kamu. Masih ada Zhang Ling He yang bersemayam di hati saya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ijah hodijah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Serunya refleks sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi Darrel.

Darrel tak bereaksi, matanya terpejam.

“Pantesan dari tadi napasnya berat… duh, demam,” gumam Fio panik.

Tanpa pikir panjang, ia turun dari ranjang, mengambil air hangat yang tersdia di kamar dan handuk kecil dari laci lemari.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap wajah Darrel yang biasanya tegas kini tampak lemah.

“Dingin-dingin gini, masih aja sok kuat,” bisiknya sambil menempelkan handuk ke dahi Darrel.

Fio menghela napas panjang.

Saat ia hendak bangkit untuk mengambil obat, tangan Darrel tiba-tiba menahan pergelangan tangannya.

Cengkeramannya hangat dan lemah.

“Jangan… pergi.” Suaranya parau, nyaris seperti bisikan.

Fio membeku sesaat.

Ia menatap wajah laki-laki itu — dingin, keras, tapi kini rapuh dan jujur.

“Iya, aku nggak pergi,” ucapnya pelan sambil tersenyum tipis.

Ia menatap Darrel beberapa detik lagi sebelum menghela napas.

“Kalau kamu sadar, kamu pasti malu ngomong gini, ya?” gumamnya, berusaha menahan tawa kecil.

Ia duduk bersandar di kepala ranjang, tetap menempelkan handuk di dahi Darrel.

Tangan Darrel belum melepaskannya.

Fio pun membiarkannya—sambil terus memperhatikan suhu tubuhnya yang perlahan menurun.

Hujan di luar makin deras, tapi kamar terasa hangat.

Hanya suara napas Darrel dan detak jantung Fio yang terasa.

Sampai akhirnya, Fio menguap kecil dan tanpa sadar ikut tertidur di posisi duduk, masih menggenggam tangan Darrel di atas selimut.

***

Pagi menjelang, Fio perlahan membuka mata, matanya terasa berat. Ia masih duduk bersandar di kepala ranjang — tapi... tunggu dulu.

Kepalanya ternyata bersandar di bahu Darrel,

dan tangan Darrel masih menggenggam tangannya dengan posisi tidak bisa ke mana-mana.

Deg.

Fio langsung membuka matanya penuh.

Ia menatap ke samping — Darrel masih memejamkan mata, napasnya tenang, wajahnya dekat banget.

“Ya ampun… jangan bilang semalaman gue tidur begini?” bisiknya panik.

Ia mencoba menarik tangannya pelan-pelan.

Tapi justru Darrel malah menggenggam lebih erat.

“Duh, Tuan Duda, kamu ini kenapa sih? Sakit aja masih posesif.” gumamnya setengah kesal, setengah malu.

Tiba-tiba…

Darrel bergerak sedikit, matanya terbuka perlahan. “Udah bangun?” suaranya berat tapi tenang.

Fio langsung kaku.

“Oh, kamu udah sadar? Hehe… aku cuma ngecek suhu kamu aja. Udah nggak panas, kan? Nih, aku lepas dulu ya—”

Belum sempat Fio menarik tangannya, Darrel menatapnya datar. “Terima kasih sudah jagain,” ucapnya pelan, tapi tatapannya bikin jantung Fio hampir copot.

“Eh, iya… sama-sama. Tapi, tolong lain kali kalau demam tuh bilang, jangan sok kuat. Aku capek loh duduk semalaman,” katanya sambil mencoba menutupi wajahnya yang memerah.

Darrel menatapnya, lalu pelan-pelan menegakkan posisi duduknya. “Kenapa kamu nggak tidur di sofa?” tanyanya datar.

“Lah, kamu pikir aku bisa ninggalin pasien yang megang tanganku kayak gini?” jawab Fio cepat.

Darrel terdiam. Hanya menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengalihkan pandangan dan…

tersenyum kecil — sekilas, tapi jelas.

Fio langsung menunjuk wajahnya, “Eh! Tuan Duda… kamu senyum ya? Kamu senyum barusan!”

Darrel buru-buru menoleh ke arah lain. “Enggak.”

“Ih, bohong. Aku liat kok, kamu senyum! Akhirnya kulkas-nya mencair juga!” goda Fio sambil terkekeh.

Darrel menghela napas panjang, menahan diri untuk tidak ikut tertawa. “Fio…”

“Hm?”

“Berisik.”

Fio langsung manyun. “Terserah! Pokoknya aku mendapatkan momen langka hari ini, kamu senyum, dan itu... lucu banget.”

Darrel hanya menggeleng pelan, tapi kali ini senyumnya benar-benar muncul — tanpa bisa disembunyikan.

***

Setelah basa-basi pagi ala Fio, Fio langsung sibuk di dapur, masih dengan rambut berantakan dan hoodie kebesaran milik Darrel yang semalam ia pinjam.

“Perfect!” gumamnya sambil menata sarapan di nampan: bubur hangat, segelas air putih, dan roti isi keju.

Ia melangkah pelan ke arah kamar Darrel, lalu menaruh nampan itu di meja kecil di samping Darrel. Lelaki itu masih terbaring, wajahnya tampak pucat tapi tetap memancarkan aura tenang.

“Darrel,” panggil Fio pelan sambil menepuk pundaknya. “Bangun dulu, sarapannya udah siap.”

Darrel membuka mata perlahan. “Kamu nggak kuliah?” suaranya serak tapi lembut.

“Sebentar lagi berangkat. Nih, makan dulu. Aku bikin bubur pakai cinta dan sedikit rasa iba,” jawab Fio sambil nyengir.

Darrel hanya menatap tanpa ekspresi, tapi sudut bibirnya nyaris bergerak. “Rasa iba?”

“Iya. Soalnya kasian banget lihat kamu lemes begitu, kayak ayam abis kehujanan.”

Darrel mendesah pelan, mencoba duduk. Fio buru-buru membantu, lalu menyodorkan sendok. “Pelan-pelan aja. Aku tahu kamu sok kuat, tapi jangan pura-pura sehat juga.”

Selesai makan, Fio bersiap-siap ke kampus. Tapi baru saja ia menenteng tas, Darrel sudah berdiri sambil merapikan kemejanya.

“Lho? Kamu ngapain, Darrel?”

“Ke kantor. Sekalian antar kamu,” jawabnya datar sambil meraih jas.

Fio mematung. “Serius? Kamu aja masih kelihatan pusing tuh.”

Darrel mengabaikannya, menatap kaca lalu merapikan rambut. Tapi baru dua langkah, tubuhnya sedikit oleng.

“Eh, papi tunggu aja di rumah—”

Plak!

Darrel menjitak kepala Fio pelan tapi cepat. “Jangan panggil aku itu!”

Fio menunduk sambil menahan tawa. “Hehe… refleks. Soalnya kamu kelihatan kayak papa muda yang maksa kerja biarpun sakit.”

Darrel mendengus, tapi rona tipis muncul di pipinya. “Kamu tuh, ngomongnya selalu seenaknya.”

“Ya udah, istirahat aja ya. Aku pergi dulu.”

"Gak. Aku juga ada meeting."

"Kan bisa digantikan. Jangan alasan." ucap Fio sok galak.

Tapi bukan Darrel namanya, dia cepat mengambil tas kerjanya dan melangkah mendahului Fio.

"Fiuhh... Tuan kulkas gue emang gitu."

Setelah gagal menahan Darrel untuk tetap di rumah, Fio akhirnya menyerah. Lelaki itu sudah berdiri di depan mobilnya dengan kemeja putih, jas hitam, dan wajah yang meski masih sedikit pucat, tetap terlihat gila tampan.

“Darrel, sumpah deh, kamu tuh keras kepala banget. Tadi malam masih panas, sekarang maksa nganter aku. Mau pingsan di parkiran?” omel Fio sambil menenteng tas.

Darrel hanya menjawab tenang, “Aku cuma mau memastikan kamu sampai kampus dengan selamat.”

“Kayak aku nggak bisa jalan sendiri aja,” gerutu Fio, tapi diam-diam pipinya memanas.

Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Di sepanjang perjalanan, Fio berusaha mencairkan suasana, sementara Darrel diam—tapi sesekali melirik lewat sudut mata setiap kali Fio menatap ponselnya sambil senyum-senyum.

“Chat siapa?” tanya Darrel tiba-tiba.

“Ha? Enggak, grup kelas aja.”

“Yang ada dosen tampan itu?” sindirnya dengan nada dingin.

Fio spontan terbatuk. “Lho, kamu tahu dari mana?”

“Dari caramu senyum,” jawab Darrel datar.

Fio mendengus, “Oh jadi kamu cemburu?”

“Enggak,” jawabnya cepat. Tapi rahangnya menegang dan tangannya sedikit menggenggam stir lebih erat dari biasanya.

Fio hanya terkekeh, “Iya deh, enggak cemburu—padahal mukanya udah kayak mau sidang kasus pembvnvhan.”

Mobil berhenti di depan gerbang kampus. Beberapa mahasiswa mulai melirik ke arah mereka, terutama ke Darrel yang turun untuk membukakan pintu Fio. Penampilannya yang elegan dan tatapannya yang dingin langsung menarik perhatian.

Begitu Fio melangkah ke halaman kampus, dua teman sekelasnya yang kebetulan baru datang langsung menghampiri.

“Fio! Eh—itu siapa yang nganter? Astaga, pacar baru ya?” goda Sella dengan suara setengah berbisik tapi cukup nyaring untuk membuat Darrel menoleh sekilas.

Fio cepat-cepat gelagapan. “Bukan! Itu cuma... teman rumah!”

“Teman rumah?” Sella menaikkan alis. “Kalo teman rumah seganteng itu, gue rela ngekos di situ juga deh.”

Fio hanya nyengir sambil mendorong bahu Sella. Tapi belum sempat ia menjawab, suara berat yang familiar terdengar dari arah tangga fakultas.

“Selamat pagi. Kelas kalian sudah siap presentasi, kan?”

Semua mahasiswa spontan menoleh. Pak Dastan—dosen baru yang tampan sekaligus dikenal dengan tatapannya yang tajam—berdiri dengan tangan di saku, mengenakan kemeja biru muda yang digulung di lengan.

“Gila… makin hari makin cakep tuh dosen,” bisik Sella.

“Dan makin bikin deg-degan,” tambah temannya, Tira, yang sudah menyembunyikan catatan di balik punggung.

Fio hanya diam, tapi jantungnya berdetak sedikit lebih cepat—bukan karena Pak Dastan, melainkan karena tatapan Darrel dari kejauhan. Lelaki itu belum beranjak, masih berdiri di sisi mobil, memperhatikan dengan wajah datar namun tajam.

Begitu melihat Fio menyapa Pak Dastan, Darrel mengetukkan jarinya di kemudi. Tatapannya menyipit, ekspresinya menegang—antara menahan sesuatu dan tidak suka.

Dari kejauhan, Fio sempat melirik dan berbisik pada dirinya sendiri, “Duh, yang satu senyum bikin jantung deg-degan, yang satu diam aja udah bikin napas susah…”

***

Fio berdiri di depan kelas dengan napas yang sedikit tidak stabil. Jantungnya berdetak cepat bukan cuma karena gugup mau presentasi, tapi juga karena bayangan seseorang yang tadi masih berdiri di depan kampus — Darrel.

Dosen tampan itu, Pak Dastan, berdiri menyandarkan diri di meja dosen sambil menatap ke arah kelompok Fio. Tatapannya tajam tapi penuh wibawa, membuat semua mahasiswa perempuan secara otomatis menegakkan duduk dan pura-pura membuka laptop padahal cuma supaya terlihat sibuk.

“Kelompok selanjutnya, silakan dimulai,” ujar Pak Dastan dengan suara baritonnya yang tenang tapi menusuk.

“B–baik, Pak,” jawab Fio sambil menatap layar.

Bersambung

1
Ilfa Yarni
akhirnya darrel dapat jg yg dimau making love sama istri tp dpt gangguan trus hbs dikantor sih🤗
Ilfa Yarni
seneng deh liat mereka sangat serasi dan darrel sangat sabar menghadapi kehamilan fio ga sabar ya nunggu fio lahiran dan darrel punya baby yg udah lama ditunggu 2
Ilfa Yarni
bahahaha begitulah ibu hamil rel maunya anehh aneh km. harus siap menghadapinya
Putri Anghita Tera Vita
ka kemana aja baru up? are you oke ka
Ijah Khadijah: Huhu... Terima kasih🙏
total 1 replies
Ilfa Yarni
fio yg ceria walaupun punya seribu luka dia tetap berusaha ga hancur siapa yg ga bucin coba ga ada yg bisa menghancurkan rmh tangga mereka krn mereka punya luka walaupun luka itu berbeda mek aalingemahami dan saling menguatkan bahagia slalu mereka othor kmn ajaaa?
Ijah Khadijah: Maaf kak🙏
total 1 replies
Lyana
belum ada up lagi ya thor
Ijah Khadijah: Sudah kakak. Ditunggu ya, masih ditinjau🙏🥰
total 1 replies
Wati Anja
ceritanya menarik, ada lucu" nya,
Francisca
kapan up lg ini 😍
mheldaaa
ini kapan up lgi thor
Ilfa Yarni
iya knp emangnya km mau ngusik rmh tgga mereka apa
Atmita Gajiwi
akhirnya bisa baca lanjutannya
mheldaaa
kapan up lgi thor🥺🥺🥺😭😭😭
mheldaaa: please up thor ku😭😭😭😭😭
total 3 replies
Alby Raziq
kenapa Vivian sll jadi pengganggu sih thor
Aurel
lanjut 😍 semangat
Miu Miu 🍄🐰
lagi Thor biar GK pnsrn tingkat dewa ni
Ilfa Yarni
lah bu rania malah pingsan liat respek kan kabar bahagia bu ga nyangka kali ya darrel bakal punya anak
Neni Sumartini
saking syok nya Bu Rania pingsan,gak nyangka anaknya bakal punya anak
Lyana
nah bener kan mama pingsan 🤭🤭🤭
Neni Sumartini
kenapa itu si mantan gangguin darel terus sich,kemana keluarganya
Ilfa Yarni
lah itu sudah vivian knp ganggu trus zuami km kmn masak minta tolong sama Farrel enak aja km urus aja anakmu sendiri atau km punya maksud lain darrel jg skr hrs Ektra kasih perhatian sama istrinya krn lg hamil tau ga km urus aja urusanmu sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!