NovelToon NovelToon
Senja Di Ruang Kelas

Senja Di Ruang Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Laila Kim

Mengangkat sudut pandang unik dari perspektif guru yang terjebak dalam hubungan dengan dua murid sekaligus, mempertanyakan apakah dirinya korban atau pemangsa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Masa Lalu Kembali

Satu bulan berlalu sejak Rizky dan Sasha memutuskan untuk "kenalan lebih dekat". Waktu yang cukup singkat, tapi cukup untuk membuat Rizky menyadari satu hal: Sasha berbeda. Ia bukan Ima, dan Rizky tak lagi mencari Ima dalam dirinya.

Pagi itu, Rizky tiba di sekolah lebih awal. Ada rasa bersemangat yang sudah lama tak ia rasakan. Ia membeli dua kotak susu di kantin, satu untuk dirinya dan satu untuk Sasha. Kebiasaan kecil yang mulai terbentuk dalam sebulan terakhir.

Wira yang melihatnya dari kejauhan hanya bisa menggeleng-geleng sambil tersenyum. "Lo tuh kayak anak SMA pada umumnya, Zky. Baru punya gebetan, langsung rajin begini."

Rizky melempar senyum. "Diem lo. Lo iri?"

"Iri? Gue?" Wira mendengus. "Gue tuh lega, Zky. Akhirnya lo move on juga."

Rizky tersenyum tipis. Move on. Kata itu dulu terasa mustahil. Tapi sekarang, dengan Sasha, perlahan ia mulai percaya bahwa hidup memang harus terus berjalan.

Sasha datang dengan langkah cepat, rambutnya diikat ekor kuda, wajahnya segar meskipun matanya sedikit sembab—tanda begadang semalam. Langsung ia duduk di samping Rizky tanpa basa-basi.

"Nih, susu." Rizky menyodorkan kotak susu itu. "Lo kelihatan capek."

Sasha menerimanya dengan senyum lebar. "Makasih, Zky. Iya, semalem begadang ngerjain tugas sejarah. Lo tahu sendiri Bu Dewi suka kasih tugas numpuk."

Wira menyeringai. "Padahal mah begadangteleponan sama Zky, kan?"

Sasha melempar sedotan ke arah Wira. "Iseng lo! Emangnya kita apa, pacaran?"

Rizky dan Sasha bertukar pandang. Ada kehangatan di situ, tapi juga kecanggungan. Mereka belum berani menyebut diri sebagai pacar. Masih dalam tahap "kenalan lebih dekat", seperti yang mereka sepakati.

Tapi semua orang di kelas sudah tahu. Dari cara mereka duduk berdekatan, cara Sasha selalu menyisakan tempat untuk Rizky, cara Rizky selalu membawakan jajan kesukaan Sasha. Jelas. Tak perlu diucapkan.

---

Jam pelajaran pertama berlalu dengan cepat. Rizky yang dulu sering melamun memikirkan Ima, kini lebih fokus. Nilainya mulai membaik. Ia bahkan mulai aktif bertanya di kelas—sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.

Wira yang melihat perubahan itu hanya bisa berdecak kagum. "Cinta bikin orang jadi rajin, ya?"

Istirahat kedua, Sasha mengajak Rizky ke taman belakang sekolah. Tempat yang dulu sering jadi lokasi pertemuan rahasia Rizky dengan Ima. Awalnya Rizky ragu, tapi Sasha meyakinkannya.

"Tempat ini sepi. Cocok buat ngobrol," kata Sasha.

Mereka duduk di bangku taman, di bawah pohon rindang. Udara siang terasa hangat, tapi masih nyaman.

"Zky, aku mau nanya sesuatu." Sasha memainkan ujung roknya. Matanya menunduk.

"Apa?"

"Kita ini... apa, sih?" Sasha mengangkat muka, menatap Rizky. "Aku nggak mau maksa, tapi aku perlu tahu. Biar aku nggak salah langkah."

Rizky diam sejenak. Pertanyaan itu sederhana, tapi berat. Karena jawabannya akan menentukan arah hubungan mereka.

"Sha, jujur... gue masih takut."

"Takut sama apa?"

Rizky menghela napas. "Takut sakit lagi. Takut kecewa lagi. Lo tahu sendiri, gue baru aja keluar dari hubungan yang... berantakan."

Sasha mengangguk pelan. "Aku tahu. Dan aku nggak akan maksa lo."

"Tapi gue juga nggak mau kehilangan lo." Rizky menatapnya. "Gue seneng sama lo, Sha. Beneran. Lo bikin gue ngerasa... hidup lagi."

Sasha tersenyum. Senyum yang hangat.

"Tapi gue belum siap buat pacaran. Belum siap buat status." Rizky menggenggam tangannya. "Lo mau nggak, jalanin ini pelan-pelan aja? Nikmatin prosesnya? Nggak usah buru-buru dikasih label?"

Sasha menatapnya lama. Lalu ia tertawa kecil.

"Apa?"

"Lo lucu, Zky." Sasha menggeleng-geleng. "Kebanyakan cowok tuh kabur kalau ditanya status. Lo malah minta jalanin pelan-pelan."

Rizky bingung. "Maksud lo?"

"Maksudku, aku setuju." Sasha meraih kedua tangannya. "Aku nggak butuh status, Zky. Aku butuh lo. Butuh waktu bareng lo. Butuh kejujuran lo. Status bisa nanti."

Rizky lega. Luar biasa lega.

"Makasih, Sha."

"Sama-sama. Tapi ingat, kalau nanti lo udah siap, aku yang pertama harus tahu. Oke?"

Rizky mengangguk. Mereka berpelukan di bawah pohon itu, di tempat yang dulu menjadi saksi bisu dosa masa lalu Rizky. Kini, tempat yang sama menjadi saksi awal yang baru.

---

Sore harinya, sepulang sekolah, Rizky dan Sasha memutuskan untuk nongkrong di kafe dekat sekolah. Kafe kecil dengan nuansa vintage, tempat favorit anak-anak muda di kota itu. Wira ikut serta, meskipun ia tahu ia akan jadi "lampu ketiga" sepanjang sore.

"Gue jadi inget jaman dulu," Wira berkata sambil menyeruput cappuccino-nya. "Dulu lo kalau sore begini pasti ke rumah Bu Ima. Sekarang ke kafe sama Sasha. Progres banget."

Rizky menyenggol Wira. "Lo jangan ngomong gitu, Ra. Masa lalu biarlah lalu."

Sasha tertawa. "Nggak apa, aku nggak cemburu sama masa lalu. Yang penting sekarang dia sama aku."

Wira mengangkat jempol. "Sasha tuh cewek idaman, Zky. Jangan sampai lepas."

Rizky tersenyum, meraih tangan Sasha di bawah meja. Tangannya hangat, dan Sasha membalas genggamannya.

Mereka mengobrol sampai sore berganti senja. Tentang sekolah, tentang masa depan, tentang mimpi-mimpi. Sasha ingin kuliah desain grafis di Bandung. Rizky masih bingung, tapi mulai tertarik dengan teknologi informasi. Wira, seperti biasa, ingin jadi pengusaha sukses.

"Pokoknya nanti kalau gue udah sukses, lo berdua harus kerja sama gue," ujar Wira dengan gaya bos. "Gue gaji tinggi."

Sasha tertawa. "Aamiin. Tapi jangan lupa, jangan jadi bos galak, ya."

Mereka tertawa bersama. Hangat. Bahagia.

---

Malam itu, Rizky pulang ke kost dengan perasaan ringan. Ia membuka laptop, mencoba mengerjakan tugas yang sudah menumpuk. Ponselnya bergetar. Sasha mengirim pesan selamat malam seperti biasa. Rizky membalasnya sambil tersenyum.

Hidup terasa baik-baik saja. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa damai.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi. Sebuah pesan dari nomor yang sangat ia kenal—nomor yang sudah ia hapal di luar kepala, meskipun sudah berbulan-bulan tak muncul di layar ponselnya.

"Rizky... Ima kangen."

Rizky membeku. Ponsel itu seperti tersengat listrik di tangannya. Ia membaca pesan itu berulang kali, tak percaya.

Ima? Ima menghubunginya? Setelah berbulan-bulan diam? Setelah ia susah payah berusaha move on?

Tangannya gemetar saat mengetik balasan. "Ima?"

Tak lama, balasan masuk. "Iya. Ini Ima. Ima pake nomor baru. Ima... Ima udah pisah sama Heru."

Dunia Rizky berhenti berputar.

"Apa?"

"Ima cerita nanti. Tapi Ima lagi di kota. Di rumah lama. Bisa ketemu?"

Rizky membaca pesan itu berulang kali. Pikirannya kacau. Ima ada di kota. Ima pisah dengan suaminya. ma minta ketemu.

Di saat yang sama, bayangan Sasha melintas di kepalanya. Sasha yang tadi sore menggenggam tangannya. Sasha yang setia menunggunya sembuh. Sasha yang menerima masa lalunya apa adanya.

Tapi di sisi lain, ada Ima. Perempuan pertama yang membuatnya merasakan cinta. Perempuan yang menjadi dosa terindah dalam hidupnya.

Rizky tak tahu harus memilih.

---

Keesokan harinya, Rizky tak bisa konsentrasi. Sepanjang pelajaran, pikirannya melayang ke Ima. Ia belum membalas pesan Ima. Belum memutuskan akan menemui atau tidak.

Wira yang melihat kegelisahannya langsung curiga. "Lo kenapa, Zky? Dari tadi melamun terus. Sasha sampai nanya-nanya."

Rizky menghela napas. "Ra... gue harus cerita sesuatu."

Mereka berdua duduk di taman belakang, tempat yang sama seperti dulu. Rizky menceritakan semuanya. Tentang pesan Ima. Tentang perasaannya yang kacau.

Wira mendengarkan dengan serius. Setelah Rizky selesai, ia diam beberapa saat.

"Zky, gue cuma mau nanya satu hal. Lo masih sayang Ima?"

Rizky diam. Ia tak tahu jawabannya.

"Kalau lo masih sayang, lo harus jujur sama Sasha. Dia berhak tahu. Dia berhak memutuskan mau bertahan atau pergi."

"Tapi gue nggak mau nyakitin dia."

"Justru kalau lo bohong, itu yang lebih nyakitin." Wira menatapnya tajam. "Gue tahu ini berat. Tapi lo harus hadapi."

Rizky menghela napas. Wira benar. Ia harus jujur pada Sasha.

---

Sore itu, Rizky mengajak Sasha bertemu di kafe tempat mereka biasa nongkrong. Sasha datang dengan ceria, tapi begitu melihat ekspresi Rizky, senyumnya langsung luntur.

"Ada apa, Zky? Kok muka lo serius banget?"

Rizky meraih tangannya. "Sha, gue harus cerita sesuatu. Dan ini mungkin bakal nyakitin lo."

Sasha diam, menunggu.

Rizky menceritakan semuanya. Tentang pesan Ima. Tentang Ima yang kembali. Tentang perasaannya yang kacau.

Sasha mendengarkan tanpa memotong. Wajahnya berusaha tenang, tapi Rizky bisa melihat matanya mulai berkaca-kaca.

Setelah Rizky selesai, Sasha diam lama. Lalu ia berkata dengan suara bergetar, "Jadi... lo masih sayang dia?"

"Gue nggak tahu, Sha. Jujur, gue nggak tahu."

Sasha menghela napas. Ia melepas genggaman tangan Rizky.

"Lo harus cari tahu, Zky. Sebelum lo mutusin apa pun, lo harus tahu perasaan lo sendiri." Ia menatap Rizky. "Temui dia. Bicara. Cari tahu apa yang lo rasakan."

Rizky terkejut. "Lo nyuruh gue temui dia?"

"Aku nggak nyuruh. Aku minta lo jujur sama diri lo sendiri. Kalau lo masih sayang dia, lebih baik lo tahu dari sekarang. Daripada nanti kita makin dalam, dan lo malah nyesel."

"Tapi Sha..."

"Aku sayang lo, Zky. Makanya aku nggak mau lo nyesel di kemudian hari." Air mata Sasha jatuh. "Tapi kalau setelah ketemu dia, lo milih dia... aku akan mundur. Dengan lapang dada."

Rizky terharu. Ia meraih Sasha dan memeluknya erat.

"Makasih, Sha. Makasih udah ngerti."

Sasha membalas pelukannya. "Cepet selesain, ya. Aku nggak bisa nunggu lama-lama."

---

Malam itu, Rizky mengirim pesan pada Ima. "Besok sore. Di rumah lama."

Balasan Ima cepat. "Ima tunggu."

Rizky mematikan ponsel dan merebahkan diri di kasur. Pikirannya kacau. Besok, ia akan bertemu Ima. Perempuan yang mengubah hidupnya. Perempuan yang membuatnya jatuh dan bangkit kembali.

Ia tak tahu apa yang akan terjadi. Tapi satu hal yang ia tahu, apa pun keputusannya nanti, ia harus siap dengan konsekuensinya.

---

Sore berikutnya, Rizky berdiri di depan rumah Ima yang lama. Rumah yang dulu sering ia kunjungi diam-diam. Rumah saksi bisu dosa-dosa mereka.

Pintu terbuka. Ima berdiri di sana, dengan gamis panjang dan hijab, wajahnya lebih kurus, lebih pucat dari yang Rizky ingat. Tapi matanya masih sama—hangat, sendu, dan penuh arti.

"Rizky..." bisik Ima.

Rizky tak bisa berkata-kata. Ia hanya mematung, menatap perempuan yang pernah sangat ia cintai.

"Ima... lo kurusan."

Ima tersenyum getir. "Iya. Banyak pikiran." Ia membuka pintu lebar-lebar. "Masuk."

Rizky masuk. Rumah itu masih sama, tapi terasa lebih hampa. Tak ada foto-foto pernikahan di dinding. Tak ada sepatu laki-laki di teras.

Mereka duduk di ruang tamu, berhadapan. Ima menuangkan air minum untuk Rizky.

"Cerita, Ima. Kenapa lo bisa di sini? Kenapa lo pisah sama Heru?" tanya Rizky.

Ima menghela napas. "Heru... dia tahu anak itu bukan darah dagingnya. Tes DNA udah keluar. Dan dia... nggak bisa terima."

Rizky diam. Ia sudah menduga ini akan terjadi.

"Dia minta cerai. Ima nggak bisa nolak. Ima yang salah." Ima menunduk. "Sekarang Ima di sini, tinggal di rumah ini sendirian. Dan Ima... kangen kamu."

Rizky menatapnya. Perasaannya campur aduk.

"Rizky, Ima tahu lo udah punya Sasha. Ima tahu lo udah move on. Tapi Ima nggak bisa bohong. Ima masih sayang kamu."

"Lo nggak bisa datang begitu aja, Ima. Hidup gue udah berubah. Gue udah punya Sasha."

"Ima tahu. Dan Ima nggak minta lo ninggalin dia." Ima meraih tangannya. "Ima cuma minta... jangan buang Ima dari hidup lo. Ima terima jadi apa pun. Teman. Sahabat. Atau... apa pun."

Rizky menghela napas. Ini rumit. Sangat rumit.

"Ima, gue perlu waktu. Gue harus mikir."

Ima mengangguk. "Ima ngerti. Ambil waktu lo. Ima nggak akan ke mana-mana."

---

Rizky pulang dengan kepala pusing. Dua perempuan. Dua pilihan. Sasha yang setia menemaninya sembuh. Ima yang menjadi cinta pertamanya.

Ia duduk di kamar kost, memandangi langit-langit. Ponselnya bergetar. Sasha.

"Gimana?"

Rizky membalas: "Rumit, Sha. Kita perlu bicara."

Balasan Sasha: "Besok di sekolah. Istirahat pertama. Aku tunggu."

Rizky mematikan ponsel. Malam itu, ia tak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi dua wajah—Sasha dan Ima.

Satu pertanyaan terus menghantuinya: Siapa yang benar-benar ia inginkan?

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!