NovelToon NovelToon
Hatiku Di Gondol Sang Duda

Hatiku Di Gondol Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Duda
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Kisah tentang cinta yang tak memandang usia, tentang keberanian menerima masa lalu seseorang, dan tentang dua hati yang memilih bersama meski dunia sempat meragukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Sore itu, untuk pertama kalinya mereka keluar bersama sebagai pasangan suami istri.

Bukan ke tempat romantis.

Bukan makan malam mewah.

Hanya ke supermarket dekat komplek.

Hal sederhana.

Tapi terasa penting.

Dira mendorong troli kecil. Andreas berjalan di sampingnya. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.

Masih ada sisa percakapan siang tadi yang menggantung.

“Ambil sayur,” kata Dira datar.

Andreas berhenti di depan rak hijau-hijauan. Wajahnya benar-benar bingung.

Ia memegang satu ikat daun panjang.

“Ini bayam atau kangkung?”

Dira menoleh, lalu tak bisa menahan tawa.

“Kamu serius nggak bisa bedain?”

“Aku anak kantor, bukan anak pasar.”

Dira menggeleng sambil tersenyum.

“Itu kangkung. Bayam daunnya lebih lebar dan batangnya beda.”

Andreas menatap dua ikat sayur di tangannya seperti sedang mengerjakan soal ujian.

“Kenapa bentuknya mirip semua?”

“Karena kamu nggak pernah perhatiin.”

Dira mengambil satu ikat bayam dan memasukkannya ke troli.

Andreas memperhatikan cara Dira memilih sayur. Memencet sedikit batangnya. Melihat warna daunnya.

“Kamu sering belanja sendiri?”

“Dari dulu,” jawab Dira ringan.

Andreas terdiam.

Ia baru sadar… perempuan di sampingnya ini terbiasa mandiri. Terbiasa mengurus sendiri.

Mungkin itu sebabnya tadi pagi ia kecewa.

Karena ia ingin merasa tidak sendirian lagi.

Lorong yang Lebih Tenang

Mereka lanjut ke bagian bumbu dapur.

“Ambil bawang putih sekilo?” tanya Andreas.

Dira langsung menoleh tajam.

“Kita bukan buka warung.”

Andreas tersenyum kecil.

“Maaf. Aku nggak tahu takaran normal rumah tangga.”

Dira menghela napas pelan, tapi kali ini tidak kesal.

“Pelan-pelan aja. Kita belajar.”

Kalimat itu terdengar lebih lembut dibanding pagi tadi.

Andreas menatapnya.

“Dir… soal tadi siang—”

Dira berhenti mendorong troli.

Mereka berdiri di antara rak saus dan kecap.

“Sudah,” kata Dira pelan. “Kita bahas nanti di rumah. Jangan di lorong sambal.”

Andreas hampir tertawa.

Suasana mencair sedikit.

Saat mereka sampai di kasir, Andreas otomatis mengeluarkan dompet.

Dira menatapnya.

“Kita bagi aja.”

Andreas menggeleng.

“Kali ini aku.”

Dira ingin membantah, tapi melihat wajah Andreas yang serius, ia diam.

Bukan soal uang.

Tapi soal tanggung jawab.

Keluar dari supermarket, kantong belanja ada di tangan Andreas.

Langit mulai gelap.

Angin sore berhembus pelan.

Untuk beberapa langkah, mereka berjalan berdampingan tanpa bicara.

Di depan rumah, Andreas berhenti sebentar.

“Mulai hari ini” katanya pelan, “kita isi dapur ini bareng-bareng. Jangan ada yang merasa sendirian.”

Dira menatapnya.

Angin sore membuat beberapa helai rambutnya bergerak.

“Kita lihat saja,” jawabnya pelan.

Tidak manis.

Tidak dingin.

Malam Harinya dapur kecil itu jadi hidup.

Suara tumisan terdengar.

Aroma bawang putih memenuhi ruangan.

Andreas berdiri di samping Dira, mencoba membantu.

“Potongnya gini?”

“Jangan terlalu tebal! Itu bawang, bukan kentang!”

“Ya ampun, cerewet.”

“Belajar!”

Mereka saling melempar komentar ringan.

Dan ketika akhirnya masakan sederhana itu jadi—nasi hangat, tumis sayur, dan telur dadar—

Andreas duduk di meja makan kecil.

Ia mencicipi suapan pertama.

Terdiam.

Dira langsung panik.

“Kenapa? Nggak enak?”

Andreas menggeleng pelan.

“Enak.”

Sederhana.

Tapi cara dia mengucapkannya membuat dada Dira terasa hangat.

“Aku nggak pernah makan di rumah sendiri dengan suasana begini,” lanjut Andreas pelan.

Dira menatapnya.

“Begini gimana?”

“Ada yang masak. Ada yang nungguin di meja. Rasanya… beda.”

Sunyi sebentar.

Bukan sunyi canggung.

Tapi sunyi yang mulai nyaman.

Malam itu, saat lampu kamar dimatikan, Dira tidak lagi merasa seperti tamu.

Ia masih grogi.

Masih canggung.

Tapi tidak lagi asing.

Dalam gelap, Andreas berkata pelan,

“Terima kasih sudah bikin rumah ini terasa hidup.”

Dira tersenyum kecil, meski Andreas tidak bisa melihatnya.

Dan untuk pertama kalinya, mereka tertidur bukan sebagai dua orang asing yang terpaksa menikah—

Tapi sebagai dua orang yang sedang belajar tumbuh bersama.

Dira duduk di kasur, bersila, masih memikirkan banyak hal.

Andreas duduk di sisi lain, bersandar ke sandaran ranjang. Jarak mereka tidak terlalu jauh, tapi belum sepenuhnya dekat.

Beberapa menit hening.

Lalu Dira iseng membuka laci nakas di samping tempat tidur.

Awalnya hanya charger dan buku kecil.

Tapi di bagian bawah, ada satu amplop tipis.

Dira menariknya perlahan.

Sebuah foto.

Di foto itu, Andreas berdiri berdampingan dengan seorang perempuan. Keduanya mengenakan pakaian formal. Wajah mereka terlihat… dekat.

Dira membeku.

Tangannya sedikit gemetar.

Perempuan di foto itu terlihat anggun. Berdiri di samping Andreas dengan senyum yang tampak tulus.

“Ini siapa?” suara Dira pelan, tapi jelas.

Andreas menatap foto itu lama. Wajahnya berubah—bukan marah, bukan panik. Tapi seperti seseorang yang membuka luka lama.

“Itu… mantan istriku.”

Dira membeku.

“Istri?” ulangnya pelan.

Andreas mengangguk.

“Aku pernah menikah.”

Sunyi memenuhi kamar.

Dira tidak menyangka. Ia pikir hanya hampir menikah. Tapi ini lebih dari itu.

“Kenapa… bisa gagal?” tanya Dira hati-hati.

Andreas menarik napas panjang. Tatapannya kosong, seperti kembali ke masa lalu.

“Karena dia selingkuh.”

Kalimat itu jatuh berat.

“Dengan siapa?”

Andreas menutup mata sebentar.

“Dengan teman dekatku sendiri.”

Jantung Dira terasa tercekat.

“Aku tahu semuanya setelah beberapa bulan menikah,” lanjut Andreas pelan. “Awalnya aku nggak percaya. Sampai akhirnya aku lihat sendiri.”

Nada suaranya tetap tenang, tapi ada getar yang tidak bisa disembunyikan.

“Kamu… memaafkan?” tanya Dira lirih.

“Aku mencoba. Tapi setiap lihat dia, yang aku lihat bukan istri… tapi pengkhianatan.”

Hening lagi.

“Akhirnya kami bercerai,” katanya singkat.

Tidak ada air mata.

Tidak ada drama.

Hanya luka yang sudah lama dipendam.

Dira perlahan meletakkan foto itu kembali ke laci.

“Kenapa kamu masih simpan fotonya?”

Andreas terdiam beberapa detik.

“Bukan karena aku masih cinta. Tapi itu pengingat. Supaya aku nggak naif lagi.”

Jawaban itu membuat dada Dira terasa campur aduk.

“Jadi… kamu takut percaya lagi?” tanya Dira.

Andreas tersenyum tipis.

“Takut? Iya. Tapi lebih tepatnya… aku hati-hati.”

Ia menatap Dira dalam-dalam.

“Makanya waktu kita menikah… aku nggak mau langsung menuntut apa-apa. Aku tahu rasanya dikhianati. Dan aku nggak mau kita mulai dengan kebohongan.”

Dira menelan ludah.

“Aku nggak akan selingkuh.”

Kalimat itu spontan keluar.

Andreas tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan.

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya, Dira melihat sisi Andreas yang rapuh.

Bukan pria tenang yang terlihat kuat.

Tapi laki-laki yang pernah dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.

Dira berkata pelan,

“Mungkin kita memang nikah karena keadaan. Tapi aku nggak mau pernikahan ini jadi pelarian dari luka.”

Andreas menatapnya lama.

“Dan aku nggak mau kamu jadi korban dari ketakutanku.”

Sunyi.

Lalu Dira tersenyum kecil.

“Kita berdua sama-sama pernah dipermalukan ya.”

Andreas tersenyum pahit.

“Iya. Bedanya, kamu dipermalukan di depan orang banyak. Aku dipermalukan diam-diam.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!