Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.
Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.
Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.
Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.
“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”
Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Bayangan di Bawah Festival
Kabar hilangnya Ma Kang menyebar seperti api liar di hamparan rumput kering Puncak Awan Dalam.
Dalam dua hari, Balai Hukuman telah mengirim lusinan murid penegak hukum untuk membalikkan setiap jengkal tebing utara. Fakta bahwa seorang murid Foundation Establishment bisa lenyap tanpa jejak perlawanan membuat para Tetua mulai waspada.
Di dalam Gua Nomor 99, Lin Xuan duduk bersila. Ia sedang menuntun untaian Qi murni untuk membersihkan sisa-sisa energi campuran dari pembunuhan terakhirnya, ketika Mata Batin nya menangkap fluktuasi Qi yang agresif mendekati pintu guanya.
"Mereka datang," bisik Gu Tianxie dari dalam cincin. "Sembunyikan pilar-pilarmu. Tekan auramu sampai terlihat seperti sumur kering."
Lin Xuan menarik napas panjang. Sembilan pilar hitam di Dantian-nya seketika berhenti berputar, tenggelam ke dalam lautan Qi yang sunyi. Ia membiarkan sedikit energi kotor merembes ke meridian lengan kanannya, membuatnya terlihat rusak parah seperti diagnosis Tetua Feng sebelumnya.
BOOM!
Pintu batu gua seberat ribuan jin itu ditendang hingga hancur berkeping-keping. Debu batu berterbangan memenuhi ruangan sempit yang lembap tersebut.
Tiga sosok melangkah masuk menembus kepulan debu.
Di depan mereka adalah Wang Long. Sang jenius angkuh itu kini terlihat jauh lebih pucat dan kurus. Lengan kanannya dibalut kain perban tebal yang dibasahi obat spiritual, tergantung tak berdaya di sisinya. Mata Wang Long cekung, dipenuhi urat merah kebencian yang menyala-nyala. Di belakangnya, dua murid senior dari Balai Hukuman berdiri dengan pedang terhunus.
"Mu Chen," suara Wang Long bergetar, perpaduan antara kemarahan dan rasa muak.
Lin Xuan perlahan membuka matanya. Ia tidak berdiri, tidak pula menunjukkan rasa takut. Wajahnya sedatar permukaan danau beku.
"Ada urusan apa Tuan Muda Wang merobohkan pintu guaku?" tanyanya pelan.
"Jangan berlagak bodoh, Sampah!" bentak Wang Long, melangkah maju. "Sepupuku, Ma Kang, menghilang tadi malam di dekat tebing utara. Gua busukmu ini adalah satu-satunya tempat dalam radius dua li dari lokasi terakhirnya. Apa yang kau dengar? Atau... apa yang kau lakukan?!"
Lin Xuan terdiam sejenak, lalu mengangkat lengan kanannya yang gemetar. Urat-urat di lengannya tampak menghitam dan mengerut ilusi sempurna dari meridian yang hancur.
"Tuan Muda Wang terlalu meninggikan saya," jawab Lin Xuan dengan nada pasrah yang sangat meyakinkan. "Tetua Feng sendiri yang mengatakan fondasi saya hancur. Jangankan membunuh kultivator Foundation Establishment, memegang pedang dengan tangan kanan saja saya tidak bisa lagi."
Wang Long menatap lengan kanan Lin Xuan. Melihat kondisi lengan yang menurut pandangannya bahkan lebih parah dari lengannya sendiri, kebencian Wang Long sedikit tergantikan oleh kepuasan yang kejam.
"Hah," Wang Long mendengus sinis. "Kau benar. Sepupuku mungkin bodoh, tapi dia tidak akan mati di tangan orang cacat sepertimu. Tetua Feng berkata kau menyia-nyiakan Pil Pembentuk Dasar hanya untuk memperpanjang napasmu. Benar-benar anjing yang menyedihkan."
Salah satu murid penegak hukum maju. "Tuan Muda Wang, tidak ada jejak perkelahian atau fluktuasi Qi di sekitar sini. Hantu Malam itu pasti pembunuh bayaran tingkat tinggi dari luar sekte. Tidak mungkin murid rendahan ini pelakunya."
Wang Long meludah ke lantai gua. "Ayo pergi. Udara di sini membuatku mual. Mu Chen, berdoalah kau mati karena meridianmu membusuk sebelum aku menemukan waktu untuk menyiksamu."
Ketiga orang itu berbalik dan pergi, meninggalkan serpihan pintu batu yang hancur.
Lin Xuan menatap punggung Wang Long yang menjauh. Di matanya, Wang Long sudah bukan lagi ancaman. Ia hanyalah orang mati yang kebetulan masih bisa bernapas. Jika bukan karena perhatian Tetua sekte yang sedang tinggi, kepala Wang Long sudah terpisah dari lehernya malam ini juga.
"Satu masalah terlewati," batin Lin Xuan. Ia melambaikan tangan kirinya, menciptakan penghalang Qi tipis untuk menutupi pintu gua yang hancur. "Sekarang, tinggal masalah yang sebenarnya."
Satu hari kemudian. Malam Festival Leluhur.
Puncak Utama Sekte Awan Hijau bermandikan cahaya lampion emas. Suara gong perunggu dan lonceng batu giok bergema menembus lautan awan. Ribuan murid berkumpul di alun-alun utama, bersujud menghadap patung raksasa pendiri sekte. Para Tetua duduk di altar tertinggi, meminum arak spiritual dan mendiskusikan pemahaman Dao mereka.
Penjagaan di seluruh sekte berada pada titik paling longgar dalam setahun.
Di sudut paling gelap dari Hutan Darah Hitam area terlarang di belakang Puncak Awan Dalam bayangan malam tampak hidup.
Lin Xuan berdiri di bawah pohon pinus raksasa yang daunnya berwarna ungu kehitaman. Ia mengenakan jubah tempur ringkas. Pedang besinya terikat erat di punggung, dan topi capingnya menyembunyikan wajahnya yang sedingin malam.
Angin berdesir pelan, membawa keharuman manis yang mematikan.
Bai Qing'er melangkah keluar dari balik kabut. Ia tidak lagi mengenakan jubah merah sektenya yang mencolok, melainkan pakaian ketat berwarna hitam sutra yang membentuk lekuk tubuhnya dengan sempurna, memudahkannya bergerak di dalam kegelapan. Sebuah topeng perak menutupi bagian atas wajahnya, menyisakan bibir merahnya yang tersenyum tipis.
"Tepat waktu," sapa Bai Qing'er. "Aku ragu kau bisa keluar dari guamu setelah Wang Long menghancurkan pintunya."
"Hanya anjing yang menggonggong ke arah bayangan," jawab Lin Xuan datar. "Di mana pintunya?"
Bai Qing'er tidak membuang waktu. Ia berjalan mendekati tebing batu cadas yang tertutup tanaman rambat beracun. Dari lengan bajunya, ia mengeluarkan empat buah bendera kecil berwarna merah darah. Ini adalah Bendera Formasi.
Dengan gerakan tangan yang sangat cepat dan rumit, Bai Qing'er melemparkan keempat bendera itu ke udara. Jari-jarinya membentuk segel Dao, mengalirkan Qi Yin murni ke dalamnya.
Wuuush!
Keempat bendera itu menancap di dinding tebing dalam pola persegi. Seketika, dinding batu padat itu beriak seperti permukaan air yang dilempar batu. Sebuah ilusi formasi pelindung perlahan memudar, menampakkan sepasang pintu perunggu raksasa setinggi sepuluh meter yang berkarat oleh waktu.
Di tengah pintu perunggu itu, terdapat sebuah cekungan kecil berbentuk persegi panjang, diapit oleh ukiran tengkorak manusia yang mengeluarkan aura kematian yang sangat pekat.
"Formasi Ilusi Tingkat Bumi," gumam Gu Tianxie di kepala Lin Xuan. "Tetua sekte ini menutupi pintu makam dengan baik. Jika kau menyentuhnya tanpa bendera formasi tadi, kau akan hangus menjadi abu."
Bai Qing'er menoleh ke arah Lin Xuan, mengulurkan telapak tangannya. "Tokenmu, Tuan Pembunuh."
Lin Xuan merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan token besi hitam bertuliskan "Eksperimen". Alih-alih memberikannya pada Bai Qing'er, Lin Xuan melangkah maju dan menempelkan token itu sendiri ke cekungan di pintu perunggu.
Klang.
Token itu pas dengan sempurna.
Tiba-tiba, mata ukiran tengkorak di pintu itu menyala merah. Suara gesekan logam yang memekakkan telinga terdengar dari dalam bumi. Pintu perunggu raksasa itu perlahan bergeser terbuka, menghembuskan angin dingin yang berbau darah busuk ribuan tahun.
Kegelapan absolut menanti di balik pintu itu. Bahkan cahaya bulan pun seolah tertelan begitu melewati ambang pintu.
Bai Qing'er menatap lorong gelap itu dengan mata berbinar. "Makam Darah Abadi. Tempat peristirahatan terakhir Patriark Seribu Tulang. Legenda mengatakan, barang siapa yang bisa menyerap Kolam Sumsum Darah di intinya, akan mendapatkan fondasi yang tak bisa dihancurkan oleh Petaka Surgawi manapun."
Lin Xuan menyipitkan matanya mendengar kalimat terakhir. Petaka Surgawi. Wanita ini benar-benar tahu apa yang terjadi di malam ia membentuk pilar. Ia sengaja memancingnya dengan sesuatu yang tidak bisa ia tolak.
"Aku akan masuk lebih dulu," kata Lin Xuan. Dengan Tulang Besi Hitamnya, ia adalah tameng berjalan yang sempurna untuk jebakan fisik. "Tetap di belakangku. Jika kau mencoba melakukan trik formasi dari punggungku..."
Lin Xuan menoleh sedikit, menatap mata Bai Qing'er. "...kau akan menjadi mayat pertama yang dikubur di makam ini setelah ribuan tahun."
Bai Qing'er tertawa pelan, suara tawanya menggema di ambang pintu makam. Ia melangkah maju, merapatkan tubuhnya tepat di belakang Lin Xuan hingga bahu mereka nyaris bersentuhan.
"Jangan khawatir," bisik Bai Qing'er di dekat telinga Lin Xuan. "Aku sangat menghargai nyawa rekan kerjaku... setidaknya sampai aku mendapatkan apa yang aku inginkan."
Bersama-sama, dua iblis muda itu melangkah masuk ke dalam kegelapan. Di belakang mereka, pintu perunggu raksasa itu bergeser kembali, tertutup rapat dengan dentuman keras, mengunci mereka di dalam perut bumi bersama ribuan mayat dan rahasia kuno yang telah terlupakan.