NovelToon NovelToon
Fattah Possessive Badboy

Fattah Possessive Badboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kapten cantik

DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!

"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.

Ngerti?"

"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"

"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________

Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.

Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.

Kecuali satu...

Aqqela Calista.

Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.

Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Kabur Dari Fattah

KRINGGG!!!

Bel pulang sudah berbunyi.

Ratusan murid SMA Taruna Jaya Prawira kini berlarian keluar kelas termasuk Aqqela bersama tiga teman barunya.

"Gue balik duluan, ya! Mau ke ruang OSIS juga soalnya," pamit Aqqela.

"Oh, mau ketemu Arsen, ya? Elo jadi join OSIS?" tebak Aya.

"Jadi." Aqqela mengangguk, "Bye semuanya!"

"Hati-hati, Qell!" seru Catu di balas acungan jempol oleh gadis itu sambil berlari kecil.

Aqqela berbelok di koridor dan merekah menemukan Arsen yang berdiri di depan ruang OSIS sambil merunduk ke map-nya.

"Arsen!" panggilnya membuat cowok itu mendongak, "Gimana katanya pak Bondan? Bisa nggak?"

"Bisa." Arsen mengangguk kalem, menyerahkan map di tangannya ke Aqqela, "Itu di isi sama di baca yang teliti! Besok kasih ke gue!" katanya datar

"Oh, oke-oke. Makasih, ya!" Aqqela merunduk membaca isi di dalam map.

"ARSEN!"

Aqqela dan Arsen menoleh. Sosok gadis cantik berambut coklat mendekat.

"Langsung pulang nggak?"

"Bentar!" Arsen menoleh ke Aqqela lagi, "Ada yang masih di tanyain?"

Aqqela mengerjap, "Oh, enggak ada kok."

"Gue duluan kalau gitu! Ayo, Ra!"

Nazera menatap Aqqela sebentar dan tersenyum ramah, "Duluan ya, kak!"

"Iya. Hati-hati!"

Aqqela memperhatikan keduanya.

Walau tampak cuek, Arsen terlihat berusaha menyamakan langkahnya dengan Nazera yang menyerocos heboh. Tapi berikutnya cewek itu tersandung kakinya sendiri, tak sampai jatuh, tapi segera di tatap galak Arsen, membuatnya cengengesan tanpa dosa.

Lucu.

Aqqela terkekeh dan langsung ikutan beranjak pergi menuju ke lobby depan yang ramai.

Ting!

Aqqela berhenti, merogoh sakunya mencari ponsel.

Langit: Aku udah di depan sekolah

kamu.Keluar!

Dia mendongak, melihat gerbang yang kini ramai oleh para gadis yang berteriak histeris.

"OLIVER! I LOVE YOU!"

"Ganteng banget sih, Oliv? Sampai bergetar rahim ini ya Allah."

"Oliver, tanggung jawab! Hati gue cenat-cenut kayak lagunya SMASH."

Aqqela ternganga pelan.

Bahkan adik kelas sampai nemplokin mukanya ke pagar, ingin melihat Oliver.

Aqqela langsung mendekat, membuat cewek-cewek jadi langsung diam dan bisik-bisik.

"Hai!"

Aqqela balas tersenyum, "Kirain aku nggak jadi. Kamu nggak chat soalnya."

"Jadi, dong. Masa aku bohong?" kata Oliver menyodorkan helm.

"Tapi nanti anterin ke sini lagi, ya! Aku bawa mo-maksudnya anterin aku ke asrama."

Hampir keceplosan.

Oliver mengangguk, "Aman."

Aqqela sendiri sibuk dengan pengait helm, "Susah banget masuknya," keluhnya.

"Sini, aku pakein!"

Oliver menariknya mendekat dan membantu mengaitkan helm, membuat para cewek meleleh envy.

"Makasih!" Aqqela langsung naik ke atas motor Oliver, "Let's go!" ucapnya menepuk bahu cowok itu.

Oliver menoleh ke belakang, "Peluk, dong!" pintanya, membuat Aqqela terkekeh.

"Yey, peluk pacar," katanya sambil memeluk perut Oliver.

Pemuda itu mengulum senyum lebar di balik helm fullface-nya, kemudian menarik gas motornya pergi.

***

Hari ini, mereka telah melakukan banyak hal, bahkan sampai malam.

Mulai dari menonton film, main di timezone, makan dan keliling mall berdua.

"Kamu happy nggak di sini?" tanya Oliver mengusap kepala Aqqela.

Gadis itu diam sebentar, "Iya, aku happy kok.

Kamu sendiri gimana?"

"Nggak happy. Jakarta Pusat nggak seru lagi karena nggak ada kamu," katanya mengeluh.

Aqqela tertawa geli sambil berjalan di mall lantai tiga, "Lebay."

"Nggak lebay. Orang beneran," kata Oliver, lalu menoleh ke penjual ice cream.

"Eh, kamu mau ice cream nggak?"

Aqqela langsung merekah, "Boleh."

"Tunggu, ya!" Oliver langsung berlari ke kedai ice cream di salah satu stand.

Aqqela memandangi cowok itu sambil tersenyum kecil. Lalu tak lama kemudian, Oliver berlari mendekatinya sambil membawa dua ice cream.

"Ice cream coklat untuk nona Aqqela yang paling cantik sedunia," kata Oliver dengan ekspresi bahagia.

Aqqela jadi meledakkan tawanya, menerima ice cream itu, "Gombal."

"Enggak gombal, dih. Emang cantik."

Aqqela meringis ceria, "Kamu sosweet banget. Aku jadi sayang, deh."

"Ya harus, dong. Masa nggak sayang?" protesnya.

Aqqela mengulum senyum, "Kamu cinta aku, ya? Cinta banget?"

Oliver malah dengan sengaja membuat bibirnya belepotan ice cream vanilla sambil merogoh saku mencari ponselnya.

Aqqela mendelik, "Orang di tanyain, malah sibuk-"

Cup

Aqqela membulatkan matanya saat pipinya tiba-tiba di cium Oliver dan mengarahkan ponselnya ke mereka, memotrenya, membuat Aqqela merasakan tangannya dingin akibat ice cream itu.

"Hm, cinta banget."

"Oliver!" pekik Aqqela menginjak kakinya membuat Oliver mengaduh kesakitan.

"Sakit yang, astaga."

"Orang lagi di mall malah cium-cium pipi aku. Kotor loh," omelnya sambil mengelap pipinya yang terkena ice cream.

"Oh, jadi kalau di tempat sepi, mau? Ngomong, dong!" Oliver mengerling, membuat Aqqela menatapnya sangar.

"Stop halu!" kata Aqqela dan beranjak pergi membuat Langit mendelik.

"Kamu marah beneran? Maaf, deh! Bercanda doang tadi," katanya menyusul.

Aqqela tetap membuang muka.

"Aqqela! Aku minta maaf! Ya udah, ini fotonya aku hapus, beneran," ucapnya sudah memelas, "Jangan marah, ya!"

Aqqela menipiskan bibir, melirik sinis Oliver yang menatapnya sok polos. Aqqela membuang wadah ice cream ke tong sampah, di ikuti Oliver.

СТАК!!

"Awh!" ringis Oliver saat kepalanya di jitak keras oleh Aqqela.

"Kalau bisa ngejar aku, aku maafin!" kata Aqqela tertawa sambil berlari kabur membuat Oliver terkekeh geli dan mengejarnya cepat.

Para pengunjung mall sampai menoleh kaget melihat dua anak SMA itu kejar-kejaran.

Beberapa tersenyum geli, melihat Aqqela histeris saat Oliver berhasil menangkapnya dan mengangkatnya dari belakang.

"Yey, terbang!" kata Oliver tertawa lebar sambil mengangkat tubuh Aqqela.

Aqqela memekik panik takut di lempar tiba-tiba, "Oliver, turunin! Nanti jatuh."

Oliver terkekeh dan menurunkan Aqqela, "Gemesin banget sih kamu," katanya menarik gregetan pipinya.

"Oh, ya? Jolina sama Vicky apa kabar?"

"Jolina sih nanyain kamu tadi. Aku jawab kamu pindah. Dia juga minta nomor baru kamu," balas Oliver.

"Kalau Vicky gimana?"

Oliver mengerjap pelan, mengusap pangkal hidungnya sambil menatap ke arah lain, "Nggak tau, ya."

"Titip salam ya buat mereka! Bilangin, kapan-kapan aku main ke sana."

Oliver mengangguk pelan.

"Pulang, yuk! Udah malam." Aqqela beranjak duluan menuruni eskalator.

Oliver menipiskan bibir dan mengikuti. Ekspresi wajah bahagia yang semula tercipta, kini berubah jadi murung.

"Kamu kenapa? Mukanya kok bete gitu? Kesel ya sama aku?"

Oliver menggeleng sambil memainkan lidah di dalam mulutnya, "Aku boleh tanya nggak?"

"Tanya apa?"

"Kalau suatu hari nanti, kamu tau kalau ternyata aku salah dan kesalahan itu terlalu fatal, kamu bakalan gimana?"

ya?" Alie Aqqela terangkat, "Kamu lagi selingkuh,

Oliver mendelik, "Enggak, lah."

"Terus, kenapa tanya gitu?"

"Pengen tau aja. Kamu bakal maafin atau malah benci aku?"

"Tergantung kesalahannya." Aqqela mengulum bibir berpikir, "Tapi kalau terlalu fatal, mungkin aku benci kamu."

Oliver menghembuskan napasnya pelan dengan bahu menurun sedih.

"Tapi aku mungkin bakalan maafin kamu. Walaupun kata maaf nggak bisa ngehapus salah jadi bener, tapi kalau kamu tulus minta maafnya, itu bisa melewati ukuran dunia tau."

"Oh, ya?" Oliver langsung merekah.

"Iya."

"Aku jadi seneng deh sekarang," kata Oliver merangkul Aqqela, kemudian merengkuhnya erat dan di tekan gemas, membuat Aqqela memekik kaget, walau teriakannya terbenam di dada cowok itu.

Di sisi lain, Noel yang sedang berkencan dengan pacar nomor tiga belasnya jadi tersentak dan berhenti kaget.

"Baby, kenapa?" tanya pacarnya.

"Sebentar ya Berlian-"

"Nama aku Mutiara," desis si perempuan tajam, "Siapa Berlian? Pacar kamu yang lain?"

"Ma-maksud aku, kamu berlian di hatiku, Ra.

Bentar, ya!" kata Noel sambil merogoh saku mencari HP dan memotret Aqqela diam-diam.

Cekrek!

Noel langsung mengirimkan foto itu ke Fattah.

Noel: [Send a picture]

Noel: Say cheeseeeee! Anak SMA lagi

pacaran.

***

PRANG!!!

Piring bekas dia makan berserakan menjadi pecahan sampah di lantai, setelah melihat foto yang di kirim Noel padanya.

Tidak puas, Fattah melemparkan lampu tidurnya ke dinding dengan deru napas kasar.

"Jadi elo lagi bareng, sama pacar kesayangan lo sekarang." Dia menggumam tajam.

Dadanya berdentam keras dengan dua kepalan tangannya menonjok dinding dengan rahang mengeras.

BRUGH!!

"ANJING!" Sekali lagi, Fattah menghantamkan kepalan tangannya ke meja.

Amarahnya benar-benar tidak terkendali sekarang.

Sebelum akhirnya, dia meraih jaketnya dan bergegas keluar menuju ke basement apartemen. Tak peduli lagi bahwa tubuhnya belum benar-benar sehat sekarang.

***

Keduanya berboncengan di jalan Panglima Polim.

Sedari tadi, Aqqela berceloteh panjang lebar tentang sekolah barunya, termasuk menceritakan tentang sahabat barunya.

"Berarti di sekolah baru kamu seru?" tanya Oliver sambil menggenggam tangan Aqqela yang memeluk perutnya.

Aqqela mengangguk riang, "Bedanya nggak ada kamu."

Oliver tertawa geli, "Di sekolah kamu nggak ada yang se-keren aku."

"Sebenarnya banyak. Tapi Oliver Glenn Roberts cuma satu."

Oliver mengulum senyum lebar.

Motor itu kemudian berhenti di lampu merah.

"Aqqela!"

Merasa ada yang memanggil, Aqqela reflek menoleh. Matanya langsung membulat lebar melihat Fattah berhenti di sebelah motor Oliver, sambil menatapnya tajam.

"Fattah?" gumamnya.

Oliver sendiri menoleh dan tersentak melihat Fattah di sini.

Cowok itu segera menurunkan standart dan menghampiri mereka.

"Aqqela, turun! Pulang sama gue," kata Fattah tegas, mencengkram tangan Aqqela.

Aqqela mendadak gelagapan, takut keduanya ribut lagi.

"Aqqela, turun gue bilang! Naik motor gue," sentak Fattah dengan nada tinggi.

"Fattah-loh-loh Oliver?" panik Aqqela saat Oliver mematikan mesin motornya, menghampiri Fattah.

"Maksud lo apa?" tanyanya tajam.

"Gue nggak ngomong sama lo," kata Fattah tak main-main.

"Aqqela cewek gue," kata Oliver mendorong dadanya kasar.

"Cewek lo apa?" Fattah menyentak marah, "Dia punya gue sekarang."

Oliver membulatkan mata kaget, sementara Aqqela sudah menatap Fattah memohon agar cowok itu tidak mengatakan apapun.

Fattah menarik tangan Aqqela, "Ikut sama gue! Kita pulang sekarang," perintahnya tak terbantahkan.

"Fattah, jangan kayak gini! Apaan, sih? Gue duluan naik motornya Oliver."

"Gue nggak suka di bantah, ya!" bentak Fattah marah.

"Brengsek!" Oliver menarik kasar lengan jaket Fattah, "Kalau lo suka sama cewek gue, nggak gini juga caranya anjing."

BUGH!!!

Aqqela melotot kaget saat Oliver menghantamkan pukulannya ke rahang Fattah.

"Oliver jangan!"

Fattah meludah ke sisi samping dan menatap Oliver lebih tajam.

"Elo nggak usah ikut campur brengsek!"

BUGH!!

Aqqela berteriak kaget saat Fattah balas pukulan Oliver tidak kalah keras sampai Oliver tersungkur.

Tetapi Oliver mengumpat dan kembali menyerang.

"OLIVER!!!" teriak Aqqela histeris dan mencoba memisahkan, mendorong dada keduanya bergantian, "FATTAH, UDAH!"

Keduanya masih saling bertarung di jalan raya, dengan orang-orang di sana jadi terkejut. Apalagi ketika Aqqela ke tengah berusaha untuk memisahkan mereka, walau dia terdorong kiri kanan, terhempas dan jatuh, lalu bangkit lagi.

Para warga kini panik memisahkan, bahkan beberapa pengguna jalan ikut maju, melerai perkelahian.

BUGH!!

Fattah menendang kasar perut Oliver sampai tersungkur dan batuk-batuk.

"Oliver!" panik Aqqela berniat mendekatinya, tetapi tangannya di tarik kasar oleh Fattah.

"Pulang!" kata Fattah tajam.

"Fatt, terus Oliver gimana? Please, jangan kayak gini, gue mohon!" Tangisnya pecah sambil menyatukan tangannya memohon.

Fattah mengeraskan rahang saat Aqqela mendekati Oliver cemas dan berjongkok di depannya.

"Kita ke klinik sek-"

"AZA, PULANG!" bentaknya marah sambil menarik paksa tangan Aqqela, membuat gadis itu terseok-seok dan menangis keras.

"Gue nggak mau. Apaan, sih?" teriaknya marah.

Pandangan gadis itu menoleh ke Oliver yang terduduk kesakitan di jalan raya, sementara dirinya di paksa naik ke atas motor Fattah.

***

"FATTAH, UDAH-UDAH, TANGAN GUE SAKIT!" Aqqela menjerit histeris dengan isakan keras ketika tangannya di cengkram memasuki lift apartemen.

"Tolong, udah!" katanya terisak saat lift terbuka, membuat Fattah leluasa membawanya ke unit apartemennya.

BRAK!!!

Pintu apartemen di banting kasar, sementara Aqqela terseok-seok mengikuti langkah lebarnya, masuk ke dalam kamar gadis itu.

"Mau lo tuh apa, sih?" tanya Aqqela meradang.

Fattah mengeraskan rahang, "Mau gue? Lo berhenti ketemu sama dia!"

"Maksud lo apa?"

"Gue nggak suka lo jalan sama Oliver."

"Elo pernah bilang nggak akan ganggu hubungan gue sama Oliver sekalipun kita udah nikah. Kenapa sekarang kayak gini?" kata Aqqela marah.

"Jangan ngebantah tiap gue ngomong!" kata Fattah tajam.

"Gue sama Oliver bareng jauh sebelum lo datang. Elo yang rusak semuanya, bukan Oliver."

"GUE BILANG JANGAN NGEBANTAH GUE!"

PRAKKK!!

Aqqela tersentak dan menutup telinganya kaget saat Fattah membanting gelas kaca di nakas.

"Elo kelewatan tau nggak," kata Aqqela dengan air mata membanjiri pipinya.

"Kelewatan? Elo atau gue yang kelewatan?"

"ELO," bentak Aqqela sambil menghapus air matanya kasar, "Kehidupan gue benar-benar berantakan setelah lo datang. Gue udah kehilangan banyak hal. Papa, Oliver, temen-temen gue di Jakarta Pusat, dan entah berapa banyak lagi hal yang hilang setelah lo datang."

Aqqela menatap Fattah dingin, "Dan asal lo tau, harusnya kita nggak pernah ketemu. Gue benci kenapa Tuhan harus jahat dengan biarin gue ketemu manusia iblis kayak lo."

Fattah tersentak dan melebarkan mata samar. Dadanya merasa tertohok dan terluka karena ucapan Aqqela.

"A-pa?"

"Gue selalu berharap, kita kembali ke masa itu. Masa dimana kita belum kenal sama sekali," sentaknya.

Aqqela maju mendorong kasar dada Fattah, "Awas! Gue harus pergi ke Oliver. Dia luka parah tadi."

"Gue nggak kasih izin," balas Fattah marah.

"GUE PENGEN PULANG, GUE NGGAK MAU DI SINI TERUS," teriak Aqqela histeris sambil mendorong kasar dada Fattah ingin keluar.

"Gue udah bilang, gue nggak akan biarin lo kemana-mana," balasnya tak mau kalah.

"Gue mau kembali ke kehidupan gue yang awal. Tolong!"

Aqqela tersentak saat Fattah melangkah ke pintu hendak menutupnya.

"Fattah, lo mau apa?" jeritnya hendak menggapai pintu.

"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo. Ngerti?" desis Fattah tajam.

"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"

"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"

BRAK!!!

Pintu di tutup nyaring membuat Aqqela berteriak dan menggedor-gedor pintu.

"Fattah, buka pintunya! Jangan jahat kayak gini, tolong!" katanya memukuli pintu.

Air mata membanjiri wajah cantiknya, "Lepasin gue, Ka! Elo nggak bisa kayak gini terus. Gue udah capek."

Sementara itu, Fattah melangkah tidak peduli memasuki kamarnya, membiarkan pintu kamar Aqqela terkunci.

Cowok itu menatap kaca kamar mandinya dengan tangan mengepal memukul wastafel.

"Brengsek!" umpatnya.

Fattah menatap dirinya lewat pantulan cermin, dengan rahang mengeras.

"Elo nggak boleh kemana-mana. Jadi jangan berpikir buat bisa keluar dari hidup gue!" katanya tajam.

***

Semalaman penuh, Aqqela tidak tidur dan terus menangis. Benar-benar tak sanggup harus menjalani kehidupan seperti ini lebih lama.

Dia duduk sambil memeluk lututnya di dekat pintu dan terisak sendirian. Wajahnya di tenggelamkan di sana, benar-benar lelah.

Ceklek!

"Non Aqqela?"

Aqqela mendongak sepenuhnya dengan mata bengkak, membuat bi Tya terkejut.

Kedua sudut bibirnya tertarik ke bawah dengan mata berkaca-kaca, "Bibi..."

"Ya Allah, non Aqqela kenapa?" panik bi Tya dan langsung memeluk tubuh mungil Aqqela yang bergetar.

Tangis Aqqela seketika pecah di dalam pelukan bi Tya, merasakan mentalnya di hajar habis-habisan.

"Non Aqqela berantem sama den Fattah?

Soalnya den Fattah suruh bibi kasih non Aqqela makan," kata bi Tya.

Aqqela mengangguk-angguk pelan dengan air mata mengalir, "Aku pengen pulang..."

Bi Tya tersentak.

"Fattah jahat sama aku bi," adunya terisak.

Bi Tya menatap gadis itu dengan tak tega, "Non, den Fattah bukan jahat. Dia sayang sama non Aqqela."

Aqqela menggeleng cepat dan mendongak menatap bi Tya.

"Bantu aku keluar dari sini, bi. Aku takut," katanya memohon.

"Tapi non, den Fattah pasti marah sama bibi, kalau bibi lancang-"

"Tolong, bi!"

Bi Tya menggigit bibir, "Den Fattah udah berangkat sekolah sih, non. Tapi bibi nggak bisa bantu banyak, ya."

Bi Tya merogoh sakunya mencari uang, "Ini non, uang saku buat non pulang. Tapi tolong ya, jangan kasih tau den Fattah, bibi yang udah bantu non Aqqela keluar. Bibi takut sama tuan Jordan," katanya cemas.

"Nggak perlu, bi. Aku ada uang kok. Makasih ya bi bantuannya! Aqqela pulang dulu."

Setelah berpamitan, Aqqela langsung berlari ke arah lift dengan penampilan berantakan.

Dia keluar dari apartemen dengan cemas, takut ada orang-orang Fattah melihatnya.

Merasa aman, dia berlari menuju ke jalan raya besar dan menghentikan taxi yang lewat, lalu masuk ke dalamnya.

"Pak, ke Jakarta Pusat, ya!"

"Siap, neng."

Aqqela menggigit bibir, menatap gedung pencakar langit yang sempat dia tinggali beberapa hari ini.

Matanya memerah dengan bulir kembali jatuh di pipinya.

Selamat tinggal Fattah! Kita selesai, sebagai apapun.

Taxi itu melaju kencang di jalan raya dan berbelok memasuki salah satu perumahan elite di Jakarta Pusat.

"Pak, yang gerbang hitam, ya!" kata Aqqela, bersamaan dengan mobil taxi mulai di tepikan.

"Makasih ya, pak!" kata Aqqela dan segera turun setelah membayar.

Dia mendongak, menatap rumah mewah milik Oliver.

Entah bagaimana keadaannya sekarang, Aqqela berharap dia selalu baik-baik saja setelah insiden semalam.

"Non Aqqela? Cari den Oliver, ya?" Seorang satpam menyapa ramah.

"Iya, pak. Oliver ada, kan?"

"Ada non, di dalam."

Aqqela langsung berlari memasuki halaman dan berlarian menaiki tangga depan teras dengan napas memburu.

Ceklek!!

"Oliver-"

Aqqela tersentak kaget. Matanya membulat melihat sosok Vicky-sahabatnya berjinjit dan mencium bibir Oliver dengan mata terpejam.

Oliver yang berniat mendorong Vicky jadi menoleh kaget. Matanya melebar melihat Aqqela berdiri kaku di ambang pintu dan terpaku syok.

"Aqqela?"

***

Hai pembaca setia jangan lupa like dan komen supaya Aku tambah semangat buat ceritanya

I LOVE YOU ALL!!

1
Amanda Safira
Mirip cerita Natusa&Rhysaka di pf sebelah kak, Aku termasuk followers penulisnya 😂
Langit Biru
kamu terinspirasi dari sinet agz ya? semangat menulis nya, ntar kalau udh tamat aku kemari lagi😍
Kapten Cantik: Terima kasih kk suportnya🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!