NovelToon NovelToon
Under The Purple Pine Blossoms

Under The Purple Pine Blossoms

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kelahiran kembali menjadi kuat / Budidaya dan Peningkatan / Perperangan / Penyelamat
Popularitas:834
Nilai: 5
Nama Author: Made Budiarsa

Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia ingat masa kecilnya dan membenci itu

Tuan putri ingin mengangkat kakinya dan mendekat, tapi dia ragu-ragu dan berpikir. Lalu menunduk. “yang mulia,” katanya. “Aku tidak pantas. Aku juga seorang tuan putri. Walau anda menyebutku anak, aku harus menjaga sikapku.”

Yang mulia tidak memperlihatkan kekecewaan dan tetap diam di sana.

Sebagaimana tuan putri, dia harus menjaga sikapnya, tindakannya bahkan bagaimana dia makan ataupun tidur. Itu menyebabkannya sedikit punya perhatian dari ibunya. Tuan putri sering menangis, berlarian dan tertawa, tetapi ibunya selalu mengajarinya tentang tata krama dengan baik dan bahkan dengan keras, membuat tuan putri tubuh dingin dan menjaga jarak. Tidak ada dongeng malam. Tidak ada ulang tahun. Tidak ada pelukan.

Mendengar yang mulia berkata seperti itu, muncul kemarahan di hatinya. Dulu, tuan putri pasti akan menangis, namun sekarang hatinya hanya sedikit tersentuh. Tuan putri lalu berkata, “Meskipun aku anakmu, tidak sepatunya aku memelukmu sembarangan yang mulia. Anda ibu saya dan meskipun tanpa pelukan, anda masih ibu saya juga”

Yang mulia tidak marah.

Sebagai orang yang melahirkannya, dia tahu bagaimana gadis itu tumbuh dan berkembang. Dulu dia ingin punya anak laki-laki dan menjadi putra mahkota, namun sepertinya langit tidak berkehendak dan hanya memberinya putri bungsu. Dia bersyukur karena di berikan anugrah seperti itu. Sebelumnya dia sempat khawatir jika tidak akan punya anak dan hidupnya penuh dengan dunia politik dan rutinitas yang kaku dan dingin.

Apa yang di katakan anaknya benar adanya dan dia ingin berkata tapi tuan putri melanjutkan, “Karena aku tidak memelukmu, anda tidak akan menyebutku anak durhaka bukan? Aku tidak mencelakaimu, tidak berkata kasar dan bahkan menghormatimu. Aku adalah anak yang anda lahirkan dengan jiwa dari langit dan tidak sepatutnya anda memerintahkanku sebagai kehendakmu sendiri.”

Tuan putri membungkuk dan ingin berbalik pergi, namun ibunya menghentikannya. “Tuan putri anda sudah besar dan juga semakin kaku.”

Yang mulia melangkah tiga langkah dan tiba di depannya. Dia segera menarik tuan putri dan memeluknya. “Apa salahnya memelukmu? Ini perpisahan. Tuan putri, kamu tidak pernah dipeluk secara sadar bukan? Kamu hanya merasa ibumu dingin dan tidak punya perhatian untukmu.”

Tuan putri tidak melawan dan membiarkannya. Dia ingat masa-masa kecilnya dan membenci itu. Lalu perlahan-lahan menerima semuanya karena dia seorang tuan putri.

*****

Kereta akhirnya berjalan. Maharani menatapnya sebentar lalu berbalik pergi. Tuan putri sedang bersimpuh di dalamnya dan memikirkan tentang ibunya. Dia menghela nafas dan kerata terus berjalan. Melintasi ibukota, melewati gerbang, memasuki hutan.

Pada siang harinya, akhirnya berhenti di tebing tinggi dan curam.

Tuan putri turun. Tuan kusir memberi kudanya minum.

“Yang mulia...” pelayan yang bersamanya berucap sopan.

Tuan putri memandang pohon persik di ujung tebing yang menggugurkan daun-daunnya. Dia berkata tenang, “Kita bisa beristirahat sebentar.”

Melangkah mendekati batu. Tangannya menyapu dedaunan di batu dan dia lalu duduk. Memandang ke bawah ada lembah perbukitan dan desa tradisional. Tuan putri meletakkan kedua tangan di pangkuannya. Angin lembah sangat lembut terasa menyegarkan.

Tuan kusir tidur di bawah pohon dan menutup wajahnya dengan topi capil. Pelayan wanita kembali membawa kotak kayu lalu membungkuk menyerahnya pada tuan Putri. Mengambilnya dan membukanya, melihat nasi dan beberapa kue tradisional. Dia mengambil kue kotak putih dengan sumpit dan memandang pelayannya. “Apa kamu suka ini?”

Ekspresi pelayan itu sedikit terkejut lalu senyuman lembut muncul di bibirnya. “Yang mulia makan saja.”

“Kamu sama saja dengan pelayan yang lain. Selama hidupku hanya ada satu pelayan yang berani mencoba membunuhku. Makanlah dan aku punya cerita untukmu. Pernahkah kamu dengar cerita tentang salah satu biksu di selatan?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!