Yohan, seorang pemuda urban, mewarisi rumah bobrok di Yalimo dan bertekad menjualnya. Rencananya terhalang oleh roh ibunya, Sumiati, yang terikat pada tanah itu oleh 'Janji Darah'. Dalam upaya investigasi yang membawanya jauh ke pedalaman Papua, Yohan harus mengorbankan identitas modernnya (Pertukaran Jiwa) demi membebaskan Sumiati. Setelah berhasil, ia secara tidak sengaja melepaskan Kutukan Primordial yang lebih tua—energi jahat yang sebelumnya ditahan Sumiati—dan dipaksa menjadi 'Penjaga Pusaka' sejati. Yohan memimpin komunitas melawan serangan hukum dan militer korporat, yang berpuncak pada kemenangan spiritual atas kekayaan. Perjalanannya berakhir ketika ia menyadari bahwa pengorbanan terbesar bukanlah aset, melainkan kemampuan untuk memimpin dengan kerendahan hati dan tanpa kepastian diri, mengubahnya dari pewaris sinis menjadi pemimpin spiritual yang utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengusiran yang Gagal
Yohan membuka mata dengan kejutan brutal. Seluruh kulitnya terasa seperti dibungkus dengan lap es yang basah. Dia langsung duduk tegak, tubuhnya bergetar tak terkontrol, meskipun sinar matahari sudah menyentuh celah di kamarnya dan udara di luar harusnya panas menyengat seperti hari-hari sebelumnya.
Kondisi antara sadar dan mimpi itu masih melekat. Batu persembahan. Ikatan yang mencekik.
Dinginnya luar biasa. Ia menarik selimut lusuh hingga ke dagu, tetapi hawa dingin ini tidak datang dari udara luar. Hawa itu seolah terpancar dari lapisan tembok dan lantai rumah. Yohan merangkak keluar dari ranjang, mengenakan jaket tebal yang dibawanya dari kota.
Ini pekerjaanmu, Bu. Menempelkan kedinginan jangkar ke seluruh rumah.
Kebenaran yang kejam itu memaksa Yohan meninggalkan metode yang berputar-putar. Ia harus bertindak. Pengusiran roh Sumiati yang terikat pada kekuatan primordial Ayahnya bukanlah masalah uang, negosiasi, apalagi perabotan terbakar.
Sambil minum kopi pahit yang pahitnya tak bisa mengalahkan ketidaknyamanan batin, Yohan berpikir. Ia memiliki satu upaya terakhir yang ‘normal’ sebelum menyerahkan diri sepenuhnya pada mitologi Yosef: memanggil ahli agama luar.
“Aku harus memutus logika Yalimo dengan keyakinan yang berbeda,” bisik Yohan.
***
Yohan tahu satu-satunya figur spiritual yang mau dia temui di luar lingkungan Marta dan tetua adalah Ustadz dari desa tetangga yang lebih terbuka, Ustadz Salman. Setelah perjalanan setengah jam, Yohan berhasil meyakinkannya—dengan sedikit donasi di muka—untuk melakukan ruqyah di rumahnya.
Ustadz Salman adalah pria berusia paruh baya dengan senyum teduh dan tatapan damai. Dia masuk ke rumah warisan dengan kepercayaan diri seorang pejuang iman.
“Saudara Yohan, ini hanya ujian. Setan tidak memiliki kuasa yang lebih besar dari ketakwaan kita. Insyaallah, jin atau roh apapun yang mengganggu di sini akan kita usir hari ini,” ujar Salman, tangannya memegang beberapa botol air yang telah didoakan dan dupa dengan wewangian kayu manis.
Yohan mengamati dengan tatapan penuh keraguan dan harapan tipis.
“Ini bukan jin biasa, Ustadz. Ini… roh yang terikat secara sangat kuno. Mungkin kebiasaan ritual orang di sini,” jelas Yohan.
“Energi ini sangat lokal, sangat dingin. Tolong fokus pada energi kamar di ujung sana. Itu kamar Ibunda saya. Tempat semua bermula.”
Ustadz Salman mengangguk.
“Nama dan asal-usul tidak penting, Nak. Intinya, energi itu berada di tempat yang salah. Jika energinya datang dari kegelapan, maka cahaya lah yang akan mengusirnya. Adab itu adalah kotoran hati yang perlu dibersihkan.”
Yohan merasa sedikit nyaman mendengar diktum universal semacam itu, sebuah cara merasionalisasi kengerian yang telah ia hadapi. Mungkin, mungkin ini bisa bekerja.
Mereka bergerak menuju koridor sempit. Bau kamboja busuk terasa kuat. Di depan pintu kamar Sumiati, yang terkunci dengan kunci ganda, Salman menoleh pada Yohan.
“Ruqyah ini harus dilakukan dengan keheningan dan keimanan total, ya,” ujar Salman, kini mengumandangkan bisikan doa-doa pemutus ikatan dalam bahasa Arab kuno. Salman mengambil setetes air doanya, mengoleskannya di kusen pintu kayu. Yohan berdiri agak jauh, memandangi dengan harapan.
Pada awalnya, ini tampak sukses. Udara dingin di koridor, yang sangat mematikan di awal hari, perlahan merangkak surut. Ruangan itu menjadi lebih hangat, bahkan terlalu hangat, seolah seluruh energi spiritual di dalamnya dipaksa berkumpul di balik pintu itu.
Ustadz Salman menutup mata, intonasinya naik. Energi mengalir darinya, terasa nyata bahkan bagi Yohan yang paling skeptis. Cahaya spiritual melawan kegelapan spiritual.
Tiba-tiba, suara Salman terputus, tersedak oleh dirinya sendiri.
Bukan suara. Itu adalah manifestasi fisik. Udara di sekitar pintu kamar Sumiati tidak lagi hangat, melainkan berganti menjadi arus es yang tiba-tiba, menerpa wajah Salman seperti semburan salju dari utara.
“Astaghfirullah! Subhanallah!” desis Salman, tangannya mencoba menangkis. Dupa yang dipegangnya terlepas, jatuh ke lantai. Sesaat sebelum jatuh, sumbunya meledak dengan suara aneh yang membakar kecil, memercikkan serbuk keemasan di udara. Yohan bisa mencium bau mesiu yang bercampur bau belerang yang menjijikkan.
Dari balik pintu yang terkunci rapat itu, terdengar desahan pelan, dan tawa cekikikan Sumiati yang menyakitkan muncul lagi, lebih kuat dan lebih panjang dari malam-malam sebelumnya.
Namun, kali ini, tawanya bergema dengan sindiran yang murni.
Seolah pintu itu bergetar hebat, kayu-kayunya menahan ledakan kekuatan dari dalam. Salman ambruk, wajahnya pucat pasi, ketakutan.
“Apa—apa ini?” Ustadz Salman merangkak mundur, pandangannya tertuju pada pintu yang tidak bergerak, namun kekuatannya terasa nyata. “Ini bukan jin biasa, Yohan. Ini adalah Penjaga Ikatan. Dia bukan hanya marah. Dia telah terintegrasi dengan struktur kuno. Saya… saya tidak berani melanjutkan.”
“Penjaga Ikatan?” Yohan menatap Salman. Itu adalah diktum baru. Ustadz Salman bangkit dengan kesulitan. Yohan berusaha menenangkannya.
“Dia sedang mematuhi janji, Ustadz. Bisakah energi luar mengalahkan janji ini? Ini janji lokal,” tanya Yohan, nada suaranya kembali datar, pragmatis.
Salman mengusap keringat dingin di dahinya. “Anakku, ada batasan dalam kekuasaan kami. Saya hanya bekerja dengan ruh yang terlepas atau dendam pribadi. Ini jauh melampaui. Dia dilindungi oleh mantra, ritual, dan barangkali, hukum kuno di sini.”
Salman mengambil tasnya yang terlempar ke lantai dan berdiri.
“Pergilah ke desa-desa pedalaman Yalimo. Atau kembali ke silsilah leluhurmu, cari siapa yang bisa membatalkan Ikatan itu. Aku tidak berani kembali. Aku bukan orang yang tepat untuk menembus batas spiritual lokal seperti ini,” Ustadz Salman mundur cepat, wajahnya trauma. Setelah menerima sisa honornya dengan tangan gemetar, Ustadz Salman berlari menjauhi rumah, mengendarai motor tuanya secepat mungkin keluar dari batas Yalimo.
Yohan berdiri sendirian di tengah koridor, di depan kamar Ibunya, yang kini sunyi total setelah serangan singkatnya. Bau busuk belerang, dupa yang gagal, dan kemenangan roh itu menodai keheningan. Kekuatan spiritual universal telah dikalahkan oleh kekuatan warisan. Jalur pelepasan melalui orang luar kini tertutup permanen.
Kau benar-benar terikat pada Pusaka Ayah, Bu. Dan kau hanya mau dibebaskan dengan Pertukaran Jiwa yang kalian rancang.
***
Keesokan paginya, Yohan merasa anehnya damai. Tidak ada lagi kebingungan tentang tindakan selanjutnya. Jalan modern telah habis. Jalan spiritual universal telah diblokir. Sekarang, dia harus memakai kacamata spiritual fanatik ala Ayahnya.
Dia menuju perpustakaan pribadinya di kamar kecil. Meja kerja Ayahnya, Yosef, terbuat dari kayu jati yang berat dan bobrok, seringan kertas yang kini menjadi warisan Yohan.
Yohan ingat masa kecilnya. Ayahnya adalah pria yang metodis, sinis terhadap bisnis modern seperti Yohan, tetapi fanatik dan metodis terhadap spiritualitas kuno Yalimo. Yosef menyimpan rahasianya lebih dari apapun.
Yohan menghabiskan dua jam membersihkan sisa debu yang gagal dibakarnya di halaman. Ia mengabaikan noda merah kering yang membeku di bingkai pintu, kini fokus pada warisan logis Yosef.
Meja itu, dengan permukaannya yang retak-retak, tampak kosong. Ada pena tua, segel kayu dengan ukiran tak terbaca, dan tumpukan kertas laporan panen yang sudah busuk.
Yohan mencari laci, membuka semua laci dengan paksa. Hanya perkakas pertukangan tua, kunci berkarat, dan beberapa nota tagihan lawas.
“Yosef, kau tidak akan menyimpannya semudah ini. Kau membenci orang menemukan apa yang seharusnya kau sembunyikan,” gumam Yohan, menelusuri ukiran di kayu itu. Tangannya bergerak dengan familiar, sebuah ingatan masa kecil muncul: ia sering bermain di sekitar meja ini, dan ingat bahwa ayahnya kadang mengambil pena dari posisi yang aneh.
Ia mencoba merasakan panel belakang meja kerja itu. Benar saja, bagian dalam meja di belakang laci-laci utama terasa ganda, seperti ada ruang hampa kecil yang ditutup dengan panel triplek rapi. Yohan merasakan adanya slot kecil, sangat tersembunyi, yang digunakan sebagai engsel penahan.
“Ayah. Akhirnya,” desah Yohan, menemukan titik kuncinya. Dengan kuku, Yohan berhasil mengait sebuah bagian panel kayu tipis dan menariknya pelan, memotong lem tua. Panel itu lepas dari badannya.
Di dalamnya, terdapat laci yang hanya bisa dijangkau dari belakang. Dan laci itu berisi harta karun dari obsesi seorang ayah.
Itu bukan perhiasan atau uang. Itu hanya beberapa gulungan daun lontar, sebotol tinta hitam kering, dan di bagian tengahnya, sebuah buku tebal berjilid kulit tua yang tampak usang oleh seringnya sentuhan tangan. Kertas di dalamnya sudah mulai menguning dan rapuh. Itu adalah Jurnal Rahasia Yosef.
Yohan mengeluarkan jurnal itu, memegangnya dengan rasa gentar yang ia sembunyikan rapat-rapat. Dia membuka halaman depan, mencari kata kunci Janji Darah, Pusaka, atau Pertukaran Jiwa.
Dan ia menemukannya. Tepat di halaman depan jurnal, dengan tulisan Ayahnya yang rapi dan tegas, tertulis tiga baris yang mencekiknya dengan kepastian baru.
Sumiati, istriku. Kamu adalah Pengorbanan yang tak kamu pahami. Tapi, kamu akan menjadi Cahaya. Karena:
“Sumiati tidak mengerti, tapi Tanah Yalimo harus dilindungi. Biar aku saja yang menanggung kebenarannya.”
Jantung Yohan berdebar kencang. Ia mengusap kulit usang jurnal itu. Ia kini tidak memegang buku kenangan, melainkan peta kegilaan Ayahnya. Pemecahan Janji Darah dan Pertukaran Jiwa terletak tepat di tangan Yohan. Dia harus membalik halaman itu sekarang.