"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.
Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,
"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."
Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.
Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,
Namun siapa sangka? Di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Raisa
"Eh, jangan pergi!" celetuk Rangga berusaha menghentikan gadis yang telah beranjak dari duduknya. "Dengarkan penjelasanku,"
Dia berali menghadang jalan.
"Ogah. Aku ga mau berurusan denganmu!" ketus Nila menatap dingin,
"Lagian bisa-bisanya paman sekongkol sama dia? Tau gitu, aku ga mau ke sini."
"Pak Rangga cuma minta bantuan biar bisa ketemu kamu. Katanya dia mau berdamai--dengarkan saja dulu," bujuk Ajis memberi pembelaan.
"Benar, aku mau kita berdamai. Maafkan sikapku kemarin! Kakek sudah memarahiku habis-habisan. Kalau kamu tidak memaafkanku, aku akan kehilangan hak waris."
"Aku janji! Setelah ini tidak akan mengganggumu apalagi mengusik suamimu." tambahnya penuh serius, menatap dengan raut memohon.
Matanya menyipit, sekian detik Nila terdiam guna mengambil keputusan. Bisakah pria itu dipercaya?
"Baiklah. Berjanjilah kamu ga akan mengusik kami!"
Nila berbalik menggeser kursinya cukup jauh, lalu kembali duduk. Sengaja memiringkan tubuh, membuang muka ke sisi lain, enggan berdekatan apalagi sampai bertatap wajah.
"Bagus. Kalau gini masalah selesai--ayo kita makan!" seru Ajis tersenyum lebar,
Mereka menikmati piring masing-masing. Begitu juga Nila yang mulai meraih gelas,
"Hh!" Rangga menyeringai puas, tak sabar menanti reaksi obat yang telah dicampurkan ke dalam minuman Nila,
"Berhasil! Setelah ini kamu akan menjadi milikku." batinnya, ikut meneguk air sambil terus mengawasi.
"Hng?" Rangga mengernyit, menyadari rasa pahit di gelasnya.
"Apa ini...kenapa kepalaku--"
BRUK!
"Lho?! Kenapa ini--kok Pak Rangga ikutan pingsan?" sontak Ajis dibuat panik,
Kebingungan melihat dua orang yang mengabrukkan kepala di atas meja makan.
"Hhh..."
Tawa di wajah Raisa membuat pria itu sadar kalau anaknya telah merencanakan hal lain,
"Raisa, apa lagi ulahmu?! Jangan bilang kamu ngasih obat ke minumannya Pak Rangga?"
"Kalau iya, emangnya kenapa? Masa ayah ga mikir---dari pada Nila, lebih baik aku saja yang tidur dengan Pak Rangga." ucap Raisa dengan senang hati menyerahkan tubuhnya,
"Raisa benar. Lagian Nila udah punya suami," lugas Ratih tak ragu mendukung.
"Lebih baik putri kita saja yang tidur dengan Pak Rangga dan menjadi istrinya!"
"Tapi yang Pak Rangga mau kan bukan kamu--"
"Udah lah, Yah! Toh, aku masih single dan lebih muda. Aku ga kalah cantik dari Nila, aku yakin Pak Rangga ga mungkin menolakku." jawab Raisa bersikeras.
Sedangkan Ajis masih ragu, merenung sejenak sebelum akhirnya setuju mengikuti rencana mereka.
"Tunggu apa lagi? Apa menurut Ayah, aku tidak sebanding dengannya?!"
"Siapa bilang?! Putriku yang paling cantik. Justru Nila yang tidak sebanding dengamu..." jawab Ajis menenangkan,
"Ayah hanya berpikir, kalau kamu yang tidur dengan Pak Rangga--"
"Terus, mau kita apakan Nila?"
"Tenang saja. Aku kenal orang yang bisa mengurusnya--" balas Raisa menyeringai,
Terlintas ide licik dalam otaknya. "Kita jual saja dia ke pria hidung belang...lumayan buat balik modal,"
"Iya juga. Rugi kita sudah keluar banyak buat nyiapin makanan ini..."
Raisa mendengus riang, menatap remeh wajah gadis yang masih pingsan. Wajah tenang itu mengingatkan pada kejadian lalu,
Saat Nila berdiri angkuh, membiarkan Raisa diseret keluar dari acara perusahaan.
"Hh! Ini balasan karena kamu telah berani mepermalukanku di depan banyak orang,"
"Lihat saja...setelah ini, apakah suamimu masih mau menerimamu yang sudah ditiduri pria lain?"
Di sisi lain,
Tampak Herman yang begitu tergesa-gesa melewati lorong. Berlari memasuki pintu yang sudah terbuka,
"Tuan. Bawahan yang saya suruh menjaga nyonya, mengikuti nyonya dari kantor sampai ke rumah lamanya---"
"Apa?" Elang mengernyit. "Apa yang dia lakukan di sana?"
"Entahlah, saya tidak tahu apa yang terjadi...tapi sampai sekarang nyonya belum keluar dari sana."
Herman melaporkan hasil kerja pengawal yang mengawasi Nila.
Dia bersembunyi di dalam mobil yang terparkir cukup jauh dari halaman rumah. Dengan seksama mengamati setiap gerak-gerik di sekitar,
"Mobil nyonya masih di sana. Tapi barusan pengawal melihat mereka, mengangkut dua koper besar ke dalam mobil yang berbeda---arah perginya pun tak sama."
"Ikuti kemana kedua mobil itu pergi!" ucapnya khawatir,
"Siapkan mobil. Kita harus menyusul ke sana,"
Jangan lupa tinggalkan komen ya/Pray//Kiss/
Komen kalian menambah semangat author dalam menulis, biar lebih sering updatenya. Hehe...