persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Tentang Kerajaan yang Runtuh dan Penguasa yang Terlalu Lelah
Senin pagi ini, sekolah tidak lagi membicarakan tentang kesuksesan mading atau gaya keren Arkan. Sebaliknya, koridor dipenuhi oleh bisikan-bisikan yang tajam seperti sembilu. Di papan pengumuman dekat ruang kesiswaan, terpampang sebuah surat resmi: kepengurusan mading dibekukan sementara karena laporan manipulasi dana sponsor yang melibatkan nama Arkan.
Rupanya, ambisi Arkan untuk membuat mading terlihat mewah telah membuatnya melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Dia terlalu ingin terlihat sempurna sampai lupa bahwa fondasi yang dia bangun hanya berupa pasir yang mudah tersapu ombak.
Saya berjalan melewati ruang OSIS yang pintunya tertutup rapat. Di bangku semen depannya, Arkan duduk sendirian. Tidak ada anggota organisasi yang mengerubunginya, tidak ada adik kelas yang meminta tanda tangannya. Dia hanya menatap lantai dengan bahu yang turun. Di tangannya ada sebuah map biru yang tampak lusuh.
"Bumi," panggil Arkan saat saya lewat. Suaranya tidak lagi bariton dan percaya diri. Suaranya pecah.
Saya berhenti, tapi tangan saya tetap di saku jaket. "Ada apa, Kan?"
"Semua orang meninggalkan saya. Mereka bilang ini semua salah saya. Padahal mereka juga menikmati mewahnya mading itu," katanya dengan senyum pahit yang dipaksakan. "Kayla bahkan tidak mau membalas pesan saya sejak malam di bukit itu."
"Itu risiko dari sebuah panggung yang kamu bangun sendiri, Kan. Saat lampunya mati, penonton pasti pulang. Dan saat bangunannya roboh, orang-orang di dalamnya pasti lari menyelamatkan diri sendiri," jawab saya.
Arkan berdiri, dia menyodorkan map biru itu. "Ini naskah asli tulisan kamu. Yang saya edit dulu. Ternyata saya tidak pernah benar-benar bisa menghapusnya dari file komputer saya. Kamu benar, kejujuran itu sulit diedit."
Saya menerima map itu. "Kenapa kamu berikan ini sekarang?"
"Karena saya baru sadar, menjadi 'Bumi' itu lebih sulit daripada menjadi Arkan. Kamu punya teman-teman yang ada saat kamu jatuh. Saya? Saya cuma punya piagam-piagam yang sekarang tidak ada artinya," Arkan menepuk bahu saya sekali, lalu berjalan menjauh dengan langkah yang berat.
Saya melihat punggungnya. Arkan baru saja mendapatkan pelajaran paling berharga dalam hidupnya: bahwa popularitas adalah mata uang yang nilainya bisa jatuh dalam semalam, sementara karakter adalah emas yang tetap berkilau meski terkubur debu.
Di kelas, saya duduk di samping Dara dan Senja. Saya meletakkan map biru itu di atas meja.
"Kerajaannya sudah benar-benar runtuh, Bumi?" tanya Dara sambil memperbaiki letak kacamatanya.
"Sudah, Dara. Dan penguasanya baru saja menyerahkan kunci gerbangnya ke saya," jawab saya.
Senja melihat map itu, lalu tersenyum manis. "Tulisan kamu sudah pulang, Bumi. Sekarang kamu bisa menulis hal-hal baru lagi tanpa harus takut diinjak orang lain."
Saya melihat ke arah barisan depan. Kayla duduk sendirian di bangkunya. Dia tampak jauh lebih tenang, meskipun matanya masih menyiratkan kesedihan. Dia tidak mencoba mendekati saya, tapi saat mata kami bertemu, dia memberikan anggukan kecil tanda hormat. Sebuah jarak yang sehat telah terbentuk di antara kami.
Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa terkadang kita tidak perlu berjuang keras untuk membuktikan kebenaran. Waktu punya caranya sendiri untuk meruntuhkan kebohongan dan mengangkat kembali kejujuran ke permukaan.
saya yang mulai menulis baris baru di buku catatan: "Terima kasih untuk setiap meteor yang jatuh, karena tanpanya, saya tidak akan tahu betapa kuatnya permukaan bumi yang saya miliki."