Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Kembali ke Laut
Langit di atas Gunung Lawu mulai cerah saat mereka turun dari puncak, tapi cahaya itu terasa dingin—seperti pagi yang lupa bagaimana menghangatkan. Bola cahaya emas dari empat kristal masih melayang di depan Banda, berputar pelan seperti kompas yang menunjuk ke timur: ke Laut Banda, tempat semuanya dimulai.
Banda berjalan di depan, tas berisi kristal terasa lebih berat dari sebelumnya. Setiap langkah membuatnya merasakan getaran samar di dada—bukan lagi suara kutukan yang berteriak, tapi seperti bisikan lelah dari Naga Tanah yang sudah hancur: “Kau menang hari ini… tapi kegelapan yang lebih besar menunggu. Dan kau akan melihat bahwa aku hanyalah bayangan kecil darinya.”
Jatayu berjalan di sampingnya, tangan mereka sesekali bersentuhan—sentuhan kecil yang sekarang terasa seperti jangkar. Luka bakar di tangannya sudah sembuh sepenuhnya, tapi bekas merah samar tetap ada, seperti pengingat bahwa pengorbanan mereka tidak pernah benar-benar hilang.
Bayu berjalan paling belakang, membawa ransel yang kini terasa lebih ringan tanpa Kirana. Ia tidak banyak bicara sejak makam kecil itu ditinggalkan, tapi matanya terus melirik ke arah gundukan tanah di kejauhan—seolah masih berharap Kirana akan muncul lagi dengan senyum lembutnya dan api penyembuh di telapak tangan.
“Kita harus ke pesisir selatan dulu,” kata Jatayu pelan, memecah keheningan. “Dari sana kita bisa cari perahu ke pulau kecil yang Naga Cahaya tunjukkan. Kuil terakhir di bawah air… itu tempat kristal cahaya sebenarnya disimpan sebelum Naga Cahaya membawanya ke puncak.”
Banda mengangguk. “Aku merasakannya. Bola ini… seperti menarikku kembali ke tempat aku lahir. Ke Karangwangi. Ke laut yang menemukanku sebagai bayi.”
Bayu akhirnya angkat bicara, suaranya serak. “Kita akan lewat desa itu lagi? Ibu Sari… dia pasti sudah khawatir. Dan makam Kirana… kita tidak bisa tinggalkan begitu saja.”
Jatayu menoleh ke Bayu. “Kita akan singgah. Kita beri tahu Ibu Sari apa yang terjadi. Dan… kita bawa bagian kecil dari Kirana pulang. Abu dari kalungnya, atau apa pun yang bisa kita bawa sebagai kenangan.”
Banda merasakan sesak di dada. “Dia pantas lebih dari itu. Dia pantas cerita tentangnya diceritakan. Bukan hanya sebagai sahabat Jatayu, tapi sebagai Phoenix yang memilih cinta daripada klan, pengorbanan daripada keabadian.”
Mereka terus berjalan. Hari pertama turun gunung terasa panjang—jalur licin karena embun malam, angin yang semakin dingin. Malam tiba saat mereka mencapai hutan pinus di kaki gunung. Mereka membuat kemah kecil di bawah pohon besar, api unggun menyala redup karena kayu basah.
Banda duduk dekat api, bola cahaya emas melayang di depannya. Ia memandangnya lama, lalu berbicara pelan—seolah bicara pada Kirana.
“Kau bilang kau ingin melihat kami bahagia. Tapi bagaimana kami bisa bahagia tanpa kau? Kau yang selalu ada di belakang, yang menyembuhkan luka kami, yang menahan cemburu demi persahabatan. Aku… aku tidak pernah bilang terima kasih dengan benar.”
Jatayu duduk di sampingnya, tangannya memeluk lutut. “Dia tahu. Dia selalu tahu. Dia tidak butuh kata-kata. Dia butuh kita terus maju.”
Bayu menambahkan kayu ke api. “Aku… aku cuma kenal dia sebentar. Tapi dia pernah bilang padaku, waktu kita istirahat di gua: ‘Bayu, kalau suatu hari aku tidak ada, jaga mereka berdua. Jangan biarkan mereka lupa tertawa.’ Aku… aku akan coba jaga janji itu.”
Mereka diam sejenak. Api unggun berderit pelan, seolah ikut berduka.
Banda akhirnya bicara lagi. “Besok kita ke Karangwangi. Kita beri tahu Ibu Sari. Kita beri penghormatan untuk Kirana. Lalu kita lanjut ke laut. Ke pulau itu. Ke tempat di mana kutukan dimulai… dan mungkin di mana ia akan berakhir.”
Jatayu mengangguk. “Dan kalau kegelapan luar datang… kita hadapi bersama. Untuk Kirana. Untuk Garini. Untuk semua yang sudah berkorban.”
Bayu tersenyum kecil—senyum pertama sejak kematian Kirana. “Bersama.”
Mereka tidur bergantian jaga malam itu. Bola cahaya emas tetap melayang, menerangi wajah mereka yang lelah tapi tegar.
Di mimpi Banda malam itu, ia melihat Kirana lagi—bukan sebagai mayat di makam, tapi sebagai cahaya kecil yang mengambang di samping bola emas. Ia tersenyum, mata hijau zamrudnya berkilau.
“Jangan sedih terlalu lama,” bisiknya dalam mimpi. “Aku tidak pergi. Aku hanya… jadi bagian dari cahaya kalian sekarang. Lanjutkan. Untuk aku. Untuk kita.”
Banda terbangun dengan air mata di pipi. Ia melihat bola cahaya emas—dan untuk sesaat, di dalamnya terlihat kilau hijau kecil, seperti mata Kirana yang tersenyum.
Ia tersenyum tipis, menyeka air mata.
“Terima kasih, Kirana. Kami akan lanjut.”
Pagi berikutnya, mereka melanjutkan perjalanan ke Karangwangi—ke rumah, ke laut, ke akhir yang belum terlihat.
Dan di kejauhan, ombak Laut Banda mulai bergulung lebih tinggi—seolah menyambut kembalinya Raja Laut… dan harapan terakhir dunia.