Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membawa El pergi
Suasana di kantin belakang sekolah itu berubah menjadi ajang negosiasi yang berat sebelah. Cakra, yang sudah kehilangan akal sehat karena cemburu dan dendam, menatap mata putranya dengan tatapan yang sangat manipulatif.
"El, kalau El sayang sama Ayah dan tidak ingin Bunda menikah dengan Om Tama, El ikut sebentar ya dengan Ayah. Kita ke rumah Ayah, di sana ada Kakek yang sangat merindukanmu," bujuk Cakra.
"Tapi Ayah...." El ragu, bayangan wajah Bundanya yang tegas melintas.
"El.... Ayah sudah lama sekali menginginkan momen ini. Bukankah El ingin Ayah dan Bunda bersama kembali? El mau kan bantu Ayah?"
El terdiam sejenak. Pikirannya yang jenius bertarung antara rasa patuh pada Bunda dan kerinduan pada Ayah. Namun, janji tentang keluarga yang utuh adalah kelemahan terbesarnya.
"Tapi Ayah yakin dengan cara seperti ini Bunda dan Ayah bisa bersama kembali?" tanya El lirih.
"Ayah sangat yakin, Nak. Bukankah kau menginginkan hidup bersama kedua orang tua yang utuh tanpa perpecahan?"
"Iya Ayah, aku ingin tinggal sama Ayah dan juga Bunda!" jawab El akhirnya dengan mantap.
Cakra tersenyum penuh kemenangan. Ia memberi kode pada Axel untuk bungkam dan segera kembali ke kelas. Sementara itu, Cakra membawa El menyelinap melalui tembok belakang yang sudah ia lubangi sebelumnya, sebuah celah di titik buta yang tak terjangkau penjagaan anak buah Tama.
Mbak Pur yang baru keluar dari toilet dengan wajah pucat karena sakit perut, langsung kalang kabut. "El! El Barack!" teriaknya histeris. Ia menanyai Axel, namun bocah itu hanya menggeleng sesuai perintah pamannya.
Pihak sekolah panik. CCTV di area kantin tiba-tiba mati total, seperti disabotase secara profesional. Kabar hilangnya El sampai ke telinga Hana di kantor.
"APA?! EL HILANG?!"
Hana berteriak hingga tubuhnya lemas dan jatuh terduduk di lantai marmer ruangannya. Indah berusaha menahannya, namun Hana terus terisak hebat. Dengan tangan gemetar, ia menghubungi Tama.
Tama yang mendengar kabar itu langsung menuju lokasi. Ia menginterogasi dua bawahannya yang berjaga di depan. Tak lama, salah satu dari mereka menemukan sesuatu di dekat lubang tembok belakang.
"Komandan, kami menemukan ini di dekat lubang tembok," lapor anak buahnya sambil menyerahkan sebuah jam tangan canggih.
Mansion Ardiwinata
Di sisi lain kota, mobil Cakra memasuki gerbang megah Mansion Ardiwinata. Tuan Ardi sudah menunggu di teras dengan mata berkaca-kaca. Begitu El turun, Tuan Ardi langsung memeluknya erat.
"El, cucuku! Akhirnya Kakek bisa bertemu lagi dan memelukmu seperti ini!"
El menatap wajah tua itu. "Kakek.... jadi waktu kita bertemu di mall tempo hari saat aku bersama Kakek Sutoyo, ternyata Anda adalah kakekku juga?"
"Betul sekali, Nak! Pantas saja kau begitu mirip dengan Ayahmu sewaktu kecil!"
El membalas pelukan kakeknya, namun keceriaannya mendadak surut saat Nyonya Inggit muncul di ambang pintu. Tubuh El menegang ketakutan, ia teringat kejadian di mall saat wanita itu mencoba menyerang ibunya. Inggit menatap El dengan tatapan sulit diartikan, ada rasa rindu, namun tertutup oleh rasa dingin karena teringat Hana.
.
.
Sementara itu, di depan sekolah, Hana masih menangis tersedu di pelukan Tama. Tama menyodorkan jam tangan yang ditemukan tadi.
"Han, apakah kau pernah membelikan El jam seperti ini?" tanya Tama dengan nada sangat serius. Jam itu terlihat terlalu canggih untuk sekadar mainan anak-anak.
Hana berusaha menghapus air matanya, ia mengambil jam tersebut dan memperhatikannya secara teliti.
"Sepertinya.... aku belum pernah membelikan jam tangan seperti ini kepada El. Jam ini.... ini bukan miliknya!"
Tama mengernyitkan dahi. Ia menekan salah satu tombol di samping jam tersebut, dan seketika layar kecil itu menyala, menampilkan logo kecil yakni Ardiwinata Group.
Hana tertegun. Amarah yang tadinya adalah rasa takut kini berubah menjadi kemarahan yang meluap-luap.
"Cakra...." desis Hana. "Bajingan itu.... dia menculik anakku sendiri!"
Hana menatap Tama dengan tatapan tajam. "Mas Tama, bawa aku ke rumah Cakra sekarang! Dia benar-benar sudah gila!"
.
.
Deru mesin mobil Tama berhenti tepat di depan gerbang tinggi Mansion Ardiwinata. Hana keluar dengan napas memburu, matanya menatap tajam ke arah rumah yang pernah menjadi neraka baginya. Pak Diman, penjaga gerbang senior, terbelalak melihat sosok yang sudah enam tahun menghilang itu.
"Ya ampun, Nyonya Hana!" seru Pak Diman gemetar.
"Pak Diman, tolong buka pintu gerbangnya. Saya ingin bertemu dengan Cakra Ardiwinata!" tuntut Hana.
Pak Diman menunduk, wajahnya penuh sesal. "Maafkan saya, Nyonya. Tuan telah memerintahkan agar Nyonya tidak diperbolehkan masuk ke dalam."
Tama melangkah maju, aura kewibawaannya sebagai perwira tinggi polisi terpancar nyata. "Saya adalah Komisaris Wiratama Yuda. Di rumah ini sedang terjadi kasus penculikan. Apakah Anda mau saya pidanakan karena ikut terlibat?!"
Mendengar ancaman itu, nyali Pak Diman ciut. Ketakutan akan jeruji besi mengalahkan rasa takutnya pada sang majikan. Dengan tangan gemetar, ia membuka gerbang lebar-lebar.
Dari balik tirai jendela lantai dua, Cakra memperhatikan pergerakan mereka. Rahangnya mengeras melihat tangan Tama yang seolah tak lepas melindungi Hana. Ia berbalik, menatap pintu kamar yang di dalamnya terdapat El yang sedang tertidur lelap akibat kelelahan. Cakra memutar kunci dari luar, memastikan putranya tak bisa keluar.
"Baiklah, Hana. Sekarang El ada dalam genggamanku. Aku ingin kau segera membatalkan acara pernikahan konyol mu dengan polisi sialan itu," bisik Cakra dengan seringai licik. Ia merapikan kerah kemejanya, lalu melangkah turun dengan angkuh.
Hana melangkah masuk ke ruang utama. Tiba-tiba, dadanya terasa nyeri. Aroma ruangan ini, arsitekturnya, semua memicu trauma lama. Ia teringat bagaimana ia dulu hanya bisa menangis di sudut ruangan saat Inggit dan Jesica melontarkan kata-kata menyakitkan. Namun kali ini, ia tidak datang sebagai korban.
Di ruang tamu, Cakra sudah duduk santai di kursi tunggalnya, seolah sedang menyambut tamu kehormatan. Ia menatap tajam ke arah tangan Hana dan Tama yang saling bertautan.
"Dimana putraku?!" teriak Hana tanpa basa-basi.
Cakra terkekeh hambar. "Cih, kau salah alamat, Hana. Di sini tidak ada El."
"Bohong! Aku yakin kau yang telah menculiknya!"
"Apakah kau memiliki bukti atas tuduhan mu itu, hah?" Cakra tersenyum provokatif.
Tama melangkah maju, ia membanting jam tangan pintar milik El ke meja marmer di depan Cakra. "Ini buktinya. Kau tidak bisa mengelak lagi, Cakra. Jika kau tidak mau mengaku, aku akan memerintahkan pihak kepolisian untuk menggeledah tempat ini sekarang juga!"
Cakra menatap jam tangan itu, lalu menatap Tama dengan sinis. "Wow, rupanya kau telah menjadi pahlawan kesiangan untuk Hana, ya? Pantas Hana sekarang begitu berani terhadapku!"
Cakra bangkit dari duduknya, mendekat ke arah Hana dengan tatapan yang sangat intens. "Ya, aku memang yang telah membawa El. Bukan menculiknya, karena El juga darah dagingku. Dan aku akan mengambil alih hak asuhnya mulai saat ini!"
"Apa?! Kau jangan gila, Cakra! Kau tidak pernah menginginkan El sebelumnya. Cepat serahkan anakku!" suara Hana melengking, penuh amarah.
"Ck, tidak semudah itu, Hana. Aku akan mengembalikan El, tapi dengan satu syarat!" Cakra menjeda kalimatnya, matanya menatap Tama dengan penuh kebencian.
"Batalkan rencana pernikahanmu dengan pria itu!" Cakra menunjuk Tama dengan kasar. "Dan kembalilah menikah denganku, Hana. Maka aku tidak akan mempermasalahkan hak asuh El padamu!"
Deg!
Suasana mendadak hening. Hana merasa dunianya seolah berhenti berputar. Menikah kembali dengan pria yang telah menghancurkan hidupnya? Itu adalah mimpi buruk yang lebih mengerikan daripada kematian. Tama mempererat genggaman tangannya pada Hana, rahangnya mengatup rapat menahan amarah yang hampir meledak.
"Kau benar-benar tidak punya malu, Cakra," desis Tama dengan suara rendah yang mengancam. "Kau menggunakan anakmu sendiri sebagai sandera untuk obsesi gila mu?"
Hana menatap mata Cakra, mencari sisa-sisa kemanusiaan di sana, namun ia hanya menemukan ego yang besar. "Kau pikir... setelah semua yang kau lakukan, aku akan sudi masuk ke neraka yang sama untuk kedua kalinya?"
Bersambung...
salam laros mania