Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.
Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.
Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.
"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.
"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Om?"
Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
"Luca! Mereka sudah menembus pagar barat!" suara Bobby terdengar dari walkie-talkie yang ada di pinggang Luca.
Di dalam ruang kerjanya yang cukup gelap, Luca bersandar ke dinding dekat jendela, matanya mengawasi siluet-siluet hitam yang bergerak cepat di antara pepohonan halaman mansion.
"Tahan posisi. Jangan biarkan mereka mendekati pintu utama. Gunakan gas air mata jika perlu!" titah Luca.
"Mereka memakai masker gas, Luc! Sial, Sean Harley benar-benar mengirim pasukan elit!" balas Bobby.
DOR! DOR!
Suara baku tembak mulai merobek keheningan malam.
Sementara itu, di dalam ruangan, Queen sedang berlutut di atas kursi kerja Luca yang terlalu besar baginya. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Layar monitor di depannya memancarkan cahaya biru yang menyinari wajah mungil Queen yang serius.
"Ayo... sedikit lagi... tangan Queen kenapa pendek sekali, sih!" gerutu Queen.
Jari-jarinya yang kecil bergetar saat ia mencoba menekan kombinasi tombol shortcut. Kondisi tubuhnya yang baru berusia lima tahun benar-benar menghambat kecepatannya.
Biasanya, Alena bisa mengetik 150 kata per menit. Dan sekarang, menekan tombol Shift dan Enter secara bersamaan saja ia harus menggunakan dua tangan.
Klik.
"Dapat!" bisiknya.
Queen berhasil masuk ke sistem kendali otomatis mansion. Namun, matanya tiba-tiba membelalak melihat denah sensor panas yang berkedip-kedip di layar.
"Luca! Luca, dengar Queen!" teriak Queen dari dalam ruangan.
Luca sedikit menoleh tanpa melepaskan bidikan pistolnya ke arah pintu.
"Sudah kubilang tetap bersembunyi di belakang sofa, Queen! Jangan melakukan yang aneh-aneh!"
"Luca, lihat ke atas!" Queen menunjuk ke arah langit-langit koridor di luar melalui pintu yang sedikit terbuka. "Ada drone kecil! Mereka tidak lewat pintu bawah, mereka merayap di ventilasi udara!"
Luca tersentak. Ia mendongak dan melihat titik merah kecil yang bergerak di celah ventilasi.
Sial!
"Bagaimana kau tahu itu drone, bocah?" tanya Luca sambil melepaskan tembakan ke arah ventilasi.
PRANG! Drone itu jatuh hancur.
"Lihat saja lampunya! Dasar Luca payah!" sahut Queen sambil kembali fokus ke layar.
Queen tahu ia tidak bisa memegang senjata, tapi ia bisa mengubah medan perang. Ia meretas sistem penyiram air di koridor barat.
"Queen akan membuat mereka sedikit... basah."
Tiba-tiba, seluruh lorong di sektor barat diguyur air deras.
"Apa yang terjadi? Sistemnya rusak?" teriak salah satu pengawal di luar.
"Bukan rusak, bodoh! Lihat!" Queen bergumam sendiri sambil jarinya mengutak-atik kode listrik. "Sekarang ada sedikit kejutan."
Queen tidak mematikan listrik secara total, ia hanya mengalihkan arus pendek ke panel pintu logam di sektor barat yang sedang coba didobrak oleh anak buah Sean Harley.
"ARGHHHH!" Terdengar teriakan kesakitan dari luar saat tangan para penyusup menyentuh gagang pintu yang teraliri listrik tegangan rendah.
Tidak mematikan, tapi cukup untuk membuat saraf mereka kaku sesaat.
Luca yang mendengar kekacauan di luar menatap Queen dengan tidak percaya.
"Kau... kau yang melakukan itu?" tanya Luca penasaran.
Queen mendongak, wajahnya mulai pucat karena kelelahan. Mengakses kode enkripsi dengan otak bocah lima tahun terasa seperti mencoba menjalankan software berat di komputer jadul. Kepalanya mulai berdenyut nyeri.
"Luca, Queen pusing..." bisiknya sambil memegangi kepalanya. "Tapi, jangan biarkan paman jahat masuk. Queen sudah mengunci liftnya."
"Tahan sebentar lagi, Kelinci Pink," ucap Luca. Ia baru menyadari bocah ini bukan sekadar kunci. Queen adalah jenius kecil yang sedang bertarung dengan caranya sendiri.
Tiba-tiba, layar monitor Queen berubah menjadi merah.
WARNING: SYSTEM BREACH.
"Sial! Mereka punya hacker juga!" Alena memaki dalam hati. Ia melihat kursor di layar bergerak sendiri, mencoba mengambil alih kendali sistem keamanan dari tangannya.
"Tidak akan Queen biarkan!" Queen memukul keyboard dengan gemas. Ia menggunakan teknik looping sederhana, yang hanya bisa dilakukan otaknya saat ini tanpa membuatnya pingsan.
Queen mengunci akses admin dengan pertanyaan keamanan yang konyol.
Sementara di luar, suara ledakan terdengar semakin dekat.
"Luc! Mereka menggunakan granat di gerbang dalam!" Bobby terdengar panik.
"Aku tahu!" Luca berlari mendekati Queen lalu menarik bocah itu dari kursi dan membopongnya. "Cukup. Kau sudah melakukan banyak hal. Sekarang kita harus pindah ke ruang bawah tanah."
"T—tapi Luca, Queen belum selesai mematikan drone pusat mereka..." Queen meronta lemah dalam pelukan Luca. "Sedikit lagi..."
"Kau sudah hampir pingsan, lihat wajahmu!" Luca menatap Queen dengan cemas. Napas bocah itu tersendat dan wajahnya sangat pucat. Tubuh kecil itu sudah mencapai batasnya. "Kita pergi sekarang!"
Saat Luca berlari keluar ruangan sambil menggendong Queen, bocah itu sempat melirik ke arah monitor yang ditinggalkannya. Ia berhasil memasukkan perintah terakhir.
Gas putih mulai keluar dari langit-langit lorong depan, mematikan oksigen di area tersebut dan memaksa para penyusup mundur karena sesak napas.
"Sangat di luar dugaan. Kau benar-benar bocah ajaib," gumam Luca sambil terus berlari melewati lorong yang penuh asap.
Queen tidak menjawab. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Luca, matanya terpejam rapat. Ia merasa sangat lelah, jauh lebih lelah daripada saat ia meretas database pemerintah di kehidupan sebelumnya.
"Luca..." bisik Queen lemah.
"Hmm?"
"Nanti... belikan Queen ayam goreng lagi, ya?"
"Ayam goreng?"
Queen mengangguk. "Anggap saja karena Queen sudah... membantu..."
Luca berdecih dan mempererat pelukannya pada tubuh mungil yang terasa dingin itu.
"Baiklah, seperti maumu. Sekarang diam dan tetaplah bernapas, Kelinci Pink."
lelaki remaja dgn anak balita 😁😁😁
ternyata Sean juga manusia biasa😌