Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.
Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.
Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?
Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.
Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 — Pukulan Demi Pukulan —
Setelah keluar kelas dan memisahkan diri dari pasangan masing-masing, aku dan Satoshi Akanji pergi ke tempat yang tidak dilalui banyak orang. Tentu saja, aku yang memimpin jalan.
Aku lebih familiar karena sempat tersesat di hari pertama, dan aku tidak lagi memakai fitur peta sekarang.
Kami tidak bicara sepatah kata pun di perjalanan. Kami hanya saling diam. Tapi, aku yakin kalau laki-laki itu akan melakukan sesuatu padaku nanti.
Udara pagi menjelang siang ini tidak terasa panas. Meski tidak ada angin yang berhembus, aku tetap merasa ada yang menggelitik kulitku.
Sekarang adalah waktu istirahat, jadi ada beberapa orang yang lalu-lalang di sekitar. Makanya aku berniat membawanya ke tempat sepi.
Kami terus berjalan sampai akhirnya tiba di halaman belakang sekolah dekat gedung kelas satu.
Tidak ada orang di sini kecuali kami berdua. Hanya ada hamparan rerumputan hijau, dengan satu pohon besar yang berdiri kokoh menghalangi sinar matahari.
Aku menghentikan langkahku, berniat balik badan untuk menatap laki-laki itu. Namun...
BUK!
Tanpa peringatan, dia tiba-tiba memukul wajahku dengan tangan kanannya. Pukulannya melayang begitu keras sampai tubuhku terhuyung.
Ah, ini menyakitkan.
Bagaimanapun, dipukul tidak mungkin tidak terasa sakit. Meski beda cerita jika ada yang memiliki kelainan, maksudku kasus spesial.
Aku pun berusaha berdiri tegak, lalu memegangi pipiku yang terasa panas di kulit. Dan menatapnya.
"Asal kau tahu, aku selalu menepati kata-kataku. Bagaimana rasanya dipukul? Ini balasan karena ulah pasanganmu sendiri."
Dia berdiri diam dengan tangan kanannya yang terangkat. Ototnya benar-benar telah beraksi, dan wajahnya menunjukkan seringai kepuasan.
Aku tidak berniat melawan. Bukan karena takut, tapi karena rencanaku tidak seperti itu.
"Kau ini tipe orang yang bertindak tanpa berpikir dulu, ya?"
"Memangnya kenapa? Mau kupukul lagi?"
"Kau tidak takut dengan hukuman? Bagaimana jika aku melaporkanmu?"
Mendengarku yang bertanya balik, senyumnya semakin lebar.
"Kau mau ngadu? Hahaha... menggelikan sekali!"
Kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
Melihat reaksinya yang seperti ini, tentunya aku tahu kalau dia tidak bisa diganggu semudah itu.
Kurasa ini akan sedikit sulit untuk menjalankan rencanaku. Lumayan merepotkan juga, tapi aku ingin mencobanya.
"Hei, apa kau sudah puas terkekeh?"
Tawanya berhenti begitu mendengar suaraku.
Kini kami saling menatap satu sama lain. Tatapannya turun naik.
Rupanya dia sangat meremehkanku. Secara fisik, aku mungkin tidak punya kesempatan untuk menang. Tapi secara mental, aku bisa unggul.
Kupikir dia hanya mengandalkan ototnya dan sangat jarang menggunakan otaknya. Oleh karena itu, aku harus berpikir selangkah lebih dulu.
"Satoshi Akanji-kun."
Aku memanggilnya pelan.
"Hah?! Kau tidak akan bisa lolos dari pukulanku meski memohon-mohon!"
Dia masih saja merespons dengan kasar. Dan sepertinya dia berniat melayangkan pukulan kedua.
"Kau percaya diri sekali, ya?"
"Ya, semuanya tunduk padaku! Aku sampai berhasil membuat Sera Nanashi yang cantik jadi pasanganku, tapi aku ini sedang kesal sekarang."
"Kenapa kau kesal?"
"Karena kau merebut perhatian gadis itu! Dasar bajingan, aku akan merusak wajah tampanmu itu sampai tak berbentuk!"
Dia menunjuk-nunjuk wajahku sembari melampiaskan emosinya, bahkan sampai mengancam.
Tidak, itu bukan ancaman. Otaknya tidak perlu bekerja keras karena tubuhnya pasti bergerak lebih dulu.
"Aku berusaha diam selama ini karena takut membuat Sera-san marah. Aku mengikuti segala perintahnya, tapi kau yang malah jadi perhatiannya!"
"Oh, begitu?"
"Bersiaplah, Naruse Takashi! Dengan pengaruh ayahku, aku tidak akan dihukum."
Sesuai perkiraanku, dia bergerak maju dan berniat menyerangku lagi. Genggaman tangan kanannya kembali melayang mengarah ke wajahku.
Gerakannya sebenarnya tidak begitu cepat, dan aku bisa menghindarinya sebelum mengenai wajahku.
Namun, aku harus membiarkan diriku terpukul karena aku masih perlu satu informasi lagi darinya. Sampai akhirnya...
BUKKK!!
Sebuah pukulan yang lebih keras melayang, membuat tubuhku hampir kehilangan keseimbangan. Penglihatanku sempat buram.
Sepertinya dia mengerahkan seluruh tenaganya di pukulan kedua. Benar-benar tidak ada ampun.
Rasanya sakit. Sangat menyakitkan. Tapi, ini tidak ada apa-apanya jika semuanya demi Elena.
Aku memegangi pipi kananku yang telah terpukul sebanyak dua kali. Dan ada sedikit darah yang mengalir dari sana.
Bau besi tercium begitu kuat, apalagi telapak tanganku setengah berdarah imbas menyeka pipiku.
"Sakit, kan? Makanya jangan berani-berani menghinaku!"
Aku menatapnya. Wajahnya begitu menggambarkan ekspresi kemenangan. Alisnya naik, bibirnya melengkung lebar.
"Kau sudah puas sekarang? Boleh aku bicara?"
"Ya, silakan. Tidak akan kujawab juga."
"Menurutku kau harus merespons."
"Siapa kau berani memerintahku? Aku mengikutimu ke sini karena disuruh Sera-san, jadi jangan salah paham."
Mungkin karena merasa puas setelah memukulku, dia langsung membalikkan badannya setelah mengatakan itu... berniat pergi menemui pasangannya kembali.
"Kau yakin langsung pergi begitu saja?"
"Kalau kau berani melapor ke Sera-san, aku akan memukulimu lebih banyak lagi. Tidak peduli jika dia marah padaku, yang penting dia bisa kehilangan minat padamu."
"Itu artinya, kau membenciku?"
"Ya, aku benci orang yang tidak berusaha keras tapi bisa menarik perhatian."
Dia bicara tanpa pertimbangan sama sekali. Tidak heran jika tindakannya juga begitu. Logikanya dangkal, apalagi pemahaman dasarnya.
Langkahnya semakin menjauh. Kupikir aku harus membuatnya berbalik sekarang.
"Kau tahu, Akanji-kun? Aku juga tidak ingin bertukar pasangan. Dan aku tidak menaruh minat pada Sera Nanashi."
Dia berhenti berjalan ketika mendengar itu, dan tak lama dia kembali menghadapiku. Dia lebih gampangan dari yang aku kira.
"Kau... serius?"
Kata-katanya tertahan sedikit. Wajahnya kini lebih ramah ketimbang sebelumnya.
"Tentu saja. Kalau kau mau tetap berpasangan dengannya, aku akan menawarimu sesuatu."
"Kau menawarkan apa?"
"Kau ingat permintaan kedua dari Sera Nanashi kalau menang duel, kan?"
"Dia bilang ingin bertukar pasangan."
"Nah, kalau kau bisa membuatnya membatalkan permintaan kedua itu... aku akan memberimu lima puluh poin pribadi."
Akhirnya aku bisa mengatakannya.
"Apa? Lima puluh poin pribadi? Bukan poin pasangan?"
"Ya, poin pribadi."
"Harusnya kau bilang dari awal!"
"Bagaimana aku melakukannya jika kau langsung main pukul?"
Dia terdiam.
Setidaknya aku mengerti satu hal. Melihat apa yang sudah dilakukannya sampai sekarang, laki-laki ini sama sekali tidak punya kesempatan untuk menggunakan poin pasangan, makanya poin pribadi sangat berharga untuknya.
Jadi, aku langsung tahu kalau tawaranku ini akan diterima olehnya.
"Baiklah, Takashi-kun. Akan kucoba berbagai cara sampai dia membatalkannya. Jangan lupakan janjimu, atau kau akan kuhajar habis-habisan."
Dia pergi begitu saja meninggalkanku. Dia bahkan bicara seolah yakin Sera Nanashi akan menang. Padahal, itu belum tentu.
Betapa bodohnya. Aku sampai ketularan karena ikut meladeninya.
"Hah..."
Aku pun menghela napas panjang, bersiap untuk pergi ke UKS lebih dulu. Darahku belum berhenti mengalir.
Namun, begitu aku ingin melangkahkan kaki...
Krak!
Suara ranting patah terdengar. Kedengarannya memang tidak keras, tapi telingaku sensitif.
Kukira hanya aku yang tersisa di tempat ini, tapi ternyata ada satu orang yang menguping di balik pohon.
"Keluarlah, jangan sembunyi begitu!"
Aku terpaksa mengungkapnya, dan perlahan dia keluar dari persembunyiannya.
"Selamat siang, Naruse Takashi. Haruskah aku menyebutmu pahlawan? Atau mungkin, pembunuh?"
"Eh... kau?"
Tubuhku tersentak begitu mendengar suara itu. Bukan hanya kata-katanya, tapi kemunculan sosoknya juga berhasil membuatku merinding.
Jujur saja, ini lebih menakutkan ketimbang ditampar dua kali oleh Satoshi Akanji.