Aku hanyalah setetes air di tengah samudra luas.Melangkah di dunia ini semata-mata agar tetap merasa hidup.
Dengan pedang di tanganku, aku menolong mereka yang terjatuh.
Aku menebas musuh, menghabisi iblis, dan menghadang kegelapan.
Namun aku ragu…Mampukah aku menyelamatkan diriku sendiri?
Dengan kekuatan yang bahkan mampu menumbangkan naga,
Akulah legenda yang bangkit dari darah dan luka—Sang Legenda Naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Retribusi Langit
Angin di Puncak Naga tidak lagi bertiup; ia menderu, membawa aroma belerang dan kematian.
Awan-awan di atas puncak itu berputar membentuk pusaran raksasa, seolah-olah langit sendiri ketakutan melihat apa yang akan terjadi di bawahnya.
Tian Shan berdiri di tepi tebing yang curam, menatap ke arah horison yang kini berubah menjadi warna merah darah.
Di depannya, Gao Feng berdiri dengan tubuh yang hampir tak lagi menyerupai manusia.
Kulitnya kini tertutup guratan hitam yang berdenyut, dan di tangannya, ia memegang sebuah benda yang memancarkan aura kegelapan yang menjijikkan: Jantung Iblis Kuno, sebuah artefak terlarang yang disegel ribuan tahun lalu.
"Kau melihat ini, Tian Shan?!" Gao Feng tertawa, suaranya kini terdengar seperti ribuan jeritan yang menyatu. "Aku menukar sisa kemanusiaanku untuk artefak ini! Aku menukar jiwaku hanya untuk melihatmu hancur!"
Tanpa menunggu jawaban, Gao Feng meremas artefak itu.
Sebuah ledakan energi hitam masif keluar, menghantam atmosfer dan menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan separuh dari Puncak Naga.
Gao Feng melesat dengan kecepatan yang melampaui konsep Pendekar Langit. Setiap ayunan pedangnya kini bukan lagi sekadar fisik, melainkan robekan pada realitas itu sendiri.
BUM! BUM! BUM!
Setiap kali pedang mereka beradu, tanah di bawah mereka amblas puluhan meter. Hutan di lereng gunung rata dengan tanah dalam hitungan detik.
Sungai yang mengalir di bawah puncak menguap seketika karena panasnya gesekan energi mereka.
Tian Shan tetap dingin, namun kali ini ia tidak bisa hanya bertahan. Ia mencabut pedang naga sepenuhnya.
Bilahnya yang bersisik mengeluarkan raungan naga yang sanggup meruntuhkan mental siapapun.
"Kau memilih kehancuran murni, Gao Feng." ucap Tian Shan singkat di tengah hujan debu dan batu.
Pertarungan berubah menjadi sangat brutal. Gao Feng menyerang tanpa mempedulikan nyawanya sendiri.
Ia membiarkan pedang Tian Shan menyayat bahunya hanya agar ia bisa menanamkan tinju hitamnya ke ulu hati Tian Shan.
Keduanya terhempas menembus pegunungan, menghancurkan puncak demi puncak seolah-olah itu hanya gundukan pasir.
Dunia seakan kiamat. Langit yang terbelah mengeluarkan petir ungu, dan tanah yang retak mengeluarkan lava panas.
Ini bukan lagi pertarungan dua pendekar; ini adalah bencana alam yang memiliki nama.
Gao Feng menangkap leher Tian Shan di udara, menyeretnya jatuh menghantam dataran tinggi dengan kekuatan yang sanggup membelah benua.
DUMMM!
Sebuah kawah sedalam seratus meter tercipta. Di dalam kawah itu, Gao Feng menghujani Tian Shan dengan pukulan bertubi-tubi yang masing-masingnya membawa kutukan artefak terlarang.
"Rasakan ini! Rasakan setiap tetes penderitaan yang kau berikan padaku!" Gao Feng berteriak sambil memuntahkan darah hitam.
Tian Shan, yang wajahnya kini mulai berlumuran darah, menatap Gao Feng dengan dingin yang tak tergoyahkan.
Di tengah siksaan itu, ia mengingat Lin. Ia mengingat bagaimana rasanya kehilangan. Dan ia menyadari, Gao Feng bukan sedang menyerangnya; Gao Feng sedang memohon untuk dihentikan.
Dengan satu ledakan Qi naga yang luar biasa, Tian Shan melepaskan diri.
Ia melayang naik, auranya berubah dari ungu dingin menjadi putih menyilaukan—ranah yang mendekati Pendekar Abadi.
"Kau ingin aku merasakan penderitaanmu?" suara Tian Shan menggema, menghentikan aliran lava di bawah mereka. "Aku sudah memikulnya sejak hari kau lahir."
Tian Shan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
Naga transparan raksasa yang muncul di belakangnya kini memiliki mata yang menangis. Ini adalah teknik rahasia yang ia pelajari dari rasa kehilangannya: "Tebasan Langit yang Berduka."
Gao Feng mencoba mengangkat artefaknya untuk menangkis, namun kekuatan itu terlalu besar.
Tebasan itu turun bukan sebagai serangan, melainkan sebagai hukum alam yang mutlak.
CRAAAAASH!!!
Puncak Naga terbelah dua. Seluruh wilayah Air Tenang bergetar hebat hingga ke fondasinya.
Cahaya putih menelan segalanya, menghapus kegelapan artefak terlarang dan teriakan gila Gao Feng.
Saat cahaya itu memudar, yang tersisa hanyalah kehancuran total. Gunung yang dulu megah kini hanya tersisa setengah.
Di tengah reruntuhan yang masih berasap, Tian Shan berdiri tegak, memegang pedangnya yang kini retak.
Di depannya, Gao Feng tergeletak tak berdaya, artefak terlarangnya telah hancur menjadi abu.
Tian Shan tidak bicara. Ia hanya menatap langit yang perlahan kembali membiru, menyadari bahwa kemenangan ini hanyalah luka lain yang harus ia bawa selamanya.
Bagian terakhir dari sejarah ini sudah di depan mata.