Satu kontrak, dua keluarga, dan ribuan rahasia. Bagi Bhanu Vandana, Selena Arunika adalah aset yang ia beli. Bagi Selena, Bhanu adalah tirani yang harus ia taklukkan. Di aula yang beraroma cendana, mereka tidak memulai sebuah pernikahan, melainkan sebuah peperangan. Saat fajar bertemu dengan matahari yang beku, siapa yang akan bertahan ketika topeng-topeng kekuasaan mulai retak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Special chapter 6 (End)
"Ayah! Jaga Ibu!" Altair berseru dengan nada mendesak melalui sambungan saraf langsung ke helm Bhanu.
Di momen itu, Altair menyadari satu hal yang selama ini luput dari pengamatan Eleanor: sang nenek terlalu mendewakan data sebagai puncak kekuasaan, padahal data hanyalah bayangan dari kehidupan yang nyata. Tanpa ragu, Altair mengambil langkah paling berisiko yang pernah dilakukan seorang Alpha.
Ia tidak mencoba meretas atau menyerang Eleanor dengan logika. Sebaliknya, Altair membuka seluruh sistem pertahanannya dan membiarkan setiap virus, data rusak, hingga sampah digital dari seluruh penjuru internet mengalir masuk ke dalam dirinya.
"Apa yang kau lakukan?!" Eleanor mulai kehilangan ketenangan saat melihat indikator sistemnya berubah merah. "Kau akan menghancurkan otakmu sendiri, Altair!"
"Aku akan menelan semua kegelapan ini, Nenek. Dan akan kupastikan kau merasakannya juga," sahut Altair tenang, meski napasnya mulai terasa berat.
Tubuh Altair berubah menjadi semacam lubang hitam digital. Ia menarik seluruh daya dari The Ark, memaksa setiap protokol berbahaya milik Eleanor berbalik arah dan masuk ke dalam pusat sarafnya. Suasana di ruangan itu berubah drastis; suhu meningkat cepat hingga udara terasa menyesakkan. Altair merangsek masuk ke inti kesadaran Eleanor, menemukan baris kode yang membentuk eksistensi wanita itu, lalu mulai menghapusnya satu demi satu.
"Tidak! Jangan lakukan itu! Aku adalah penciptamu!" jerit Eleanor saat tubuh sibernetiknya mulai mengeluarkan percikan listrik dan kepulan asap.
"Kau hanyalah sebuah kesalahan algoritma yang sudah saatnya diperbaiki," ucap Altair singkat.
Dengan satu dorongan energi terakhir, Altair melepaskan sebuah Global Reset. Ia tidak mematikan teknologi dunia, melainkan menanamkan sebuah "Enkripsi Nurani". Sebuah pengaman yang memastikan bahwa mulai detik ini, tidak akan ada lagi manusia yang bisa mengendalikan pikiran orang lain melalui perangkat teknologi.
Eleanor pun tamat. Kesadarannya pecah berkeping-keping menjadi fragmen data yang tidak lagi memiliki arti. Gedung The Ark mulai bergetar hebat saat sistem penopang bebannya berhenti berfungsi.
Bhanu bergerak cepat, ia merangkul Selena yang mulai sadar dan membawanya keluar dari gedung tepat sebelum ledakan besar menghanguskan segalanya. Dari kejauhan, mereka melihat Altair terjatuh dari puncak gedung, tubuhnya tampak tidak berdaya seperti kain yang terlepas dari ikatannya.
Epilog: Satu Tahun Kemudian
Di sebuah pesisir terpencil di Indonesia, matahari terbenam dengan warna jingga yang hangat. Seorang pemuda duduk dengan tenang di atas pasir, menatap deburan ombak tanpa ada lagi gangguan frekuensi atau suara denging satelit di kepalanya.
Altair kini benar-benar lepas dari dunia digital. Ia tidak bisa lagi meretas, tidak bisa lagi mendengar transmisi rahasia. Ia telah menukar seluruh kemampuannya sebagai Alpha demi memberikan kebebasan bagi keluarganya dan dunia.
"Rasanya berbeda, ya?" tanya Selena sambil duduk di samping putranya, menyodorkan potongan kelapa muda.
Altair tersenyum, sebuah senyum yang terasa jauh lebih nyata dari sebelumnya. "Rasanya luar biasa, Bu. Untuk pertama kalinya, aku hanya mendengar suara ombak. Bukan suara bising dari server."
Tak lama kemudian, Bhanu datang membawa dua papan seluncur. "Ayo, jagoan. Mari kita coba seberapa hebat kau menaklukkan ombak tanpa bantuan perhitungan algoritma di kepalamu."
Di sudut lain, Raka dan Dahayu sedang sibuk menyiapkan ikan bakar di api unggun. Mereka bukan lagi ilmuwan yang dikejar-kejar atau hantu digital; mereka hanyalah sebuah keluarga yang berhasil pulang ke pelukan alam setelah melewati badai teknologi yang panjang.
Kisah keluarga Vandana dan Arunika berakhir di sini. Bukan sebagai penguasa teknologi, melainkan sebagai manusia biasa yang menyadari bahwa kekuatan terbesar bukanlah pada kode yang rumit, melainkan pada ketulusan hati yang saling menyayangi dalam kebebasan yang nyata.
TAMAT.
Happy reading sayang...
Sampai jumpa di buku lainnya. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menunaikan. Semoga dilancarkan dan penuh berkah hingga hari kemenangan nanti.
Annyeong love...