"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.
Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Malam pertama di kediaman mereka di Swiss setelah Daven pulang dari rumah sakit menjadi awal dari kediktatoran cinta seorang Nickholes Teldford.
Bayi mungil itu, yang diberi nama Daven Teldford, sedang tidur nyenyak di box bayi di samping ranjang. Namun, yang jauh lebih sibuk daripada sang bayi adalah ayahnya.
Nick berubah menjadi pria paling protektif, riweh, dan sedikit berlebihan yang pernah ada.
Nadine baru saja mencoba menggeser tubuhnya sedikit ke tepi ranjang karena merasa haus, namun suara gesekan sprei saja sudah cukup untuk membuat Nick yang sedang melipat baju bayi di pojok kamar langsung melompat siaga.
"Eits! Mau ke mana?" tanya Nick dengan mata membelalak, ia langsung berlari kecil menghampiri Nadine.
"Nick, aku hanya haus. Aku mau ambil air di meja itu," jawab Nadine sambil menunjuk botol minum yang jaraknya hanya dua meter.
"Jangan bergerak!" Nick mengangkat tangannya seperti polisi yang sedang menghentikan lalu lintas. "Nadine, kau baru saja melahirkan tiga hari yang lalu. Otot-ototmu, tulangmu, semuanya masih dalam masa pemulihan. Biar aku yang ambilkan."
Nick mengambil botol itu, membukakan tutupnya, bahkan memasukkan sedotan ke dalamnya agar Nadine tidak perlu mengangkat tangan terlalu tinggi. "Minumlah, Yang Mulia Ratu."
Nadine hanya bisa menghela napas panjang namun tak urung tersenyum. "Aku bukan lumpuh, Nick. Dokter bilang aku justru harus banyak bergerak pelan-pelan."
"Dokter itu tidak tahu rasanya menjadi aku yang hampir mati ketakutan melihatmu berjuang di ruang bersalin," sahut Nick sambil membetulkan letak selimut Nadine hingga ke dada. "Pokoknya, selama seminggu ini, kakimu tidak boleh menyentuh lantai tanpa seizinku."
Sekitar pukul dua pagi, Daven terbangun dan mulai merintih karena popoknya basah. Nadine secara insting mencoba duduk untuk menggendong bayinya.
"TETAP DI SANA!" seru Nick dalam bisikan keras yang justru lebih berisik daripada tangisan Daven.
Nick langsung menyambar Daven dengan gerakan yang sangat hati-hati namun terlihat kaku karena ia sangat gugup. "Daven sayang, Jagoan Ayah... jangan ganggu Ibu, ya. Ibu sedang mode hibernasi. Sini sama Ayah."
Nadine memperhatikan dari ranjang dengan rasa geli sekaligus haru. Nick, sang kapten tim football yang biasanya memegang bola dengan kasar, kini terlihat sangat "riweh" saat mengganti popok Daven.
"Aduh, Daven... kenapa perekat ini susah sekali dipasang? Kau jangan menendang-nendang dulu, Nak. Ayah sedang berusaha fokus," gumam Nick sambil berkeringat dingin. "Oke, satu sisi selesai... eh, kenapa miring? Waduh, jangan pipis sekarang, Daven! Tunggu, tunggu!"
Nadine tertawa kecil melihat Nick yang hampir terjungkal saat menghindari pancuran pipis mendadak dari Daven. "Nick, sini kubantu..."
"Tidak! Tetap di ranjang, Nadine! Aku bisa mengatasinya. Ini adalah latihan militer untukku," tolak Nick dengan gigih. Ia akhirnya berhasil mengganti popok setelah memakan waktu sepuluh menit dan menghabiskan lima lembar tisu basah ekstra.
Puncaknya adalah saat pagi hari ketika Nadine benar-benar harus ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Aku mau mandi, Nick. Jangan bilang aku harus mandi di atas kasur juga," ucap Nadine dengan nada menantang.
Nick terdiam sejenak, tampak berpikir keras. "Oke, kau boleh ke kamar mandi. Tapi..."
Tanpa aba-aba, Nick langsung mengangkat tubuh Nadine. "Aku akan menggendong mu sampai ke dalam, mendudukkan mu di kursi mandi, dan aku akan menunggu di depan pintu. Jika kau butuh sabun, handuk, atau bahkan hanya butuh seseorang untuk diajak bicara agar tidak bosan, panggil aku."
"Nick, aku hanya mau buang air kecil dan cuci muka!" seru Nadine sambil tertawa di dalam gendongan Nick.
"Tidak peduli. Lantai kamar mandi itu licin, Nadine. Bagaimana kalau kau terpeleset? Bagaimana kalau kau pusing? Daven akan kehilangan Ibunya dan aku akan kehilangan jantungku," ucap Nick dengan kata-kata konyolnya yang khas.
Setelah menaruh Nadine di kamar mandi, Nick benar-benar berdiri di depan pintu yang sedikit terbuka, sambil menggendong Daven yang sudah kembali tenang.
"Daven, lihat itu... Ibumu keras kepala sekali, ya? Dia tidak tahu kalau Ayah ini sedang dalam mode pengawalan VIP," bisik Nick pada bayinya. Lalu ia berteriak sedikit, "Nadine! Jangan pakai air yang terlalu panas! Ingat kata buku yang kubaca, suhu air harus pas!"
"NICK! DIAMLAH!" teriak Nadine dari dalam, namun di balik pintu itu, ia tersenyum sangat lebar.
Sore harinya, saat Victoria Saville datang berkunjung, ia mendapati Nick sedang sibuk memasang baby monitor di lima titik berbeda di dalam kamar, sementara Nadine dipaksa duduk bersandar di tumpukan bantal empuk.
"Nick, kau berlebihan," komentar Victoria sambil melihat Nick yang sedang mengecek suhu ruangan untuk kesepuluh kalinya.
"Tidak ada kata berlebihan untuk keluarga saya, Madam," jawab Nick mantap sambil mengecup kening Daven yang ada di pelukan Nadine.
Nick kemudian duduk di lantai, bersandar pada kaki ranjang Nadine seperti yang sering ia lakukan di rumah sakit dulu. Ia menatap istri dan anaknya dengan mata yang berbinar penuh kebahagiaan.
"Daven... nanti kalau kau sudah besar, kau harus tahu. Ibumu ini adalah wanita terhebat. Dia bisa melahirkan mu sambil menertawakan Ayahmu yang menangis," ucap Nick konyol, membuat Nadine kembali tertawa dan melempar bantal kecil ke arahnya.
"Dan kau, Nick," balas Nadine sambil mengelus rambut Nick. "Adalah ayah paling riweh dan paling berisik di seluruh Swiss. Tapi... terima kasih sudah menjagaku sesigap ini."
Nick meraih tangan Nadine, menciumnya lama. Senyumannya pagi itu benar-benar tidak luntur, menandai babak baru kehidupan mereka yang penuh warna, tawa, dan tentu saja, keriwehan seorang Nickholes Teldford sebagai ayah baru.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰