⚠️MC NON MANUSIAWI‼️
Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.
Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.
Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.
Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.
Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut
ANTI DAO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembah Kematian 4
Udara di batas Formasi Penekan Ekstrem Lembah Kematian tiba-tiba terasa jauh lebih panas dari sebelumnya. Bukan karena formasi magma yang kembali bekerja, melainkan karena gesekan niat membunuh yang mulai memadat dari kubu Keluarga Lu.
Darah merah segar yang menetes dari lengan Lu Huang adalah pemicunya. Tubuh besar itu terluka oleh seorang buangan.
Sring! Sring! Sring!
"Bajingan! Daimeng berani sekali kau!" Teriak seorang tetua keluarga Lu dengan wajah marah.
Disusul puluhan tetua Keluarga Lu secara serentak mencabut senjata pusaka mereka. Pedang, golok, dan tombak memancarkan Qi yang tajam, diarahkan lurus ke dada Lu Daimeng. Lu Zhuxin, yang baru saja bangkit dari tanah akibat hempasan gelombang kejut, langsung melesat dengan kecepatan penuh dan berdiri tepat di samping Lu Huang. Pedang giok teratai di tangannya bergetar oleh amarah yang membara.
"Berani kau melukai Kakak Pertama!" desis Lu Zhuxin, wajah cantiknya terdistorsi oleh kebencian. "Kau benar-benar tidak tahu diuntung. Hari ini, kami akan membersihkan aib keluarga ini dengan tangan kami sendiri!"
Lu Huang menggeram rendah, otot-otot di lengannya menegang untuk menghentikan pendarahan. Matanya merah menyala, siap untuk melepaskan seluruh kekuatan Ranah Roh Tahap 5-nya dan mencabik-cabik Lu Daimeng menjadi serpihan daging.
Namun, Lu Daimeng tidak mundur satu inci pun. Dia berdiri tenang, mengayunkan Pedang Jiwa Surgawi di tangannya ke samping untuk membersihkan sisa darah Lu Huang. Senyumnya tipis, dingin, dan tidak peduli. Matanya bersinar ungu menatap lurus ke arah barisan Keluarga Lu, seolah sedang menghitung jumlah domba di padang rumput.
"Kalian terlalu berisik," kata Lu Daimeng datar.
Tepat saat Lu Huang hendak menerjang ke depan, suara langkah kaki yang teratur dan tenang terdengar dari arah belakang Lu Daimeng.
Bukan satu atau dua orang, melainkan puluhan.
Lu Huang menghentikan langkahnya secara paksa. Matanya menyipit penuh kewaspadaan. Lu Zhuxin terkesiap, mundur setengah langkah.
Dari balik debu vulkanik yang beterbangan, Qin Chen berjalan maju dengan kipas tulang naga yang terbuka setengah, menutupi senyum tipis di wajahnya. Tepat di sebelahnya, Lei Zuan melangkah dengan tombak petir yang memercikkan kilat biru, wajahnya keras dan seolah siap bertempur. Di belakang kedua jenius itu, puluhan ahli Ranah Roh dari Keluarga Qin dan Keluarga Lei berdiri membentuk formasi melengkung, serasa siap memblokir seluruh rute serangan Keluarga Lu.
Mereka tidak menyerang. Mereka hanya berdiri. Tepat di belakang punggung Lu Daimeng, seolah-olah mantan sampah Keluarga Lu itu adalah komandan aliansi mereka.
"Apa maksudnya ini?!" Lu Huang meraung, suaranya menggelegar menggetarkan bebatuan di sekitarnya. "Qin Chen! Lei Zuan! Ini adalah urusan internal Keluarga Lu! Mengapa kalian melindungi bajingan ini?!"
Lu Zhuxin ikut menunjuk dengan ujung pedangnya, suaranya melengking. "Kalian melanggar kesepakatan netralitas ekspedisi! Apakah Keluarga Qin dan Lei ingin memicu perang terbuka dengan Keluarga Lu di sini dan sekarang?!"
Qin Chen tertawa halus. Dia menutup kipasnya dengan bunyi plak pelan. "Nona Lu, Tuan Lu. Kalian terlalu cepat mengambil kesimpulan. Kami tidak berniat mencampuri urusan keluarga kalian. Kami hanya... berdiri di sini. Beristirahat mencari udara segar."
Lei Zuan mendengus, menyandarkan tombaknya di bahu. "Ya. Tempat ini cukup nyaman. Siapa yang peduli di mana kami berdiri?"
Lu Huang bukanlah orang bodoh, meskipun dia mudah marah. Dia tahu ini bukan kebetulan. Berdirinya dua keluarga besar di belakang Lu Daimeng adalah sebuah blokade politik dan fisik yang absolut.
Lalu, bagaimana hal ini bisa terjadi?
Beberapa puluh menit yang lalu, mundur ke momen di mana Lu Daimeng memanjat Pohon Darah Bodhi dan memetik buah-buah purba tersebut. Saat dia duduk di dahan dan melemparkan buah pertama kepada Qin Chen, dan buah kedua kepada Lei Zuan, itu bukanlah sekadar sedekah yang arogan.
Bersamaan dengan lemparan buah itu, Lu Daimeng telah mengaktifkan anti dao Psikis di otaknya. Dia menggunakan Dark Null untuk membungkus gelombang pikirannya, menembus Formasi Penekan Ekstrem, dan mengirimkan transmisi suara mental yang sangat rahasia, langsung ke dalam benak Qin Chen dan Lei Zuan.
Transmisi itu singkat, dingin, dan sangat transaksional:
"Ini adalah bayaran di muka. Aku akan menebas Lu Huang begitu kita keluar dari batas formasi. Jika aku gagal memenggal lehernya, pastikan pasukan kalian berdiri tepat di belakangku. Kalian tidak perlu ikut campur, kalian tidak perlu menyerang. Cukup berdiri. Sisanya, aku yang urus."
Bagi Qin Chen dan Lei Zuan, itu adalah kesepakatan yang terlalu menguntungkan untuk ditolak. Mendapatkan Buah Darah Bodhi tingkat Ranah Kuno (setengah matang) secara cuma-cuma, hanya dengan syarat "berdiri di belakang"? Itu adalah barter termurah dalam sejarah dunia kultivasi. Terlebih lagi, membiarkan Keluarga Lu dipermalukan dan ditekan secara politik sangat menyenangkan untuk diceritakan di depan keluarga mereka.
Kembali ke masa sekarang.
Lu Daimeng memutar pedang hitam legam di tangannya. Matanya yang memiliki Triple Pupil ganda menatap Lu Huang dengan pandangan yang menguliti jiwa.
Lu Daimeng tahu persis apa yang ada di pikiran kakaknya. Otak liciknya telah menyusun papan catur ini sepuluh langkah lebih jauh dari yang bisa dilihat oleh siapapun.
"Nah, Anjing Pertama, Lu Huang!," suara Lu Daimeng memecah keheningan, nadanya mengalun seperti melodi kematian yang lembut. "Bagaimana sekarang? Apa kau masih mau lanjut?"
"Kau..." Lu Huang menggertakkan giginya hingga hampir retak. Darah dari lengannya menetes lebih cepat karena tekanan darahnya yang naik. "Kau pikir dengan bersembunyi di balik rok Keluarga Qin dan Lei, kau bisa selamat dariku?! Mereka bilang mereka tidak akan ikut campur! Jika aku membunuhmu sekarang, mereka hanya akan menonton!"
"Tentu saja," Lu Daimeng mengangguk santai, senyum psikopatnya mengembang. "Mereka memang hanya akan menonton. Tapi kau melupakan satu variabel penting, Kakak. Aku tidak perlu mereka untuk melawanmu."
Lu Daimeng mengambil satu langkah ke depan. Aura Naga di dalam darahnya dipadatkan dengan Niat Membunuh, menciptakan tekanan gravitasi yang membuat udara di sekitar Keluarga Lu terasa sesak.
"Mari kita bicara rasional," ucap Lu Daimeng, suaranya kini terdengar seperti instruktur militer yang sedang membedah taktik musuh.
"Kau berada di Ranah Roh Tahap 5. Tubuhmu keras, kekuatanmu luar biasa. Jika kau menyerangku dengan kekuatan penuh, mungkin kau bisa membunuhku. Ya, aku akui itu. Tapi..."
Lu Daimeng menyipitkan matanya, menunjuk ke barisan tetua Keluarga Lu dengan ujung pedangnya.
"...itu akan memakan waktu. Mungkin puluhan jurus. Mungkin ratusan jurus. Dan dalam rentang waktu tersebut, apakah kau pikir aku akan diam dan hanya beradu fisik denganmu?"
Wajah Lu Huang mulai pucat. Dia menyadari arah pembicaraan ini.
"Aku memiliki metode aneh, sayap baja, teknik mental delapan pedang dan teknik aneh lainnya ," gertak Lu Daimeng, nada suaranya setajam silet. "Kau mungkin kuat, tapi apa kau yakin bisa mengejarku, aku akan menggunakan setiap celah yang ada untuk memenggal Tetua Tetua yang tidak berguna itu. Lalu aku akan merobek jantung mereka. Dan saat kau semakin marah dan ceroboh... aku mungkin akan membunuh Lu Zhuxin memotongnya menjadi dua bagian dari kepala hingga selangkangan."
"Dan saat itu terjadi kuharap kakak kedua akan menggantikan posisimu sebagai penerus keluarga, karena ketidakbecusanmu!" Tunjuk Lu Daimeng.
"TUTUP MULUTMU! ANAK HARAM!" jerit Lu Zhuxin, mundur ketakutan, refleks memegang lehernya sendiri.
"Aku akan membantai setidaknya setengah dari kalian sebelum kau bisa menyentuh organ vitalku," tunjuk Lu Daimeng menyelesaikan kalkulasinya dengan dingin.
Lalu, dia menggeser pandangannya ke arah Qin Chen dan Lei Zuan yang berdiri santai di belakangnya.
"Dan setelah kau akhirnya 'berhasil' membunuhku," Lu Daimeng tersenyum, menunjukkan gigi taringnya, "kau akan berdiri di sana, kehabisan Qi, terluka parah, dengan setengah pasukanmu mati. Di saat itulah, Tuan Muda Qin dan Tuan Muda Lei yang sejak tadi 'hanya menonton' akan melakukan pembersihan. Mereka akan menghabisi sisa Keluarga Lu dan mengambil semua jarahan ekspedisi ini. Termasuk nyawamu."
Skakmat.
Lu Daimeng baru saja menggunakan analisis situasional untuk mengikat tangan dan kaki Lu Huang. Gertakan psikologis ini jauh lebih mematikan daripada tebasan pedang. Serangan ini tidak bisa dibalas dengan pukulan atau Qi. Serangan ini memukul tepat pada tanggung jawab Lu Huang sebagai pemimpin keluarga.
Qin Chen yang mendengarnya dari belakang hanya bisa tersenyum lebar sambil mengangguk pelan, sambil bergumam pelan "Benar-benar orang yang mengerikan. Dia menjadikan keberadaan kita sebagai meriam dan bentengnya."
Tangan Lu Huang yang memegang senjata bergetar hebat karena keraguan, itu bukan sekedar gertakan.
Lu Huang bukan orang bodoh. Dia tahu setiap kata yang diucapkan Lu Daimeng adalah fakta yang sangat mungkin terjadi. Dia telah melihat sendiri bagaimana kekuatan Lu Daimeng sekarang. Membunuh tetua Ranah Roh awal bukanlah hal yang mustahil baginya sekarang ini.
Jika dia menyerang, Keluarga Lu akan tersisa satu orang dan itu dirinya sendiri atau mungkin tidak ada sisa karena keluarga Qin dan Lei, tidak mungkin diam saja.
Lu Huang menelan ludahnya yang terasa seperti pasir. Dia perlahan, dengan sangat enggan, menurunkan tangannya. Auranya yang membara mulai meredup.
"Bajingan!" Gumamnya giginya saling bergesekan menahan amarah.
"Tarik senjata kalian," perintah Lu Huang dengan suara serak, hampir terdengar seperti bisikan orang kalah.
"Tapi Kakak!" Lu Zhuxin memprotes, tidak terima.
"KUBILANG TARIK SENJATA KALIAN!" bentak Lu Huang, amarahnya akhirnya meledak pada adiknya sendiri.
Satu per satu, para tetua Keluarga Lu menyarungkan senjata mereka. Wajah mereka tertunduk, menahan penghinaan yang sangat besar. Raksasa Kota Jinting baru saja dipaksa berlutut oleh logika seorang buangan.
Lu Daimeng mempertahankan senyumnya. Dia membiarkan pedang hitamnya mencair kembali ke dalam pori-pori kulitnya. Konflik internal ini telah selesai sesuai dengan naskah yang dia tulis di kepalanya.
Bersambung......