NovelToon NovelToon
Sinyal Dari Lantai 4.5

Sinyal Dari Lantai 4.5

Status: tamat
Genre:Fantasi / Misteri / Action / Tamat
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Di dunia ini, semua gedung tinggi secara hukum tidak boleh memiliki lantai 13 atau 4. Namun, seorang pemuda bernama Genta , seorang tukang servis lift yang punya insting tajam, menemukan bahwa lantai-lantai yang "hilang" itu sebenarnya ada secara fisik, tapi hanya bisa diakses dengan kode lift tertentu.

Lantai-lantai tersembunyi ini (Lantai 4.1, 4.2, dst.) adalah kantor pusat "Konsorsium Semesta "organisasi yang mengatur segala hal "kebetulan" di dunia. Mulai dari kenapa sandal jepit selalu hilang sebelah, sampai kenapa harga cabai naik tiba-tiba. Genta tidak sengaja terjebak di Lantai 4.5 dan membawa kabur sebuah "Remote Pengatur Sial".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Servis

Tiga bulan telah berlalu sejak insiden di Lantai Nol. Bagi warga Jakarta, hari-hari berjalan seperti biasa panas, macet, dan penuh drama media sosial. Tidak ada yang menyadari bahwa struktur realitas mereka sempat hampir runtuh, atau bahwa "nasib baik" mereka sekarang bukan lagi hasil kalkulasi komputer di bawah panti jompo Menteng, melainkan murni hasil dari pilihan-pilihan bodoh dan cerdas mereka sendiri.

Genta Pratama duduk di atas atap kabin lift Menara Sembako, tempat semuanya dimulai. Di tangannya bukan lagi obeng standar kantor, melainkan kunci inggris emas kecil yang kini ia bungkus dengan selotip hitam agar tidak terlihat mencolok. Dia baru saja selesai memperbaiki sensor pintu lantai 14 yang macet lagi bukan karena sabotase Konsorsium, tapi karena ada anak kecil yang iseng menempelkan permen karet di sela-sela relnya.

"Mas Genta, sudah selesai belum? Ini liftnya mau dipakai rapat direksi!" suara dari radio panggilnya terdengar.

"Beres, Pak. Bilang ke Direksi, jangan sering-sering pencet tombolnya pakai tenaga dalam, lift juga punya perasaan," jawab Genta santai sambil menutup panel kontrol.

Dia melompat turun ke lantai koridor. Penampilannya masih sama seragam teknisi yang penuh noda oli tapi sorot matanya berbeda. Ada ketenangan yang tajam di sana. Sejak ia menulis ulang narasi di Buku Besar, Genta merasa ia bisa "melihat" aliran energi di setiap mesin yang ia sentuh. Dia tidak lagi hanya memperbaiki kabel, dia menyelaraskan harmoni benda-benda itu dengan pemiliknya.

Di kantin karyawan, Sarah sudah menunggunya dengan dua cup kopi dan sebuah laptop yang layarnya penuh dengan barisan kode hijau. Sejak markas basemennya hancur, Sarah sekarang bekerja sebagai "konsultan keamanan siber" independen istilah halus untuk peretas yang membantu orang-orang kecil yang datanya dihapus oleh sisa-sisa algoritma.

"Genta, lihat ini," Sarah memutar laptopnya ke arah Genta. "Ada aktivitas aneh di Singapura dan Tokyo. Pola kenaikan harga properti di sana bergerak terlalu simetris. Ini bukan ekonomi pasar, ini 'Resonansi Takdir' yang dipaksakan."

Genta menyeruput kopinya. "Jadi, mereka sudah mulai membangun server cadangan di luar negeri?"

"Lebih buruk. Sepertinya Dewan Direksi yang lain tidak senang dengan kekacauan yang kita buat di Jakarta. Mereka menyebut insiden kita sebagai 'Wabah Kehendak Bebas'. Mereka sedang mencoba mengisolasi Indonesia dari jaringan nasib global," Sarah menjelaskan dengan wajah serius. "Kalau mereka berhasil, Indonesia akan menjadi 'Blind Spot'. Tidak ada investasi masuk, tidak ada keajaiban medis, murni kekacauan tanpa bantuan algoritma."

"Bukannya itu yang kita mau? Bebas?" tanya Genta.

"Bebas itu bagus, Genta. Tapi kalau tetangga kita masih pakai sistem yang bisa mengatur cuaca dan ekonomi untuk menekan kita, itu namanya kita dikepung," sela Aki yang tiba-tiba muncul di belakang mereka, membawa sepiring gorengan hangat. "Konsorsium itu seperti hid ra. Kamu potong satu kepala di Jakarta, tumbuh dua kepala di tempat lain yang lebih modern."

Aki duduk dan meletakkan sebuah koran pagi. Di halaman depan, ada foto seorang pengusaha muda yang baru saja meluncurkan aplikasi "Life-Planner" yang menjanjikan penggunanya bisa mengatur keberuntungan mereka lewat algoritma AI.

"Lihat orang ini. Namanya Kenji. Dia bukan orang sembarangan. Dia adalah anak didik Baskoro yang melarikan diri ke Tokyo sebelum bunker Menteng meledak," kata Aki. "Dia tidak lagi pakai remote fisik. Dia memakai aplikasi di ponsel semua orang untuk mencuri sedikit demi sedikit keberuntungan mereka secara sukarela."

Genta menatap foto itu. "Jadi, sekarang mereka main halus lewat aplikasi?"

"Sangat halus. Orang-orang sendiri yang menyerahkan takdirnya demi kemudahan hidup," Sarah mendesah. "Dan target mereka berikutnya adalah menyatukan seluruh sistem di Asia ke dalam satu server raksasa yang mereka sebut 'The Nexus'."

Tiba-tiba, kunci inggris emas di saku Genta bergetar hebat. Getarannya berbeda dari biasanya—ini adalah getaran peringatan. Genta segera mengeluarkan kunci itu. Di permukaannya yang mengkilap, muncul sebuah teks kecil yang berpendar: [INCO MING BREA.CH: SECTOR 40].

"Lantai empat puluh?" Genta mendongak ke arah langit-langit kantin. "Itu kantor CEO Menara Sembako. Ada apa di sana?"

"Tunggu, aku cek CCTV-nya..." Sarah mengetik cepat. "Sial! Ada unit Swe per baru! Tapi mereka tidak pakai motor... mereka... mereka berpakaian seperti karyawan magang biasa!"

Di layar laptop Sarah, terlihat sekelompok anak muda berpakaian necis masuk ke lift nomor empat yang baru saja diperbaiki Genta. Mereka membawa tas ransel yang setelah dipindai oleh sensor Sarah, ternyata berisi alat 'Nol-Field Generator'.

"Mereka mau menghapus semua jejak [NOL] di gedung ini, termasuk kamu, Genta!" Sarah berdiri dengan panik.

Genta berdiri, merapikan topinya, dan menggenggam kunci inggris emasnya dengan mantap. "Aki, Sarah... sepertinya istirahat kita sudah selesai. Sarah, kunci semua akses pintu keluar dari server pusat. Aki, siapkan 'kejutan' di tangga darurat."

"Dan kamu mau apa, Genta?" tanya Aki.

Genta tersenyum sinis, senyum yang sama saat dia menghantam kursi roda Baskoro. "Saya mau naik ke lantai empat puluh. Saya ada janji servis rutin buat orang-orang yang merasa bisa mengatur hidup orang lain lewat aplikasi ponsel."

Genta berjalan menuju lift. Saat dia masuk ke dalam kabin, dia tidak menekan tombol lantai mana pun. Dia hanya menempelkan kunci inggris emasnya ke panel sensor.

TING !

Lampu lift berubah menjadi warna emas. Kabin melesat naik dengan kecepatan yang melampaui batas keamanan gedung. Genta menatap pantulan dirinya di pintu lift yang mengkilap. Dia bukan lagi teknisi lift yang takut akan hari esok. Dia adalah pemegang kunci dari pintu-pintu yang seharusnya tidak boleh dibuka.

"Selamat datang di ronde kedua, Konsorsium," bisik Genta saat pintu lift terbuka di lantai 40, menampakkan barisan agen baru yang sudah menunggunya dengan senjata laser yang disamarkan sebagai tablet digital.

Genta melangkah keluar dengan tenang. Di belakangnya, pintu lift tertutup, dan di panel digital luar lift, angka lantainya berubah menjadi: ∞ (Infinity).

Petualangan global baru saja dimulai. Dari gang-gang sempit Jakarta, Genta kini harus membawa "Virus Kebebasan"-nya menuju pusat teknologi dunia. Dan satu hal yang pasti: tidak ada lift yang terlalu tinggi untuk ia perbaiki, dan tidak ada takdir yang terlalu kuat untuk ia bongkar.

1
Melissa McCarthy
mantap bang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!