Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.
Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendekati Ketiga Pilar Negara
Mobil mewah Max berhenti di depan sebuah club privat yang dijaga ketat. Naomi turun lebih dulu, matanya menyapu bangunan modern itu dengan tenang.
“Jangan banyak bicara,” gumam Max pelan saat berjalan berdampingan dengannya. “Duduk saja dan diam. Dan jangan dekat-dekat dengan mereka. Mereka itu suka makan orang,” ujarnya menakut-nakuti.
Naomi mengerutkan keningnya. “Mana ada suka makan orang, Kak?”
Max mendengus pelan. Ia tak membalas ucapan Naomi.
Begitu mereka memasuki ruang pertemuan privat, tiga pria sudah duduk di sofa melingkar. Aura mereka sama-sama kuat, masing-masing dengan karakter berbeda.
Tuan Muda Volkov berwajah tenang dan tajam, tatapannya cerdas. Terlihat di sebulah kiri ada Tuan Muda Zane senyum tipis penuh perhitungan.
Dan yang satunya lagi Tuan Muda Clay terlihat santai dan seorang playboy kelas kakap. Mereka adalah ketiga tuan muda dari empat pilar negara.
Ketiganya mengangkat alis saat melihat Naomi.
Clay yang pertama bersuara, senyum playboy-nya mengembang lebar. “Wah, wah … Max membawa malaikat kecilnya. Sangat cantik. ”
Zane tersenyum ramah. “Ini kejutan. Biasanya kau alergi membawa keluarga ke pertemuan bisnis.”
Volkov hanya menyipitkan mata tajam. “Kau tersesat, Max? Atau ini rapat keluarga?”
Max berjalan masuk tanpa ekspresi. “Dia bosan di rumah.”
Clay tertawa kecil. “Bosan? Atau kau yang tidak tahan jauh darinya?”
Max menatapnya dingin. “Clay.”
Satu kata itu cukup membuat Clay mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
Naomi tersenyum sopan. “Maaf jika mengganggu. Aku hanya ikut.”
Volkov menatapnya dari atas ke bawah. “Kau terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang ‘hanya ikut’.”
Naomi tidak tersinggung. Ia duduk anggun di sisi Max. “Tenang itu penting, Tuan Volkov. Dunia terlalu bising.”
Volkov mendengus kecil. “Mulutmu manis. Hati-hati, Clay bisa salah paham.”
Clay tertawa. “Kalau salah paham pun aku tidak keberatan. Aku sangat suka.”
Max langsung melirik tajam. “Jaga mulutmu.”
Clay langsung merapatkan bibirnya begitu melihat wajah dingin Max.
Zane menimpali, “Max yang dingin ternyata bisa selembut ini.”
Max hanya menatap mereka dingin. “Jika kalian selesai berkomentar, kita mulai.”
Naomi yang berdiri di samping hanya tersenyum sopan. Ia tidak marah. Justru ia memanfaatkan momen itu untuk mengamati satu per satu karakter dan sikap mereka.
*
Ruang privat di club itu perlahan berubah hening setelah pembahasan serius selesai. Empat pilar negara baru saja menyepakati beberapa proyek besar.
Naomi sejak tadi hanya duduk di samping Max. Ia terlihat tenang, satu tangan memegang ponsel, sesekali mengetik sesuatu. Wajahnya polos, seolah tak tertarik dengan pembicaraan para raksasa bisnis itu.
Padahal di dalam kepalanya, ia sedang menghitung.
Setelah beberapa menit, suasana mulai mencair. Clay meregangkan tubuhnya.
“Ah, pembicaraan serius seperti ini bikin cepat tua,” keluhnya dramatis. “Bagaimana kalau kita santai sebentar? Minum mungkin?”
Max langsung berdiri. “Tidak. Kami pulang.”
Volkov mendecakkan lidah. “Kau selalu seperti ini, Tuan Muda Atlas. Baru selesai rapat langsung kabur.”
Zane tersenyum lembut. “Sesekali bersantai tidak ada salahnya.”
Max hendak berbicara lagi, namun tiba-tiba jemarinya terasa ditarik pelan.
Naomi memegang tangan Max dengan wajah yang memelas.
“Kak,” ucap Naomi pelan, menatapnya dengan mata bulat lembut, “nanti saja pulangnya. Aku masih betah di sini.”
Max menoleh, alisnya berkerut tipis. “Naomi—”
Clay langsung bersorak pelan. “Nah! Dengarkan adik manismu itu, Tuan Muda Atlas. Jangan terlalu kaku. Kasihan dia bosan terus di rumah.”
Tatapan Max langsung berubah dingin. “Clay.”
“Apa? Aku hanya peduli.” Clay menyeringai nakal pada Naomi. “Kalau kau bosan, aku bisa menemanimu keliling kota. Tur ekonomi pribadi.”
Naomi tertawa kecil. “Tur ekonomi? Apa isinya?”
“Menunjukkan bagaimana uang bekerja,” jawab Clay percaya diri.
Volkov mendengus. “Itu hanya alasan untuk memamerkan mobil dan kartu kredit hitammu.”
Naomi menutup mulutnya menahan tawa.
Max akhirnya menghela napas panjang lalu duduk kembali.
“Sepuluh menit,” katanya tegas.
Clay mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. “Sepuluh menit yang penuh arti!”
Beberapa minuman alkohol dan non-alkohol tersaji. Naomi memilih jus. Max duduk di sampingnya, tubuhnya sedikit condong ke arah Naomi.
Volkov menyilangkan kaki. “Jadi, Nona Naomi. Kau diam saja tadi. Bosan dengan pembicaraan orang dewasa?”
Naomi menggeleng santai. “Tidak juga. Justru menarik.”
“Oh?” Volkov menaikkan alis. “Bagian mana yang menarik?”
Naomi memiringkan kepala. “Distribusi pangan nasional. Kalau rantai pasok terganggu satu kota saja bisa lumpuh dalam tiga hari, bukan?”
Zane dan Clay saling pandang.
Volkov menyipitkan mata. “Kau belajar dari mana?”
“Aku suka baca berita ekonomi,” jawab Naomi ringan. “Dan sedikit tentang ketahanan pangan global.”
Clay tertawa kecil. “Anak kuliahan sekarang berat juga topiknya.”
Naomi tersenyum tipis. “Bukankah dunia bisa berubah kapan saja?”
Max meliriknya sekilas.
Zane bertanya lembut, “Berubah seperti apa maksudmu?”
Naomi memutar gelasnya pelan. “Misalnya … kalau terjadi bencana besar. Cuaca ekstrem. Pandemi baru. Atau krisis energi global. Apa perusahaan kalian sudah benar-benar siap?”
Suasana sedikit menegang.
Volkov bersandar. “Kau terdengar seperti analis risiko.”
“Anggap saja aku suka berpikir jauh ke depan,” jawab Naomi santai.
Clay terkekeh. “Kau ingin berinvestasi di perusahaan kami?”
“Belum,” Naomi tersenyum manis. “Aku hanya penasaran. Misalnya, kalau sistem distribusi runtuh dan dunia terjadi badai besar, siapa yang paling cepat bertahan?”
Volkov menjawab lebih serius kali ini. “Pangan dan pendidikan dasar selalu prioritas. Kami punya lumbung cadangan di beberapa wilayah.”
Zane menimpali, “Farmasi juga. Tanpa obat dan vaksin, populasi akan panik.”
Clay menyeringai. “Dan tanpa ekonomi yang stabil, semuanya akan saling menjarah.”
Max akhirnya bersuara pelan, “Cukup.”
Semua menoleh padanya.
Tatapannya tertuju pada Naomi. “Kenapa kau bertanya tentang kehancuran dunia?”
Naomi tersenyum kecil mencoba tenag. “Tidak ada. Aku cuma berpikir dunia sekarang rapuh, Kak. Jadi, mungkin kita bisa bersiap-siap dari sekarang bukan?”
Tiba-tiba suara familiar terdengar di kepalanya.
[Sistem Sila aktif.]
[“Hebat sekali, Tuan. Anda mulai mendekati pusat kekuatan.”]
Naomi menunduk sedikit agar tak terlihat berbicara sendiri.
‘Kalau ingin mengumpulkan semua bahan … bukankah kita harus langsung ke pusatnya?’ batinnya.
Sila terkikik ringan. [“Benar. Pangan, farmasi, ekonomi, pertahanan. Empat fondasi peradaban.”]
Naomi menatap keempat pria di depannya.
‘Kalau badai salju itu datang lagi hanya mereka yang bisa membangun ulang dunia.’
Max mengerutkan kening. “Naomi.”
Naomi tersadar. “Hm? Iya kak?”
“Kau tadi bergumam.”
“Ah.” Naomi tersenyum cepat. “Aku cuma berpikir keras.”
Clay menyeringai. “Berpikir tentang apa? Tentang siapa yang paling tampan di ruangan ini?”
Max langsung menatap Clay dengan dingin.
Zane tertawa pelan. “Clay, hentikan.”
Naomi mengangkat bahu. “Kalau tampan saja tidak cukup untuk menyelamatkan dunia, bagaimana?”
Volkov tertawa singkat. “Anak ini berbahaya.”
Max menyandarkan punggungnya, ekspresinya tetap datar. Tapi tatapannya jelas meraasa aneh.
Clay mengangkat kedua tangan. “Baik, baik. Aku tidak akan menggoda adik manis Atlas lagi. Dia sudah siap menembakku.”
Max tidak menjawab.
Naomi justru tersenyum manis. “Tuan Clay, bagaimana cara menjaga ekonomi tetap stabil saat jalur perdagangan internasional tertutup?”
Clay berkedip. “Langsung ke topik berat lagi?”
“Anggap saja ini tugas kuliah,” jawab Naomi ringan.
Clay tertawa kecil, tapi tetap menjawab. “Diversifikasi aset domestik. Produksi lokal harus kuat. Cadangan emas dan energi penting.”
Naomi mengangguk pelan. “Dan perusahaan farmasi?” ia menoleh pada Zane.
Zane tersenyum. “Riset mandiri. Bahan baku tidak boleh terlalu bergantung impor.”
“Dan pangan?” ia menatap Volkov.
Volkov menatapnya tajam. “Kau sedang merancang negara sendiri?”
Naomi tertawa kecil. “Siapa tahu suatu hari nanti.”
Max kini benar-benar menatapnya lekat. Ada sesuatu yang berbeda pada adik angkatnya itu. Bukan sekadar rasa ingin tahu biasa, sebagai pria cerdas tentu Max langsung tahu, tapi pria tampan itu memilih diam. Tangannya mengepal pelan di atas meja.
Clay kembali bersandar santai. “Tuan Muda Atlas, adikmu ini punya visi besar.”
Max menjawab datar, “Dia memang seperti itu.”
Naomi hanya tersenyum kecil.
kedua orang tua dan Kaka Naomi suatu saat hancur dan akan menyesal telah memilih ular seperti Viviane itu
tp kek mana kira2 nnti reaksi max ya klo tau mobil yg baru di beli di rusak carlos hadeh apa g mikir tuh belakangnya naomi ada siapa 🙈🙈🙈
udh di bilang naomi bukan bodoh lagi ehhh masih cari gara2
batu nya sebesara pa ya 🤔🤔🤔
emng msti gtu kl ngsih pljran sm orng dungu....kl prlu,lmpar aja sklian sm orangnya....bkin ksel aja......
hiiiihhhhh.....pgn getok....