"Sebuah nyawa yang dipinjam, sebuah pengabdian yang dijanjikan."
Leo Alistair seharusnya mati sebagai pahlawan kecil yang mengorbankan diri demi keluarganya. Namun, takdir berkata lain ketika setetes darah murni dari Raja Vampir,masuk ke dalam nadinya. Leo terbangun dengan identitas baru, bukan lagi serigala murni, melainkan sosok unik yang membawa keabadian vampir dalam insting predatornya.
Aurora adalah putri yang lahir dari perpaduan darah paling legendaris, keanggunan manusia dari garis keturunan Nenek nya, dan kekuatan abadi dari Klan Vampir. Dia memiliki kecantikan yang mistis, namun hatinya penuh kehangatan manusia yang dia warisi dari nenek moyangnya.
"Mereka bilang aku bangkit karena darah ayahmu, tapi bagiku, aku bangun hanya untuk menemukanmu. Dunia memanggilku monster, tapi aku adalah tawanan yang paling bahagia karena setiap napas ku adalah milikmu, Aurora."_Leo Alistair.
"Kamu bukan sekadar pelindung, tapi kamu adalah melodi jiwaku yang hilang."_Aurora Zuhaimi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN PERTAMA
Aurora tidak memberikan kesempatan bagi musuhnya untuk bernapas.
Saat lima prajurit tambahan muncul dari balik kabut, dia langsung melesat.
"Maju kalian semua!" tantang Aurora.
TRANG
TRANG
TRANG
Pedang peraknya beradu dengan tombak salah satu prajurit.
Benturan logam itu mengeluarkan percikan api, Aurora tidak membalas dengan kekuatan kasar, tapi dia memutar tubuhnya, menggunakan momentum lawan untuk membalikkan keadaan.
BRAKKKKKKK
KRAKKKK
Dengan satu tendangan berputar yang telak, ia menghantam rahang prajurit itu hingga terdengar bunyi tulang patah.
Belum sempat prajurit itu jatuh, Aurora sudah merunduk, menghindari sabetan pedang dari arah belakang, menyapu kaki lawan lainnya dengan teknik sapuan rendah yang sangat cepat, lalu tanpa melihat ke belakang, ia menusukkan gagang pedangnya ke hulu hati musuh di sisi kirinya.
"Ugh! Gadis sialan!" umpat seorang komandan pemberontak yang mulai geram melihat anak buahnya bertumbangan.
"Gunakan jebakan sihir darah! Sekarang!" teriak nya, memberikan instruksi.
Empat penyihir vampir muncul dari kegelapan, mereka berdiri di empat penjuru, membentuk formasi persegi.
Mereka menyayat telapak tangan masing-masing, membiarkan darah mereka menetes ke tanah salju.
Seketika, rantai-rantai berwarna merah darah muncul dari dalam tanah, melesat ke arah Aurora seperti ular yang lapar.
"Sihir murahan!" teriak Aurora, melompat tinggi.
Aurora melompat tinggi, melakukan salto di udara untuk menghindari lilitan rantai itu. Namun, rantai-rantai itu terus mengejar, mengikuti setiap gerakannya.
Saat kakinya kembali menyentuh tanah, sebuah rantai berhasil melilit pergelangan kaki kirinya.
SRAK
"Sial!" umpat Aurora, mengepal kan tangan nya kuat.
"Tertangkap kau, Putri!" seru si penyihir.
Aurora terjerembap, namun insting bertarungnya tidak padam, sedikit pun dia tidak merasa takut, Ayah nya selalu mengatakan bahwa dirinya adalah seorang pemenang.
Pantang bagi keturunan Wallece dan Zuhaimi menjadi seorang pecundang dan meneteskan air mata nya di hadapan musuh.
JLEP
Aurora menusukkan pedangnya ke tanah untuk menahan tarikan rantai itu, sementara tangannya yang lain mencoba meraih belati di pinggangnya.
Sekuat apapun kekuatan yang Aurora miliki, tapi jumlah rantai itu terlalu banyak, kini tangan kanannya pun ikut terlilit, menariknya paksa ke arah yang berlawanan.
"Lepaskan aku!" teriak Aurora geram, matanya mulai memerah sepenuhnya, dan taringnya memanjang.
Tepat saat rantai kelima meluncur ke arah jantung Aurora, sebuah bayangan hitam melesat dari atas pohon pinus dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
BUMMM
DUARRR
Tanah di depan Aurora meledak, salju berhamburan menutupi pandangan, sosok pria berdiri di sana, tepat di antara Aurora dan rantai sihir itu.
Pria itu tidak menggunakan pedang, dia menangkap rantai darah yang membara itu dengan tangan kosong
CRASS
DUARRRRRR
Asap keluar dari telapak tangannya saat kulitnya bersentuhan dengan sihir darah yang panas, tapi pria itu bahkan tidak berkedip.
Dengan satu sentakan kuat yang dipenuhi tenaga raksasa, tenaga seekor Alpha, dia menarik rantai itu hingga keempat penyihir vampir itu terseret dan terbentur satu sama lain.
"Siapa kau?!" teriak sang komandan pemberontak, mundur selangkah karena ketakutan melihat aura yang keluar dari pria misterius itu.
"Berani menyentuh milikku, artinya kalian meminta kematian," ucap pria itu dingin.
Beberapa prajurit Vampir pemberontak jatuh terduduk, mereka tidak kuat dengan aura yang di keluarkan pria itu.
"Aura nya lebih kuat dan tajam uhuk...uhuk.." bisik mereka terbatuk-batuk.
Pria itu, Leo Alistair, dia menoleh sedikit, wajahnya yang pucat tampak sangat dingin di bawah sinar bulan.
Leo melirik ke arah Aurora yang masih terduduk dengan kaki terlilit.
"Berisik sekali," gumam Leo pelan, suaranya parau namun penuh wibawa.
Tanpa menunggu jawaban, Leo bergerak lagi, gerakannya adalah perpaduan yang mengerikan, dia memiliki kecepatan seorang vampir bangsawan, namun serangannya memiliki daya hancur seekor serigala yang sedang mengamuk.
BHUK
BRAK
BRAKK
DUAARRR
Leo menghantamkan tinjunya ke dada seorang prajurit Vampir, tanpa senjata, dia mematahkan tombak lawan hanya dengan tangan kosong dan menusukkannya kembali ke arah pemiliknya.
Saat salah satu prajurit Vampir mencoba menggigit lehernya, Leo menangkap kepala vampir itu dan membantingnya ke tanah hingga retak.
"Beraninya kau!" desis Leo, matanya kini berubah menjadi perak berkilau, memancarkan aura predator yang membuat para vampir pemberontak itu gemetar.
BRAKKKKKKK
DUARRRRRR
Leo melempar mereka layaknya melempar beda ringan.
Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, sepuluh prajurit Vampir memberontak sudah terkapar tak berdaya di tangan Leo.
Di belakang, Aurora masih terpaku, dia melihat pria itu berdiri di depannya dengan punggung yang lebar.
Ada rasa hangat yang menjalar dari liontin di pergelangan tangannya, berdenyut seirama dengan detak jantung pria di depannya.
Leo berbalik, berjalan mendekati Aurora, dia berlutut, lalu dengan satu tangan, ia meremas rantai darah yang melilit kaki Aurora sampai hancur menjadi serpihan cahaya merah.
"Kau....Kau siapa?" tanya Aurora, suaranya tertahan.
Leo menatap mata perak Aurora, lalu ia menyentuh liontin 'A' di lehernya sendiri, menunjukkannya pada gadis itu.
"Namaku Leo Alistair," jawab Leo datar, namun matanya menatap Aurora dengan sangat dalam.
"Dan mulai sekarang, nyawamu adalah tanggung jawabku!" lanjut Leo, tegas.
Tidak ada lagi wajah lucu dan menggemaskan Leo, yang dulu sering membuat kediaman Alistair rame dengan suara cemprengnya dan tingkah nya, kini yang sedang berdiri di depan Aurora adalah seorang pria yang memiliki darah unik campuran antara darah Serigala dan darah Vampir abadi.
"Kamu terluka, biar aku bantu obati," ucap Leo, datar.
"Aku tidak butuh bantuanmu, Serigala Bau. Aku bisa menangani mereka sendiri!" jawab Aurora mendengus, meski wajahnya sedikit merona, berdiri dan menepis tangan Leo yang hendak membantunya.
"Oh ya? Tergeletak di salju dengan kaki terikat adalah cara bertarung barumu, Tuan Putri?" ucap Leo hanya mengangkat alisnya, melihat ke arah puluhan mayat yang terkapar akibat ulahnya.
"Kau!"
Aurora menodongkan pedangnya ke leher Leo.
Leo tidak menghindar, dia justru mendekat hingga ujung pedang Aurora menyentuh kulit lehernya yang dingin.
"Simpan pedangmu, Putri Aurora Zuhaimi, kita punya banyak urusan yang lebih penting daripada berdebat siapa yang paling kuat di sini," ucap Leo, menatap dalam mata dingin Aurora.
Telinga Leo bergerak sedikit, menangkap getaran frekuensi yang sangat rendah namun cepat dari kejauhan.
Bukan hanya sepuluh atau dua puluh, tapi setidaknya ada lima puluh pasang kaki yang bergerak serempak menuju posisi mereka.
"Mereka datang lagi," bisik Leo, matanya menajam menembus kabut hutan.
"Aku tahu! Aku tidak tuli. Dan aku masih bisa bertarung!" jawab Aurora, yang masih menodongkan pedang ke leher Leo, mendengus.
"Bertarung dengan kondisi tangan gemetar dan aliran energi yang hampir habis karena sihir rantai tadi?" tanya Leo melirik pergelangan tangan Aurora yang masih memerah.
"Jangan konyol, itu bunuh diri namanya," lanjut Leo, dingin.
"Kau-"
Belum sempat Aurora menyelesaikan kalimatnya, suara lolongan serigala buatan dari arah musuh terdengar sebagai sinyal pengepungan.