NovelToon NovelToon
Only Ever

Only Ever

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Running On

Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab : 18

Arka melihat Karin menangis tepat saat gadis itu baru saja keluar. Ia tahu—Karin pergi terburu-buru karena dirinya. Hati Arka terasa nyeri melihat air mata itu jatuh, melihat bahu Karin yang sedikit bergetar. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk menghampiri, untuk memeluk, untuk bertanya apakah Karin baik-baik saja.

Namun dorongan itu ia tekan dalam-dalam.

Ia mengingat alasan yang selama ini ia jadikan tameng—karier. Ambisi. Nama besar yang sedang ia bangun. Arka menarik napas, menegakkan bahunya, lalu melangkah mendekat.

“Karin,” panggilnya, suaranya terdengar tenang meski dadanya bergejolak.

Karin terkejut. Ia segera menghapus air matanya dengan punggung tangan. Bukan karena ia ingin terlihat kuat—melainkan karena ia tak ingin tampak rapuh di hadapan seseorang yang kini terasa asing. Bagi Karin, Arka bukan lagi Arka yang dulu.

“Ya, Pak?” jawab Karin singkat.

Satu kata itu—Pak—membuat Arka terdiam sesaat. Ada rasa aneh yang menyelinap di dadanya. Jarak itu terasa nyata sekarang. Terlalu nyata.

“Saya ingin bicara dengan kamu,” katanya akhirnya. “Ikuti saya.”

Tatapannya menyapu sekeliling, memastikan tak ada anggota tim yang memperhatikan. Lalu ia berbalik dan berjalan lebih dulu.

Karin mengikutinya, langkahnya ragu namun tetap bergerak. Ia tidak tahu apa yang ingin Arka bicarakan. Namun jauh di dalam hatinya, masih ada harapan kecil—sangat kecil—bahwa Arka akan menjelaskan. Bahwa sikap dingin itu punya alasan. Bahwa ia tidak benar-benar dilupakan.

Lorong terasa sunyi saat mereka berjalan berdampingan, tanpa kata, tanpa saling menoleh. Hanya suara langkah kaki dan detak jantung Karin yang terasa terlalu keras di telinganya.

Dan di antara jarak yang tak sampai satu meter itu, ada delapan tahun kenangan yang tak seorang pun berani sebutkan.

Paham. Kali ini paham banget.

Aku rangkum dulu biar kita satu frekuensi, lalu aku tulis ulang adegannya dengan benar.

Arka membawa Karin ke sebuah ruangan yang sepi. Ruangan itu adalah ruang kerja pribadinya. Begitu pintu tertutup, keheningan langsung jatuh di antara mereka.

Arka berdiri di dekat mejanya. Karin berdiri beberapa langkah darinya. Tak satu pun langsung berbicara. Pikiran Karin penuh tanda tanya, sementara Arka seperti mencari kata yang tepat—namun tak menemukannya.

Akhirnya Arka menarik napas dan membuka suara.

Kali ini suaranya terdengar formal.

“The CEO said you need to sign this.”

(CEO bilang kamu harus tanda tangan di sini.)

Ia mendorong map berisi dokumen ke arah Karin.

“You need to sign it to work with me.”

(Kamu harus menandatanganinya untuk bekerja sama denganku.)

Nada Arka terlalu profesional. Terlalu dingin.

Karin tertawa kecil—tawa kecut.

Dadanya terasa perih.

Oh… jadi benar, batinnya.

Dia benar-benar berpura-pura nggak kenal aku.

Tanpa berkata apa-apa, Karin mengambil kertas itu, membaca sekilas, lalu menandatanganinya dengan cepat. Ia mengembalikan map itu ke meja Arka.

“Is there anything else, Sir?”

(Apa ada lagi, Pak?)

Arka terdiam.

Tatapannya berubah.

“Tidak hanya ini.”

Nada itu.

Bahasa itu.

Bahasa Indonesia.

Karin langsung menyadarinya.

Namun ia tak menunjukkan apa pun di wajahnya. Ia justru berbalik, berniat pergi. Ia tak ingin terjebak lebih lama di ruangan yang membuat dadanya sesak.

Baru beberapa langkah, suara Arka memanggilnya lagi.

“Karin.”

Karin berhenti, lalu menoleh.

“Yes, Mr. Jack?”

(Ya, Pak Jack?)

Panggilan itu menghantam Arka lebih keras dari yang ia duga.

Ia terdiam sejenak, lalu berkata pelan,

“Maaf.”

Karin menatapnya lurus. Matanya dingin, tak seperti Karin yang dulu.

“For what?”

(Untuk apa?)

Pertanyaan itu membuat Arka membisu.

Ia sadar—terlalu banyak hal yang perlu ia minta maaf, tapi ia tak tahu harus mulai dari mana.

Akhirnya ia berkata jujur,

“Karena aku pura-pura nggak mengenal kamu.”

Karin tersenyum tipis. Pahit.

“Can you explain the reason?”

(Apa kamu bisa jelaskan alasannya?)

Arka membuka mulut… lalu menutupnya lagi.

Tak ada jawaban.

Melihat itu, Karin akhirnya bicara—kali ini bahasa Indonesia, suaranya tenang tapi tegas.

“Kalau kamu sendiri belum tahu alasan kenapa kamu pura-pura nggak kenal aku,

temukan dulu alasan itu.

Baru kamu minta maaf.”

Ia berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan Arka sendirian di ruangan itu.

Arka berdiri mematung.

Baru sekarang ia menyadari—

Karin yang berdiri barusan bukan Karin yang dulu ia tinggalkan.

Oke. Sekarang aku benar-benar paham maksudmu.

Masalahnya BUKAN di dialog, BUKAN di bahasa, tapi di narasi penjelasan Arka yang kamu mau:

tetap Indonesia

jelas alasannya

sesuai dengan yang SUDAH kamu tentukan sebelumnya

tidak bertele-tele

tidak mengubah karakter Arka

hanya diperbaiki bahasanya supaya rapi, matang, dan “kena”

Arka tetap berdiri di tempatnya, tak bergerak, menatap pintu yang baru saja tertutup.

Ia tidak mengejar Karin. Ia tahu, jika ia melangkah satu langkah saja, pertahanannya akan runtuh.

Sejujurnya, Arka juga terkejut melihat Karin yang sekarang.

Karin yang berdiri di hadapannya barusan bukanlah Karin yang ia kenal dulu.

Karin yang dulu selalu mengalah.

Karin yang terlalu tidak enakan.

Karin yang sensitif, mudah terluka, dan sering kali menyerahkan keputusan pada orang lain.

Karin yang sibuk bekerja dan menulis, tapi tidak benar-benar tahu untuk apa ia bekerja—menulis hanya karena suka, bukan karena tujuan yang jelas.

Itulah Karin yang Arka tinggalkan.

Bukan karena ia tidak mencintainya.

Melainkan karena ia merasa mereka berjalan ke arah yang berbeda.

Arka memilih kariernya.

Ia memilih ambisinya.

Ia tidak ingin masa lalunya—hubungannya dengan Karin—menjadi bagian dari identitasnya sebagai sutradara. Ia ingin dikenal karena karyanya, bukan karena siapa yang pernah ia cintai.

Itulah sebabnya ia berpura-pura tidak mengenal Karin.

Bukan karena lupa.

Bukan karena tak peduli.

Melainkan karena ia terlalu sadar… bahwa sekali ia mengakui Karin, semua yang pernah ia tinggalkan akan kembali menuntutnya.

Dan kini, melihat Karin yang berdiri tegak, berani, dan tegas—

Arka baru menyadari satu hal yang membuat dadanya terasa sesak:

Karin telah tumbuh.

Sementara ia… masih bersembunyi di balik pilihannya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!