Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Malam itu, Hana memilih lantai tiga villa untuk ia tempati. Loteng di mana jendela besar itu berada. Ia menyukai tempat tinggi di sana, matanya dapat melihat seluruh kota Eldoria yang gemerlap oleh lampu pada malam hari.
Ia menikmati secangkir teh dengan kue kering di meja dekat jendela. Menikmati waktu santai tanpa takut ada yang mengganggu atau menindas. Juga hukuman atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
"Seberapa menderita kau di sini, Hana? Apakah tidak ada seorang pun yang peduli kepadamu? Ah, aku lupa. Satu-satunya orang yang peduli kepadamu telah mati. Kau benar-benar sendirian di sini," gumamnya seraya menghirup aroma teh yang menenangkan.
Tok-tok-tok!
"Nona, bolehkah saya masuk?" Suara Bi Sum meminta izin.
"Masuk, Bi!" Hana menjawab singkat.
Ia menoleh saat pintu ruangan itu terbuka. Bi Sum berjalan dengan kepala tertunduk, di tangannya memegang sebuah kotak kayu kecil berukiran bunga-bunga yang rumit.
"Ada apa, Bi? Kenapa tidak beristirahat? Ini sudah larut malam," ucap Hana dengan sopan.
Meski seorang ratu, ia bukanlah orang yang pongah. Hana tahu menempatkan diri, pada saat apa ia harus bersikap angkuh.
"Nona, saya ingin menyampaikan wasiat dari mendiang nyonya tua. Sebelum beliau meninggal, beliau menitipkan benda ini kepada saya. Beliau berpesan, jika suatu hari Anda kembali ke sini maka saya harus memberikan kotak ini kepada Anda," ucap Bi Sum seraya menyerahkan kotak di tangannya kepada Hana.
Hana melirik, mengernyit dahinya melihat benda di tangan Bi Sum. Terlihat tak asing di matanya, ia meraih benda tersebut tanpa mengalihkan tatapan darinya. Menelisik dengan saksama kotak kayu yang terasa familiar di matanya.
"Dari mana kotak ini berasal?" tanyanya sembari menatap Bi Sum dengan dahi berkerut.
"Saya tidak tahu, Nona, tapi nyonya tua mengatakan kotak itu adalah harta turun temurun dari leluhur yang diturunkan kepada penerus keluarga. Nyonya ingin Anda menjadi penerusnya, mewarisi perkebunan teh ini. Sayang, belum sempat memberikannya secara langsung kepada Anda, beliau sudah pergi," jawab Bi Sum dengan perasaan sedih yang mendalam.
Hana tertegun, memeluk kotak itu di tangannya. Ia menghela napas dalam, kemudian menatap Bi Sum kembali.
"Baiklah. Terima kasih banyak, Bi. Bibi bisa istirahat sekarang," katanya sambil tersenyum.
"Baik, Nona. Jika Anda membutuhkan sesuatu, tekan saja bel yang di sana. Saya dan pelayan lainnya akan segera datang," ucap Bi Sum sebelum pergi meninggalkan Hana sendiri.
Gadis itu melirik sebuah tombol yang berada di dekat ranjang. Ia kembali kepada kotak di tangannya.
"Kenapa kotak ini terasa tidak asing? Sepertinya aku merasakan sebuah perasaan yang dekat dengannya," gumam Hana, tangannya memutar kotak ke segala sisi dengan perlahan.
Memperhatikan dengan saksama setiap ukiran yang ada. Bunga mawar yang rumit. Tiba-tiba, mata Hana membelalak lebar saat menyadari sesuatu. Ingatannya berputar ke istana Amerta.
*****
"Ratuku!" Kaisar memanggilnya dengan lembut.
Saat itu bulan bersinar terang, cahayanya menembus dedaunan membuat malam semakin indah. Bintang gemintang bertaburan di langit, menari-nari di bawah terpaan sang rembulan.
Ratu menoleh dan tersenyum manis melihat sang kekasih hati berdiri dengan gagah di sana.
"Yang Mulia!" Ia berlari dan melompat ke pelukan Kaisar.
Bagaimanapun tegasnya Ratu di pengadilan, ia tetaplah seorang istri yang manja di hadapan suaminya.
"Anda sudah datang? Kukira Anda tidak akan datang malam ini," ucapnya dengan nada suara yang manis di telinga sang kaisar.
Kaisar tersenyum, memeluk istrinya dengan penuh cinta.
"Mana mungkin aku tidak datang. Malam ini adalah malam kelahiranmu. Aku ingin memberikan sesuatu kepadamu sebagai tanda cintaku yang tulus dan tak terbatas," ujar Kaisar.
Ratu sumringah, ia melepas pelukan dan menatap Kaisar dengan mata berbinar.
"Benarkah? Tapi aku tidak menginginkan emas atau permata. Di kamarku sudah penuh oleh benda-benda berkilau itu," katanya dengan manja.
Bibirnya yang mungil dan memberengut ke depan membuat Kaisar tak dapat menahan diri untuk tidak memagutnya. Di bawah sinar rembulan, Kaisar tak segan mencium istrinya. Mencurahkan segenap rasa cinta yang ia miliki untuk wanita itu.
"Tidak! Aku membuatnya sendiri khusus untukmu. Terimalah! Apakah kau suka?" Kaisar memberikan kotak kayu berukiran bunga mawar itu kepadanya.
"Cantik sekali. Ukiran pada kotak ini sangat rumit. Apakah Yang Mulia membuatnya sendiri?" tanya Ratu setelah menelisik kotak tersebut.
"Ya. Hanya ada satu di dunia ini. Tangan ini yang membuatnya sendiri sehingga tidak akan ada orang yang berani menirunya," jawab Kaisar sembari mengangkat tangannya yang besar.
"Bukalah!" katanya.
Perlahan Ratu membuka kotak tersebut, sebuah liontin giok berwarna hijau terdapat di dalamnya. Ratu mengambil liontin tersebut dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Membiarkan cahaya rembulan menembusnya. Itu bukan liontin biasa, di dalamnya terdapat ukiran nama mereka berdua yang hanya bisa dilihat di bawah sinar rembulan.
"Bagaimana? Kau suka?" Kaisar memeluk sang ratu dari belakang, menjatuhkan dagu di bahunya, menghidu aroma khas yang menguar dari tubuh ratu.
"Suka. Ini cantik sekali. Bagaimana Yang Mulia membuatnya? Di dalamnya bahkan ada nama kita berdua," ucap Ratu penuh haru.
"Aku menempatkan hatiku di sana sehingga tak akan ada yang berani merebutnya darimu. Ratuku, aku tidak mengizinkan dirimu pergi meninggalkanku. Ke mana pun kau pergi, aku akan mencarimu," ucap Kaisar tulus.
Ratu berbalik dan memeluk suaminya penuh haru. Air mata kebahagiaan jatuh di pipi, sungguh dia sangat mencintai suaminya itu dan selamanya ingin tetap bersama. Melewati suka dan duka sebagai pemimpin sebuah negara.
****
Di villa itu, air mata Hana jatuh tanpa terasa ketika kenangan manis bersama Kaisar membayang dalam ingatan. Ia membuka kotak tersebut, benar dugaannya. Liontin miliknya ada di sana.
Dengan tangan bergetar Hana mengambilnya, menatapnya dengan penuh kerinduan. Ia merindukan sang Kaisar yang selalu bersikap lembut kepadanya.
"Yang Mulia! Maafkan aku. Apakah kau kesulitan mencariku? Atau apakah aku masih ada di sana?" Hana mendekap liontin tersebut, menangis sesenggukan.
Betapa rindu ia pada kekasihnya.
"Hana!"
hai jalang gk tau diri lo