NovelToon NovelToon
Satu Wajah Dua Kehidupan

Satu Wajah Dua Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Tak ada yang menyangka bahwa seorang jenius kepolisian seperti Song Lang akan lenyap dari dunia yang pernah ia kuasai. Namun setelah sebuah peristiwa kelam yang dipicu oleh musuh bebuyutannya, ia menghilang tanpa jejak—dan muncul kembali bertahun-tahun kemudian dengan nama baru: Chen Shi, seorang sopir biasa di kota yang tak pernah berhenti bergerak.
Chen Shi hanya ingin hidup tenang, jauh dari sorotan, jauh dari masa lalu. Namun takdir seolah menolak memberinya ketenangan. Suatu malam, sebuah kasus pembunuhan mengusik hidupnya, dan semua bukti justru mengarah kepada dirinya. Dalam sekejap, orang yang berusaha melupakan dunia kriminalitas kembali menjadi pusat perhatian.
Dipaksa membuktikan bahwa ia bukan pelaku, Chen Shi bekerja sama dengan seorang polisi muda yang gigih. Namun semakin dalam mereka menggali, semakin jelas bahwa kasus tersebut bukanlah kebetulan. Ada tangan-tangan gelap yang bergerak, dan jejaknya terasa terlalu familiar bagi Chen Shi. Terlalu mirip dengan seseorang ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Tempat yang Paling Membuatku Takut

Begitu masuk ke dalam mobil, Lin Dongxue langsung berniat pulang. Melihat Chen Shi yang sedang berkonsentrasi mengemudi, ia membatin dalam hati. Di hari liburnya yang langka, ia seharusnya tidak terus-menerus bersama pria ini. Pulang, mandi air hangat, dan berbaring santai di sofa sambil menonton satu atau dua episode YanXi Raiders jelas jauh lebih ideal.

Ia menyadari bahwa dirinya memang terlahir dengan paras yang menawan. Sejak kecil, ia sudah sering menerima pengakuan cinta. Bahkan kadang hanya karena ia tersenyum sopan, orang lain—khususnya kaum lelaki—langsung salah mengartikan itu sebagai tanda ketertarikan.

Bukan berarti aku merasa lebih tinggi dari mereka, pikirnya. Hanya saja, aku tidak tahan jika seseorang yang tidak aku sukai justru menyukaiku lebih dulu.

Karena alasan itu, ia tidak boleh membiarkan Chen Shi salah paham. Ia tidak boleh sampai memberi kesan bahwa pria itu punya peluang. Bagaimanapun juga, Chen Shi hanyalah seorang sopir, sedangkan dirinya seorang polisi. Kemungkinan mereka bertemu lagi sangat kecil—kecuali jika takdir memaksa mereka terlibat dalam kasus lagi. Namun hidup ini bukan film; keajaiban tidak mungkin selalu terjadi.

Namun, di saat pikirannya sedang sibuk menyangkal berbagai kemungkinan aneh, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari sebuah kompleks perumahan di sisi jalan,

“Ada yang lompat dari gedung!”

Chen Shi langsung menginjak rem dalam-dalam, membuka pintu mobil tanpa berpikir panjang, dan berlari menuju kompleks tersebut. Lin Dongxue belum sempat menegurnya. Ia hanya bisa mengumpat pelan dalam hati sebelum melepaskan sabuk pengaman dan ikut menyusul.

Mereka memasuki area hunian dan melihat kerumunan warga berdesakan di bawah sebuah blok apartemen. Chen Shi terus mengulang, “Beri jalan, beri jalan!” sambil menyibak kerumunan hingga ia bisa melihat keadaan korban.

Lin Dongxue menutup mulutnya dengan kedua tangan, terkejut bukan main.

Korban itu masih seorang anak—tak lebih dari kelas satu atau dua sekolah dasar. Tubuh mungilnya terjatuh di atas taman kecil yang ditumbuhi semak dan bunga. Ia hanya mengenakan kaos dalam dan celana pendek, sementara darah mengalir membasahi kepalanya.

Chen Shi segera meraba leher anak itu dan berseru, “Masih hidup! Cepat hubungi 120! Anak ini dari lantai berapa?”

Salah satu warga menjawab, “Sepertinya dari keluarga Xu di lantai tiga. Orang tuanya sering tidak di rumah. Bisa jadi anaknya dikurung sendirian… tapi kenapa bisa jatuh?”

Chen Shi menoleh kepada Lin Dongxue. “Kau cek lantai tiga. Aku jaga anak ini.”

Lin Dongxue segera berlari menaiki tangga, diikuti beberapa warga lain. Sampai di depan pintu unit keluarga Xu, ia mengetuk beberapa kali. Tidak ada jawaban. Ia menoleh pada warga. “Ada kunci cadangan untuk unit-unit di sini?”

Warga menggeleng. “Tidak ada. Tapi ada tukang kunci dekat sini! Hanya saja harus ada persetujuan dari kantor polisi.”

Lin Dongxue segera menunjukkan lencana, “Saya polisi. Tolong panggil tukang kunci itu. Saya akan bertanggung jawab sebagai saksi.”

Ia menunggu di lorong. Saat itu, hidungnya tiba-tiba menangkap aroma menyengat yang familiar—bau darah. Awalnya ia kira hanya aroma lembap dari lorong. Tapi semakin dekat ia dengan pintu, semakin jelas bau itu berasal dari dalam unit.

Jantungnya berdegup kencang. Ia segera menghubungi Chen Shi.

“Keadaan tidak beres. Aku mencium bau darah.”

Dari telepon, Chen Shi menjawab serius, “Cari cara masuk secepatnya. Setelah masuk, jangan menyentuh apa pun. Tunggu ambulans datang, lalu aku akan menyusul.”

Setelah menutup telepon, Lin Dongxue tiba-tiba sadar sesuatu. Kenapa aku malah menelepon dia dulu? Kenapa bukan kantor polisi?

Ia hendak menghubungi Lin Qiupu, namun ragu. Bisa jadi darah itu bukan darah manusia. Ia perlu memastikan sebelum membuat laporan resmi.

Sekitar lima belas menit kemudian, tukang kunci tiba. Setelah melihat identitas Lin Dongxue, ia segera membuka kunci. Hanya membutuhkan beberapa putaran, kunci itu pun terbuka.

Begitu pintu terkuak, bau darah yang jauh lebih kuat langsung menyeruak keluar. Seluruh ruang tamu dipenuhi ceceran darah. Di belakang sofa, tampak sepasang kaki beralas sandal rumah—terlihat jelas ada seseorang tergeletak.

Warga yang ikut naik menjerit ketakutan. Suara-suara mulai bermunculan:

“Ya ampun, keluarga Xu kenapa ini!”

“Pencuri? Pembunuhan siang bolong? Apa kerja pengelola apartemen!”

Beberapa dari mereka berusaha masuk ke dalam rumah, penuh rasa ingin tahu. Lin Dongxue menahan pintu sebisa mungkin.

“Semua mundur! Saya polisi! Ini kemungkinan TKP pembunuhan. Jangan menginjak atau menyentuh apa pun!”

Namun para warga tetap mencoba mendekat.

“Kami hanya ingin melihat! Kami sudah bertetangga belasan tahun dengan keluarga Xu. Masa kami tidak boleh peduli?”

Lin Dongxue hampir tidak mampu menahan dorongan mereka. Tangannya yang menahan pintu sudah bergetar.

Saat situasi semakin kacau, tiba-tiba terdengar suara tenang namun tegas dari tangga.

“Apakah kalian tidak tahu betapa gentingnya keadaan ini? Ini TKP. Jika satu saja dari kalian meninggalkan setengah jejak kaki, kami harus bekerja dua kali lebih sulit!”

Kerumunan menoleh. Chen Shi berdiri di sana dengan kedua tangan di saku celananya, namun wibawanya cukup untuk membuat semua orang berhenti.

Meskipun jelas bukan polisi, suara dan tatapannya seolah-olah membuat semua orang patuh secara instingtif.

Chen Shi menambahkan, “Semua yang ada di lokasi barusan harus meninggalkan nama dan nomor kontak. Kami perlu memeriksa kalian satu per satu nanti.”

Salah satu warga mencibir, “Pak polisi, kami semua sibuk. Ini jelas ulah orang luar. Apa hubungannya dengan kami?”

Yang lain mengangguk setuju. Mereka tampak enggan.

Chen Shi menyeringai kecil—senyum sinis yang tidak bisa ditahan.

Saat diminta menolong anak yang jatuh, kalian diam semua. Tapi begitu ada kejadian berdarah, kalian justru berebut melihat. Kini diminta meninggalkan kontak, semua langsung mengelak? batinnya.

Namun ia tidak menunjukkan emosinya. Ia menurunkan nada suaranya, lalu berkata meyakinkan, “Kami tidak menuduh siapa pun. Namun kalian adalah saksi. Mungkin ada yang melihat orang asing masuk ke kompleks. Bisa jadi hanya detail kecil. Tapi itu sangat penting untuk penyelidikan. Kalau kalian tidak ingin kejadian seperti ini menimpa keluarga kalian sendiri suatu hari nanti… mohon bekerja sama.”

Kata-kata terakhir itu mengenai sasaran. Hampir semua warga terdiam dan akhirnya menyerahkan nomor kontak mereka. Chen Shi mencatat semuanya di ponselnya.

Sebelum mereka pergi, Chen Shi memperingatkan, “Jangan sebarkan berita ini. Pelakunya bisa saja masih berada di sekitar sini. Kalau kalian menyebarkan rumor, kalian bisa membahayakan diri sendiri.”

Wajah para warga pucat. Mereka akhirnya pergi.

Lin Dongxue menghela napas lega. “Aku sungguh harus mengaku… kamu luar biasa. Kamu menghadapi massa lebih baik dari polisi mana pun yang pernah kulihat.”

Chen Shi tersenyum sambil mengeluarkan sebatang rokok. “Aku juga bagian dari massa. Tentu saja aku tahu cara mengendalikan mereka. Lagi pula…” Chen Shi menunjuk ke arahnya. “Dengan adanya polisi asli seperti kamu, mereka akan percaya apa pun yang kukatakan.”

“Hei, tidak boleh merokok di sini!”

“Aku merokok sambil berpikir. Kau hubungi kakakmu sekarang.”

Lin Dongxue memelototinya sebentar lalu menelepon Lin Qiupu. Sementara itu, Chen Shi mematikan rokoknya dengan rapi. Ia tidak membuang puntung sembarangan. Ia membungkusnya dengan aluminium foil di bungkus rokok.

Setelah panggilan selesai, Chen Shi menunjuk ke dalam unit. “Ayo masuk.”

Lin Dongxue meneguk ludah. Pemandangan ruang tamu yang ternodai darah membuatnya gentar.

“Kamu masuk dulu…” ujarnya ragu.

Chen Shi mendorongnya pelan. “Wanita dulu.”

“Jangan bercanda. Bukannya kamu yang tidak takut apa pun?”

Chen Shi tersenyum kecut. “Aku tidak takut kamu menertawakan aku. Tapi jujur saja—aku paling takut masuk ke tempat seperti ini. Dan aku yakin… mayat di dalam bukan hanya satu.”

Lin Dongxue terdiam. Ia kira Chen Shi hanya pura-pura. Namun ketakutan kecil di balik suaranya terdengar nyata.

Ia menarik napas panjang, memakai pelindung sepatu, dan akhirnya melangkah masuk. Chen Shi mengikuti dari belakang—secara harfiah bersembunyi di belakang punggungnya.

Lin Dongxue menoleh. “Kamu beneran takut?”

Chen Shi mengangguk lemah. “Benar. Tempat seperti ini… membuat bulu kudukku berdiri.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!