Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Operasi Tanpa Anestesi
Gudang tua itu terletak di pinggiran Tangerang, tersembunyi di antara tumpukan kontainer berkarat. Tempat ini milik Gideon, seorang mantan teknisi militer yang menderita paranoia akut terhadap teknologi. Seluruh dinding gudang ini dilapisi cat timbal dan jaring Faraday buatan sendiri untuk memblokir semua sinyal seluler.
Bab 31: Operasi Tanpa Anestesi
"Lo bawa kiamat ke sini, May," gerutu Gideon saat melihat Maya turun dari mobil dengan wajah sepucat mayat.
Gideon tidak memegang ponsel. Dia menggunakan walkie-talkie analog. Dia melihat tangan Maya yang terbungkus kain penuh bercak biru kehitaman yang berdenyut. "Gue udah liat di TV satelit sebelum sinyalnya kacau. Seluruh Jakarta dapet notifikasi soal lo. Lo itu buronan paling dicari algoritma sekarang."
"Gid, keluarin benda ini. Sekarang," ucap Maya sambil terbata-bata.
Mereka masuk ke dalam ruang kecil yang kedap sinyal. Di bawah lampu neon yang berkedip, Maya meletakkan tangannya di atas meja besi. Gideon mengenakan kacamata pembesar dan mengambil pinset serta pisau bedah yang sudah disterilkan.
"Gue nggak punya obat bius, May. Kalau gue bius lo, saraf lo bakal rileks, dan gue takut benda ini bakal merayap lebih dalam ke jantung kalau nggak ada perlawanan dari kesadaran lo," kata Gideon serius.
"Lakuin aja."
Gideon mulai menyayat telapak tangan Maya. Begitu kulit terbelah, bukan darah merah yang keluar, melainkan cairan kental berwarna perak yang mengeluarkan suara desis seperti modem internet lama. Maya menjerit, menggigit kain yang ia selipkan di mulutnya.
Kartu memori itu tidak lagi terlihat seperti benda mati. Di bawah mikroskop, Gideon melihat jutaan serat optik mikroskopis yang telah menyatu dengan urat saraf Maya. Benda itu hidup.
"Sialan, ini bukan cuma kartu memori," bisik Gideon keringat dingin bercucuran. "Ini adalah organel buatan. Dia lagi nulis ulang DNA lo, May. Dia jadiin lo router biologis."
Tiba-tiba, meski di ruangan itu tidak ada sinyal, radio komunikasi analog Gideon mendadak berteriak.
“Komentar diabaikan... Komentar diabaikan... Maya sedang mencoba menghapus admin...”
Suara itu berasal dari dalam daging Maya. Suara @anatomi_maut yang menggema lewat getaran tulang Maya sendiri.
"Gid, terusin!" perintah Maya di tengah rasa sakit yang membutakan.
Gideon menjepit ujung kartu itu dengan pinset. Saat dia menariknya, Maya merasa otaknya ditarik keluar lewat telapak tangannya. Di layar monitor analog yang ada di pojok ruangan—yang seharusnya tidak terhubung ke apapun—muncul kolom komentar TikTok yang bergerak secara lokal:
@user_maut: Cabut! Cabut! Lihat gimana dia teriak!
@penonton_setia: Tap-tap layarnya guys, biar pisaunya makin dalem!
Penonton @anatomi_maut ternyata tetap bisa "menonton" lewat kesadaran kolektif yang terhubung pada parasit itu. Mereka bukan menonton lewat layar, mereka menonton lewat mata Maya.
Krak!
Gideon berhasil mencabut kartu itu. Maya jatuh pingsan di kursi. Namun, kartu yang diletakkan Gideon di atas meja itu tidak diam. Benda itu mulai mengeluarkan kaki-kaki kecil dari serat optik dan mencoba merayap kembali ke arah tubuh Maya.
"Nggak akan gue kasih!" Gideon menyambar tang pemotong kabel dan menghancurkan kartu itu berkali-kali sampai menjadi serpihan.
Keadaan mendadak sunyi. Maya bernapas lega dalam pingsannya. Gideon menyeka keringatnya. Namun, kesunyian itu hanya bertahan beberapa detik.
Di luar gudang, terdengar suara gemuruh. Bukan suara petir, tapi suara ribuan mesin motor yang mendekat. Gideon melihat lewat celah jendela. Ribuan orang—mungkin penonton yang terobsesi dengan hadiah 1 miliar—telah menemukan tempat itu. Padahal, tempat ini tidak terlacak GPS.
"Gimana mereka tahu?" tanya Gideon panik.
Ia melihat ke arah Maya. Luka di tangan Maya tidak berdarah lagi, tapi kulit di sekitar luka itu membentuk tulisan yang bersinar di bawah lampu neon:
"SHARE LOKASI AKTIF."
@anatomi_maut tidak butuh kartu memori lagi. Dia sudah menyalin dirinya ke dalam sumsum tulang belakang Maya. Maya sekarang bukan lagi inang... Maya adalah server pusat itu sendiri.
Dan jam di dinding menunjukkan pukul 23.50. Sepuluh menit menuju siaran jam dua belas malam.
ini kayanya ada dalangnya deh
tapi Vanya ya kali masa jadi zombie kak
🤔
ni cerita masuk genre system???
untung baca nya lampu nyala rame coba kalo sendirian 😭😭😭
cukup seru sih terlihat menjanjikan