Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Rani tidak langsung pulang ia masih berdiri tegak menunggu kedatangan Melati kembali. Wajahnya masih tersenyum, tapi matanya berubah. “Anaknya memang dekat sekali dengan Anda.”
“Dia butuh orang yang ada setiap hari,” jawab Melati lembut, tanpa nada menyerang.
Rani terkekeh kecil. “Cokro juga begitu. Dia selalu menghargai perempuan yang sabar. Tapi dia tidak pernah benar-benar bisa melupakan masa lalunya.”
Kalimat itu kembali diarahkan, jelas. Bukan sekadar nostalgia, Rani masih mengklaim jika Cokro masih mencintainya, dan itu sebagai senjata satu-satunya untuk menyerang perempuan muda itu.
Melati menatapnya tenang. “Kalau memang belum selesai, Mas Cokro tidak akan menikah lagi.”
Jawaban itu sederhana. Tapi tegas.
Untuk pertama kalinya, Rani terdiam lebih lama dari biasanya. Angin pagi mengibaskan rambutnya pelan. “Kita lihat saja,” katanya akhirnya, senyum tipisnya kembali muncul. “Perasaan lama itu kadang cuma tertidur. Bukan hilang.”
Ia mengenakan kembali kacamata hitamnya. “Sampaikan salam saya untuk Cokro.”
Tanpa menunggu jawaban, Rani berbalik dan berjalan menuju mobilnya. Tumit sepatunya kembali berbunyi pelan, tapi kali ini langkahnya terdengar lebih cepat.
Melati berdiri di tempatnya beberapa detik setelah mobil itu pergi. Dadanya terasa sesak, tapi bukan karena kalah. Lebih karena sadar perjuangannya mungkin baru saja dimulai.
Ia menatap gerbang sekolah tempat Mahendra sudah menghilang di balik keramaian. Tangan yang tadi digenggam kecil itu masih terasa hangat di telapak tangannya.
Dan entah kenapa, ia lebih memikirkan satu hal. Bukan soal Rani. Bukan soal klaim cinta masa lalu. Tapi bagaimana nanti malam… saat ia dan Cokro kembali berada dalam satu kamar yang sama.
Karena jika Rani benar-benar ingin membuktikan sesuatu, maka yang akan diuji bukan hanya perasaan Cokro. Melainkan keberanian mereka berdua untuk tetap berdiri di sisi yang sama.
☘️☘️☘️☘️
Sepanjang perjalanan Melati tidak banyak bicara, ia pun beranjak saat mobil sudah memasuki halaman rumahnya, di dalam rumah ia sesekali termenung memikirkan ucapan wanita tadi yang seolah ingin datang kembali di tengah-tengah keluarganya.
Ia meletakkan tasnya di atas meja, lalu berdiri cukup lama tanpa benar-benar melakukan apa-apa. Pikirannya masih tertahan di gerbang sekolah tadi pagi. Senyum tipis itu. Nada ringan yang sebenarnya penuh makna.
"Aku tidak boleh seperti ini, aku harus kuat, jika dia datang untuk merusak, maka benteng pertahanan ku akan semakin aku perkuat," gumam Melati.
Ia berjalan ke dapur, menuangkan segelas air, tapi tangannya masih terasa sedikit dingin. Bukan karena takut kehilangan, melainkan karena sadar akan satu hal: Rani datang bukan sekadar ingin melihat anaknya. Ia datang untuk menguji.
Melati menatap ruang makan yang biasanya ramai saat sarapan. Ia sudah melewati banyak hal untuk berada di rumah ini, berdiri di posisi ini. Ia tidak akan goyah hanya karena bayangan masa lalu.
Jika memang ada yang ingin merebut kembali sesuatu, maka ia akan memastikan satu hal yang dipertahankan bukan hanya cinta, tapi juga keyakinan, Dan melati tidak akan pernah mundur.
☘️☘️☘️☘️☘️
Malamnya, setelah anak-anak tidur, kamar kembali menjadi ruang sunyi yang beberapa jam lalu terasa hangat. Cokro sudah lebih dulu duduk di tepi ranjang, melepas jam tangannya ketika Melati masuk dan menutup pintu pelan. Ia berdiri beberapa detik sebelum mendekat. Tangannya terasa dingin.
“Kamu kelihatan capek,” ucap Cokro lembut.
Melati menelan napas. “Mas… ada yang mau saya bilang.”
Nada suaranya berbeda, membuat Cokro langsung menoleh penuh perhatian. “Apa?”
“Tadi pagi… saya ketemu Rani.”
Gerakan tangan Cokro terhenti. Ia menatap Melati, wajahnya berubah tegang. “Di mana?”
“Di sekolah Mahen.”
Beberapa detik hening sebelum Cokro berdiri perlahan. “Dia ke sekolah? Tanpa bilang ke aku?” Ada garis keras di rahangnya sekarang. Bukan nada lembut seperti tadi. Bukan pula marah pada Melati, lebih seperti amarah yang tertahan pada sesuatu yang lain.
“Dia bilang Mas tahu,” lanjut Melati pelan.
“Aku tidak tahu.” Jawabannya cepat dan tegas. Cokro berjalan beberapa langkah, menyisir rambutnya sendiri dengan frustrasi yang jarang terlihat. “Aku tidak pernah izinkan dia datang ke sekolah tanpa pembicaraan.”
Melati memperhatikannya, mencoba membaca perasaan di balik reaksi itu. Lalu dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya, ia berkata, “Dia bilang… perasaan Mas nggak pernah benar-benar berubah.”
Kali ini heningnya terasa berat. Cokro menoleh perlahan. “Kamu percaya itu?” tanyanya, bukan dengan nada menantang—melainkan seperti seseorang yang takut disalahpahami.
Melati tidak langsung menjawab. “Saya cuma ingin tahu… apa memang masih ada yang belum selesai?”
Itu bukan tuduhan. Itu ketakutan.
Cokro mendekat. Tidak tergesa, tidak menekan. Ia berhenti tepat di depan Melati, menatapnya dalam. “Aku sudah selesai,” ucapnya rendah. “Yang belum selesai cuma cara dia menerima kenyataan. Kalau masih ada perasaan itu, aku tidak akan menikah lagi.”
Kalimat itu jatuh lurus, tanpa ragu.
“Dia mencoba ganggu kamu?” tanyanya lagi.
Melati menggeleng kecil. “Dia cuma ingin terlihat masih punya tempat.”
Rahang Cokro mengeras. “Tempat itu sudah bukan miliknya.”
Ada sesuatu dalam nada itu yang membuat dada Melati menghangat, bukan karena romantis, melainkan karena keyakinan yang akhirnya diucapkan tanpa setengah hati.
“Aku minta maaf kamu harus hadapi itu sendirian pagi tadi,” lanjut Cokro, suaranya melembut.
Kata sendirian membuat Melati terdiam.
“Kamu nggak sendirian,” tambahnya pelan.
Kali ini Cokro benar-benar mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Melati dengan mantap. Tidak ragu. Tidak setengah hati. “Aku di sisi kamu.”
Tidak ada ciuman. Tidak ada adegan berlebihan. Tapi kalimat itu terasa lebih dari cukup.
Melati akhirnya mengangguk kecil. Untuk pertama kalinya sejak pagi, dadanya terasa lebih ringan. Namun jauh di dalam hati, ia tahu satu hal, ini mungkin belum selesai. Seseorang di luar sana belum berhenti bermain, dan malam ini mereka baru saja menyadarinya.
Setelah itu mereka duduk di tepi ranjang. Bukan karena canggung, melainkan karena sama-sama mencoba menenangkan pikiran. Sunyi yang ada kali ini tidak lagi berat hanya penuh dengan sisa emosi yang belum sepenuhnya reda.
Cokro memandang istrinya beberapa detik. Ada keinginan sederhana yang sejak tadi ia tahan. Tanpa banyak kata, ia akhirnya menggeser duduknya mendekat dan menarik Melati ke dalam pelukannya. Pelukan itu tidak tergesa. Tidak penuh gairah. Hanya hangat, seperti seseorang yang ingin memastikan, “Aku benar-benar di sini.”
Bersambung ....