Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Kayla menceritakan tentang kisah masa lalunya kepada Ashabi. Entah kenapa dia bisa lancar bercerita sesuatu yang selalu dia sembunyikan, kepada pria itu. Hati kecilnya merasa kalau Ashabi adalah orang yang bisa dipercaya.
“Mama dan Pak Amran berangkat untuk menghadiri kelulusanku. Mereka ingin melihatku menerima ijazah. Ingin melihatku dengan bangga karena mendapatkan nilai tertinggi di propinsi.”
Suara Kayla nyaris hilang. “Tapi ... mereka tidak pernah sampai.”
Ashabi menahan napas.
“Mereka mengalami kecelakaan di jalan,” lanjut Kayla, air matanya mengalir deras. “Mobil mereka ditabrak truk dari arah berlawanan. Mama dan Papa Amran meninggal di tempat.”
Tangis Kayla pecah. Tubuhnya bergetar hebat, bahunya terguncang oleh isak yang tak tertahan.
Ashabi spontan berdiri, lalu duduk lebih dekat, tetapi tetap menjaga jarak. Ia ingin memeluknya, tetapi ia tahu Kayla mungkin belum siap.
Kayla menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Aku tidak sempat melihat mereka terakhir kali. Tidak sempat memeluk mereka sebelum berangkat.”
Suara itu penuh penyesalan dan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Ashabi menarik napas panjang, dadanya terasa sesak. “Kayla, aku tidak tahu kamu mengalami semua itu.”
Kayla mengusap air matanya, wajahnya pucat. “Setelah mereka meninggal, aku harus mengurus Fattah dan Fattan yang masih kecil dan Nayla yang saat itu masih bayi,” lanjut Kayla dengan suara bergetar.
“Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Kerabat kami menjauh. Uang hampir tidak ada. Aku hanya lulusan SMP.”
Hening menyelimuti mereka berdua. “Awalnya aku mencoba bekerja serabutan,” ujar Kayla pelan. “Tapi tidak cukup untuk membeli susu Nayla, bayar kontrakan, dan kebutuhan sekolah adik-adikku.”
Ashabi mengepalkan tangannya. Ia mulai memahami betapa putus asanya Kayla saat itu.
“Suatu hari, seorang wanita mendekatiku. Dia bilang bisa membantuku mendapatkan uang banyak dengan cepat,” lanjut Kayla, suaranya hampir seperti bisikan.
Air mata Kayla kembali mengalir. “Dan aku yang bodoh dan saat itu sedang putus asa, akhirnya setuju.”
Dadanya bergetar hebat. “Itu awal aku masuk ke dunia itu menjadi Queen.”
Ashabi menunduk, hatinya terasa perih membayangkan betapa rapuhnya Kayla saat itu.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang berat. Akhirnya, Kayla mengangkat wajahnya. Matanya merah, tetapi ada keteguhan di dalamnya.
“Aku tidak bangga dengan masa laluku, Ashabi. Tapi aku juga tidak bisa menghapusnya.”
Ashabi menatapnya penuh empati. “Kamu tidak perlu malu padaku. Aku melihat siapa kamu sekarang, bukan siapa kamu dulu.”
Kalimat itu membuat Kayla terdiam. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa benar-benar dilihat, bukan dihakimi.
Langit mulai gelap, lampu-lampu jalan menyala satu per satu. Mereka masih duduk berdampingan, dua orang yang hidupnya pernah hancur dengan cara berbeda, kini dipertemukan kembali oleh takdir. Di dalam hati masing-masing, mereka merasa pertemuan ini bukan kebetulan semata.
Azan Magrib menggema lembut di langit senja ketika Kayla dan Ashabi melangkah kembali ke dalam masjid. Setelah percakapan panjang yang membuka luka lama, mereka sama-sama memilih menenangkan hati di hadapan Tuhan.
Kayla berdiri di saf perempuan dengan dada yang masih naik turun. Air matanya belum sepenuhnya kering, tetapi hatinya terasa lebih ringan. Ia mengangkat kedua tangan, takbir terucap lirih, dan seluruh tubuhnya seolah melepaskan beban yang selama ini ia pikul sendirian.
Di saf laki-laki, Ashabi menunduk dalam sujud yang panjang. Ia tidak hanya berdoa untuk dirinya, tetapi juga untuk Kayla. Untuk masa depan perempuan itu, untuk ketiga adiknya, untuk jalan yang lebih terang.
Selepas salat, masjid perlahan sepi. Lampu-lampu temaram menyala hangat, menciptakan suasana teduh yang menenangkan. Kayla berjalan keluar, menenteng tas kecilnya.
Ashabi sudah menunggunya di halaman masjid dengan helm di tangan. “Sudah?” tanyanya lembut.
Kayla mengangguk. “Sudah.”
“Ayo, aku antar kamu pulang!” ujar Ashabi.
“Apa tidak merepotkan kamu?” tanya Kayla sungkan.
“Tidak sama sekali. Sekalian ingin bertemu sama si kembar dan juga Nayla,” jawab Ashabi tersenyum tipis.
Mereka tidak banyak bicara. Hanya deru motor Ashabi yang memecah keheningan malam ketika ia mengantarkan Kayla menyusuri jalan sempit menuju kontrakan.
Sepanjang perjalanan, Kayla menatap lampu-lampu jalan yang melintas cepat. Ada perasaan aneh di dadanya, campuran haru, canggung, dan sedikit harapan yang mulai tumbuh.
Saat sampai di depan kontrakan sederhana itu, Ashabi tidak langsung mematikan mesin motornya. “Aku beli sesuatu dulu,” katanya tiba-tiba.
Kayla mengerutkan kening. “Beli apa?”
“Tunggu di sini.”
Beberapa menit kemudian, Ashabi kembali dengan dua kantong besar berisi makanan, nasi hangat, ayam goreng, sup, ikan bakar, dan beberapa kotak kecil berisi lauk tambahan. Aroma sedapnya langsung membuat perut Kayla bergejolak.
“Untuk makan malam,” ujar Ashabi singkat.
Kayla menatap kantong itu, dadanya mencelos. “Kamu tidak perlu melakukan ini.”
Ashabi menggeleng. “Jangan menolak rezeki.”
Mereka masuk ke dalam kontrakan. Begitu pintu terbuka, tiga anak kecil langsung berlari menghampiri Kayla.
“Kakak!” teriak Nayla sambil memeluk pinggang Kayla erat.
Fattan dan Fattah berdiri sedikit di belakang, tetapi mata mereka langsung berbinar saat melihat Ashabi.
“Om Ashabi!” seru Fattan riang.
Ashabi tersenyum, berlutut sejajar dengan mereka. “Kalian sudah lapar?”
“Iya!” jawab ketiganya serempak.
Begitu kantong makanan dibuka di atas meja kecil ruang tamu, mata mereka semakin membesar.
“Waaah, ada ayam!” seru Fattah takjub.
“Ada ikan bakar,” lanjut Fattan senang. Mereka jarang sekali makan ikan.
“Ini sup, Kak?” tanya Nayla sambil menunjuk mangkuk plastik.
“Iya, sayang. Sup hangat,” jawab Ashabi.
Kayla hanya berdiri di samping meja, menggenggam ujung bajunya. Senyum tipis terukir di bibirnya, tetapi hatinya bergetar.
Ketiga adiknya makan dengan lahap, tertawa kecil, berebut potongan ayam, dan sesekali menyuapi satu sama lain. Suara sendok beradu dengan piring, canda polos mereka, dan wajah ceria yang bercahaya.
Semua itu membuat dada Kayla terasa sesak. Ia menunduk, menahan air mata yang hampir tumpah.
“Seandainya aku bisa selalu memberi mereka makanan seperti ini,” batin Kayla perih.
Ashabi melirik Kayla dari sudut matanya. Ia bisa melihat bahu Kayla sedikit bergetar, meski perempuan itu berusaha terlihat tegar.
tp apa iya ya
tahan dlu dong
aduh gimna ini
dan ahh masih bikin bgg