Alisa Putri adalah seorang guru TK yang lembut dan penuh kasih, sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk keceriaan anak-anak.
Namun, dunianya yang berwarna mendadak bersinggungan dengan dunia dr. Niko Arkana, seorang dokter spesialis bedah yang dingin, kaku, dan perfeksionis.
Niko merupakan cucu dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja dan memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga reputasi keluarganya.
Pertemuan mereka bermula lewat Arka, keponakan Niko yang bersekolah di tempat Alisa mengajar.
Niko yang semula menganggap keramahan Alisa sebagai hal yang "tidak logis", perlahan mulai tertarik pada ketulusan sang guru.
Sebaliknya, Alisa menemukan bahwa di balik dinding es dan jubah putih Niko, tersimpan luka masa lalu dan tanggung jawab berat yang membuatnya lupa cara untuk bahagia.
Bagaimana kelanjutan???
Yukk baca cerita selengkapnya!!!
Follow IG: @Lala_Syalala13
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlalu Banyak Madu
Setelah Hendra pergi Niko mencoba menyibukkan diri dengan berkeliling bangsal.
Ia melewati kamar 502 dengan pintu itu terbuka sedikit karena petugas kebersihan sedang menyedot debu di dalamnya.
Niko berhenti sejenak lalu menatap ke dalam, kamar itu tampak luas, dingin dan... kosong.
Saat Alisa di sana kamar itu terasa hidup, ada buku yang tergeletak di meja, ada tawa kecil saat Arka datang berkunjung dan ada diskusi-diskusi kecil tentang makna kebahagiaan yang sempat membuat Niko berpikir ulang tentang gaya hidupnya.
Sekarang, kamar itu kembali menjadi sekadar aset properti rumah sakit yang bernilai jutaan rupiah per malam.
Niko merasakan semacam kekosongan yang asing di dadanya, ia terbiasa sendiri, ia menikmati kesunyian, namun kesunyian kali ini terasa menyiksa.
Ia merindukan cara Alisa menatapnya dengan penuh pengertian seolah wanita itu bisa melihat melampaui gelar dokter dan status sosialnya.
Ia berjalan menuju kantin rumah sakit, tempat yang biasanya ia hindari karena terlalu ramai.
Ia duduk di pojok memesan kopi yang rasanya pahit namun entah kenapa lidahnya justru merindukan rasa manis es krim murah yang ia makan bersama Alisa di depan sekolah.
Ponselnya bergetar dimana sebuah foto masuk dari kakaknya di Singapura yaitu kak Sonia mama dari Arka.
Foto Arka yang sedang memegang gambar kacang hijau yang mulai tumbuh.
“Arka bilang dia mau menunjukkan ini pada Bu Alisa Senin nanti, dia sangat senang gurunya sudah sembuh berkat Om Dokter Hebat.” tulis kakaknya.
Niko menatap foto itu cukup lama, matanya beralih ke kalender digitalnya, masih ada dua hari sebelum hari Senin.
Dua hari terasa seperti waktu yang sangat lama bagi seseorang yang biasanya menghitung waktu dalam hitungan detik di ruang operasi.
Tiba-tiba ia berdiri, ia memiliki sebuah ide yang mungkin akan dianggap gila oleh Dokter Hendra atau kakeknya jika mereka tahu.
Ia menuju ke bagian farmasi dan toko perlengkapan medis di lantai dasar.
"Suster, berikan aku paket pemantau kesehatan mandiri yang paling lengkap, Tensimeter digital, oksimeter dan termometer inframerah." perintah Niko.
"Untuk stok rumah sakit Dok?" tanya petugas farmasi.
"Bukan, tapi untuk... penelitian pribadi." jawab Niko datar.
Niko keluar dari rumah sakit saat jam kerjanya sebenarnya belum benar-benar selesai.
Ia menitipkan sisa tugasnya pada dokter residen di bawah pengawasannya, ia masuk ke mobil dan meletakkan paket alat medis itu di kursi samping, lalu mulai menyetir menuju alamat yang sudah ia hafal di luar kepala.
Dalam perjalanannya, ia sempat berhenti di sebuah toko bunga.
Ia menatap deretan mawar merah namun menggeleng, mawar terlalu berisik, ia memilih sebuah pot kecil tanaman succulent yang kuat dan mudah dirawat.
'Dia butuh sesuatu yang hidup bukan sesuatu yang akan layu dalam tiga hari.' batinnya.
Saat mobilnya berhenti di depan rumah mungil Alisa, Niko merasa jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia harus membedah aorta seorang pasien.
Ia merapikan rambutnya di kaca spion, berdeham pelan untuk memastikan suaranya tidak terdengar gugup.
Ia melangkah menuju pintu dan mengetuknya.
Pintu terbuka beberapa saat kemudian, Alisa berdiri di sana mengenakan daster rumahan berbahan katun dengan motif bunga kecil yang sangat sederhana namun di mata Niko ia terlihat jauh lebih cantik daripada saat memakai seragam sekolah.
"Niko? Kamu... ada apa? Apa ada hasil lab yang buruk?" Alisa tampak khawatir, ia langsung teringat pada kemungkinan kondisi kesehatannya.
Niko tertegun sejenak melihat wajah Alisa yang sedikit memerah karena terkejut.
"Tidak, hasil lab-mu sempurna, aku hanya... lewat." ujarnya.
Alisa menaikkan alisnya, menatap seragam kerja Niko yang masih rapi.
"Lewat? Dari rumah sakit ke sini itu tidak searah dengan rumahmu Niko." seru Alisa heran.
Niko berdeham, merasa bodoh karena alasan klasiknya langsung terbongkar, ia menyerahkan tas berisi alat medis dan pot tanaman itu.
"Aku membawakan alat untuk memantau kondisimu secara mandiri, laporkan hasilnya padaku setiap pagi dan sore lewat pesan singkat. Ini adalah perintah medis resmi." ucap Niko.
Alisa menerima tas itu, matanya berkaca-kaca melihat perhatian Niko yang begitu mendalam di balik wajah datarnya.
"Hanya untuk itu? Kamu bisa saja menyuruh kurir, Niko." tutur Alisa merasa itu hal yang tidak harus seorang Dokter bedah lakukan sendiri.
Niko menatap mata Alisa dan kali ini ia tidak memalingkan wajah.
"Kurir tidak bisa memastikan apakah pasiennya benar-benar mematuhi perintah untuk tidak banyak bergerak." alasannya.
Alisa tersenyum, senyum paling tulus yang pernah Niko lihat.
"Terima kasih Dokter Niko, mau masuk sebentar? Aku baru saja menyeduh teh herbal yang kamu kirim kemarin." tawar Alisa.
Niko diam sejenak, memikirkan tumpukan pekerjaan di rumah sakit yang ia tinggalkan.
Namun ia melihat ke arah koridor rumah sakit dalam pikirannya yang sunyi, lalu kembali menatap mata hangat Alisa.
"Hanya sepuluh menit." jawab Niko, sembari melangkah masuk ke dalam rumah Alisa, menyadari bahwa sepuluh menit di sini jauh lebih berharga daripada sepuluh jam di rumah sakit manapun di dunia.
Kekosongan di dadanya perlahan mulai terisi kembali, tepat saat aroma teh dan kehadiran Alisa menyelimuti indranya.
Niko sadar, ia tidak hanya sedang merawat seorang pasien tapi ia sedang mencoba menyelamatkan dirinya sendiri dari kesepian yang selama ini tidak ia akui.
Sepuluh menit.
Itulah waktu yang dijanjikan Niko, namun jam dinding di ruang tamu Alisa yang berbentuk matahari kayu itu seolah berdetak lebih lambat dari biasanya.
Alisa bergerak ke dapur dengan langkah yang masih sedikit hati-hati meskipun ia merasa sudah bugar tapi tatapan tajam Niko yang mengikutinya dari sofa membuatnya merasa seperti seorang narapidana yang sedang dalam masa percobaan.
Ia menyeduh teh kamomil dengan campuran madu hutan, aroma yang menenangkan langsung menguar mencoba mengimbangi aura dingin yang dibawa Niko ke dalam rumah mungilnya.
Niko duduk di sofa beludru hijau Alisa tampak sangat tidak selaras dengan lingkungan sekitarnya.
Pria itu terlalu besar, terlalu formal dan terlalu... megah untuk ruangan yang dipenuhi dengan bantal-bantal empuk dan hiasan dinding macrame.
Ia meletakkan tangannya di atas lutut dan matanya memindai rak buku Alisa yang penuh dengan literatur pendidikan anak dan psikologi perkembangan.
"Ini tehnya Niko, hati-hati ini masih panas." ucap Alisa sembari meletakkan cangkir porselen bermotif bunga di depan Niko.
Niko meraih cangkir itu, jari-jarinya yang panjang dan terampil dimana jari yang biasanya memegang pisau bedah dengan presisi mematikan tapi kini memegang gagang cangkir yang mungil dengan sangat hati-hati, ia menyesapnya perlahan.
"Terlalu banyak madu." komentar Niko datar, namun ia meminumnya lagi.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...
ayo lanjut lagi