NovelToon NovelToon
Istriku Dosen Killer 30+

Istriku Dosen Killer 30+

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Beda Usia / Dosen / Penyesalan Suami / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah
Popularitas:49.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.

Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.

Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Shelina yang semula membelakangi Kaisar kembali berbalik. Gerakannya pelan, tapi tatapannya langsung mengunci mata suaminya. Tidak ada amarah di sana, hanya ketegasan yang tenang, khas Shelina.

Kaisar menelan ludah. Dadanya naik turun, lalu ia memberanikan diri bicara lagi.

“Apa boleh…” suaranya lebih rendah sekarang, tidak lagi keras, “kamu nggak perlu terlalu dekat sama Pak Rangga.” Ulangnya lagi.

Shelina tidak memotong dan tidak juga mengalihkan pandangan.

“Aku menghargai kamu sebagai istriku,” lanjut Kaisar, jujur, tanpa basa-basi.

“Tolong hargai aku sebagai suamimu. Usia kita memang jauh, aku tahu. Tapi setidaknya … kita saling jaga.”

Dia menghela napas pendek, lalu berkata hal yang selama ini mengganjal di dadanya.

“Aku percaya kamu aku yakin kamu nggak akan macam-macam sama Pak Rangga.”

Kaisar mengepalkan jemarinya di atas seprai. “Tapi aku nggak percaya sama dia.”

Nada suaranya getir.

“Anak-anak kampus gosipin kalian. Aku dengar sendiri. Dan rasanya…” Kaisar mendengus lirih, “kesal, bukan karena aku mau ikut campur hidupmu. Justru karena aku mikirin nama baik kamu.”

Ia menatap Shelina lurus.

“Makanya aku minta, tolong...”

Untuk beberapa detik, Shelina hanya diam. Tatapannya melembut, bukan lagi dingin seperti sebelumnya. Ia menghela napas pelan, seolah menyusun perasaan di dadanya sendiri.

“Aku dengar semua yang kamu bilang,” ucapnya akhirnya. Suaranya tenang, nyaris rapuh.

“Dan aku paham kenapa kamu merasa seperti itu.”

Shelina mengangguk kecil.

“Baik, aku akan jaga jarak. Bukan karena aku ditekan, tapi karena aku menghargai perasaanmu.”

Kaisar sedikit terkejut, matanya membesar samar. Namun, Shelina belum selesai.

“Tapi aku juga mau minta sesuatu,” katanya, kali ini menatap Kaisar dengan mata yang lebih jujur dari sebelumnya.

“Biasakan pulang ke rumah setelah kuliah. Jangan keluyuran, jangan berantem di luar sana.”

Napasnya bergetar tipis.

“Aku … khawatir.”

Kaisar terdiam, Shelina menunduk sesaat, lalu kembali menatapnya. Suaranya nyaris berbisik sekarang.

“Sekarang aku cuma punya kamu, Kai. Rumah ini … tempat aku pulang.”

Bibirnya bergetar, tapi ia memaksa tetap tenang.

“Aku nggak kuat kalau kamu juga tiba-tiba menghilang.”

Kalimat itu menghantam Kaisar lebih keras dari tamparan Aksa malam sebelumnya. Dia terdiam lama, lalu mengangguk pelan.

“Iya,” ucapnya akhirnya, lirih.

“Aku pulang.”

Malam itu, jarak di antara mereka terasa sedikit berkurang, meski belum sepenuhnya hilang.

Lampu kamar telah diredupkan. Nafas Shelina perlahan teratur, begitu juga Kaisar yang berbaring di sampingnya. Di bawah selimut, tanpa disadari, jemari mereka saling mencari dan lalu bertaut. Tidak erat, tapi cukup untuk memberi rasa aman.

Di tengah malam, seperti malam-malam sebelumnya, Shelina kembali mengigau. Keningnya berkerut, napasnya memburu, tubuhnya sedikit bergetar seolah terjebak dalam mimpi yang tidak ramah.

Kaisar terbangun.

Tanpa berpikir panjang, ia bergerak mendekat, satu lengannya merengkuh tubuh Shelina, menariknya ke dalam pelukan. Tangannya mengusap punggung dan rambut Shelina dengan gerakan pelan, naluriah.

“Tenang … aku di sini,” bisiknya lirih, meski tahu Shelina tak sepenuhnya sadar.

Ajaibnya, igauan itu mereda. Nafas Shelina kembali teratur, tubuhnya melemas di dalam pelukan Kaisar. Jemarinya menggenggam kaus Kaisar, seolah takut terlepas.

Kaisar menatap wajah istrinya lama dalam gelap.

Malam itu, tanpa pertengkaran, tanpa jarak, tanpa kesalahpahaman mereka tertidur dalam keheningan yang damai, dengan tangan saling menggenggam, dan hati yang perlahan belajar percaya.

Keesokan paginya, Kaisar terbangun dengan mata setengah terbuka dan lalu langsung duduk.

Sisi ranjang di sebelahnya kosong.

Seprai masih hangat, tapi Shelina sudah tidak ada. Kaisar menghela napas pelan, entah lega atau justru kehilangan sesuatu yang semalam terasa menenangkan.

Dia melirik jam, hari ini ia ada kuliah pagi, lalu bimbingan skripsi. Dengan gerakan cepat, Kaisar mandi dan berganti pakaian. Pikiran sempat melayang ke semalam, tangan yang saling menggenggam, pelukan tanpa sadar, dan kata-kata yang akhirnya jujur.

Saat menuruni tangga, aroma masakan langsung menyambutnya.

Kaisar berhenti di anak tangga terakhir.

Shelina berdiri membelakanginya, sedang merapikan vas bunga kecil di atas lemari dekat ruang makan. Rambutnya diikat sederhana, mengenakan piyama berwarna lembut. Tidak ada raut dosen killer pagi itu dan yang ada hanya seorang perempuan yang tampak tenang.

“Kai,” suara Shelina menyadari kehadirannya. “Sarapan dulu, sudah aku siapin.”

Kaisar mengangguk, lalu berjalan ke meja makan.

Di sana tersaji nasi hangat, telur dadar, tumis sayur, dan segelas susu.

“Miss… eh,” Kaisar terkekeh kecil, cepat mengoreksi.

“Shelin, hari ini nggak ngajar?”

Shelina menoleh sambil menyandarkan punggung ke lemari.

“Jam ku sore. Jadi aku nggak berangkat pagi.”

“Oh.” Kaisar duduk, mengambil sendok. “Kirain dosen killer itu nggak pernah libur.”

Shelina melirik tajam dan refleks, lalu mendengus pelan.

“Kamu ini, pagi-pagi sudah cari masalah.”

Kaisar tersenyum kecil dan mulai makan. Suapan pertama membuatnya terdiam sesaat.

“Enak,” katanya jujur. “Aku nggak nyangka kamu bisa masak.”

“Aku juga nggak nyangka kamu mau sarapan di rumah,” balas Shelina ringan.

Shelina lalu berkata pelan, “Hati-hati di jalan, jangan ngebut.”

Kaisar mengangkat wajahnya.

“Iya,” jawabnya singkat, tapi matanya menahan sesuatu dan perasaan asing yang baru tumbuh.

Ia berdiri, mengambil tasnya.

“Aku pulang habis kuliah, ada bimbingan mungkin agak lama.”

Shelina mengangguk.

“Aku tunggu.”

Sebelum benar-benar melangkah pergi, Kaisar berhenti di ambang pintu. Seperti baru ingat sesuatu, ia menoleh kembali ke arah Shelina yang masih berdiri di dekat meja makan.

“Shelin,” panggilnya ragu. “Motor aku … disita Kak Aksa.”

Shelina mengangkat alis.

“Disita?”

Kaisar mengangguk kecil. “Iya, jadi kayaknya aku berangkat pakai taksi online.”

Ada jeda singkat. Shelina menatapnya beberapa detik, seolah menimbang-nimbang, lalu berkata ringan tapi tegas, “Aku antar.”

Kaisar spontan menggeleng. “Nggak usah, nanti kamu repot. Aku bisa—”

“Aku nggak keberatan,” potong Shelina. Nada suaranya tenang, bukan memaksa. “Lagipula aku nggak ke mana-mana pagi ini.”

Kaisar terdiam, harga dirinya sempat menolak, tapi rasa lelah dan mungkin rasa nyaman membuatnya menyerah.

“Ya udah … kalau gitu,” gumamnya. “Makasih.”

Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk di dalam mobil. Kaisar di kursi penumpang, Shelina menyetir. Suasana di antara mereka hening, tapi bukan hening yang canggung. Radio diputar pelan, jalanan pagi masih lengang.

Kaisar melirik sekilas ke arah Shelina.

“Shelin,” ucapnya pelan. “Maaf ya … gara-gara aku kamu jadi ikut repott.”

Shelina tersenyum tipis tanpa menoleh.

“Kita satu rumah sekarang. Repot sedikit nggak apa-apa.”

Mobil melaju perlahan meninggalkan perumahan.

1
Rahmat Zakaria
jeng jeng siapa kah yang datang hayo kalau aku tebak itu momy kaisar
Nata Abas
bagus
Aidil Kenzie Zie
yang datang Momy Kirana atau abg Aksa
ngatun Lestari
siapa kah yg datang.....
Teh Euis Tea
amira ga nikah lg thor?
trs sepupunya yg bawa amira nikah ga thor?
jd penasaran sm kisah mereka
nuraeinieni
betul tuh yg di bilang bu amira,anggap saja shel lagi cuti sampai kai wisuda,,atau jadi ibu rumah tangga shell,tunggu suami pulang kerja.
nuraeinieni
apa mommy kinara yg datang
Naufal Affiq
apa aksa yang datang kak
Teh Euis Tea
ouhhh amira ibu kandungnya aska ternyata pemilik yayasan
nuraeinieni
wah ternyata amira mama nya aska.
Meila Azr
aduh pantesan kaisar telpon momy ternyata ha Riko salah cari lawan
Oma Gavin
harusnya sudah tidak ada lagi dendam amira sudah bisa menerima kirana yg merawat aska
Naufal Affiq
amira kan mama nya aska
Riska Nianingsih
Amira ibunya Aska bukan????
Aisyah Alfatih: iya, ibu kandung.
total 1 replies
nuraeinieni
memikirkan kemungkinan yg terjadi tdk apa2,,,tapi hadapi dulu,baru tau keputusan yg kepala yayasan berikan,biar kalian bisa ambil langkah.
nuraeinieni
mantap tuh kaisar,jawaban yg tepat,,,
kasian dirimu rico,niat hati ingin menjatuhkan kaisar dan shelin,kamu sendiri yg ketakutan,takut ketahuan kesalahanmu.
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
rasakan riko,kau pikir kau menang dalam masalah,gak ada larangan mahasiswa nikah sama dosennya,ngerti kan Riko yang ku maksud
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!