NovelToon NovelToon
Ibu Susu Bayi Sang Duda

Ibu Susu Bayi Sang Duda

Status: tamat
Genre:Duda / Janda / Selingkuh / Ibu Pengganti / Menikah Karena Anak / Ibu susu / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Hari yang seharusnya menjadi momen terindah bagi Hanum berubah menjadi mimpi buruk. Tepat menjelang persalinan, ia memergoki perselingkuhan suaminya. Pertengkaran berujung tragedi, bayinya tak terselamatkan, dan Hanum diceraikan dengan kejam. Dalam luka yang dalam, Hanum diminta menjadi ibu susu bagi bayi seorang duda, Abraham Biantara yaitu pria matang yang baru kehilangan istri saat melahirkan. Dua jiwa yang sama-sama terluka dipertemukan oleh takdir dan tangis seorang bayi. Bahkan, keduanya dipaksa menikah demi seorang bayi.

Mampukah Hanum menemukan kembali arti hidup dan cinta di balik peran barunya sebagai ibu susu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

04. Dua Minggu kemudian

Ruang tengah keluarga Biantara malam itu terasa hening, hanya denting jam antik yang sesekali terdengar. Hanum duduk dengan canggung di sisi Miranti. Sejak kepergiannya dari rumah Galih, ia memang lebih sering berada di dekat mantan mertuanya itu, satu-satunya orang yang masih memandangnya sebagai anak.

Siska duduk di kursi utama, menatap Hanum dengan sorot penuh pertimbangan. “Aku sudah lama memperhatikanmu, Nak. Waktu acara syukuran bayi Kevin bulan lalu … aku melihat sendiri bagaimana kamu menggendongnya. Bayi itu diam, tenang, seolah menemukan pelukan yang ia cari. Dari situlah aku tahu, kamu bukan wanita biasa.”

Hanum menunduk, wajahnya memerah. Hatinya perih karena mengingat malam itu juga adalah tepat sebulan setelah ia kehilangan bayinya sendiri. Langkah sepatu terdengar mendekat. Abraham muncul dari lorong, posturnya tegak dengan kemeja hitam yang sederhana namun menegaskan wibawanya. Pandangannya langsung jatuh pada Hanum, menelisik tajam, mengingat kembali pertemuan singkat saat pesta itu. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik, membuat dada Hanum bergetar tak nyaman.

“Jadi, inilah yang Ibu bicarakan,” ucap Abraham datar.

“Wanita itu..." Abraham duduk dengan kaki terangkat satu di menatap dingin ke arah Hanum.

Hanum tersentak kecil. “Wanita itu?” gumamnya lirih, seolah dirinya bukan manusia, hanya sekadar objek.

“Abraham,” tegur Siska. “Jangan bicara begitu, Hanum bukan sembarang perempuan. Dia keluarga Miranti, dan aku sudah tahu betul kisahnya.”

Abraham mendesah berat. “Aku tidak melupakan wajahnya. Saat pesta itu, aku memang memperhatikannya. Dia duduk sendiri di sudut ruangan, tapi matanya … penuh luka. Lalu bayi itu diam saat berada di pelukannya. Itu memang mengejutkan. Tapi...” ia kembali menatap lurus ke arah Hanum, nadanya mengeras, “aku tidak pernah berniat menikah lagi. Istriku baru sebulan lebih pergi. Aku tidak mau mengkhianati ingatan tentangnya.”

Siska meraih tangan putranya. “Bukan soal mengganti istrimu, Bian. Ini soal Kevin. Kau lihat sendiri, tidak ada susu formula yang bisa diterimanya. Dia butuh ibu susu. Dia butuh kasih sayang seorang perempuan yang kehilangan, sama seperti dia kehilangan ibunya.”

Abraham menahan rahang, jelas sedang berperang dengan dirinya sendiri. Ingatan saat melihat Hanum di pesta itu muncul lagi. Wanita yang tampak rapuh, tapi di balik itu tersimpan ketegaran yang membuatnya diam-diam terkesan.

Akhirnya ia menghela napas panjang. “Baik, kalau memang harus … ada syaratnya.”

Hanum mendongak, menahan detak jantungnya yang kencang.

“Syarat pertama, kamu boleh tinggal di rumah ini sebagai pengasuh Kevin sampai pernikahan berlangsung. Kedua, kamu tidak boleh pernah mengaku Kevin sebagai anakmu. Dia adalah putraku, darah Biantara. Kamu hanya ibu susu, bukan ibu kandung. Dan terakhir…” tatapannya menusuk, “tidak ada cinta di antara kita. Pernikahan ini hanya formalitas. Untuk menjaga nama baik keluarga dan melindungi Kevin dan tidak lebih.”

Miranti terhenyak. “Abraham...”

Namun Hanum memejamkan mata, menahan perih di matanya. Dia teringat Kevin yang menangis keras malam pesta itu, dan betapa dada yang kosong ini justru terasa penuh setiap kali mendengarnya. Dengan suara bergetar, ia menjawab, “Saya … akan melakukannya. Demi anak itu, bukan untuk saya, bukan juga untuk pernikahan.”

Siska menatapnya haru. “Tuhan memberkati keputusanmu, Nak.”

Abraham hanya diam. Meski nadanya dingin, matanya menyiratkan sesuatu yang tak bisa ditebak, seperti sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini hanyalah urusan kewajiban, padahal jauh di lubuk hati ia tahu Hanum sudah meninggalkan jejak sejak pertemuan pertama.

Beberapa hari berlalu.

Pagi itu, gerbang besar rumah keluarga Biantara terbuka. Mobil Miranti melaju pelan masuk halaman luas yang dipenuhi pepohonan rindang dan taman bunga yang tertata rapi. Hanum duduk di samping Miranti, tangannya meremas ujung kerudung, wajahnya pucat karena gugup.

“Tenang saja, Nak,” ucap Miranti menepuk tangan Hanum. “Kamu tidak sendiri ... aku percaya kamu bisa menjalani ini, memulai hidup baru."

Hanum mengangguk kecil. Meski hatinya berat, ia sudah bertekad, demi bayi itu dan demi melupakan semua kisah hidupnya yang pahit.

Sesampainya di teras utama, beberapa pelayan sudah menunggu. Mereka menunduk sopan, namun tatapan mata mereka penuh tanya. Tak ada yang berani berkomentar, hanya bisik-bisik pelan yang sesekali terdengar.

“Ini Hanum,” jelas Miranti tegas. “Mulai hari ini dia akan tinggal di sini.”

Salah satu pelayan, Mbok Sarti, menatap Hanum lama, lalu tersenyum lembut. “Selamat datang, Nduk. Semoga betah di sini.”

Hanum membalas dengan senyum gugup. Ia menunduk hormat sebelum mengikuti langkah Miranti masuk ke dalam rumah.

Di ruang tamu yang luas dan elegan, Abraham sudah berdiri menunggu. Penampilannya rapi dengan kemeja putih, rambut hitamnya disisir ke belakang. Wajahnya tetap dingin, sorot matanya menusuk Hanum tanpa ekspresi.

“Jadi kau datang,” ucapnya datar.

Hanum hanya menunduk. “Iya, Tuan.”

Miranti hendak menegur dinginnya sikap Abraham, namun Hanum buru-buru menahan lengannya, memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja.

“Mulai hari ini, kau akan menempati kamar di lantai dua, dekat kamar Kevin,” jelas Abraham. “Tugasmu jelas, menjaga Kevin, memberinya susu, memastikan dia sehat. Selain itu, tidak ada urusan lain. Kau bukan nyonya rumah ini ... ingat perjanjian kita.”

Kata-kata itu menusuk, tapi Hanum hanya bisa mengangguk. “Saya mengerti.”

Abraham menatapnya sejenak, lalu berbalik tanpa banyak kata lagi. “Bi Sarti, antar dia ke kamarnya.”

Kamar yang diberikan untuk Hanum cukup luas, dengan jendela besar menghadap taman. Saat pintu ditutup, Hanum menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Baru saja ia ingin duduk di ranjang, terdengar tangisan nyaring dari kamar sebelah. Tanpa pikir panjang, Hanum berlari keluar dan masuk ke kamar bayi. Di sana, dua pengasuh tampak panik, mencoba menenangkan Kevin yang menangis keras.

“Kenapa tidak diam-diam juga, Mbak…” salah satu pengasuh mengeluh.

Hanum mendekat. “Boleh … saya coba?” tanyanya pelan.

Kedua pengasuh itu saling pandang ragu. Namun akhirnya mengangguk. Hanum meraih bayi mungil itu dengan hati-hati, lalu mendekapnya erat. Tangisan Kevin mereda perlahan. Ia menatap Hanum dengan mata bulat bening, seakan mengenali kehangatan asing yang sekaligus familiar. Dada Hanum terasa sesak, air susunya kembali keluar, tubuhnya bereaksi alami seakan memang untuk anak ini.

“Diam … ya, Nak. Jangan nangis lagi,” bisik Hanum dengan suara lembut yang nyaris pecah karena emosi. Saat itu juga, tangisan Kevin benar-benar berhenti. Ia tertidur pulas di pelukan Hanum, kepalanya bersandar di dada Hanum seolah menemukan rumahnya.

Dari balik pintu yang terbuka sedikit, Abraham berdiri. Ia memperhatikan dengan mata tajam namun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Bayi yang semalam terus menangis akhirnya diam hanya dengan pelukan seorang wanita yang bahkan bukan ibunya. Rahangnya mengeras, ada sesuatu dalam dirinya yang berontak.

Dia masuk perlahan. “Taruh dia di tempat tidur.”

Hanum tersentak, buru-buru menoleh. “Tuan … maaf, saya hanya ingin...”

“Aku bilang, taruh dia.” Suaranya dingin, tapi samar terdengar getar emosi di dalamnya. Hanum mengangguk patuh, lalu membaringkan Kevin ke ranjang bayi dengan hati-hati. Bayi itu tetap tertidur pulas, tak terganggu sama sekali. Abraham mendekat, tatapannya masih tajam pada Hanum. “Jangan terlalu larut. Ingat, kau bukan ibunya.”

Kata-kata itu menusuk sekali lagi. Namun Hanum hanya menunduk. “Saya mengerti, Tuan.”

Dalam hati, Abraham sebenarnya tengah dilanda dilema. Ia melihat sesuatu di diri Hanum, kekuatan lembut yang bahkan tak dimilikinya sendiri. Namun ia tak ingin mengakuinya. Karena, rasa kehilangan itu masih segar di ingatannya.

1
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Waahh sudah tamat saja... karya Author bagus... aku suka.👍👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Love buat kalian.🫶🫶🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
memberi maaf memang membantu meringankan hati dan fisik... beban terangkat meski memory ga bisa melupakan.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Ehemmm... ehemmmm... sweet bangetbsih bikin ngiri aja.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
maaf Thor mau koreksi kalimat Hanum "Menatap Ketiganya padahal di kamar itu ada Si kembar, Abraham dan Kevin jadinya berEmpat Thor".🙏🙂
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎: Kayak penampakan dong..🤣🤣
total 2 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
bahagia selalu buat kalian.👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
sampe nahan nafas karena tegang.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Wkwkwk... ga apa² Abraham nikmati saja mungkin twins lagi ga mau berbagi kasih sayang kamu buat abangnya.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Wow... selamat Hanum Abraham kalian mau nambah anggota baru lagi.👏👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
lah cuma gitu doang ngasih pelajarannya sama Rania, Abraham... hadeuuuhh kurang atuh... harusnya kamu turun tangan sendiri lah kan siluman Rania sudah ngebahayain istri mu loohh tapi kamu sebagai suaminya malah ga mau turun tangan nyiksa dia cuma karna alasan klasik ga mau ngotorin tanganmu sendiri... di luar nurul.🤦‍♀️🤦‍♀️
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
sayangnya waktu ga bisa di putar tapi di perbaiki selagi ada kesempatan buat berubah Galih meskipun Hanum ga mungkin jadi milik kamu lagi... tar yang ada Oleng dong waktunya.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Obsesi g1l4, itu mah udah masuk sak1t j1w4 kayaknya siluman Rania perlu di bawa ke RSJ.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
akhirnya sadar juga kamu Abraham, kalau sampe terjadi kamu terkecoh sama tipuan mereka Aku bakal bantuin Hanum buat getok kepala kamu pake ulekan sekalian sama cobeknya gratis cabe setannya..🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
halaahh padahal kamu juga hampir tertipu sama permainan Alma palsu dan siluman Rania kan Abraham.... mungkin kalau Alma palsu ga ketauan kamu bakalan ninggalin Hanum tuh... plin plan kadi laki².
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
nah loohh Julio kamu yang harus bertanggung jawab dalam masalah ini karna kamu yang mengusulkan bahkan maksa Abraham untuk nerima kerja sama perusahaan denga siluman Rania kaann
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
So Sweet banget sih kalian.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
apa Aku yang Salfok ya, BUKANNYA SKETSA YANG DI BUAT HANUM ITU PAS DI RUANG KERJA KANTOR ABRAHAM BUKAN DI RUANG KERJA RUMAHNYA, tapi kok di bab ini SKETSANYA ADA DI TEMPAT RUANG KERJA RUMAH... 🤔🤔

mungkin karna di sini kadang ga di tulis jeda waktu antara sedang berada di rumah dan tiba² sudah dikantor jadi bacanya harus teliti apa gimana Thor.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎: Oowhh... Lanjut Thor.🙂
total 2 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
hmmm... pemandangan keluarga yang menyejukan.👏👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
👍👍👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
mulai drama belatung muncul.🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!