Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.
Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 Retak
Tidak semua yang kembali pulang datang dalam keadaan utuh; sebagian membawa retak yang harus dipeluk sebelum disembuhkan.
—Chailey Cendana—
Kepulangan Celine ke rumah keluarga Cendana tidak langsung mengembalikan segalanya seperti semula.
Rumah itu tetap hangat.
Tetap ramai.
Tetap dipenuhi perhatian yang melimpah seperti hujan yang tak pernah absen turun.
Namun di dalam hatinya, masih ada ruang yang terasa asing—seperti kamar lama yang sudah lama ditinggalkan, berdebu, dan butuh waktu untuk ditinggali kembali.
Hari-hari pertama berjalan cukup tenang. Mommy Chailey selalu memastikan Celine makan dengan baik. Daddy Caesar berbicara dengannya dengan nada lebih lembut dari biasanya, seperti takut kata-katanya akan melukai. Calvin berusaha menghibur dengan candaan-candaan yang kadang garing, tetapi tulus.
Dan Aldivano…
Ia tetap seperti biasa.
Hadir, namun tidak mendesak.
Peduli, namun tidak mengikat.
Dekat, namun tetap menjaga jarak.
Justru itulah yang membuat Celine kadang merasa semakin canggung.
Seperti dua orang yang pernah sangat jauh, lalu tiba-tiba harus berbagi ruang yang sama tanpa tahu harus berdiri di mana.
Suatu sore, keluarga Cendana mengadakan makan malam bersama keluarga besar. Acara sederhana, tetapi meriah. Tawa dan percakapan memenuhi ruang makan seperti musik yang terus mengalun tanpa jeda.
Celine duduk di samping Mommy Chailey, sementara Aldivano berada di sisi berlawanan meja.
Awalnya semuanya terasa normal.
Hingga salah satu kerabat bertanya dengan nada santai namun menusuk tanpa sengaja,
“Celine sekarang sudah kembali tinggal di rumah, ya? Berarti sudah siap menjalani perannya sebagai istri sepenuhnya?”
Sendok di tangan Celine berhenti di udara.
Pertanyaan itu seperti jarum kecil yang menusuk tepat di tempat yang masih sensitif.
Beberapa orang terdiam, menyadari nada pertanyaan itu terlalu tajam.
Celine memaksakan senyum.
“Masih belajar,” jawabnya pelan.
Namun kerabat itu tertawa ringan, seolah tak menyadari dampaknya.
“Namanya juga sudah menikah, tidak bisa setengah-setengah. Istri harus ikut suami.”
Kalimat itu jatuh seperti batu yang dilempar ke kaca tipis.
Retak.
Aldivano langsung menatap orang itu dengan tenang namun tegas.
“Celine tidak sedang berlomba dengan siapa pun,” katanya datar. “Ia hanya menjalani prosesnya.”
Suasana menjadi canggung. Percakapan lain mencoba menutup ketegangan, tetapi luka kecil itu sudah telanjur terbuka.
Sepanjang makan malam, Celine hampir tidak berbicara.
Hatinya terasa seperti diremas pelan namun terus-menerus.
Malamnya, ia mengurung diri di kamar.
Lampu dimatikan, hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela. Bayangannya jatuh di lantai seperti siluet yang kesepian.
Ia duduk di tepi tempat tidur, memeluk bantal.
“Aku memang istri yang buruk,” bisiknya.
Semua keraguan yang selama ini ia tekan muncul kembali seperti ombak yang tiba-tiba tinggi.
Ia belum benar-benar menjalankan peran sebagai istri.
Ia masih tinggal terpisah emosional.
Ia masih sering menjaga jarak.
Perasaan bersalah merayap seperti kabut dingin.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
“Celine?”
Suara Aldivano.
Ia tidak menjawab.
Pintu terbuka perlahan—tidak langsung, hanya sedikit, seperti seseorang yang memberi kesempatan untuk ditolak.
Aldivano masuk dengan langkah hati-hati.
Ia melihat Celine duduk membelakangi, bahunya sedikit bergetar.
“Kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan sederhana itu justru membuat air mata Celine jatuh lebih deras.
“Aku tidak pantas jadi istrimu,” ucapnya tiba-tiba, suaranya pecah.
Aldivano terdiam.
Kalimat itu lebih tajam daripada tuduhan apa pun.
Ia mendekat, namun tetap menjaga jarak.
“Kenapa kamu berpikir begitu?”
Celine menoleh, matanya merah seperti langit senja setelah hujan.
“Aku tidak pernah benar-benar menjalani peranku. Aku masih ragu. Masih takut. Bahkan pulang pun butuh waktu selama ini.”
Suaranya semakin kecil.
“Orang itu benar.”
Aldivano menggeleng pelan.
“Tidak semua yang diucapkan orang adalah kebenaran.”
“Tapi aku sendiri merasakannya.”
Hening sejenak. Sunyi itu seperti ruang yang dipenuhi kata-kata yang belum terucap.
“Aku tidak pernah menuntutmu menjadi istri yang sempurna,” kata Aldivano akhirnya. “Aku hanya ingin kamu menjadi dirimu sendiri—yang terus belajar.”
Celine menunduk.
“Tapi kamu pasti lelah.”
Pertanyaan itu seperti pengakuan tanpa diminta.
Aldivano tersenyum tipis, namun ada kejujuran di matanya.
“Aku manusia. Tentu aku pernah lelah.”
Celine menegang.
Ia takut pada kelanjutan kalimat itu.
“Tapi lelah bukan berarti ingin menyerah.”
Air matanya jatuh lagi, kali ini lebih pelan.
“Aku hanya takut kamu akan pergi suatu hari nanti,” bisiknya.
Kalimat itu keluar begitu saja, jujur dan rapuh seperti kaca tipis.
Aldivano terdiam cukup lama.
Kemudian ia berkata dengan suara rendah,
“Jika aku ingin pergi, aku tidak akan menunggumu pulang.”
Hati Celine seperti diremas sekaligus dipeluk.
Namun konflik tidak berhenti di situ.
Beberapa hari kemudian, Celine tanpa sengaja mendengar percakapan antara dua kerabat di ruang tamu.
“Kasihan Aldivano. Istrinya masih belum sepenuhnya menerima pernikahan itu.”
“Iya, laki-laki seperti dia pantas dapat yang lebih siap.”
Celine membeku di balik dinding.
Setiap kata terasa seperti pecahan kaca yang menancap pelan.
Ia mundur perlahan, kembali ke kamarnya dengan langkah goyah.
Perasaan bersalah berubah menjadi ketakutan.
Bagaimana jika suatu hari Aldivano benar-benar menyadari bahwa ia pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik?
Bagaimana jika semua kesabaran itu ada batasnya?
Pikiran itu seperti racun yang menyebar perlahan.
Malamnya, saat Aldivano mengetuk pintu kamar, Celine tidak membukanya.
“Aku ingin sendiri,” katanya dari dalam.
Suara Aldivano terdengar tenang, namun ada kekhawatiran yang jelas.
“Baik. Tapi aku di luar jika kamu butuh.”
Langkahnya menjauh.
Celine bersandar di pintu, menutup mulut agar tangisnya tidak terdengar.
Ia tidak marah pada siapa pun.
Ia marah pada dirinya sendiri.
Seperti seseorang yang merasa menjadi beban bagi orang yang ia sayangi.
Hari berikutnya, ia memutuskan pergi ke taman sendirian. Tempat yang dulu memberinya ketenangan.
Langit cerah, tetapi hatinya mendung.
Ia duduk di bangku yang sama seperti sebelumnya, memandangi anak-anak bermain. Tawa mereka terdengar jauh, seperti berasal dari dunia lain.
“Apa aku benar-benar pantas dicintai?” bisiknya.
Pertanyaan itu lebih menyakitkan daripada luka mana pun.
Tiba-tiba bayangan seseorang jatuh di sampingnya.
Aldivano.
Ia duduk tanpa banyak kata.
“Kamu tidak bilang akan ke sini,” ucap Celine lemah.
“Aku tidak ingin kamu sendirian terlalu lama.”
Celine menatap tanah.
“Aku mendengar apa yang mereka katakan.”
Aldivano tidak perlu bertanya siapa “mereka”.
“Dan?” tanyanya lembut.
“Mungkin mereka benar.”
Ia akhirnya menoleh, matanya penuh kelelahan.
“Mungkin kamu pantas mendapatkan seseorang yang tidak penuh keraguan seperti aku.”
Aldivano menatapnya lama.
Tatapannya tidak marah. Tidak tersinggung.
Hanya dalam.
“Aku tidak memilihmu karena kamu sempurna.”
Celine terdiam.
“Aku memilihmu karena mau kamu.”
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti pelukan yang menembus dada.
“Jika suatu hari kamu benar-benar tidak menginginkanku,” lanjutnya pelan, “itu keputusanmu. Tapi jangan memutuskan untukku.”
Air mata Celine jatuh tanpa suara.
Ia menyadari sesuatu—
Selama ini ia bukan hanya melindungi dirinya dari luka, tetapi juga menolak cinta yang sebenarnya tulus.
Angin sore berembus lembut, menggerakkan daun-daun seperti tepuk tangan pelan dari alam.
Celine menarik napas panjang.
“Aku masih takut,” akunya.
“Tidak apa-apa,” jawab Aldivano. “Takut bukan berarti berhenti.”
Ia tidak menyentuhnya. Tidak memaksanya.
Namun kehadirannya terasa seperti jangkar bagi kapal yang hampir hanyut.
Senja turun perlahan, langit berubah warna seperti luka yang mulai sembuh—masih terlihat, tetapi tidak lagi menganga.
Celine menatap horizon.
Ia tahu konflik ini belum selesai. Luka di dalam dirinya belum sepenuhnya pulih.
Namun untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian menghadapinya.
Seperti kaca retak yang tidak dibuang, melainkan dirawat agar tidak pecah sepenuhnya.
Dan mungkin…
retak itu tidak selalu berarti kehancuran.
Kadang, ia hanya tanda bahwa sesuatu pernah jatuh — dan berhasil bertahan.
Celine berdiri, menatap Aldivano.
“Ayo pulang.”
Satu kata sederhana, namun penuh makna.
Aldivano mengangguk.
Mereka berjalan berdampingan, langkahnya belum sepenuhnya selaras, namun menuju arah yang sama.
Karena pulang tidak selalu berarti masalah selesai.
Kadang, pulang hanya berarti—
kita siap memperbaiki yang retak… bersama.
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...