💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞
______________________________________________
"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?
Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.
Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.
Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.
Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Aksa tersenyum tipis, tidak terpengaruh dengan ketusan Cia terhadap dirinya. Ia sudah menduga bahwa gadis itu akan bersikap seperti itu padanya. "Cuma lewat," jawabnya, dengan nada santai. "Nggak boleh?"
"Lewat ya lewat aja, ngapain paket segala berhenti di sini!" balas Cia, memalingkan wajahnya. Ia berusaha untuk tidak menatap Aksa terlalu lama, karena ia takut jantungnya akan semakin berdebar kencang.
Aksa terkekeh pelan mendengar jawaban Cia. "Galak banget," gumamnya, pelan namun masih bisa didengar oleh Cia.
"Biarin,bukan urusan lo," balas Cia, semakin ketus.
Aksa tidak menyerah. Ia mendekat selangkah ke arah Cia, membuat gadis itu mau tak mau mendongak menatapnya. "Panas ya?" tanyanya, dengan nada lembut.
Cia reflek mengangguk singkat, lalu menggeleng dengan cepat. "Biasa aja!" ujarnya engan mengakui bahwa ia memang merasa panas dan tidak nyaman.
"Mau gue kipasin?" tanya Aksa, dengan senyum menggoda. Ia merasa sangat gemas melihat wajah salah tingkah Cia.
Cia menatap Aksa dengan tatapan menyelidik. "Lo nggak ada kerjaan lain apa?" tanyanya, curiga.
Aksa mengangkat bahunya. "Nggak ada. Lebih menarik liatin bidadari berjemur daripada belajar di kelas," jawabnya, santai.
Pipi Cia merona merah mendengar pengakuan Aksa. Ia berusaha untuk tetap bersikap cuek, meskipun jantungnya berdebar semakin kencang. "Garing!" ujarnya, pelan.
Aksa tertawa kecil mendengar komentar Cia. "Nggak percaya?" tanyanya, mendekatkan wajahnya ke wajah Cia.
Cia menelan ludah, merasa gugup dengan jarak wajah mereka yang semakin dekat. Ia bisa merasakan aroma parfum Aksa yang maskulin dan memabukkan. "Jauhan dikit bisa?" pintanya, dengan nada gugup.
Aksa tersenyum menggoda dan menjauhkan wajahnya. "Oke, oke. Gue nggak mau bikin lo pingsan di sini," ujarnya, dengan nada bercanda.
Cia mendengus, berusaha menyembunyikan debaran jantungnya yang semakin menggila.
"Tapi, serius, lo nggak apa-apa?" tanya Aksa, dengan nada khawatir. "Lo kelihatan pucat."
"Gue nggak apa-apa, udah gak usah sok peduli sama gue!" jawab Cia, cepat. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan Aksa.
"Beneran?" tanya Aksa, tidak percaya.
Cia mengangguk, meyakinkan. "Iya. Udah sana, pergi. Ganggu aja," usirnya.
Aksa tersenyum dan mengacak rambut Cia dengan lembut. "Oke, gue pergi. Tapi, kalau lo butuh apa-apa, panggil gue aja," ujarnya, sebelum akhirnya melangkah pergi.
Cia menatap punggung Aksa yang menjauh, sambil merapikan rambutnya yang baru saja diacak-acak Aksa. Tapi sebuah senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Cia!" panggil Varo, membuyarkan lamunannya. "Aksa mau ngapain nyamperin lo? tanyanya, dengan nada curiga.
"Nggak ngapa-ngapain," jawab Cia, cepat. "Dia cuma lewat doang. Lo kan dengar sendiri tadi tuh cowok resek bilang apa?"
"Modus!" timpal Vano, menatap Cia dengan tatapan menyelidik.
"Iya. Udah, deh. Ngapain kita jadi bahas tuh cowok nyebelin," ujarnya, berusaha mengalihkan perhatian.
Varo dan Vano saling bertukar pandang, lalu mengangguk samar. Mereka tahu jika kembarannya sedang menyembunyikan sesuatu.
Di sisi lain, Aksa berjalan menjauh dari lapangan dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Ia merasa senang karena bisa berinteraksi dengan Cia, meskipun hanya sebentar. Ia bertekad untuk lebih mengenal gadis itu, dan mengungkap semua misteri yang ada di sekelilingnya.
"Siapa sebenarnya Cia?" gumam Aksa, pelan. "Dan apa hubungannya dengan kedua cowok kembar itu?"
Galang, Bima, dan Arya, yang sedari tadi menunggu Aksa di depan kelas, langsung menghampirinya dengan tatapan penuh tanya.
"Lo kemana aja, Bos?" tanya Galang, penasaran. "Tiba-tiba ngilang gitu aja."
Aksa hanya mengangkat bahunya, enggan menjelaskan apa yang baru saja terjadi. "Kepo lo," jawabnya, datar.
"Yaelah, pelit banget," timpal Bima, cemberut.
"Udah, deh. Jangan ganggu Aksa," lerai Arya. "Pasti ada sesuatu yang lagi dipikirin."
"Udah, yuk ke roostop, gue lagi malas masuk kelas," ajak Aksa, mengalihkan pembicaraan.
Mereka berempat berjalan menuju roostop meninggalkan lapangan yang panas.
Di sisi lain, Cia, Vano, dan Senja baru saja menyelesaikan hukuman mereka. Wajah mereka merah padam karena sengatan matahari, dan tubuh mereka terasa lemas karena berdiri terlalu lama.
"Akhirnya selesai juga," ujar Varo, merenggangkan otot-ototnya. "Gue kira kita bakal mati kepanasan di sana."
"Itu lebih baik daripada harus bersihin toilet sekolah," timpal Cia, dengan nada malas.
"Udah, deh. Jangan ngeluh terus," tegur Vano, meskipun ia sendiri juga merasa lelah.
"Mendingan kita masuk kelas sekarang." timpal Senja yang sedari tadi diam aja.
Mereka berempat akhirnya berjalan menuju kelas, masing-masing. Vano dan senja melangkah ke kelas IPA kelas mereka Vano dan Cia ke kelas IPS.
"Cia lo duluan ya, gue ke kamar mandi bentar kebelet!" ujar Varo tiba-tiba.
Cia mengamuk sebagai tanda ia paham, lalu melanjutkan langkahnya dengan cepat, berharap bisa segera duduk dan beristirahat sebentar di kelas.
Namun, baru saja ia memasuki kelas, Viona dan gengnya langsung menghampirinya dengan tatapan sinis.
"Cieee, yang baru selesai dijemur," sindir Viona, dengan nada mengejek. "Bagaimana rasanya enak gak!? Lihat deh wajahnya merah kayak udang rebus." lanjutnya dengan nada meremehkan.
Cia, yang sedang tidak ingin diganggu, hanya mendengus dan mencoba melewati Viona tanpa menghiraukannya.
Namun, Viona tidak membiarkannya begitu saja. Ia menghadang jalan Cia dan menatapnya dengan tatapan meremehkan.
"Lo pikir lo siapa, berani-beraninya dekat dengan Aksa?" tanya Viona, dengan nada sinis.
Cia menghela napas, mencoba menahan emosinya yang setipis tisu di bagi sepuluh. "Gue nggak deketin siapa-siapa," jawabnya, dengan nada datar.
"Alah, gak usah bohong deh!" sergah salah satu teman Viona. "Kita-kita lihat lo ngobrol sama Aksa tadi!"
"Ia cuman numpang lewat," balas Cia, mulai terpancing emosi. "Lagian Aksa yang duluan nyamperin gue."
"Basi!" timpal Viona, mendorong bahu Cia dengan kasar. "Emang dasar cewek murahan, suka tebar pesona sana sini!"
Kesabaran Cia habis. Ia tidak tahan lagi dengan hinaan dan tuduhan Viona. Tanpa berpikir panjang, ia mengangkat tangannya dan menghantam wajah Viona dengan keras.
PLAK!
Viona tersungkur ke lantai, memegangi pipinya yang terasa panas dan sakit. Bahkan sudut bibirnya sobek mengeluarkan darah segar.
Seluruh kelas terdiam, terkejut dengan tindakan Cia yang tiba-tiba.
Varo, yang baru saja tiba di kelas langsung berlari menghampiri Cia. Ia melihat Viona tersungkur ke lantai di hadapan Cia, dan ia tahu ada sesuatu yang buruk telah terjadi.
"Cia! Apa yang lo lakuin?" tanya Varo, dengan nada kaget.
Cia hanya diam, menatap Viona dengan tatapan marah dan tanpa sedikitpun menyesal. Meskipun Ia tahu, ia telah melakukan kesalahan besar.
Bersambung ....
🤭🤭
kak dtggu next bab ny yx ,,
cerita ny baguuuus ,,