Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.
Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.
Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.
Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?
#areakhususdewasa ⚠️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 (Part 1) Amis Telur dan Manisnya Pengkhianatan
Bau amis yang menyengat segera memenuhi udara pagi di depan gerbang utama SMA Wijaya Kusuma. Telur pertama yang dilemparkan Gala pecah tepat di bahu kiri Kella, cairannya yang kental dan kuning merembes ke seragam putihnya yang bersih. Kella tidak bergeming. Ia hanya memejamkan mata, merasakan hawa dingin yang menjijikkan itu merayapi kulitnya.
"Wooooo! Hajar terus, Gal!" teriak Reno kegirangan. Ia segera membagikan telur-telur sisa kepada gerombolannya. "Ayo semuanya! Kasih pelajaran buat asisten yang nggak tahu diri ini!"
Hujan telur dan tepung menyusul kemudian. Dalam hitungan detik, Kella berubah menjadi pemandangan yang menyedihkan—penuh gumpalan tepung putih yang basah oleh cairan telur dan air yang disemprotkan dari botol-botol minuman siswa lain.
Gala berdiri di pusat lingkaran, tangannya kini kosong, namun wajahnya tetap keras seperti batu. Ia memperhatikan bagaimana butiran tepung itu menempel di bulu mata Kella. Di dalam kepalanya, ia menghitung setiap detik penghinaan ini. Sepuluh detik... dua puluh detik... "Cukup," suara Gala memecah keramaian. Suaranya tidak keras, namun memiliki otoritas yang membuat Reno berhenti mengangkat tangan untuk lemparan berikutnya.
"Yah, Gal! Baru juga mulai!" protes Reno, wajahnya memerah karena adrenalin.
Gala menoleh perlahan ke arah Reno, matanya memicing tajam di bawah sinar matahari. "Gue bilang cukup. Dia asisten gue. Kalau dia terlalu kotor, dia nggak bisa masuk kelas buat ngerjain tugas gue. Lo mau ngerjain tugas Kimia gue, Ren?"
Reno terdiam, lalu tertawa canggung. "Ya nggak lah, Gal. Oke, oke. Udah puas kok liat dia kayak adonan kue."
Gala mendekat ke arah Kella, yang masih menunduk. Ia meraih dagu Kella dengan kasar—atau setidaknya terlihat kasar bagi orang luar—memaksa gadis itu menatapnya.
"Pergi ke ruang ganti belakang. Bersihin diri lo dalam sepuluh menit. Kalau lo telat masuk kelas, hukuman lo bakal dua kali lipat dari ini," desis Gala.
Kella tidak menjawab. Ia hanya memberikan tatapan kosong, lalu berbalik dan berjalan menembus kerumunan siswa yang masih mencemoohnya. Di balik punggungnya, ia mendengar suara tawa Reno yang membahana. Namun, di dalam genggaman tangannya yang tersembunyi di balik saku rok yang penuh tepung, Kella meraba sebuah kunci kecil—kunci ruang loker olahraga yang diberikan Gala semalam.
...
Pukul 09.00 WIB – Ruang Ganti Belakang.
Ruang ganti ini jarang digunakan karena letaknya yang terpencil dekat gudang. Kella segera menyalakan keran air, mengguyur kepalanya untuk menghilangkan bau amis yang membuatnya mual.
Seragamnya sudah tidak bisa diselamatkan.
Saat ia sedang berusaha membersihkan rambutnya, pintu ruang ganti diketuk dengan pola tertentu. Dua ketukan cepat, satu ketukan lambat.
Kella membeku. Itu adalah kode yang disepakati semalam. Ia membuka pintu sedikit, dan sebuah tas belanja plastik dilemparkan masuk ke dalam ruangan.
"Pakai itu. Seragam cadangan yang gue ambil dari koperasi tadi pagi," suara Gala terdengar dari balik pintu, sangat rendah. "Jangan keluar lewat pintu depan. Ada pintu kecil di samping yang tembus ke lab Biologi."
"Gala, kamu—"
"Jangan banyak bicara. Cepat ganti baju," potong Gala. "Gue udah hubungi Pak Adrian lewat telepon umum dekat kantin. Dia mau ketemu kita jam empat sore di perpustakaan kota. Dia bilang dia punya sesuatu yang tertinggal dari kakak gue."
Kella mengambil tas plastik itu. Di dalamnya tidak hanya ada seragam baru, tapi juga handuk kecil yang masih wangi dan sebuah sabun cair kecil. Gala benar-benar memikirkan segalanya.
"Gala, tunggu," panggil Kella pelan. "Reno tadi liat kamu ke sini?"
"Gue nyuruh dia beliin rokok ke seberang sekolah. Dia bakal sibuk beberapa menit. Cepat, Kella."
Langkah kaki Gala menjauh. Kella segera mengganti pakaiannya. Saat ia mengenakan kemeja baru itu, ia merasakan sesuatu di kantongnya. Sebuah cokelat batangan lagi. Kali ini dengan tulisan singkat di bungkusnya: 'Maaf soal telurnya. Itu cara paling aman biar Reno nggak curiga kalau gue mulai lembek.'
Kella menghela napas, menyunggingkan senyum tipis yang pahit. Di sekolah ini, mereka adalah aktor terbaik dalam sandiwara yang paling kejam.
...
Suasana kelas terasa berat. Guru Fisika, Pak Bambang, sedang sibuk menulis rumus di papan tulis, sementara sebagian besar siswa sibuk bergosip lewat pesan singkat.
Gala duduk di bangku depannya, tampak tenang seolah tidak terjadi apa-apa pagi tadi. Namun, Kella bisa melihat bahu pria itu menegang setiap kali nama "Alangkara" disebut dalam konteks berita ekonomi yang sedang dibahas di televisi kecil di pojok kelas.
Berita itu melaporkan tentang rencana ekspansi Alangkara Group yang akan meresmikan proyek perumahan mewah minggu depan.
"Kella," panggil Pak Bambang tiba-tiba. "Coba kamu maju, kerjakan soal nomor tiga di depan."
Kella berdiri. Saat ia berjalan melewati meja Gala, kaki Reno dengan sengaja terjulur untuk menjegalnya. Kella sudah mengantisipasinya, ia melangkah lebih lebar, namun Reno tidak menyerah. Ia melemparkan sebuah penghapus ke arah kepala Kella.
Puk!
Penghapus itu mengenai telinga Kella. Seisi kelas tertawa tertahan.
"Reno," suara Gala terdengar tenang, namun dinginnya menusuk tulang.
Reno menoleh. "Kenapa, Gal? Gue cuma bercanda."
Gala memutar pulpennya di antara jemari. "Gue lagi fokus dengerin penjelasan Pak Bambang. Suara tawa lo berisik. Bisa diem nggak?"
Reno mengerutkan kening, tampak bingung dengan perubahan sikap Gala yang tiba-tiba menjadi "pelajar teladan". "Eh, iya, sori, Gal. Gue kira lo nggak suka liat dia dikerjain."
"Gue suka kalau gue yang ngerjain. Bukan lo," Gala menatap Reno dengan tatapan yang membuat pria itu langsung bungkam.
Kella tetap maju ke depan, menuliskan rumus di papan tulis dengan tangan yang stabil. Di dalam hatinya, ia merasa sedikit lega. Gala mulai memasang batas perlindungan yang lebih ketat, meski dengan dalih "hak milik" yang egois.
...