NovelToon NovelToon
Mencari Jawaban

Mencari Jawaban

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Hidup Almira dan Debo nyaris sempurna. Tumbuh besar di Washington D.C. dengan fasilitas diplomat, mereka melihat ayah mereka, Pak Baskoro, sebagai pahlawan tanpa celah. Namun, impian itu hancur berkeping-keping dalam satu malam di Bandara Soekarno-Hatta.
Koper yang seharusnya berisi oleh-oleh dari Amerika, berubah menjadi maut saat petugas menemukan bungkusan kristal putih seberat 5 kilogram di dalamnya. Ayah mereka dituduh sebagai kurir narkoba internasional.
Di tengah keputusasaan, teman-teman berkhianat dan harta benda disita. Almira dan Debo dipaksa menghadapi realita pahit: mereka kini adalah anak seorang "kriminal". Di tengah badai tersebut, muncul Risky, seorang pengacara muda yang dingin dan misterius. Risky setuju membantu, namun ia memperingatkan satu hal:
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Apakah kalian siap menemukan jawaban yang sebenarnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Pagi menyusup malu-malu lewat celah gorden hotel yang kusam. Cahaya matahari Singapura yang pucat menyinari partikel debu yang menari di atas meja, tempat sebuah benda persegi kecil berwarna hitam—hardisk milik Hendrawan—tergeletak seperti jantung yang menunggu untuk dipacu kembali.

Almira terbangun dengan posisi masih bersandar di bahu Risky. Pria itu tidak tidur. Matanya yang merah menatap kosong ke arah jendela, namun genggaman tangannya pada jemari Almira sama sekali tidak mengendur sepanjang malam. Ada kehangatan sisa semalam yang masih tertinggal, sebuah pengakuan tanpa suara yang membuat Almira merasa sanggup menghadapi apa pun yang ada di dalam piringan logam itu.

"Debo sudah bangun?" tanya Almira dengan suara serak khas bangun tidur.

Risky mengangguk kecil, menunjuk ke sudut ruangan. Debo sedang mencuci wajahnya di wastafel kecil, sementara Pak Baskoro duduk di tepi tempat tidur, menatap hardisk itu dengan pandangan yang sulit diartikan—setengah rindu, setengah ngeri.

"Mari kita selesaikan ini," ucap Risky. Suaranya kembali ke nada baritonnya yang tegas, meski tatapannya pada Almira sempat melembut sekejap sebelum ia menarik kabel konektor.

Laptop dinyalakan. Suara kipas pendingin yang menderu terasa memenuhi ruangan yang sunyi. Setelah melewati beberapa lapis enkripsi yang rumit—yang sempat membuat Debo harus turun tangan membantu—sebuah folder besar terbuka. Isinya adalah ribuan dokumen pindaian, kuitansi, dan yang paling mencolok: sebuah file video berformat lama dengan judul Proyek-00.

Risky mengklik file itu.

Layar menampilkan rekaman CCTV hitam putih yang berpasir. Sudut pandangnya berasal dari sebuah ruang kantor mewah yang sangat akrab bagi Pak Baskoro. Gedung kementerian lama, lima belas tahun yang lalu.

Di dalam rekaman, terlihat seorang wanita anggun—Ratna, ibu Almira—sedang berdiri di depan sebuah meja besar. Ia tampak sedang beradu argumen dengan seorang pria yang wajahnya membelakangi kamera. Ratna melemparkan setumpuk berkas ke meja, wajahnya penuh amarah dan keberanian.

"Kau tidak bisa melakukan ini, Irwan! Ini bukan sekadar uang, ini soal nyawa orang banyak!" suara Ratna terdengar pecah dan statis dari speaker laptop.

Pria itu berbalik. Wajahnya terlihat jelas. Bukan Sekjen yang sekarang, bukan pula Wirayuda.

Pak Baskoro tersentak, menutup mulutnya dengan tangan. "Tidak mungkin..."

Almira menatap layar dengan jantung yang serasa berhenti. Pria di video itu memiliki garis wajah yang sangat ia kenal. Rahang yang tegas, mata yang tajam, dan cara berdiri yang sangat serupa dengan seseorang yang ada di ruangan ini.

Pria di video itu adalah Adiwangsa. Ayah kandung Risky.

Ruangan itu mendadak menjadi sangat dingin. Almira perlahan menoleh ke arah Risky. Wajah Risky kini seputih kertas. Ia melepaskan genggaman tangannya dari Almira, seolah tangannya tiba-tiba berubah menjadi bara api yang menyakitkan.

Di dalam video, Adiwangsa tampak tenang. Ia mendekati Ratna, lalu dari balik sakunya, ia mengeluarkan sebuah botol kecil. "Ratna, kau selalu terlalu idealis. Di dunia ini, kejujuran hanyalah dongeng untuk orang lemah."

Rekaman itu terputus tepat saat dua orang pria berbadan tegap masuk ke dalam ruangan dan memegangi lengan Ratna.

"Risky..." suara Almira bergetar, ia mencoba meraih lengan pria itu, namun Risky mundur selangkah.

"Jadi ini alasannya," bisik Risky, suaranya terdengar hancur, lebih hancur daripada saat ia menceritakan ayahnya yang bunuh diri di penjara. "Ayahku tidak bunuh diri karena difitnah. Dia bunuh diri karena dia tahu apa yang telah dia lakukan pada ibumu."

Dunia Almira seolah runtuh untuk kedua kalinya. Jawaban yang mereka cari ternyata bukan hanya tentang musuh di luar sana, tapi tentang darah yang mengalir di pembuluh darah pria yang baru saja ia cintai.

"Risky, dengarkan aku," Almira berdiri, mencoba mendekat. "Kau bukan ayahmu. Kau yang membantuku sampai di sini!"

"Aku anak dari pembunuh ibumu, Almira!" Risky berteriak, suaranya penuh luka yang mendalam. Ia menatap tangannya sendiri dengan jijik. "Semua perjuanganku, semua bantuan hukum yang kuberikan... apakah itu hanya bawah sadarku yang mencoba membayar hutang nyawa yang tidak akan pernah lunas?"

Debo dan Pak Baskoro hanya bisa terpaku. Rahasia yang tersimpan selama lima belas tahun itu kini berdiri di antara Almira dan Risky seperti jurang yang tak berdasar.

Tepat saat ketegangan itu memuncak, pintu kamar hotel mereka ditendang terbuka.

"JANGAN BERGERAK!"

Sekelompok pria berseragam taktis Singapura bersama beberapa agen berpakaian sipil—yang jelas-jelas dikirim dari Jakarta—merangsek masuk dengan senjata teracung. Di tengah-tengah mereka, muncul sang Sekjen yang tempo hari mereka lihat di gedung arsip.

"Drama keluarga yang menarik," ucap Sekjen itu sambil tersenyum sinis. "Tapi saya rasa, hardisk itu lebih baik berada di tangan yang aman. Serahkan, atau kita selesaikan semuanya di kamar yang sempit ini."

Risky, meski dalam guncangan batin yang hebat, secara insting langsung berdiri di depan Almira. Ia menatap Sekjen itu dengan mata yang kini berkilat penuh kebencian—bukan lagi pada ayahnya, tapi pada sistem yang telah menghancurkan dua keluarga sekaligus.

"Kau ingin jawaban?" Risky berbisik, tangannya perlahan merogoh saku jaketnya, bukan mengambil senjata, melainkan sebuah pemantik api yang tadi ia ambil dari meja. "Jawaban ini akan membakar kalian semua."

1
Sulfia Nuriawati
potret pejabat ms kini, mw segalanya instant, g bs d pungkiri pasti d dunia nyata jg bgtu cm g ada yg berani bongkar
sabana: 🤭🤭🤭
lanjut baca kk
total 1 replies
Ophy60
Ikut tegang....memang uang dan jabatan membuat orang lupa diri.Pak Wirayuda dengan tega mengorbankan anak buahnya sendiri.
Ophy60
Apakah Hermawan juga korban ??
sabana: lanjutkan baca kak
total 1 replies
Ophy60
Sepertinya menarik kak...
sabana: lanjutkan kak, semoga suka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!