NovelToon NovelToon
Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sekretaris
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"

"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"

"Halah paling juga nanti kamu nyesal"

Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jamur

Matahari bersinar cerah menembus jendela kaca besar di kantor CEO. Abian sudah duduk tegak di kursi kebesarannya, mengenakan kemeja biru navy.

Begitu Nana melangkah masuk membawa tablet dan segelas kopi hitam, sambutan yang ia terima bukanlah ucapan terima kasih karena sudah merawatnya semalam, melainkan......

"Telat dua menit, Haruna," ucap Abian tanpa mendongak dari dokumennya.

"Sepertinya efek lembur semalam membuat kinerja otakmu melambat, atau mungkin otakmu memang sudah lag permanen?"

Nana menarik napas panjang. Sabar, Nana....

"Maaf, Pak. Tadi liftnya penuh," jawab Nana berusaha tenang sembari meletakkan kopi di meja.

Abian melirik kopi itu, lalu melirik penampilan Nana yang hari ini memakai rok span berwarna krem.

"Na, saya perhatikan kamu makin rajin pakai baju ketat. Mau menarik perhatian siapa? Mantan pacarmu yang parasit itu? Biar dia menyesal dan minta balikan?" Abian mendengus remeh.

 "Lupakan saja. Laki-laki seperti Rian itu seleranya rendahan. Mau kamu dandan jadi bidadari pun, dia bakal tetap pilih yang gampang ditipu."

Nana langsung mematung. Kali ini, Abian sudah keterlaluan karena membawa-bawa luka lamanya di pagi hari yang cerah ini. Ia tidak bisa diam saja.

"Cukup ya, Pak," balas Nana sambil berkacak pinggang, menatap langsung ke mata tajam bosnya.

"Bapak itu memang jagonya kalau urusan merosting hidup orang. Lagi pula saya paki ini karena laundry saya masih datang sore. Bapak merasa paling suci karena tidak pernah diselingkuhi? Ya jelas tidak pernah, lho pacar saja tidak punya!"

Abian menaikkan satu alisnya, sedikit terkejut dengan keberanian Nana yang mendadak meledak.

"Bapak itu sadar tidak? Dari zaman saya baru lari dari kenyataan gara-gara diselingkuhi sampai sekarang saya sudah mau move on total, Bapak masih saja menjomblo!" Nana melanjutkan omelannya tanpa henti.

"Jangan sok menasihati selera saya, kalau Bapak sendiri saja seleranya mungkin cuma yang gimana gitu.

Jamuran tuh jamur! Status Bapak itu sudah bukan single lagi, tapi sudah kedaluwarsa!"

Ruangan seketika hening. Nana baru sadar ia baru saja mengatai CEO-nya sendiri jamuran.

Abian perlahan meletakkan pulpennya. Ia berdiri, membuat Nana refleks mundur selangkah. Bukannya marah besar, Abian justru melangkah mendekati Nana dengan seringai yang sulit diartikan.

"Jamuran, kamu bilang?" Abian memojokkan Nana hingga punggung gadis itu menabrak meja kerja.

"Haruna, saya menjomblo itu karena saya pilih-pilih. Saya tidak mau membuang waktu dengan orang yang tidak selevel. Daripada punya pacar tapi akhirnya dikhianati dan menangis di pojokan sambil makan mie instan seperti kamu, lebih baik saya sendirian, kan?"

"Pilih-pilih atau memang tidak laku karena mulutnya kayak bon cabe level tiga puluh?" tantang Nana, meski jantungnya berdegup kencang karena jarak mereka yang sangat dekat.

Abian terkekeh rendah, suara beratnya terdengar sangat maskulin di telinga Nana.

"Oh, saya sangat laku. Kamu saja yang tidak tahu berapa banyak wanita yang antre di depan gerbang apartemen saya."

......................

Sore harinya, cahaya matahari yang mulai jingga menembus kaca jendela besar ruangan CEO. Abian tampak berdiri di balik meja kerjanya, mengancingkan kancing jasnya dengan rapi sebelum bersiap meninggalkan kantor.

"Haruna"

"Besok kita akan ke Bali untuk pertemuan dengan pemilik resort"

Nana yang sedang merapikan tumpukan map langsung mendongak. "Bali? Mendadak sekali, Pak? Perasaan di jadwal tidak ada agenda luar kota minggu ini."

Abian akhirnya menoleh, menatap Nana dengan tatapan datarnya. "Itulah gunanya kamu punya bos yang cerdas, selalu ada peluang yang harus diambil cepat. Besok jemput saya ke rumah saya, jangan ke apartemen. Malam ini saya akan pulang ke rumah orang tua saya karena Mommy terus-menerus merengek."

Nana mengerjapkan mata. "Rumah besar, Pak? Berarti saya harus lewat kemacetan arah sana pagi-pagi sekali?"

"Itu konsekuensi pekerjaanmu," sahut Abian acuh tak acuh. Ia kemudian melemparkan kunci mobil Range Rover miliknya ke atas meja, tepat di depan Nana.

"Mobil itu kamu bawa pulang saja malam ini. Biar kamu tidak punya alasan terlambat atau kesulitan cari ojek besok pagi. Pak Bambang yang akan menjemput saya nanti di sini untuk pulang ke rumah Mama."

Nana menatap kunci mobil itu dengan ragu. "Bapak serius? Saya yang bawa mobil mahal ini ke kostan saya yang sempit? Kalau lecet bagaimana, Pak?"

"Kalau lecet satu senti saja, saya pastikan kamu bekerja tanpa gaji sampai tahun depan," ancam Abian, meski ada kilat usil di matanya.

"Dan satu lagi, jangan sampai mobil saya bau mie instan cup karena kamu makan di dalam."

Nana mendengus, segera menyambar kunci itu sebelum Abian berubah pikiran. Lumayan, pikirnya, besok tidak perlu berdesakan di kereta atau ojek. "Baik, Pak. Lalu... berapa hari kita di sana? Saya perlu menyiapkan jadwal cadangan."

"Tiga hari," jawab Abian singkat sambil melangkah menuju pintu.

"Bawa pakaian secukupnya saja. Jangan bawa koper sebesar rumah seolah kamu mau pindah permanen ke Bali. Kita ke sana untuk kerja, bukan pengungsian."

"Tiga hari di Bali... untuk kerja," gumam Nana pada dirinya sendiri.

"Semoga saja di sana mulut Bapak tidak seasin air laut."

"Saya dengar itu, Haruna!" seru Abian dari ambang pintu tanpa menoleh.

Nana langsung menutup mulutnya rapat-rapat, sementara Abian melangkah pergi.

......................

Abian melangkah masuk ke dalam rumah utama keluarga besar Pangestu. Arsitektur bergaya kolonial modern itu selalu terasa hangat.

Begitu pintu jati besar itu terbuka, Mommy Lauren sudah berdiri di sana dengan senyum lebar, seolah sudah menunggu sejak satu jam yang lalu. Namun, bukan Mommy yang pertama kali menyita perhatian Abian.

Sebuah suara tepukan tangan kecil di lantai marmer terdengar. Karel, putra kecil Kak Davin yang baru berusia setahun, sedang merangkak dengan semangat ke arah pintu. Matanya bulat besar, berbinar saat melihat sosok pamannya.

"Ohhh, come on baby boy!" gumam Abian. Sifat dinginnya luruh seketika. Ia berjongkok dan merentangkan tangannya, membiarkan keponakan kecilnya itu menubruk kakinya dengan tawa khas bayi.

"Abian!" seru seorang wanita cantik yang baru muncul dari arah ruang makan. Itu Dania, istri Kak Davin. "Baru sampai, Bi? Untung Karel belum tidur, dia dari tadi nungguin 'Uncle Judes'-nya katanya."

Abian terkekeh pelan sambil menggendong Karel ke dalam dekapan tangannya yang kokoh.

 "Jangan ajarkan dia julukan yang aneh-aneh, Kak Dania."

Mommy Lauren mendekat, langsung mencium kedua pipi putra bungsunya itu dengan gemas. "Akhirnya... Mama pikir kamu sudah lupa jalan pulang ke sini. Hampir saja Mama buat laporan orang hilang ke kantor polisi!"

"Aku sibuk, Mom," jawab Abian pendek sambil mencoba melepaskan diri dari pelukan erat sang ibu.

"Sibuk terus alasannya. Davin juga sibuk, tapi dia masih bisa pulang setiap sore," sindir Mommy Lauren sambil mengelus rambut Karel yang ada di gendongan Abian. "Malam ini kamu tidur di sini, ya? Mama sudah buatkan rendang kesukaanmu."

Abian menghela napas, menatap ibunya dengan tatapan sedikit menyesal namun ."Besok aku mau kembali, Mom," ucapnya.

"Ada urusan pekerjaan ke Bali selama tiga hari."

"Apa? Baru juga sampai sudah mau pergi lagi?" Mommy Lauren berkacak pinggang, wajahnya langsung cemberut. "Bali itu tempat liburan, Abian! Ajak siapa gitu, masa kerja terus? Ajak sekretarismu yang namanya Nana itu, biar dia tidak stres menghadapi kamu."

Abian terdiam sejenak, teringat Nana yang mungkin saat ini sedang sibuk mencuci mobilnya di kosan. "Dia memang ikut, Mom. Untuk kerja."

Dania dan Mommy Lauren saling melirik, sebuah senyum penuh arti muncul di wajah mereka.

"Oh, jadi pergi berdua saja ke Bali?" goda Dania sambil tersenyum jahil.

 "Hati-hati, Bi. Bali itu suasananya romantis."

"Kak Dania, tolong hentikan," potong Abian dingin.

Ia segera mengalihkan perhatiannya kembali ke Karel. "Ayo Karel, kita main di dalam saja daripada dengar gosip orang dewasa."

1
Asyatun 1
lanjut
Mundri Astuti
wayuluhhhhh keder dah si abi...pantes Nana fasih bhs jepang, lah bapaknya org jepang taunya.

author... author...up lagi bisa ta..🤭
penasaran 😄❤️
Ani: jangan jangan investornya bapaknya Nana..🤔🤔🤔🤔
total 1 replies
Mundri Astuti
yeee masa bos besar ga bisa cari tau, anak buahnya kemana
partini
aduh kerja Ampe lupa ibu,,itu ga baik tapi udah ga ada mau gimana lagi so sad ini
Asyatun 1
lanjut
Mundri Astuti
lah si Abi gengsi di gedein, suka bilang aja, digaet yg lain baru tau nanti
Fbian Danish
up LG Thor....💪
Asyatun 1
lanjut
partini
cemburu dah
Asyatun 1
lanjut
partini
wah ternyata gang jobles jomblo ngenes 🤣🤣,,
ig: denaa_127
Covernya ngga sesuai ih🤣
Asyatun 1
lanjut
partini
siapa itu ,,semoga temen nya pak Bian biar ga sengaja ketemu di kantor
Nina Malik
seru banget sih bahasa nya lucu,tidak membosankan dan bikin gereget🥰🥰🥰
Asyatun 1
lanjut
partini
good story
partini
darting Mulu masa,,
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama
Ani
gede gengsi
Fbian Danish
lanjut kak author.. ceritanya bagus,seru... lucu.❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!