Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Bayang-Bayang Masa Lalu
Tiga hari berlalu sejak insiden di perpustakaan, dan suasana di rumah itu mendadak jadi canggung dengan cara yang berbeda. Fikar jadi lebih sering berada di rumah. Meski dia tetap irit bicara dan lebih banyak berkutat dengan laptopnya, kehadirannya yang konstan memberikan rasa aman yang baru bagi Kiki. Fikar bahkan tidak lagi menyinggung soal “tunjangan” atau “transaksi bisnis”. Seolah-olah, es yang membeku di antara mereka mulai menipis.
Namun, ketenangan itu ternyata Cuma jeda sebelum badai. Kamis sore itu langit Jakarta tampak sangat muram. Kiki sedang duduk di sofa ruang tengah, mencoba membunuh waktu dengan buku di tangannya, ketika ponsel Fikar yang tertinggal di meja kopi bergetar berkali-kali. Fikar sendiri sedang mandi setelah pulang kantor.
Awalnya, Kiki mencoba mengabaikannya. Tapi, sebuah notifikasi muncul di layar kunci yang menyala. Jantung Kiki rasanya berhenti berdetak saat membaca satu nama di sana, Clara.
Pesan itu singkat, tapi dampaknya luar biasa, “Fikar, aku sudah kembali ke Jakarta. Bisakah kita bertemu malam ini? Ada hal yang belum selesai di antara kita.”
Darah Kiki terasa berdesir dingin. Nama itu... dia pernah mendengarnya sekali. Dulu, Bi Ijah pernah keceplosan tentang seorang wanita yang hampir menjadi istri Fikar jika saja Ibu Sofia tidak menentangnya. Clara adalah alasan kenapa Fikar menutup diri. Clara adalah luka yang membuat Fikar menganggap Kiki hanyalah penghalang.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Kiki buru-buru mengalihkan pandangan ke bukunya, meski huruf-huruf di sana sudah kabur karena air mata yang mendadak menggenang. Fikar keluar dengan kaus santai dan rambut yang masih basah. Begitu ia melihat ponselnya, ekspresi wajahnya berubah total. Rahangnya mengeras, dan ada sorot mata yang sulit diartikan, kerinduan yang bercampur dengan kemarahan.
Tanpa berkata apa-apa, Fikar langsung menyambar kunci mobil.
“Mau ke mana, Mas? Di luar mendung, sepertinya mau hujan lebat,” tanya Kiki. Suaranya bergetar, meski ia sudah mencoba sekuat tenaga untuk terdengar biasa saja.
Fikar menghentikan langkah di depan pintu, tanpa menoleh. “Ada urusan kantor mendadak. Jangan menungguku makan malam.”
Urusan kantor? Kiki tersenyum getir dalam hati. Fikar, pria yang selalu membanggakan kejujuran, baru saja berbohong tepat di depan wajah istrinya demi wanita lain.
“Mas...” panggil Kiki lagi, kali ini lebih berani. “Apa ini benar soal kantor? Atau soal pesan dari seseorang yang baru saja masuk?”
Langkah Fikar membeku. Keheningan di ruangan itu mendadak terasa mencekam, seolah oksigen habis disedot keluar. Fikar memutar tubuhnya perlahan, menatap Kiki dengan tatapan dingin yang selama tiga hari ini sempat menghilang.
“Sejak kapan kamu merasa punya hak untuk mengawasi ponselku, Kiki?” Suara Fikar rendah, penuh peringatan.
“Aku tidak mengawasi. Pesannya muncul begitu saja,” jawab Kiki sambil berdiri, menahan perih di kakinya. “Aku Cuma ingin tahu, apa sandiwara ini juga berlaku untuk wanita itu? Apa dia alasan kenapa pernikahan kita selalu kamu sebut kegagalan?”
Fikar tidak menjawab. Ia hanya menatap Kiki dengan sorot mata tajam yang menusuk, seolah memperingatkan agar Kiki tidak melampaui batas. Tanpa penjelasan, ia berbalik dan pergi. Deru mesin mobil yang menjauh menjadi penutup babak ketenangan singkat mereka.
Hujan benar-benar tumpah tak lama kemudian. Badai di luar seolah mewakili kekacauan di dada Kiki. Ia duduk termenung di ruang tengah yang gelap, mematikan lampu utama. Ruangan itu terasa terlalu besar untuknya. Terlalu kosong.
Kiki memeluk lututnya. Pikiran-pikiran pahit mulai merayap. Siapa Clara? Seberapa dalam luka yang dia tinggalkan sampai Fikar berubah jadi manusia tanpa jiwa? Kiki merasa seperti perban yang dipasang paksa di atas luka yang masih basah. Tidak diinginkan, hanya sekedar penutup.
Jam dinding berdetak lambat. Pukul sepuluh, sebelas, hingga jarum menunjukkan angka satu dini hari. Kiki tidak bisa tidur. Ia membayangkan Fikar sedang menatap wanita bernama Clara itu dengan tatapan lembut yang tidak pernah ia dapatkan.
Tiba-tiba, pintu depan terbuka. Fikar masuk dengan pakaian yang sedikit basah. Langkahnya tidak tegak, dan ada aroma alkohol yang samar tercium. Dia tidak mabuk, tapi matanya terlihat hancur.
Fikar tertegun melihat Kiki masih di sofa. “Kenapa belum tidur?” tanyanya serak.
Kiki berdiri, mengabaikan nyeri di kakinya. “Aku menunggumu. Kamu bilang urusan kantor, tapi pulang dengan aroma minuman dan wajah seperti itu. Apa urusan kantormu melibatkan masa lalu, Mas?”
Fikar tertawa sinis, tawa kering yang menyakitkan. Ia mendekat hingga Kiki bisa merasakan hawa dingin yang dibawanya. “Kamu mau tahu? Iya, aku menemuinya. Aku menemui wanita yang seharusnya ada di posisimu sekarang. Wanita yang mengenalku bukan karena kontrak.”
“Lalu kenapa kamu pulang?” bisik Kiki. “Kalau dia begitu berarti, kenapa kembali ke sini?”
Fikar menatap Kiki dengan keputusasaan yang meluap. “Karena aku terikat, Kiki! Karena janji pada Ibu, karena kontrak gila ini! Tapi melihatmu... itu Cuma mengingatkanku kalau aku sudah kehilangan kendali atas hidupku sendiri!”
Fikar memalingkan wajah, menyandarkan lengannya ke dinding dengan kepala menunduk. Bahunya bergetar hebat. Untuk pertama kalinya, Kiki melihat dinding es itu runtuh total. Fikar tidak sedang marah pada Kiki, dia sedang marah pada nasibnya sendiri.
Kiki mendekat. Meskipun hatinya hancur, rasa kasihannya jauh lebih besar. Ia mengulurkan tangan, menyentuh lengan Fikar dengan lembut.
“Mas...”
“Jangan,” potong Fikar, tapi dia tidak menjauhkan tangan Kiki. “Jangan baik padaku, Kiki. Semakin kamu baik, semakin aku merasa jadi pria paling jahat di dunia karena tidak bisa memberikan apa yang seharusnya kamu dapatkan.”
Kiki terdiam, air matanya jatuh tanpa suara. Di tengah badai yang masih menderu, mereka berdiri dalam keheningan yang menyakitkan. Dua orang asing yang terikat satu nasib, yang satu meratapi masa lalu, yang satu lagi meratapi masa depan yang tidak pernah pasti.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.