Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang Masa Lalu
Tiga hari berlalu sejak insiden di perpustakaan, dan suasana di rumah itu mendadak jadi canggung dengan cara yang berbeda. Aris jadi lebih sering berada di rumah. Meski dia tetap irit bicara dan lebih banyak berkutat dengan laptopnya, kehadirannya yang konstan memberikan rasa aman yang baru bagi Arini. Aris bahkan tidak lagi menyinggung soal "tunjangan" atau "transaksi bisnis". Seolah-olah, es yang membeku di antara mereka mulai menipis.
Namun, ketenangan itu ternyata cuma jeda sebelum badai. Kamis sore itu langit Jakarta tampak sangat muram. Arini sedang duduk di sofa ruang tengah, mencoba membunuh waktu dengan buku di tangannya, ketika ponsel Aris yang tertinggal di meja kopi bergetar berkali-kali. Aris sendiri sedang mandi setelah pulang kantor.
Awalnya, Arini mencoba mengabaikannya. Tapi, sebuah notifikasi muncul di layar kunci yang menyala. Jantung Arini rasanya berhenti berdetak saat membaca satu nama di sana: Clara.
Pesan itu singkat, tapi dampaknya luar biasa: "Aris, aku sudah kembali ke Jakarta. Bisakah kita bertemu malam ini? Ada hal yang belum selesai di antara kita."
Darah Arini terasa berdesir dingin. Nama itu... dia pernah mendengarnya sekali. Dulu, Bi Ijah pernah keceplosan tentang seorang wanita yang hampir menjadi istri Aris jika saja Ibu Sofia tidak menentangnya. Clara adalah alasan kenapa Aris menutup diri. Clara adalah luka yang membuat Aris menganggap Arini hanyalah penghalang.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Arini buru-buru mengalihkan pandangan ke bukunya, meski huruf-huruf di sana sudah kabur karena air mata yang mendadak menggenang. Aris keluar dengan kaus santai dan rambut yang masih basah. Begitu ia melihat ponselnya, ekspresi wajahnya berubah total. Rahangnya mengeras, dan ada sorot mata yang sulit diartikan—kerinduan yang bercampur dengan kemarahan.
Tanpa berkata apa-apa, Aris langsung menyambar kunci mobil.
"Mau ke mana, Mas? Di luar mendung, sepertinya mau hujan lebat," tanya Arini. Suaranya bergetar, meski ia sudah mencoba sekuat tenaga untuk terdengar biasa saja.
Aris menghentikan langkah di depan pintu, tanpa menoleh. "Ada urusan kantor mendadak. Jangan menungguku makan malam."
Urusan kantor? Arini tersenyum getir dalam hati. Aris, pria yang selalu membanggakan kejujuran, baru saja berbohong tepat di depan wajah istrinya demi wanita lain.
"Mas..." panggil Arini lagi, kali ini lebih berani. "Apa ini benar soal kantor? Atau soal pesan dari seseorang yang baru saja masuk?"
Langkah Aris membeku. Keheningan di ruangan itu mendadak terasa mencekam, seolah oksigen habis disedot keluar. Aris memutar tubuhnya perlahan, menatap Arini dengan tatapan dingin yang selama tiga hari ini sempat menghilang.
"Sejak kapan kamu merasa punya hak untuk mengawasi ponselku, Arini?" Suara Aris rendah, penuh peringatan.
"Aku tidak mengawasi. Pesannya muncul begitu saja," jawab Arini sambil berdiri, menahan perih di kakinya. "Aku cuma ingin tahu, apa sandiwara ini juga berlaku untuk wanita itu? Apa dia alasan kenapa pernikahan kita selalu kamu sebut kegagalan?"
Aris tidak menjawab. Ia hanya menatap Arini dengan sorot mata tajam yang menusuk, seolah memperingatkan agar Arini tidak melampaui batas. Tanpa penjelasan, ia berbalik dan pergi. Deru mesin mobil yang menjauh menjadi penutup babak ketenangan singkat mereka.
Hujan benar-benar tumpah tak lama kemudian. Badai di luar seolah mewakili kekacauan di dada Arini. Ia duduk termenung di ruang tengah yang gelap, mematikan lampu utama. Ruangan itu terasa terlalu besar untuknya. Terlalu kosong.
Arini memeluk lututnya. Pikiran-pikiran pahit mulai merayap. Siapa Clara? Seberapa dalam luka yang dia tinggalkan sampai Aris berubah jadi manusia tanpa jiwa? Arini merasa seperti perban yang dipasang paksa di atas luka yang masih basah. Tidak diinginkan, hanya sekadar penutup.
Jam dinding berdetak lambat. Pukul sepuluh, sebelas, hingga jarum menunjukkan angka satu dini hari. Arini tidak bisa tidur. Ia membayangkan Aris sedang menatap wanita bernama Clara itu dengan tatapan lembut yang tidak pernah ia dapatkan.
Tiba-tiba, pintu depan terbuka. Aris masuk dengan pakaian yang sedikit basah. Langkahnya tidak tegak, dan ada aroma alkohol yang samar tercium. Dia tidak mabuk, tapi matanya terlihat hancur.
Aris tertegun melihat Arini masih di sofa. "Kenapa belum tidur?" tanyanya serak.
Arini berdiri, mengabaikan nyeri di kakinya. "Aku menunggumu. Kamu bilang urusan kantor, tapi pulang dengan aroma minuman dan wajah seperti itu. Apa urusan kantormu melibatkan masa lalu, Mas?"
Aris tertawa sinis—tawa kering yang menyakitkan. Ia mendekat hingga Arini bisa merasakan hawa dingin yang dibawanya. "Kamu mau tahu? Iya, aku menemuinya. Aku menemui wanita yang seharusnya ada di posisimu sekarang. Wanita yang mengenalku bukan karena kontrak."
"Lalu kenapa kamu pulang?" bisik Arini. "Kalau dia begitu berarti, kenapa kembali ke sini?"
Aris menatap Arini dengan keputusasaan yang meluap. "Karena aku terikat, Arini! Karena janji pada Ibu, karena kontrak gila ini! Tapi melihatmu... itu cuma mengingatkanku kalau aku sudah kehilangan kendali atas hidupku sendiri!"
Aris memalingkan wajah, menyandarkan lengannya ke dinding dengan kepala menunduk. Bahunya bergetar hebat. Untuk pertama kalinya, Arini melihat dinding es itu runtuh total. Aris tidak sedang marah pada Arini; dia sedang marah pada nasibnya sendiri.
Arini mendekat. Meskipun hatinya hancur, rasa kasihannya jauh lebih besar. Ia mengulurkan tangan, menyentuh lengan Aris dengan lembut.
"Mas..."
"Jangan," potong Aris, tapi dia tidak menjauhkan tangan Arini. "Jangan baik padaku, Arini. Semakin kamu baik, semakin aku merasa jadi pria paling jahat di dunia karena tidak bisa memberikan apa yang seharusnya kamu dapatkan."
Arini terdiam, air matanya jatuh tanpa suara. Di tengah badai yang masih menderu, mereka berdiri dalam keheningan yang menyakitkan. Dua orang asing yang terikat satu nasib; yang satu meratapi masa lalu, yang satu lagi meratapi masa depan yang tidak pernah pasti.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.