Suaminya berkhianat, anaknya di tukar dan dihabisii. Selama lima tahun dia merawat anak suami dan selingkuhannya yang bahkan tinggal satu atap dengannya berkedok sebagai pengasuh.
Bahkan dirinya diracuni oleh pelayan kepercayaannya. Ratih, berakhir begitu tragis. Dia pikir dia adalah wanita paling malang di dunia.
Namun nasib berkata lain. Ketika dia membuka mata, dia berada tepat dimana dia akan melahirkan.
Saat itu Ratih bersumpah, dia akan membalas suaminya yang brengsekk itu. Dia akan mengambil bunga dari setiap perbuatan suami dan semua yang telah menyakitinya dan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Mulai Mencaritahu
Alih-alih mengambil biola yang ingin dia mainkan di depan Rafa. Ratih malah bergegas keluar dari paviliun Ben itu setelah meletakkan semua barang yang dia keluarkan dari kotak, kembali ke tempatnya lagi.
Ratih bergegas menghampiri Rafa yang sedang memberi makan kelinci di kebun binatang mininya itu.
"Ratih, mana biolanya? biar Rafa tahu, kalau ibunya dulu sangat pandai bermain biola! siapa tahu, dia punya bakat juga seperti kamu dan Ben!" kata Maya.
Ratih makin terlihat gelisah.
"Bu, jika wajahnya mirip. Apa sudah pasti punya hubungan darah?" tanya Ratih yang benar-benar sangat gelisah karena melihat foto lama Ben yang ada di paviliunnya.
Maya yang mendengar pertanyaan Ratih, tentu saja sedikit mengernyitkan keningnya.
"Kenapa bertanya begitu? memangnya siapa yang mirip?" tanya Maya.
Ratih agak ragu mengatakannya.
"Tapi kamu kan tahu nak, di dunia ini dihuni lebih dari 8 miliar orang. Dengan jumlah populasi sebesar itu, kemungkinan dua orang yang tidak memiliki hubungan keluarga memiliki kombinasi fitur wajah yang mirip sangat mungkin terjadi. Pernah dengar doppelganger, kan?" tanya Maya pada Ratih.
Ratih lalu menghela nafas lega. Dia kembali mengangguk paham.
Maya lalu menambahkan,
"Hubungan darah secara biologis hanya bisa dipastikan lewat tes DNA. Tanpa itu, kemiripan fisik saja tidak cukup menjadi bukti." jelasnya lagi.
Ratih kembali mengangguk.
"Ibu benar!" katanya lega.
Dia rasa, karena dia terkejut tadi sampai tidak memikirkan semua itu.
"Lihat Rafa! dia cepat sekali membuat kelinci itu menurut padanya. Ibu ingat, dulu kelinci mu 'Anand' juga nurut sekali sama Ben daripada sama kamu!"
Ratih yang tadinya sudah lega, karena dia pikir kemiripan Ben dan Rafa hanya kebetulan saja. Malah dibuang bingung lagi oleh ucapan ibunya barusan.
'Memangnya ada kebetulan seperti ini? tapi tidak mungkin. Malam itu, Ben ada di luar kota. Pasti bukan dia. Dan kalau memang dia, tidak mungkin dia meninggalkan aku kan?' batin Ratih.
"Nyonya"
Deg
Ratih terkejut bukan main. Baru saja dia memikirkan Ben. Dan pria itu tiba-tiba saja muncul di sampingnya.
"Ben, kamu datang? sudah makan siang belum?" tanya Maya yang sangat ramah pada Ben.
Ben seperti ragu untuk menjawab. Maya yang sudah kenal pria itu selama 25 tahun, tentu paham.
"Baiklah, makan siang disini saja kalau begitu. Ayahnya Ratih sedang main dengan Rafa. Jika ada sesuatu, katakan saja nanti. Dia tidak mungkin mau diganggu dengan pekerjaan kalau sedang main dengan cucunya. Ratih, kamu temani Ben dulu. Ibu akan siapkan makan siang!"
Ratih yang masih tertegun, langsung mengangguk cepat ketika ibunya menyentuh lengannya.
"Nyonya, aku juga mau mengatakan sesuatu padamu!"
Deg
Ratih yang tadinya tidak melihat ke arah Ben, menjadi sangat canggung ketika kebetulan menatap mata pria itu secara langsung.
"Nyonya..."
"Ka... katakan saja! katakan!" kata Ratih yang meraih gelas air minumnya dan duduk di kursi taman, lalu meminum air itu sambil mengalihkan pandangannya dari Ben.
Ben duduk di sebelah Ratih.
"Masalah pengacara Markus, sudah hampir selesai. Selama satu tahun ini, semua data perusahaan sudah dibuat dia rangkap. Yang benar diserahkan langsung padaku dan tuan. Yang salah tetap dikirimkan pada pengacara Markus. Jika ingin menyingkirkannya, sekarang sudah bisa"
Ratih mengangguk cepat.
"Kalau begitu singkirkan dia secepatnya!" kata Ratih.
Ben mengangguk cepat. Tapi dia melihat ada sesuatu di rambut Ratih. Seperti jalinan debu. Ya, karena memang Ratih tadi habis membongkar barang lama dari paviliun Ben.
Tangan Ben spontan terangkat dan meraih sesuatu itu.
"Kamu..."
"Ada sesuatu, di rambutmu!" kata Ben menunjukkan benda itu lalu membuangnya.
"Aku akan bantu ibu membuat makan siang!"
Ratih langsung berdiri dan menjauh dari Ben secepat yang dia bisa. Ben sendiri hanya tersenyum kecil, melihat tingkah Ratih.
Lalu arah pandangannya kembali tertuju pada Rafa dan Panji yang sedang main dengan beberapa ekor kelinci di kandang khusus itu.
Ben mengeluarkan ponselnya. Saat di rumah sakit, saat dia memandang Rafa dia merasa kalau wajah dari anak nyonya mudanya itu sangat familiar. Seperti dia sering melihat wajah itu. Seperti sangat kenal.
Dan beberapa hari lalu, dia baru sadar. Kalau wajah Rafa, memang sama persis dengan wajah seorang anak yang ada di ruang kerja Panji Sanjaya. Sebuah foto dimana, foto itu di ambil sekitar 25 tahun yang lalu. Dan anak di foto itu adalah dirinya. Saat itu, dia baru di adopsi dari panti asuhan oleh Panji dan Maya sebagai anak asuh.
Ben menjadi sangat gelisah semenjak mengetahui hal itu. Tapi, Ratih sangat mencintai Fandi. Tidak mungkin juga, kalau mereka tidak berhubungan kan? Ben sungguh menjadi dilema.
Ben melihat fotonya sendiri saat seusia Rafa yang ada di layar ponselnya. Ben berusaha membandingkan dirinya saat kecil itu dengan Rafa. Dan memang tidak terbantahkan. Mereka sangat mirip.
Ben mengusap wajahnya kasar, apa Panji dan Maya tidak menyadari hal ini. Apa Ratih juga tidak? Ben sungguh merasa sangat tidak tenang.
**
Setelah makan siang, Ben pamit untuk kembali. Karena dia juga masih banyak pekerjaan. Termasuk membantu Ratih menyingkirkan pengacara Markus.
Sementara Ratih, dia masih terus memikirkan masalah kemiripan Ben dengan Rafa.
Dan kedua orang tua Ratih, yang berada di kamarnya untuk mandi dan ganti pakaian sebelum nantinya akan bermain bersama Rafa lagi sebenarnya juga sudah membahas masalah yang sama.
"Keduanya sepertinya sudah menyadarinya, yah. Ratih bertanya pada ibu, apakah ada kemungkinan orang yang mirip sekali itu tidak punya hubungan darah. Ibu juga perhatikan, Ben semakin sering memperhatikan Rafa!"
"Aku sudah minta Januar, untuk mencaritahu. Apa malam itu Ben benar-benar masih ada di Rangai, atau sudah kembali ke kota ini. Sejak Rafa berusia 6 bulan, aku sudah bicara padamu kan? Rafa benar-benar mirip seperti Ben. Bahkan kesukaannya pada makanan, sama persis seperti Ben. Ben suka ikan, Rafa juga suka. Ben tidak suka sayuran, kita juga tidak pernah bisa memaksa Rafa makan sayur kan? Bagaimana dia tersenyum sambil menutup mata, Ben kecil dulu selalu melakukan itu!" ujar Panji.
"Tapi, yah. Jika memang itu Ben. Kenapa dia meninggalkan Ratih malam itu?"
***
Bersambung...
Khawatir jika kelamaan di rumah itu, keburu bau bangkai..
Dan Fandi pun sudah di cerai..
Kini kehidupan mereka sudah tercerai berai..
Kira² apa selanjutnya yg terjadi..?
Yuk ahh.. Bab berikutnya kita baca lagi.. 🏃♀️🏃♀️😁
Ternyata Ratih sudah mengetahui semuanya..
Dan apa yang terjadi..? Terkejut dong pastinya.. 🤭
Apa lagi Bi Erma, sudah tak mampu lagi berkata untuk menolak fakta..
Karena Ratih punya CCTV yg tersembunyi, dan tak di ketahui oleh mereka bertiga..
Lalu, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya..?
Yuk.. Mari kita baca bab selanjutnya.. 🏃♀️🏃♀️🏃♀️
Harta melimpah..
Ternyata hasil korupsi..
Kasih nafkah anak istri pake uang haram, parah dahh.. 🤦🏻♀️
Kau kira kebusukan bisa kau tutupi selamanya..?
Kau kira kebenaran tak akan menemukan jalannya..?
Mungkin saja kau terbebas saat ini, tapi lihat saja nanti, tunggu saja waktu nya tiba..
Kau akan berada di tempat mu yg seharusnya, yaitu penjara.. 😏