SEKUEL DARI CINTA LAMA BELUM KELAR
Dalam kisah ini didominasi perjalanan cinta antara Sasa dan Sakti, restu orang tua dari Sakti yang belum juga turun, meski pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih 5 tahun, bahkan kedua anak Iswa sudah sekolah, namun hubungan mertua dan menantu ini tak kunjung membaik.
Kedekatan Sakti dan kedua anak mendiang adiknya, Kaisar, Queena dan Athar membuat Sasa overthinking dan menuduh Sakti ada fair dengan Iswa. Setiap hari mereka selalu bertengkar, dan tuduhan selingkuh membuat Sakti capek.
Keduanya memutuskan untuk konsultasi pernikahan pada seorang psikolog yakni teman SMA Sakti, Mutiara,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBIMBANGAN
"Bang, panggilkan suster," ucap Iswa ketika bangun tengah malam, ia melihat hanya Sakti yang tidur di bed untuk penunggu pasien.
"Kamu butuh apa?" tanya Sakti dengan mata masih setengah merem. Iswa berdecak sebal, karena tak mungkin ia minta Sakti membantunya untuk ganti pembalut, ia merasa sudah sangat penuh, khawatir tembus.
"Urusan cewek," jawab Iswa, dan Sakti tersenyum meledek, dengan wajah bantalnya pria ganteng itu langsung ingat kalau Iswa sedang haid. Sakti pun mengambil pembalut dan celana dalam Iswa yang disiapkan oleh ART tadi.
"Mau ganti?" tanya Sakti, sedangkan Iswa melongo. Duh malu banget, pembalut dan pakaian dalam negerinya dipegang cowok lain.
"Iya, tapi gak usah dipegang juga kali," sewot Iswa, meski masih lemah tapi ia masih bisa ngomel. "Udah panggil suster aja gih," Iswa ngotot, karena ia tak mungkin di dalam kamar mandi nanti urusan lepas celana pasang celana mengandalkan Sakti.
"Udah aku bantu aja!" Sakti juga tak mau panggil suster, ini tengah malam loh urusan pembalut kan gak urgent banget.
"Ya elah, nanti aku ganti gimana, Bang. Ribet, tanganku diinfus juga," kekeh Iswa. "Gak mungkin abang ikut masuk juga," omel Iswa, dan Sakti terkekeh.
"Makanya nikah sama aku," gumam Sakti sembari menelepon station nurse. Iswa hanya berdecak sebal, sempat-sempatnya bercanda begituan.
"Dih, nikah-nikah. Kayak berani aja," ledek Iswa.
"Berani lah, tinggal akad nikah juga, aku juga mampu finansial, sayang sama Queena dan Athar, kurang apa lagi, ganteng juga!" ucap Sakti mulai banyak omong dan Iswa tertawa ngakak.
"Gimana kalau Sasa ngamuk? Udah berani menghadapi ujian dari sisi Sasa?" ledek Iswa membuat Sakti menghela nafas pelan.
"Iya, sih. Takut kumat di kantor apalagi selama ini aku dan kamu dianggapnya selingkuh di belakang dia," ujar Sakti. Kemudian Iswa mengangguk juga, halangan dari Sasa harus benar-benar dipikirkan. "Tapi kalau memikirkan perasaan Sasa, bisa-bisa aku gak nikah dong," ujar Sakti.
"Emang abang mau nikah lagi?"
"Mau, tapi sama kamu."
"Abang!" ucap Iswa tak enak hati.
"Gimana ya, Wa. Melihat kamu begini aku juga gak tega, kalau ada suami di samping kamu, tentu kamu gak perlu sibuk bekerja dan merawat anak sendiri sampai kamu lupa makan," ujar Sakti sembari menatap wajah Iswa intens.
Belum sempat Iswa menjawab ketukan dari pintu membuyarkan diskusi mereka, "Permisi," ujar sang perawat, dan Sakti menjelaskan kalau adiknya mau ganti pembalut, jadi minta tolong dibantu di dalam kamar mandi. Perawat tersebut mengiyakan.
"Sini aku bantu," ujar Sakti yang akan menggendong Iswa, "Biar cepat!" ucap Sakti sembari menggendong Iswa dan menurunkannya tepat di depan kamar mandi, tiang infus didorong oleh suster yang sudah membawa pembalut dan pakaian dalam milik Iswa. Sakti kembali rebahan di sofa, sembari menunggu Iswa keluar.
Dia melayang ke percakapan beberapa waktu yang lalu, rasanya menggebu saja ingin melamar Iswa. Mumpung di kamar berdua, dia leluasa juga mengungkapkan isi hatinya.
Selama menjadi duda, Sakti tidak dekat dengan siapa-siapa, sering berinteraksi dengan Iswa meski untuk kepentingan anak-anak juga sih. Apa yang dilakukan Sakti sudah seperti suami Iswa dilihat oleh orang lain, kurang akad saja.
Hampir 15 menit di kamar mandi, Iswa dan suster keluar. Sakti langsung beranjak saat pintu kamar mandi terbuka, ia berinisiatif mendorong tiang infus karena Iswa sudah berpegangan pada suster.
"Terimakasih ya, Suster!" ucap Iswa saat dia sudah berada di ranjang dan sang perawat pamit.
"Bang, anak-anak gimana?" tanya Iswa yang ingat anak-anaknya. Tadi hanya mendengar keduanya menangis.
"Besok pagi kamu video call, sekarang kamu tidur dulu, sudah malam. Bisa tidur gak? Atau mau aku puk puk?" goda Sakti, dan Iswa langsung berdecih.
"Emang aku Athar," sewot Iswa dan diiringi tawa Sakti. Keduanya pun berada di posisi masing-masing, Sakti yang memang masih ngantuk, langsung merem saja di bed, sedangkan Iswa masih diam, melirik Sakti sebentar dan masih kepikiran dengan omongan Sakti tadi.
Dia memang selalu ada saat aku dan anak-anak butuh. Seandainya dia menikah lagi, dan kami butuh bantuan Bang Sakti, tentu gak nyaman, karena terkesan masuk ke rumah tangganya. Belum tentu istrinya juga suka, Sasa saja sudah berprasangka, padahal saat dulu mama dan papa yang banyak bantu aku. Kalau aku sendiri sudah tak berniat menikah, buat apa? Aku masih cinta Mas Kai, batin Iswa bermonolog sebelum akhirnya terpejam juga.
Rasanya Iswa baru saja nyenyak tidur, tapi ia merasa kakinya dipijat oleh seseorang, "Mas Kai," ucap Iswa kaget saat sang suami hanya diam dan memijat kakinya.
"Mas, aku kangen!" ucap Iswa ingin memeluk Kaisar, tapi rasanya tubuh Iswa sangat berat.
"Aku juga, tapi aku sudah tenang di sana Sayang. Kamu pasti capek, maaf ya harus aku tinggal."
"Ya Allah, Mas. Selama 5 tahun lebih aku ingin kamu datang, akhirnya kesampaian, tapi aku gak bisa peluk kamu. Mas, peluklah aku!"
Kaisar menggeleng, "Nanti dipeluk sama Bang Sakti saja," ujar Kaisar dan tak lama Iswa bangun.
"Astaghfirullah," ucap Iswa dengan nafas ngos-ngosan. Ia melihat jam sudah menjelang shubuh, dan alarm Sakti sangat mengganggu tidurnya. Iswa melirik sebentar pada Sakti yang mulai menggeliat, mungkin akan bangun juga. Iswa pun kembali pura-pura tidur. Ia memejamkan mata saat mendengar pergerakan Sakti menuju ke ranjangnya.
Iswa pura-pura tidur, nyatanya Sakti menempelkan tangan di kening Iswa, mungkin memeriksa suhu tubuh Iswa, "Sudah turun panasnya," ujar Sakti kemudian beranjak ke kamar mandi. Ternyata Sakti sholat shubuh, dan Iswa semakin memikirkan pesan Kaisar di dalam mimpi tadi.
Apa maksudnya? Batin Iswa penasaran.
Iswa membuka mata saat Sakti mulai membuka korden ruangan, "Pagi, Wa!" sapa Sakti dan Iswa hanya mengangguk.
"Aku menelepon anak-anak, Bang. Bisa pinjam ponsel?" pinta Iswa dan Sakti langsung menyerahkan ponselnya.
Iswa tertegun dengan nama kontaknya yang berada di ponsel Sakti, Istri Kaisar.
"Kenapa?" tanya Sakti yang melihat Iswa masih tertegun dengan gerakan Iswa yang tak kunjung menelepon anak-anak.
"Aku masih istri Mas Kai," ujar Iswa.
"Ya nanti kalau kamu jadi istriku, nama kontaknya aku ganti," jawab Sakti, dan Iswa hanya terdiam. Segera saja ia menelepon anak-anaknya.
"Maaaaaamaaaaa," jawab Queena dan Athar yang sejak semalam memegang ponsel mamanya, agar tidak terlewat bila dihubungi Sakti.
"Halo Sayang," sapa Iswa.
"Mama gimana? Mama di sana sama siapa? Mama sakit apa? Kita gak bisa tidur," rentetan pertanyaan dari dua anak yang saling bersahutan membuat Iswa tersenyum bahagia, karena melihat kekhawatiran pada dua anaknya. Di moment ini, Iswa pun berpikir dia selamanya tidak mungkin mendampingi Queena dan Athar. Bagaimana kalau dia meninggal? Mereka sama siapa? Haruskah dia menikah dengan Sakti demi masa depan anak-anak?
Aku bimbang.
eh kok g enak y manggil nya