Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 - Breathe ++
Setelah acara pertunangan dan makan-makan selesai, satu per satu orang mulai pulang.
Henry juga bersiap pergi—tanpa menatapku, tanpa sepatah kata pun.
Aku paham.
Mungkin dia tak ingin merusak suasana.
Mungkin takut kami ketahuan.
Atau… mungkin dia marah padaku.
Entahlah.
Julian pun pamit. Sebelum pergi, ia sempat memberi selamat pada Ana.
Ana hanya mengangguk pelan, senyum tipis yang tak pernah benar-benar sampai ke matanya.
Saat rumah akhirnya benar-benar sepi, Ana menarik lenganku menuju kamarnya.
Pintu dikunci.
“Lia, apa-apaan kamu?” suaranya tertahan tapi jelas marah.
“Kenapa kamu bilang Ian itu pacar kamu? Kamu nggak suka Ian, kan?”
Aku mengangguk.
“Terus kenapa kamu ngelakuin itu?” desaknya.
“Karena aku mau Kakak ngerasain apa yang aku rasain.”
Ana menatapku bingung.
“Apa maksudmu?”
“Kakak udah ngambil sesuatu yang aku suka,” kataku datar.
“Sekarang aku ambil apa yang Kakak suka.”
“Ngambil apa? Aku nggak ngambil apa-apa, Lia.”
Aku ingin mengatakan tentang Henry.
Tapi belum sekarang.
“Perhatian mama-papa,” ucapku akhirnya.
“Sejak kecil, apa-apa kakak. Mama-papa selalu milih kakak. Aku selalu disuruh ngalah. Selalu. Padahal katanya yang lebih tua itu harusnya ngalah ke yang lebih kecil—tapi di rumah ini kebalik.”
“Emang aku minta diperlakukan kayak gitu?” Ana membentak.
“Kamu pikir jadi anak pertama itu enak? Harus sempurna, harus jadi contoh. Kamu pikir aku nggak capek?”
Aku diam.
“Kamu pikir aku mau jadi dokter?” suara Ana bergetar.
“Ngurusin orang sakit, ngurusin rumah sakit—nggak, Li! Aku nggak mau jadi dokter.”
Ia menarik napas panjang, seolah dadanya terlalu penuh.
“Aku maunya jadi fashion designer. Aku mau ke Paris. Kalau kamu pengen ke Korea, aku pengen ke Paris. Aku pengen berdiri di runway, nunjukin baju hasil karyaku sendiri.”
Suaranya merendah. “Tapi aku nggak bisa.”
Matanya berkaca-kaca.
“Mama-papa nggak bolehin. Katanya jadi fashion designer itu pekerjaan yang nggak jelas, buang-buang waktu.”
Ana menatapku dengan mata basah.
“Kamu ngerti nggak rasanya, Li? Sakit… sakit banget.”
Perlahan, air mata Ana jatuh.
Aku terkejut. Tapi aku memilih diam.
“Dan sekarang,” lanjutnya dengan suara yang mulai pecah, “aku harus tunangan sama cowok yang nggak aku cinta.”
Ia mengepalkan tangan.
“Lalu kamu mau ambil Julian? Lebih baik aku mati aja. Buat apa aku hidup kalau jalanku selalu diatur orang lain?”
Nada suaranya penuh frustrasi.
Aku menarik napas, dadaku ikut sesak.
“Tapi setidaknya kakak dicintai mama-papa,” ucapku akhirnya.
“Kakak dianggep.”
Aku menatapnya lurus.
“Sedangkan aku? Meskipun mungkin aku kelihatan lebih bebas, tapi aku nggak pernah dianggep. Selalu kakak. Apa-apa kakak. Aku harus ngalah.”
Suaraku ikut bergetar.
“Kalau aja aku sepintar kakak, aku mau gantiin kakak jadi dokter. Tapi sayangnya aku terlalu bodoh untuk jadi seperti yang papa-mama mau.”
Aku berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih tajam.
“Dan soal Kak Ian… Kakak itu bener-bener bodoh.”
Ana menatapku, bingung.
Benar-benar bingung.
“Apa maksud kamu?” suaranya melemah.
“Jangan salahkan keadaan,” ucapku.
“Kakak nggak bisa sama Kak Ian bukan karena orang tua. Tapi karena Kakak sendiri nggak pernah berani jujur. Kakak selalu diam. Untuk urusan akademik, Kakak pintar. Tapi soal cinta—Kakak bodoh.”
Ana tak membalas.
Aku berbalik, membuka pintu, dan keluar dari kamar itu.
Aku masuk ke kamarku sendiri, mengganti baju dengan tangan gemetar.
Aku ingin pergi.
Aku ingin menemui Henry.
Aku ingin menjelaskan semuanya—tentang aku dan Julian.
Begitu selesai berganti pakaian, aku turun ke bawah.
Baru saja kakiku menginjak anak tangga terakhir, mama dan papa muncul.
“Kamu mau ke rumah Caca lagi?” tanya mama.
“Iya,” jawabku.
“Kan aku udah bilang dari pagi. Aku pergi setelah acara pertunangan selesai.”
Mama menatapku dingin.
“Ya sudah. Sana pergi. Dan nggak usah balik lagi ke rumah ini.”
Aku tersenyum tipis.
“Dengan senang hati,” kataku.
“Untuk apa pulang ke tempat yang nggak pernah nganggep aku ada.”
Aku langsung keluar rumah.
Tanpa menoleh lagi.
Aku keluar rumah dan langsung menuju apartemen Henry dengan taksi online.
Sepanjang perjalanan, air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
Mama dan papa tak berusaha mencegahku.
Tak ada panggilan.
Tak ada langkah menyusul.
Sepertinya memang aku sudah tak punya tempat di rumah itu.
Begitu taksi berhenti di depan apartemen Henry, aku menghapus air mata dengan cepat. Aku tak ingin orang-orang menatapku aneh. Aku tak ingin terlihat lemah di hadapan siapa pun.
Aku masuk lift, menekan nomor lantai, lalu berjalan menuju unit Henry.
Saat pintu terbuka, suasana sunyi menyambutku.
Kamar kosong.
Aku menempelkan telingaku ke pintu kamar mandi—suara air terdengar jelas.
Henry sedang mandi.
Aku duduk di sofa, memeluk lututku sendiri. Kepalaku penuh oleh bayangan: pertunangan Henry dan Ana, wajah orang tuaku saat aku pergi, kalimat mama yang begitu ringan mengusirku.
Kenapa aku harus berada di posisi ini?
Kenapa aku terlahir di keluarga seperti itu?
Dan kenapa pria yang aku cintai harus bersanding dengan kakakku sendiri?
Kenapa?
Sebenarnya apa yang Tuhan rencanakan untukku?
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Henry keluar hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya. Ia menatapku sekilas—hanya sekilas—lalu melangkah ke arah kamar.
Saat ia membuka pintu kamar, aku berlari dan memeluknya dari belakang.
Tubuhnya menegang.
Beberapa detik kami hanya diam.
Aku bisa merasakan napasnya.
Detak jantungnya.
Ia bergerak seolah ingin melepaskan pelukanku, tapi aku justru mempereratnya.
“Lili… lepasin,” ucapnya pelan. “Aku mau ganti baju.”
“Saat ini,” suaraku bergetar, “kayaknya aku udah nggak punya tempat pulang lagi.”
Air mataku jatuh.
“Orang tua yang seharusnya mencegahku pergi malah membiarkanku. Kenapa aku harus terlahir di keluarga itu?”
Aku terisak. “Kenapa aku harus ngalamin semua ini? Aku salah apa?”
Henry berhenti bergerak.
“Kamu nggak salah apa-apa,” katanya pelan tapi tegas.
“Kamu cuma korban dari ekspektasi orang tua yang terlalu tinggi. Kamu nggak salah, Lili.”
“Tapi di mata mereka aku salah,” bisikku.
“Aku… sebuah kesalahan.”
Henry melepaskan tanganku, lalu berbalik menghadapku.
Tangannya naik ke pipiku, menghapus air mataku dengan ibu jarinya.
“Nggak,” katanya.
“Kamu bukan kesalahan. Buat aku, kamu anugerah.”
Dadaku bergetar.
“Aku senang kamu lahir di dunia ini. Kamu satu-satunya wanita yang bikin aku bahagia. Bahkan sama mamaku sendiri, aku nggak pernah ngerasain itu.”
Aku terdiam.
“Mamaku mungkin nggak sekejam mama kamu,” lanjutnya, “tapi ekspektasinya sama berat. Aku belajar, aku menahan diri, aku nggak pacaran—semua demi jadi penerus papa.”
Aku tak menyangka Henry sama dengan Ana.
Anak pertama yang dituntut untuk selalu sempurna.
Mereka seharusnya cocok.
Seharusnya saling mengerti.
Seharusnya saling suka—karena lahir dari nasib yang sama.
Tapi kenyataannya tidak begitu.
Kesamaan justru membuat mereka saling menjauh.
Luka yang serupa tidak menyatukan,
melainkan membuat mereka lelah melihat bayangan diri sendiri pada orang lain.
Dan akhirnya, mereka memilih orang lain—
bukan yang paling sejalan,
melainkan yang memberi ruang untuk bernapas.
“Jangan pernah bilang kamu kesalahan,” katanya lagi. “Kamu anugerah buat aku.”
Aku langsung memeluknya dan menangis.
“Mas… aku sayang kamu. Jangan pernah tinggalin aku.”
“Iya,” katanya sambil mengelus punggungku.
“Aku akan selalu di sisi kamu.”
Setelah napasku sedikit tenang, aku menatapnya.
“Mas,” ucapku lirih tapi tegas, “ayo kita main.”
Ia terdiam.
“Kamu baru melewati hari yang berat, Lili.”
“Iya,” jawabku.
“Dan tadi kamu udah tunangan sama Kak Ana. Sekarang, sisa hari ini—habiskan sama aku.”
Henry menatapku lama.
“Kamu yang begini,” katanya pelan, “bikin aku nggak bisa jauh dari kamu.”
Aku tersenyum kecil.
“Kita main sekarang?”
Aku mengangguk.
Kami masuk ke kamar dan menutup pintu.
Kami berdiri di samping tempat tidur.
Lampu kamar tak sepenuhnya terang—cukup untuk melihat garis bahunya, cukup untuk menyadari betapa dekatnya kami dengan sesuatu yang tak bisa ditarik kembali.
Aku mendekat satu langkah.
Lalu satu lagi.
Sampai dadaku hampir menyentuhnya.
Tanganku naik, menyentuh dadanya lebih dulu—bukan untuk meraba, tapi untuk memastikan dia benar-benar ada di hadapanku. Detak jantungnya terasa cepat, seolah tubuhnya sudah tahu apa yang akan terjadi bahkan sebelum pikirannya menyusul.
Aku melepas handuk di pinggangnya perlahan.
Bukan tergesa.
Seolah aku ingin menikmati setiap detik ia kehilangan pertahanannya.
Tatapanku naik ke wajahnya. Ia menelanku dengan pandangan yang gelap, napasnya berat.
“Naiklah dulu.” ucapku, suaraku lebih tenang dari yang seharusnya.
Henry menurut.
Ia berbaring, menyerahkan dirinya padaku, dan entah kenapa itu membuatku berani.
Aku menarik napas dalam, berdiri di sisi tempat tidur itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Tanganku bergerak ragu, lalu dengan gerakan pelan aku melepas bajuku sendiri. Kain itu meluncur turun dari bahuku, jatuh ke lantai tanpa suara, seolah ikut menyimpan degup jantungku yang tak beraturan.
Aku sadar sepenuhnya pada diriku sendiri—pada keberanian kecil yang baru saja kupilih. Tatapan Henry tertuju padaku dari tempatnya berbaring, diam, menunggu, seakan memberiku waktu untuk memutuskan langkah berikutnya.
Aku naik ke atas tubuhnya. Lututku mengapit pinggangnya, telapak tanganku menahan dadanya. Posisi itu—aku di atas, dia di bawah—membuatku sadar betapa besar kendali yang kupunya sore itu.
“Untuk kali ini kamu mau di atas?” tanyanya, suaranya serak.
“Awalnya aja,” jawabku pelan.
“Aku mau merasakan memimpin.”
Ia tersenyum tipis, napasnya makin berat.
“Sepertinya akan sangat menarik.”
Aku membungkuk mendekat, tapi tidak langsung mencium. Kubuat ia menunggu—menikmati jeda yang menyiksa. Wajah kami begitu dekat hingga napas kami saling menyentuh.
“Film apa yang menginspirasimu sampai berani kayak gini, Lili?” bisiknya.
Aku tersenyum kecil.
“Nggak usah mikirin film,” jawabku sambil akhirnya menyentuhkan bibirku ke bibirnya.
“Nikmati momennya aja.”
Ciuman kami tidak lembut sejak awal.
Ada emosi yang tumpah, ada amarah, ada rasa memiliki yang tak diucapkan. Tangannya langsung menahan pinggangku, jemarinya menekan seolah takut aku akan pergi.
Aku menggerakkan tubuhku perlahan.
Bukan untuk cepat—tapi untuk membuatnya kehilangan kesabaran.
Di posisi itu, aku bisa merasakan napasnya yang mulai berat, dada kami saling bertabrakan setiap kali aku bergerak sedikit lebih rendah. Belum ada penyatuan—hanya gesekan yang disengaja, jarak yang dibiarkan terlalu dekat untuk disebut aman. Tangannya mencengkeram pahaku, seolah ingin menghentikanku, tapi justru itu yang memberiku kendali. Aku menunduk, bibirku meninggalkan jejak di rahangnya, di lehernya—cukup lama untuk membuatnya menegang, cukup singkat untuk membuatnya meminta tanpa kata.
Saat akhirnya kami menyatu, aku tidak ragu.
Aku memimpin dengan ritme yang kutentukan sendiri—lambat, dalam, penuh kendali. Tanganku menekan dadanya saat aku bergerak, memastikan ia merasakan setiap detik yang kuambil darinya.
“Hhh… Lili…” desahnya berat.
Suara itu membuatku semakin berani.
Aku justru mempercepat.
Gerakanku tak lagi pelan—ritmenya lebih tegas, lebih cepat, membuat napasnya langsung berubah.
“Lili—” suaranya kali ini tak lagi terkendali.
Aku menangkap kedua tangannya dan menggenggamnya erat, menahannya di atas kasur. Jari-jari kami saling mengunci.
“Aah…” napasku sendiri ikut goyah ketika tubuhnya tanpa sadar mengikuti iramaku.
“Lili…” kali ini suaranya tak lagi tertahan. Lebih berat. Lebih rendah.
Aku bisa merasakan tubuhnya menegang di bawahku.
“Mas…” bisikku, napasku bergetar, bukan menggoda—menegaskan.
Genggaman tangannya membalas lebih kuat. Jari-jarinya menekan jemariku, seolah mencoba tetap sadar di tengah ritme yang kuciptakan.
“Lili…” gumamnya serak, hampir seperti peringatan pada dirinya sendiri. “Aku bisa kehilangan kendali.”
Kalimat itu bukan ancaman.
Bukan juga keluhan.
Itu pengakuan.
Dan di momen itu—
aku tahu aku memegang kendali.
Aku bukan anak yang diabaikan.
Bukan bayangan kakakku.
Bukan seseorang yang harus mengalah.
Aku adalah wanita yang diinginkannya.
Tubuhku mulai lelah, tapi aku belum mau berhenti. Aku menunduk, keningku menyentuh keningnya. Napas kami saling berbenturan.
“Sekarang kamu yang di atas.” bisikku, suara tipis namun menantang.
Ia membalikkan posisiku dalam satu gerakan halus namun tegas. Kini aku yang terbaring, dan ia berada di atasku—tatapannya gelap, penuh sesuatu yang tak lagi ia sembunyikan.
Henry menunduk dan menciumku. Kali ini bukan sekadar dalam, tapi menelan napasku sekaligus.
“Mmphh…” suaraku teredam di antara bibirnya.
Bibirnya bergerak lebih lama, lebih dalam, sebelum akhirnya turun ke rahangku… lalu ke leherku. Napasku mulai tak teratur ketika ia tak berhenti di sana. Sentuhannya bergerak lebih rendah, membuat punggungku melengkung tanpa sadar.
“Mas…” suaraku melemah, bercampur napas yang semakin kacau.
“Lili…” gumamnya rendah, nyaris tak terdengar.
Ia kembali turun, lebih pasti, lebih dalam—hingga tubuhku benar-benar bereaksi tanpa bisa kuatur lagi.
“Aah—Mas…” desahku pecah ketika ia kembali ke atas dan menyatukan kami tanpa jeda.
Gerakannya stabil. Berat. Terkontrol. Setiap dorongan terasa seperti penegasan yang tak perlu kata-kata.
Tanganku mencengkeram bahunya, merasakan tegangnya otot di bawah jemariku.
Suara napas kami memenuhi ruangan. Desahan bercampur, tak lagi bisa disembunyikan.
Ketika akhirnya segalanya melambat, Henry tetap menahanku erat. Tubuhnya masih di atasku, napasnya hangat di kulitku.
Secara status, Henry adalah tunangan Ana.
Milik Ana.
Tapi sore itu—
dengan namaku yang masih tersisa di bibirnya dan tatapan yang belum juga menjauh—
Henry memilihku.
Dan aku membiarkannya.