"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
"Penyesalan selalu datang mengetuk saat pintu kebahagiaan telah terkunci rapat. Di episode ini, Bima akan menyadari bahwa wanita yang ia anggap sebagai pelipur lara hanyalah seekor benalu yang mengincar sisa-sisa kejayaannya. Saat angka-angka di atas kertas mulai bicara, barulah ia sadar betapa mahalnya harga sebuah pengkhianatan. Mari kita saksikan bagaimana sang parasit mulai menunjukkan taringnya."
.
.
Matahari pagi menembus jendela apartemen yang kini telah kembali rapi dan harum, berkat tangan dingin pelayan yang dibawa Bu Sarah.
Namun, bagi Bima, kebersihan fisik rumahnya tidak mampu menyeka kekotoran yang mengendap di hatinya. Ia duduk di meja kerja dengan tumpukan dokumen yang selama ini ia abaikan.
Di sampingnya, Bu Sarah berdiri kaku, menatap layar laptop yang menampilkan grafik penurunan saham Erlangga Group.
"Mama akan ke kantor hari ini. Mama ingin melihat langsung laporan keuangan semester terakhir," ucap Bu Sarah dingin tanpa menatap anaknya. "Dan kau, selesaikan urusan pribadimu sebelum kau benar-benar kehilangan hak waris."
Bima hanya mengangguk lemah. Saat Bu Sarah melangkah keluar, seorang asisten keuangan masuk dengan wajah pucat. Ia meletakkan sebuah map tebal di depan Bima.
"Pak Bima... ini adalah rincian tagihan kartu kredit infinite Anda untuk bulan ini. Pihak bank sudah menelepon tiga kali pagi ini karena limitnya sudah terlampaui jauh melampaui batas toleransi," lapor asisten itu dengan suara bergetar.
Bima mengerutkan kening. "Limitnya miliaran. Bagaimana mungkin bisa terlampaui dalam sebulan?"
Ia membuka map itu. Matanya membelalak. Barisan angka yang tertera di sana seolah menampar wajahnya berulang kali.
***Butik Perancis - 450 Juta. Tas Kulit Eksotis - 320 Juta. Perawatan Klinik Kecantikan VVIP - 150 Juta. Perhiasan Berlian - 600 Juta***.
Semua transaksi dilakukan dalam kurun waktu tiga minggu terakhir. Semuanya atas nama Clarissa.
Baru saja Bima akan menelepon Clarissa, pintu rumah itu terbuka. Clarissa masuk dengan wajah cemberut, menenteng tas belanjaan dari merek ternama.
Ia tampak tidak peduli bahwa semalam ia baru saja diusir secara hina oleh Bu Sarah. Ia kembali seolah-olah memiliki hak atas tempat itu.
"Bima! Kenapa kartuku ditolak di butik tadi? Memalukan sekali! Teman-temanku melihatnya!" pekik Clarissa sambil membanting tasnya ke sofa.
Bima berdiri, tangannya mencengkeram map tagihan itu hingga kertasnya lecek. "Kau masih berani bertanya kenapa? Lihat ini, Clarissa! Satu setengah miliar dalam satu bulan? Kau pikir aku ini mesin pencetak uang?"
Clarissa mendengus, ia duduk di sofa sambil menyilangkan kaki, menatap kukunya yang baru dipoles.
"Hanya segitu? Bima, kau itu CEO Erlangga Group. Masa uang segitu saja dipermasalahkan? Aku butuh menjaga penampilanku sebagai calon istrimu. Kau tidak mau kan aku terlihat kusam seperti Hana?"
"Jangan sebut nama Hana dengan mulutmu itu!" bentak Bima. "Hana tidak pernah meminta tas ratusan juta. Selama bertahun-tahun bersamaku, dia bahkan lebih sering menabung untuk masa depan kita! Sedangkan kau? Kau menghabiskan uang perusahaanku saat sahamnya sedang merosot!"
Clarissa berdiri, matanya berkilat penuh amarah. "Oh, jadi sekarang kau membanding-bandingkan aku dengan wanita kampung itu lagi? Dengar, Bima! Aku kembali padamu karena kau berjanji akan memberiku kehidupan yang layak! Kalau kau ingin menjadi pelit, lebih baik aku pergi sekarang juga!"
Kalimat '*Aku pergi sekarang juga*' biasanya akan membuat Bima berlutut memohon.
Selama ini, Bima merasa Clarissa adalah satu-satunya orang yang memahaminya di tengah tekanan dunia bisnis. Ia takut kesepian. Ia takut kehilangan cinta masa lalunya.
Namun kali ini, suasana hatinya berbeda. Tamparan ibunya semalam masih terasa panas, dan bayangan Hana yang mandiri di Sukamaju membuatnya tersadar.
"Pergilah," ucap Bima lirih namun tegas. "Pergilah kalau itu yang kau inginkan."
Clarissa tertegun. Ia tidak menyangka Bima akan menjawab seperti itu. Wajahnya yang cantik berubah menjadi sinis.
"Kau serius? Kau pikir kau bisa bertahan tanpaku? Siapa yang akan menemanimu saat ibumu yang otoriter itu menekannya? Siapa yang akan menghiburmu?"
Clarissa melangkah mendekat, jarinya yang lentik menyentuh dada Bima. "Ingat, Bima... aku memegang banyak rahasiamu. Aku tahu beberapa transaksi abu-abu yang kau lakukan untuk menutupi kerugian perusahaan bulan lalu. Jika aku pergi, aku tidak akan pergi dengan tangan kosong. Aku akan memastikan nama Erlangga Group makin hancur di mata media."
Bima tersentak. Ia menatap Clarissa dengan rasa ngeri. Wanita yang ia puja ternyata bukan hanya parasit, tapi juga ular berbisa yang siap mematuknya saat ia lemah.
"Kau... kau mengancamku?"
"Aku hanya menegosiasikan hakku, Sayang," bisik Clarissa dengan senyum licik. "Aktifkan kembali kartuku, beri aku apartemenmu atas namaku, dan aku akan diam. Jika tidak, foto-foto pesta kita dan laporan internal yang sempat aku salin akan sampai ke tangan kompetitormu sore ini."
Bima merasa dunianya runtuh. Ia terjepit di antara harga dirinya yang hancur dan kebutuhan akan keamanan perusahaannya. Di saat yang sama, ia merasa sangat merindukan Hana.
Jika Hana ada di sini, Hana akan memberinya ketenangan, bukan ancaman. Hana akan menjaganya, bukan memerasnya.
Bima terduduk di kursi kerjanya, menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. Suara tawa kecil Clarissa terdengar sangat memuakkan di telinganya.
"Pilihan ada di tanganmu, Bima. Jadi pria penurut, atau hancur bersama kenanganmu tentang Hana," ucap Clarissa sambil melangkah menuju kamar, seolah-olah ancaman pengusiran Bu Sarah semalam hanyalah angin lalu baginya.
Di luar pintu, tanpa mereka sadari, Bu Sarah berdiri mematung. Ia sengaja kembali karena tertinggal ponselnya. Ia mendengar setiap kata, setiap ancaman, dan setiap desahan frustrasi anaknya.
Mata Bu Sarah memicing tajam. "Parasit ini benar-benar harus dibasmi sampai ke akarnya," gumamnya pelan.
Apakah Bima akan menyerah pada ancaman Clarissa demi menyelamatkan perusahaan?
...----------------...
**To Be Continue** ....