"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Upgrade Level 2
Rabu sore, dua hari setelah semua benih ditanam, Suyin berdiri di depan gudang penyimpanan ruang dimensi dengan jantung berdegup kencang.
Di tangannya ada timbangan digital. Di depannya, rak-rak penuh hasil panen segar yang baru selesai dia petik dalam dua jam terakhir—waktu dimensi tentu saja.
Suyin meletakkan keranjang terakhir di atas timbangan.
Angka di layar berhenti di: 72.4 kilogram.
"Berarti total..." Suyin membuka catatan di ponsel, menjumlahkan angka-angka yang sudah dicatat selama ini.
TOTAL HASIL PANEN: 1.002,4 kilogram.
Lebih dari seribu kilogram!
Dan jenis tanaman—Suyin menghitung label yang tertempel di setiap bedengan.
Satu... dua... sepuluh... dua puluh... lima puluh... delapan puluh tujuh... sembilan puluh... sembilan puluh delapan... tepat seratus!
TOTAL JENIS TANAMAN: 100 jenis.
Suyin meletakkan ponsel dengan tangan gemetar. Dia menutup mata, menarik napas panjang.
Ini dia. Ini saat yang ditunggu-tunggu.
"Pohon Kehidupan," panggilnya pelan.
"Aku di sini."
"Sudah cukup, kan?"
"Sudah." Suara pohon terdengar hangat—bahkan lebih hangat dari biasanya. "Selamat, Pemilik Ruang. Kamu berhasil mencapai syarat Level 2."
Dan sebelum Suyin sempat bereaksi—
Seluruh ruang dimensi berguncang.
Bukan berguncang seperti gempa yang menakutkan—lebih seperti... berdenyut. Seperti jantung yang baru memulai detak yang lebih kuat.
Cahaya hijau keemasan memancar dari tanah, dari mata air, dari Pohon Kehidupan—semuanya sekaligus. Warna yang semula pucat kini makin cerah, makin hidup.
Suyin berdiri di tengah semua itu, membiarkan cahaya itu menyentuh kulitnya. Hangat. Tidak menyakitkan. Bahkan terasa seperti pelukan lembut.
Lalu—
BRRRMMM.
Tanah di sekeliling area yang sudah ada mulai bergerak. Bukan meledak atau roboh—tapi berkembang, meluas, seperti bunga yang sedang mekar dalam gerakan lambat.
Suyin berputar melihat sekeliling. Area yang tadi hanya dua hektar kini bertambah—sisi kiri, kanan, depan, semua meluas. Tanah subur baru bermunculan, rumput hijau tumbuh seketika di area yang baru, pohon-pohon kecil muncul di beberapa sudut.
Dalam hitungan menit, ruang dimensi sudah berkembang menjadi hampir lima kali ukuran semula.
"Astaga..." bisik Suyin tidak percaya.
"Lima hektar," konfirmasi Pohon Kehidupan. "Dan percepatan waktu sekarang adalah lima belas kali lipat."
Lima belas kali lipat! Dari sepuluh menjadi lima belas—itu artinya satu jam di luar sama dengan lima belas jam di dalam!
Tapi yang membuat Suyin terpana bukan itu.
Di area baru yang paling jauh—di sebuah bukit kecil yang tidak ada sebelumnya—berdiri sebuah bangunan.
Bukan gudang kayu sederhana seperti yang muncul di Level 1.
Ini sebuah paviliun megah berarsitektur Tiongkok klasik—atap berundak dengan ukiran naga dan phoenix, dinding putih dengan jendela bingkai merah, tangga batu yang naik ke pintunya.
Suyin berjalan mendekat dengan kaki seolah tersedot ke sana.
Di atas pintu paviliun, ada tulisan tiga karakter yang bersinar—dan entah bagaimana Suyin bisa membacanya meski tidak pernah belajar aksara kuno itu:
"AULA PENYEMBUHAN"
Jantung Suyin berdegup keras. Penyembuhan?
Dia mendorong pintu paviliun—terbuka dengan lancar, tidak berderit sedikitpun.
Di dalam, suasananya berbeda dari luar. Lebih tenang, lebih hening. Udara terasa bersih dengan aroma herbal yang menyegarkan. Di tengah ruangan ada kolam kecil—lebih kecil dari mata air utama tapi airnya berwarna kebiruan yang sangat indah.
Di sekelilingnya, rak-rak batu tertata dengan berbagai tanaman herbal yang sudah tumbuh subur—ginseng, jahe merah, kunyit, temulawak, dan banyak lagi yang Suyin tidak kenali namanya.
Di dinding ada tulisan bercahaya yang muncul satu per satu:
"Aula Penyembuhan - Fasilitas Level 2.
Air biru di kolam ini memiliki kemampuan menyembuhkan luka fisik dan memulihkan energi spiritual yang terkuras.
Herbal yang tumbuh di sini memiliki kualitas sepuluh kali lebih tinggi dari tanaman biasa di ruang dimensi.
Pemilik Ruang dapat menggunakan air dan herbal ini untuk membuat ramuan penyembuhan tingkat tinggi."
Suyin membaca tulisan itu dua kali, tiga kali, untuk memastikan dia tidak salah baca.
Ramuan penyembuhan tingkat tinggi.
Air yang bisa menyembuhkan luka dan memulihkan energi spiritual.
Herbal dengan kualitas sepuluh kali lipat lebih tinggi.
Ini... ini luar biasa.
Bayangan langsung muncul di kepala Suyin—acara reuni keluarga tiga hari lagi. Kemungkinan ada pertarungan, kemungkinan ada yang terluka. Dengan Aula Penyembuhan ini, dia bisa...
"Pohon Kehidupan!" Suyin berlari keluar dari paviliun, mencari pohon. "Aku bisa buat ramuan penyembuhan? Ramuan seperti yang dipakai Zhao Mei?"
"Bahkan lebih baik," jawab Pohon Kehidupan. "Zhao Mei adalah kultivator yang terlatih dan ramuannya sudah sangat bagus. Tapi dengan herbal dari Aula Penyembuhan dan air biru di kolam itu, ramuan yang kamu buat akan setara—bahkan melampaui—apa yang bisa dia buat."
"Aku tidak tahu cara membuat ramuan."
"Ada buku petunjuk di dalam Aula. Di rak sebelah kiri, ada buku berwarna hijau tua. Buku itu berisi resep-resep ramuan dasar yang bisa dibuat oleh siapapun—bahkan yang bukan apoteker kultivator."
Suyin langsung kembali ke Aula Penyembuhan, mencari rak sebelah kiri. Benar saja—ada buku tebal berwarna hijau tua dengan sampul kulit dan tulisan emas di covernya: "Panduan Ramuan Penyembuhan Dasar."
Suyin membuka buku itu. Isinya menggunakan bahasa yang bisa dibacanya—seperti saat membaca tulisan di pintu paviliun tadi, ada semacam pemahaman otomatis yang masuk ke pikirannya.
Halaman pertama: Ramuan Pemulih Cepat.
"Bahan: 3 lembar daun ginseng merah, 2 tangkai jahe biru, 1 cangkir air biru kolam penyembuhan. Cara: Tumbuk bahan padat sampai halus, campur dengan air biru, aduk searah jarum jam selama tiga menit. Efek: Memulihkan luka ringan hingga sedang dalam hitungan menit. Memulihkan energi spiritual yang terkuras sebesar tujuh puluh persen."
Suyin membaca beberapa resep lagi—ada Ramuan Penguatan Qi, Ramuan Pemblokir Rasa Sakit, bahkan Ramuan Penghilang Racun Spiritual.
Ini... ini seperti apotek ajaib.
Dengan tangan bersemangat, Suyin segera mencoba membuat Ramuan Pemulih Cepat mengikuti petunjuk di buku. Dia mengambil daun ginseng merah dari rak, jahe biru—herbal yang bentuknya seperti jahe biasa tapi berwarna biru tua—lalu mengambil air dari kolam biru dengan cangkir yang tersedia.
Menumbuk, mencampur, mengaduk...
Hasilnya adalah cairan berwarna hijau kebiruan yang wangi sekali—seperti campuran mint dan bunga.
"Coba teteskan di luka kecil," saran Pohon Kehidupan.
Suyin melirik goresan kecil di jari tangannya—bekas gesekan dengan pagar kayu tadi saat panen. Dia meneteskan satu tetes ramuan itu di atas goresan.
Sensasi dingin menyenangkan. Lalu—goresan itu menutup dalam hitungan detik. Bahkan bekas bekasnya hilang.
Suyin menatap jarinya dengan mulut menganga.
"Ini... sungguh nyata."
"Sangat nyata. Dan itu baru ramuan yang paling dasar."
Suyin langsung membuat lebih banyak—mengisi beberapa botol kecil yang dibawanya dari apartemen. Dia buat Ramuan Pemulih Cepat sebanyak sepuluh botol, Ramuan Penguatan Qi lima botol, dan Ramuan Penghilang Racun Spiritual tiga botol.
Cukup untuk menghadapi situasi darurat di reuni keluarga nanti.
Setelah selesai, Suyin keluar dari Aula Penyembuhan dengan genggaman penuh botol ramuan dan hati yang penuh dengan keyakinan baru.
Tapi ada satu hal lagi yang ingin dia cek.
Dia kembali ke Pohon Kehidupan yang sekarang terlihat berbeda—lebih besar, lebih megah. Tingginya sekarang hampir empat meter, mahkota daunnya lebar dan lebat berwarna hijau keemasan.
"Pohon Kehidupan, tadi kamu bilang ada hadiah spesial. Apa Aula Penyembuhan itu hadiahnya?"
"Sebagian. Masih ada satu lagi."
"Apa?"
"Lihat gelangmu."
Suyin mengangkat tangan kanan—dan matanya melebar.
Gelang giok yang selama ini berwarna hijau pucat kini berubah. Warnanya lebih dalam, lebih hidup—hijau zamrud yang kaya seperti daun bambu di musim hujan. Dan di permukaannya, urat-urat putih yang dulu bergerak lambat kini membentuk pola yang jauh lebih kompleks—seperti peta miniatur sebuah taman.
"Gelangnya berubah..."
"Karena ruang dimensi naik level, gelang sebagai kunci akses juga ikut berkembang. Sekarang, gelang itu punya satu kemampuan tambahan—ia bisa memancarkan pulsa pelindung satu kali setiap dua puluh empat jam. Kalau kamu dalam bahaya nyata dan menyentuh gelang sambil mengerahkan semua Qi-mu, gelang akan memancarkan gelombang energi yang melemparkan semua ancaman dalam radius lima meter."
Suyin menelan ludah. "Kemampuan ofensif?"
"Kemampuan pertahanan darurat. Bukan untuk menyerang—tapi untuk menciptakan jarak aman kalau kamu terkepung. Gunakan hanya dalam keadaan benar-benar terdesak karena setelah digunakan, kamu akan kelelahan ekstrem."
"Baik. Aku mengerti."
Suyin berdiri di tengah ruang dimensi yang sekarang jauh lebih luas dari sebelumnya, memandang sekeliling dengan perasaan campur aduk yang sulit diungkapkan.
Dua hektar menjadi lima hektar. Gudang kayu menjadi paviliun megah. Gelang yang sudah berubah jadi lebih kuat.
Semua ini karena kerja kerasnya selama dua minggu terakhir. Karena dia tidak menyerah meski baru saja kehilangan nenek, meski Meifeng mengancam, meski Organisasi Bayangan mengejar.
"Terima kasih, Nenek," bisik Suyin sambil menyentuh gelang yang kini lebih indah dari sebelumnya. "Aku tidak sia-siakan pemberianmu."
Angin sepoi-sepoi bertiup di ruang dimensi, membawa aroma bunga dan tanah yang Suyin sudah hafal betul.
Seolah nenek menjawab.
Suyin menghapus air mata yang tidak terasa mengalir, lalu mengambil napas panjang.
Tiga hari lagi. Reuni keluarga. Ancaman Organisasi Bayangan.
Tapi dia siap. Lebih siap dari sebelumnya.
Dia keluar dari ruang dimensi—mendarat di kamar villa dengan tangan penuh botol ramuan.
Suyin langsung menuju kamar Zhao Mei, mengetuk pintu.
"Masuk."
Zhao Mei sedang duduk meditasi tapi langsung membuka mata saat Suyin masuk.
"Ada apa?"
Suyin meletakkan botol-botol ramuan di atas meja Zhao Mei. "Ini. Ramuan penyembuhan. Aku buat sendiri."
Zhao Mei menatap botol-botol itu, mengangkat satu, membuka tutupnya dan mencium aromanya.
Ekspresi wajahnya berubah—dari sopan menjadi terkejut sungguhan.
"Ini... kamu buat ini sendiri?"
"Ya. Baru tadi."
Zhao Mei mencelupkan jarinya, menjilat sedikit—cara yang tampaknya standard untuk kultivator menguji ramuan.
Matanya melebar. "Ini... ini kualitasnya luar biasa. Bahkan lebih baik dari yang biasa aku buat." Dia menatap Suyin dengan tatapan yang sangat berbeda dari tadi pagi. "Dari mana kamu dapat herbal ini?"
"Ruang dimensi saya baru naik level. Ada fasilitas baru—Aula Penyembuhan dengan herbal berkualitas tinggi."
Zhao Mei terdiam sebentar, lalu tersenyum—senyum tulus pertama yang Suyin lihat dari wanita itu.
"Kamu penuh kejutan, Lin Suyin." Zhao Mei merapikan botol-botol itu dengan hati-hati. "Ramuan ini akan sangat berguna untuk tiga hari lagi. Berapa banyak yang bisa kamu siapkan?"
"Seberapa banyak yang dibutuhkan?"
Mereka duduk bersama, membahas kebutuhan ramuan untuk skenario terburuk. Suyin mencatat semua dengan teliti—berapa botol Ramuan Pemulih, berapa Penguatan Qi, berapa Penghilang Racun.
Zhao Mei membantu menjelaskan jenis-jenis luka yang mungkin terjadi dalam pertarungan kultivator dan ramuan apa yang paling efektif.
Suyin mendengarkan dengan serius, menyerap semua informasi.
Di tengah diskusi, pintu kamar Zhao Mei diketuk.
"Masuk," panggil Zhao Mei.
Xiao Zhen masuk—dan langsung menatap Suyin yang duduk di lantai dikelilingi catatan dan botol ramuan.
"Kamu di sini. Aku cari ke mana-mana." Ada sesuatu di nada suaranya—lega dengan sedikit teguran.
"Maaf, aku lupa kasih tahu." Suyin berdiri. "Tapi aku punya kabar bagus."
Suyin menceritakan semua—upgrade Level 2, perluasan ruang dimensi, Aula Penyembuhan, perubahan pada gelang giok, dan kemampuan pulsa pelindung baru.
Xiao Zhen mendengarkan dengan tenang, tapi matanya semakin bercahaya seiring Suyin bercerita.
Ketika Suyin selesai, Xiao Zhen terdiam beberapa detik—lalu melangkah maju dan sebelum Suyin sempat bereaksi, dia memeluk Suyin.
Pelukan yang singkat tapi erat.
"Aku bangga padamu," bisiknya di telinga Suyin.
Zhao Mei dengan sopan berpaling ke arah lain, tiba-tiba sangat tertarik memeriksa catatan di mejanya.
Suyin membalas pelukan itu—tangannya meremas punggung Xiao Zhen sebentar.
"Terima kasih," bisiknya balik.
Mereka berpisah dengan cepat—masing-masing kembali ke ekspresi normal seolah tidak terjadi apa-apa, tapi keduanya tahu pipi mereka sedikit merah.
"Baiklah." Xiao Zhen membersihkan suaranya. "Dengan update ini, kita perlu revisi rencana. Ramuan yang Suyin buat bisa jadi komponen penting dalam strategi pertahanan kita." Dia menatap Zhao Mei. "Apa kamu bisa bantu Suyin memaksimalkan produksi ramuan sebelum hari H?"
"Dengan senang hati." Zhao Mei tersenyum ke Suyin. "Kuanggap itu latihan tambahan."
"Bagus." Xiao Zhen berbalik ke pintu, lalu berhenti. "Oh ya, Suyin. Makan malam lima belas menit lagi. Jangan terlambat—Nyonya Qin sudah masak banyak."
Setelah Xiao Zhen pergi, Zhao Mei menatap Suyin dengan ekspresi yang membuat Suyin ingin bersembunyi di balik tumpukan catatannya.
"Jangan bilang apa-apa," ucap Suyin duluan.
"Aku tidak bilang apa-apa." Zhao Mei mengangkat tangan, tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan. "Tapi kalau kamu tanya pendapatku—Tuan Muda Xiao belum pernah terlihat seperti itu sejak..."
Dia menghentikan kalimatnya.
"Sejak apa?" tanya Suyin penasaran.
Zhao Mei menggeleng pelan. "Bukan ceritaku untuk diceritakan. Tanya dia sendiri suatu hari nanti." Dia berdiri, membereskan meja. "Ayo, makan malam. Besok kita mulai produksi ramuan pagi-pagi."
Suyin mengikuti Zhao Mei keluar dari kamar dengan kepala penuh pertanyaan.
Belum pernah terlihat seperti itu sejak...
Sejak apa?
Siapa yang membuat Xiao Zhen menutup hatinya? Dan pengalaman apa yang membuatnya menjadi pria yang begitu berhati-hati dengan perasaannya sendiri?
Suyin menyentuh gelang giok yang kini lebih indah dari sebelumnya.
Satu misteri pada satu waktu, katanya pada diri sendiri.
Sekarang fokus pada tiga hari ke depan.
Sisanya akan terjawab dengan sendirinya.