Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 - Pengantin Baru
"Kok Neng Arisa malah ketawa? Emang ada yang lucu?" timpal Ogi tanpa menatap Arisa. Jika dia menatap gadis itu, yang ada dirinya malah jadi tambah salah tingkah.
"Kang Ogi lucu tahu nggak. Badannya kaku begitu. Jangan terlalu dipinggir, Kang. Nanti jatuh," kata Arisa seraya menghentikan tawa.
"Udah atuh, Neng. Sekarang Neng Arisa harus menepati janji. Aku sudah duduk di sebelah Neng kan?" tanggap Ogi.
"Kamu kayaknya kepo banget sama gaya pacaranku? Ya gaya pacaranku biasa aja kali, Kang. Tapi lebih romantis aja gitu," ungkap Arisa.
"Romantis? Emang kayak gimana atuh, Neng?"
Arisa terdiam. Dia jadi mengingat momen-momen indahnya saat bersama Marcel. Fakta kalau lelaki itu sudah mengkhianatinya kembali membawa luka dihatinya.
"Ya gitu deh, Kang. Kayak berdansa berdua dengan di iringi musik romantis, terus suap suapan makanan, pegangan tangan dan ciuman..."
"Astagfirullah... Itu zina atuh, Neng. Bukan romantis," sergah Ogi cepat.
Arisa langsung mendelik. "Iya, iya, Pak Ustadz. Makasih udah di ingatkan. Aku juga sebenarnya menyesal melakukannya. Tapi untung aja kemarin aku nolak kasih dia keperawananku. Kalau nggak, aku pasti akan tambah menyesal," keluhnya sambil mendengus kasar.
"Astagfirullah... Itu lebih parah, Neng. Itu kayaknya bukan gaya pacaran yang romantis atuh, Neng. Tapi lebih ke arah dosa besar!" tukas Ogi.
"Eh, Kang! Aku kan tadi bilang kalau aku nolak buat melakukannya. Jadi aku bersyukur banget sekarang. Aku masih perawan ting ting loh!" tegas Arisa.
"Alhamdulillah..." ucap Ogi refleks sambil memegangi dada. Namun matanya langsung terbelalak karena sadar kalau reaksinya mencurigakan. Cukup berlebihan menurutnya.
"Iya, Alhamdulillah, Kang... Pokoknya aku akan jaga diri mulai sekarang." Untungnya Arisa menanggapi dengan santai, dan menurutnya reaksi Ogi normal saja.
"Aku doakan Neng dijauhkan dari lelaki jahat di luar sana, dan selalu dalam lindungan Gusti Allah," imbuh Ogi tulus.
"Aamiin..." Arisa melirik Ogi. "Kang Ogi ternyata religius ya. Aku nggak bisa bayangin cara Kang Ogi beradaptasi pas kuliah di kota," sambungnya.
"Aku nggak punya banyak teman atuh, Neng. Banyak yang nggak benar. Ada yang suka minum alkohol, terus bawa perempuan masuk ke kamar. Gara-gara itu, Akang hampir mau berhenti kuliah, tapi berkat papanya Neng Arisa, nggak jadi atuh," jelas Ogi sambil bergidik membayangkan masa lalu. Kehidupan kota benar-benar tak cocok dengan kepribadiannya.
"Terus gimana sama cewek-cewek yang suka sama Kang Ogi di sana? Pasti ada kan?" selidik Arisa.
"Ada atuh, Neng. Tapi aku nggak terlalu ngeladenin mereka. Aku lebih memilih fokus belajar aja."
"Tapi sebanding sih sama hasilnya, Kang. Papa tuh selalu cerita bagusnya nilai-nilai dan bagaimana attitude kamu. Dia bangga banget punya murid kayak Kang Ogi."
"Alhamdulillah, Neng... Aku juga bangga punya dosen kayak papanya Neng Arisa." Ogi tersenyum tipis. Pembicaraannya dan Arisa berlangsung hangat.
Sampai tak terasa rasa kantuk pun datang. Arisa dan Ogi sama-sama tak sengaja tertidur.
Ketika waktu menunjukkan jam lima sore, Eyang Imas pulang ke rumah. Dia heran saat melihat suasana sepi. Alhasil Eyang Imas memeriksa setiap sudut rumah. Hingga dia pun berhenti di depan kamar Ogi dan Arisa.
"Aku nggak ngintip. Aku hanya memastikan apakah mereka baik-baik saja," gumam Eyang Imas. Perlahan dia buka pintu kamar itu. Seketika dirinya tak bisa membendung senyuman saat menyaksikan cucunya tidur saling berpelukan dengan istrinya.
"Dasar pengantin baru," cibir Eyang Imas. "Jadi kangen suami..." lirihnya.