NovelToon NovelToon
Crowned Villains :The End Of Old World

Crowned Villains :The End Of Old World

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Fantasi
Popularitas:287
Nilai: 5
Nama Author: Asjoe the writer

Dunia adalah sebuah luka yang menolak untuk sembuh. Di Utara, perang suci antara Holy Kingdom dan Demon Realm tak kunjung usai. Di Selatan, tirani matriarki menciptakan perbudakan sistematis terhadap kaum pria. Sementara di Timur, jutaan nyawa menjadi tumbal bagi ambisi Federasi dan Aliansi. Bahkan di Barat, Kekaisaran Berline yang agung telah membusuk dari dalam akibat korupsi, nepotisme, dan kelaparan yang mencekik rakyatnya.Saat dunia memprediksi keruntuhan Berline akan menjadi awal dari domino kehancuran global, sebuah anomali muncul dari balik bayangbayang. Bukan pahlawan yang bangkit, melainkan Chara Initiative Organization (CIO). Sebuah organisasi villain yang kejam dan tak terduga. Lewat kudeta berdarah, mereka merebut tahta Berline dan memulai langkah radikal untuk menjungkirbalikkan tatanan dunia yang lama. Bagi mereka, dunia yang rusak tidak butuh diperbaiki; dunia butuh dihancurkan untuk dibangun kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asjoe the writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah di Daratan Welcon

Dunia ini tidak diciptakan dari cahaya, melainkan dari sisa-sisa kehancuran yang dipaksakan untuk tetap berdiri. Di Utara, langit selalu berwarna kelabu akibat radiasi mana yang membusukkan tanah, memaksa ras iblis untuk terus menjarah wilayah manusia demi seteguk air bersih. Di Selatan, pria merangkak di bawah kaki para ratu yang berevolusi menjadi predator. Di Barat, Kekaisaran Berline sedang sekarat dalam pelukan korupsi. Dan di Timur? Di Timur, manusia hanya mengenal satu cara untuk bicara: perang.

Tiga Tahun Setelah Tragedi Pertunangan Berdarah

Bau karat dan tanah basah memenuhi udara di Dataran Welcon. Ribuan spanduk biru bergambar elang perak milik Federasi berkibar lunglai di bawah rintik hujan. Di seberang parit pertahanan, ribuan spanduk merah darah milik Aliansi menanti dengan diam.

"Komandan, mereka mulai bergerak," bisik seorang ajudan dengan suara gemetar.

Laki-laki muda yang dipanggil 'Komandan' itu berdiri di atas bukit kecil, matanya yang tajam menatap barisan kavaleri Aliansi di kejauhan. Namanya adalah Kaelen. Di punggung tangan kanannya, sebuah simbol bercahaya redup—Holy Crest. Cahaya itu tidak hanya melambangkan berkah, tapi juga beban untuk memenangkan perang yang tidak dia mulai.

"80.000 pasukan melawan 7.000 orang kita," Kaelen bergumam pelan. "Logika para tetua di ibu kota mengatakan kita harus mati di sini agar mereka punya waktu untuk minum teh dan berdiplomasi."

"Tapi kita tidak akan mati, bukan?" suara seorang wanita terdengar dari belakang. Itu adalah Elara, seorang Mage dari Akademi Wisdom yang dikirim sebagai bantuan terakhir. Jubahnya yang basah kuyup tidak mengurangi aura otoritasnya saat dia memegang tongkat kayu hitam yang mulai berderak dengan energi biru.

Kaelen tersenyum tipis, sebuah senyum yang terasa asing di medan perang ini. "Mati adalah opsi terakhir. Hari ini, kita akan mengajarkan mereka bahwa jumlah kepala tidak menentukan siapa yang akan tetap berdiri saat matahari terbenam."

Kaelen mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Cahaya Holy Crest di tangannya meledak menjadi sinar keemasan yang menyelimuti bilah pedang itu. Ini adalah sihir kuno, kekuatan yang telah ada selama ribuan tahun. Di dunia ini, ksatria seperti Kaelen adalah puncak dari kekuatan militer.

Namun, jauh di lubuk hatinya, Kaelen merasakan ada yang salah dengan dunia ini. Perang ini terasa seperti roda gigi yang berputar tanpa henti, menggiling nyawa tanpa tujuan.

"Serang!" teriak komandan Aliansi dari kejauhan.

Tanah bergetar saat kavaleri berat Aliansi mulai memacu kuda mereka. Suara gemerincing zirah dan teriakan haus darah membelah kesunyian. Elara mulai merapalkan mantra, memanggil dinding api untuk menghambat laju musuh, sementara Kaelen memimpin barisan infanteri kecilnya.

Pertempuran itu adalah simfoni kematian yang biasa di Timur. Pedang beradu dengan perisai, sihir api meledakkan formasi, dan panah menghujani langit. Tidak ada yang menyadari bahwa di saat yang bersamaan, ribuan mil dari Welcon, di arah Barat yang tertutup kabut hitam, sebuah sejarah baru sedang ditulis dengan tinta yang berbeda.

Di jantung Kekaisaran Berline, suara teriakan tidak berasal dari medan perang, melainkan dari aula istana yang megah. Seorang pria dengan pakaian hitam rapi, yang sama sekali tidak menyerupai zirah ksatria ataupun jubah penyihir, berdiri di atas tumpukan mayat para bangsawan korup.

Pria itu menyesap cerutu, menatap mahkota kekaisaran yang tergeletak di lantai yang berlumuran darah. Di dadanya tersemat pin perak bertuliskan CIO.

"Dunia ini terlalu bising dengan sihir dan doa," ucap pria itu dengan suara berat, suaranya terdengar asing, membawa aksen yang bukan berasal dari dunia ini. "Saatnya kita memberi mereka sedikit... mekanisasi."

Saat Kaelen menebas kepala prajurit Aliansi terakhir di depannya, dia tidak tahu bahwa takhta di Barat telah berpindah tangan ke seorang villain yang tidak percaya pada takdir—hanya pada efisiensi.

1
anggita
mampir like👍 iklan ☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!