Setelah hidup lontang-lantung selama separuh hidupnya, Denzel Bastian mengacaukan kehidupannya dengan tangan sendiri. Dia kehilangan istri dan ketiga anak kembar untuk selamanya. Hingga saat berada dalam lautan api, istri yang sudah bercerai bertahun-tahun dengannya tanpa ragu menerjang masuk ke kobaran api untuk mati bersamanya.
Denzel pun sadar, ternyata istrinya begitu mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Bab 10 Aku Sarankan Jangan Menanam Stroberi
Pada pukul dua sore
Setelah mengemudi selama kurang dari satu jam, Denzel dan Arvin akhirnya tiba di Kabupaten Lishami.
Untungnya, tidak lama setelah selesai makan siang, hujan pun berhenti. Kalau tidak, itu akan memakan waktu lebih dari setengah jam untuk mengemudi di tengah hujan.
Kabupaten Lishami juga memiliki basis asosiasi petanian yang sangat terkenal. Sebagian besar petani di beberapa kabupaten terdekat akan datang ke sini untuk membeli benih buah dan sayuran yang mereka butuhkan.
Selain menjual berbagai macam
Benih sayuran, juga ada banyak toko yang husus menjual alat pertanian.
Setelah mencari tahu dari beberapa orang, barulah Denzel dan Arvin tiba di basis asosiasi pertanian di Jalan Nusantoro.
Selain toko khusus yang menjual berbagai macam benih sayuran dan alat pertanian, ada juga banyak pedagang asongan yang mendirikan kios di sini.
Meskipun sekarang adalah waktu untuk istirahat makan siang, seluruh pasar masih sangat ramai. Teriakan pedagang asongan dan pemilik toko terdengar tanpa henti. Banyak paman dan bibi yang diam berlama-lama di antara berbagai kios dan toko, mereka mencari benih sayuran atau alat-alat pertanian yang mereka butuhkan.
Setelah Denzel dan Arvin menemukan tempat untuk memarkirkan sepeda motor, mereka pun berjalan
Masuk ke kerumunan.
Ada banyak toko benih pertanian di sini. Denzel membawa Arvin untuk menanyakan beberapa toko, tetapi tidak ada satu pun toko yang menjual benih stroberi.
Denzel mengeluarkan beberapa batang rokok dari saku Arvin. Setelah menanyai beberapa orang, barulah dia membawa Arvin pergi ke toko benih pertanian yang terbesar di sini.
Di depan toko itu, Arvin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantelnya, kemudian berbalik badan untuk melihat Denzel. Dia mengerutkan kening sembari berkata, "Kak, apakah kamu sudah memikirkannya dengan baik? Apakah kamu benar-benar ingin menggunakan uang sebanyak enam puluh ribu ini untuk membeli benih? Kalau kamu menggunakan uang sebanyak itu untuk berjudi, mungkin saja kamu bisa
Mengubahnya menjadi enam ratus ribu atau enam juta!"
Makin berkata, Arvin makin semangat. Ekspresi dan gerakannya pun menjadi berlebihan.
Namun, Denzel tidak bergeming ketika mendengar kata-kata Arvin. Dia mengulurkan tangannya dan merentangkan telapak tangannya di depan Arvin.
"Uang."
"Kak... " Arvin sudah hampir menangis.
Denzel tampak sedikit tidak sabar, dia berkata dengan nada lebih tegas, "Cepat."
Arvin pun tidak berani berlama-lama setelah melihat Denzel sepertinya akan marah. Dengan enggan, dia mengeluarkan uang dari sakunya.
Totalnya ada dua lembar uang dua puluh ribu dan dua lembar uang sepuluh ribu.
Arvin menggertakkan giginya sembari mengambil dua lembar uang dua puluh ribu, lalu menyerahkannya kepada Denzel.
Denzel mengulurkan tangan dan mengambil dua lembar uang dua puluh ribu yang diserahkan Arvin. Kemudian, dia juga mengambil dua lembar uang sepuluh ribu yang tersisa di tangan Arvin dan memasukkannya ke dalam saku. Denzel berkata pada Arvin, "Sudahlah, nanti setelah kamu mengantarku pulang, kamu sudah tidak berutang padaku lagi."
Begitu Denzel selesai berkata, dia langsung berjalan masuk ke dalam toko tanpa menunggu jawaban dari Arvin.
Sebenarnya Arvin berutang banyak uang padanya, tapi Denzel terlalu malas untuk memperhitungkannya dengan Arvin. Denzel cukup meminta uang
Sebanyak enam puluh ribu untuk memenuhi kebutuhannya yang mendesak.
Tangan Arvin masih membeku di udara. Saat melihat punggung Denzel yang berjalan masuk ke toko, dia benar-benar sangat marah hingga menggertakkan giginya.
Sungguh keterlaluan!
Denzel bahkan tidak menyisakan uang dua puluh ribu untuknya!
Padahal Arvin menganggap Denzel sebagai sahabatnya!
Tidak ada yang perlu dikatakan lagi!
Hubungan persahabatan mereka berakhir sampai di sini!
Begitu melihat Denzel berjalan menjauh dan memasuki toko, Arvin pun berteriak ke arahnya dengan penuh
Amarah, "Heh! Kak Denzel, tunggu aku!"
Setelah berkata, Arvin buru-buru menyusuli Denzel.
Toko ini sangat besar, ada banyak benih bunga, tanaman, buah dan sayuran.
Denzel dan Arvin berjalan masuk ke toko, mereka merasa mata mereka tidak cukup kuat untuk melihat semua barang-barang di dalam toko.
Denzel membawa Arvin berjalan ke area benih buah untuk melihat-lihat, tetapi mereka sama sekali tidak menemukan bungkusan benih stroberi.
Denzel melihat ke sekeliling toko. Ketika melihat satu-satunya pria paruh baya di toko yang sedang menyapa tamu dengan tas tergantung di pinggangnya, Denzel pun berbalik badan dan berjalan
Menghampirinya.
Setelah berjalan beberapa langkah ke depan pria paruh baya itu, Denzel tersenyum sopan padanya sembari berkata, "Bos, apakah tokomu menjual benih stroberi?"
Begitu mendengar kata-kata itu, pria paruh baya itu mendongak dan melirik Denzel dan Arvin yang berambut kuning di belakangnya. Dia menjawab dengan acuh tak acuh, "Ada."
Orang yang sudah berusia seperti pria paruh baya itu pasti tidak memiliki kesan baik terhadap pemuda yang berambut warna-warni.
Meskipun Denzel tidak mewarnai rambutnya dan terlihat normal, pria paruh baya itu juga merasa bahwa Denzel tidak seperti bocah yang baik.
Denzel sama sekali tidak memedulikan sikap bos itu, dia terus
Bertanya, "Berapa harganya? Aku ingin membeli sedikit benih itu."
"Sepuluh ribu per bungkus, satu bungkus berisi seratus benih," Bos itu memasukkan uang yang baru saja dia terima ke dalam tas pinggangnya dan menjawab dengan acuh tak acuh.
Setelah mendengar harga benih stroberi, Denzel menghela napas lega sembari berkata, "Kalau begitu, aku ingin membeli tiga bungkus."
Sebenarnya Denzel sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang bertani, dia bahkan tidak tahu apakah harga benih stroberi ini tergolong mahal atau tidak.
Sebelumnya, Denzel sedikit khawatir bahwa uang sebanyak enam puluh ribu itu tidak akan cukup. Namun sekarang, sepertinya dia bisa membeli beberapa bungkus benih.
Bos itu tampak ragu ketika mendengar kata-kata Denzel, dia tidak tahan lagi dan bertanya padanya, "Nak, apakah kamu ingin membelinya untuk ditanam secara pribadi?"
Denzel berkata tanpa basa-basi, "Iya, aku berencana untuk menanam beberapa stroberi untuk dijual."
"Kalau begitu, aku ingin menyarankanmu untuk mempertimbangkannya dengan baik.
Benih stroberi itu tidak cukup baik untuk ditanam dalam jumlah banyak.
Jangankan Kabupaten Lishami, bahkan iklim di seluruh Unifia pun tidak cocok untuk menanam stroberi."
Setelah mengobrol dengan Denzel, pria paruh baya itu mendapati bahwa pemuda itu cukup sopan. Jadi, dia pun mengingatkannya dengan baik hati.
Arvin tampak sangat senang ketika mendengar kata-kata bos itu, dia buru-
Buru berkata, "Iya, Kak Denzel, ada berbagai macam buah yang ditanam di pedesaan, tapi tidak ada seorang pun yang menanam stroberi. Sebaiknya jangan membuang-buang uang dan tenagamu."
Kalau tidak membeli benih stroberi, Denzel pasti sudah pergi berjudi bersamanya.
Denzel mengabaikan Arvin yang tampak bersemangat di sebelahnya, dia melihat bos itu sembari bertanya, "Kalau begitu, apakah ada orang yang menjual stroberi yang ditanam secara lokal di Kabupaten Lishami?"
Bos itu sama sekali tidak menyembunyikan kejijikan di wajahnya, dia mengerutkan alis sembari berkata, "Ada orang yang menanamnya secara lokal. Sebelumnya aku pernah membelinya beberapa kali, tapi sangat tidak enak, bahkan juga sangat asam dan kecil. Satu biji saja sudah membuatmu
Merasakan rasa asam hingga tidak ingin memakannya lagi, jadi sekarang tidak ada orang yang menanamnya lagi."
Denzel mengangguk sembari mengeluarkan setengah bungkus rokok dari sakunya dengan terampil. Dia mengeluarkan sebatang rokok dan menyerahkannya kepada bos itu, kemudian tersenyum sembari bertanya, "Bos, apakah kamu juga suka makan stroberi?"
Pria paruh baya itu mengambil rokok di tangan Denzel. Tanpa sadar, wajahnya memperlihatkan senyuman. Dia mulai berkata, "Bukan aku yang suka, tapi cucu perempuanku yang sangat suka makan. Stroberi itu tidak tahan untuk disimpan, jadi aku harus sering-sering pergi ke beberapa toko buah di kota dan membeli stroberi yang dikirim dari luar negeri secara khusus untuk cucu perempuanku."
Setelah berbicara, pria paruh baya
Itu menghela napas. Dia berkata, "Kalau dihitung-hitung, stroberi itu harganya enam ribu per biji! Itu karena cucu perempuanku suka memakannya, kalau tidak, aku tidak akan menghabiskan uang sebanyak itu untuk membeli sebiji stroberi yang sangat kecil."
Arvin mengerutkan sudut bibirnya dengan erat sembari melihat Denzel memasukkan kembali kotak rokok itu ke dalam sakunya. Denzel berkata pada pria paruh baya itu dengan dengan ekspresi tenang, "Bos, cucu perempuanmu sangat beruntung karena memiliki seorang kakek yang begitu menyayanginya."
Pria itu tersenyum bahagia, dia merasa bahwa pemuda di depannya cukup baik. Pria itu berkata, "Nak, aku melihat bahwa kamu orang yang cukup baik, jadi aku ingin menyarankanmu untuk tidak menanam stroberi. Lebih baik kamu menanam sayuran yang cocok dengan iklim yang ada di sini, seperti wortel, selada batang dan lobak."
"Meskipun harga satuannya cukup rendah, semua itu sangat tahan untuk disimpan dan juga mudah ditanam.
Risikonya pun sangat rendah."
Denzel mengangguk setuju. "Benar sekali." Setelah berkata, dia mengerutkan kening dan kemudian mengalihkan topik pembicaraan. "Tapi, ada banyak orang yang menanam sayuran-sayuran itu. Persaingannya terlalu kuat dan mudah menimbulkan konflik, jadi aku masih ingin mencoba untuk menanam stroberi."
Alasan utama Denzel adalah karena dia sangat membutuhkan uang saat ini, tanah di ruang angkasa juga sangat terbatas. Bahkan jika Denzel menaikkan harga wortel, selada batang dan lainnya, dia juga tidak bisa menghasilkan banyak uang.
Senyuman di wajah pria paruh baya itu pun membeku ketika mendengar kata-kata Denzel.
Orang ini sebenarnya sudah mengerti prinsipnya, tapi tidak mau mendengar kata-katanya, 'kan?
Pria paruh baya itu mencoba untuk menasihati Denzel yang keras kepala itu, "Nak, aku sudah membuka toko ini begitu lama. Aku pasti tahu lebih banyak darimu, tempat ini benar-benar tidak cocok untuk menanam stroberi."
Denzel tersenyum sembari berkata dengan tulus, "Terima kasih karena sudah memperingatkanku. Kalau begitu, jual saja beberapa bungkus benih stroberi itu kepadaku."
Hari ini, Denzel datang untuk
membeli benih stroberi, tapi dia juga mendapatkan beberapa informasi tentang situasi pasar dari bos itu. Sekarang, Denzel hanya perlu membawa pulang benih stroberi itu dan menanamnya agar bisa menumbuhkan stroberi, lalu menjualnya.
Bos itu kehabisan kata-kata.