Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.
Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.
Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.
Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.
⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memutus Sinyal Rasa Sakit
Udara di dalam rumah kayu itu terasa berbeda pagi ini.
Biasanya, aroma tanah basah dan ubi rebus yang mendominasi.
Namun hari ini, aroma itu terusir paksa oleh wewangian ratus, dupa keraton yang manis, berat, dan mencekik.
Sekar Ayu berdiri di tengah ruang tamu sempitnya sendiri.
Ia tidak lagi mengenakan baju katun longgar yang nyaman.
Tubuhnya kini dibalut kain jarik motif Parang Rusak yang dililit begitu ketat hingga membatasi volume pengembangan paru-parunya.
"Napas, Mbak Sekar," suara Bu Sasmi terdengar dari sudut ruangan, setajam irisan silet. "Jangan seperti kerbau membajak sawah. Napas itu tidak boleh terlihat di dada. Simpan di perut."
Sekar menahan keinginan untuk memutar bola matanya.
Diafragma, batin Sekar mengoreksi. Dia ingin aku melakukan pernapasan diafragma murni untuk menyembunyikan pergerakan tulang rusuk.
"Nggih, Bu Sasmi," jawab Sekar pelan.
Bu Sasmi berjalan mengelilingi Sekar. Langkah kakinya di atas lantai tanah yang dipadatkan hampir tidak terdengar.
Wanita paruh baya itu memegang kipas cendana lipat. Sesekali, ujung kipas itu menyentuh bahu Sekar, mengoreksi postur yang menurutnya 'kurang simetris'.
"Hari ini, kita mulai dengan hal paling dasar," ujar Bu Sasmi, berhenti tepat di depan Sekar.
Dia menunjuk ke arah meja rendah di sudut ruangan.
Di sana, seperangkat alat minum teh porselen putih tulang sudah tertata rapi.
Uap panas mengepul dari teko, menandakan air di dalamnya baru saja mendidih 100 derajat Celcius.
"Duduk," perintah Bu Sasmi.
Sekar melangkah mendekat. Dia hendak menekuk lututnya untuk duduk bersila.
"Ah!" Bu Sasmi mendecakkan lidah keras. "Siapa yang mengajari Njenengan duduk seperti preman pasar begitu?"
Mata Bu Sasmi memicing jijik.
"Di hadapan Ngarsa Dalem atau Gusti Ratu, wanita tidak punya tulang punggung yang boleh bersandar. Kaki harus terlipat sempurna di bawah pinggul. Timpuh."
Duduk timpuh. Posisi duduk di mana kaki dilipat ke belakang dan bokong menumpu di atas tumit.
Bagi orang awam, posisi ini adalah siksaan jika dilakukan lebih dari sepuluh menit.
Aliran darah akan terhambat, memicu parestesia, kesemutan, dan nyeri sendi lutut.
Sekar menarik napas panjang. Dia menurunkan tubuhnya perlahan.
Analisis Biomekanika: Aktifkan.
Sekar tidak sekadar menjatuhkan pantatnya ke tumit.
Dalam benaknya, dia memvisualisasikan struktur rangka tubuhnya.
Vertebrae, Tulang belakang harus tegak lurus dari Cervical C1 hingga Lumbar L5.
Pusat gravitasi harus dipusatkan di panggul, bukan dibebankan sepenuhnya ke lutut.
Sekar mengatur sudut kemiringan panggulnya.
Dia mengaktifkan otot inti perut bagian dalam untuk menopang berat badan bagian atas, sehingga beban yang diterima oleh tumit dan lutut berkurang 30%.
Dia duduk dengan gerakan fluida. Halus. Tanpa suara.
Punggungnya tegak lurus seolah ada benang tak kasat mata yang menarik ubun-ubunnya ke langit-langit.
Bu Sasmi, yang sudah siap melontarkan celaan, terdiam sejenak.
Alis tebal wanita itu berkerut. Dia mencari celah.
"Dagu," tegur Bu Sasmi dingin. "Terlalu naik. Njenengan mau menantang langit?"
Sekar menurunkan dagunya dua sentimeter. Presisi.
"Tangan," lanjut Bu Sasmi. "Letakkan di atas paha. Jari-jari harus rapat seperti kuncup bunga melati. Jangan menyebar seperti cakar ayam."
Sekar menyatukan jari-jarinya.
Bu Sasmi tersenyum miring. Ini baru permulaan. Dia mengambil teko porselen itu.
Air di dalamnya benar-benar mendidih. Uapnya saja sudah cukup membuat kulit wajah terasa lembap.
Bu Sasmi menuangkan teh hijau pekat itu ke dalam cangkir kecil tanpa telinga, cawan.
Dia mengisinya hingga bibir cangkir. Nyaris tumpah.
Tidak ada gula.
"Minum," perintah Bu Sasmi. "Habiskan dalam tiga tegukan. Tidak boleh ditiup. Tidak boleh bersuara. Dan..."
Mata Bu Sasmi berkilat kejam.
"...tidak boleh ada satu tetes pun yang tumpah ke nampan. Jika tumpah, kita ulang dari awal. Dengan air yang baru mendidih lagi."
Ini bukan pelajaran tata krama. Ini penyiksaan fisik.
Cangkir itu terbuat dari porselen tipis. Konduktivitas termal keramik cukup tinggi.
Tanpa gagang, panas dari air 90-100 derajat itu akan langsung merambat ke dinding luar cangkir.
Memegang cangkir itu sama saja memegang bara api.
Sekar menatap cairan hijau pekat itu.
Di kehidupan sebelumnya, sebagai ilmuwan lab, dia terbiasa memegang tabung reaksi panas atau peralatan sterilisasi. Tapi tubuh gadis desa ini...
Tunggu.
Sekar mengingat memori otot tubuh aslinya. Gadis desa ini terbiasa mencabut singkong, membelah kayu bakar, dan mengangkat panci panas dari tungku tanah liat.
Ujung-ujung jari gadis ini memiliki lapisan epidermis yang menebal. Calluses. Kapalan.
Lapisan kulit mati yang tebal adalah isolator panas alami yang cukup baik.
"Kenapa diam?" desak Bu Sasmi. "Menunggu disuapi?"
Sekar mengulurkan tangan kanannya. Gerakannya lambat namun stabil.
Sistem saraf parasimpatik, stabilkan detak jantung, perintah otak Sekar. Jangan biarkan adrenalin memicu tremor pada tangan.
Jari telunjuk dan ibu jari Sekar menyentuh bibir cangkir, bagian yang paling tidak panas karena kontak dengan udara.
Namun, untuk mengangkatnya, dia harus menopang bagian bawah cangkir dengan jari tengah.
Srett.
Panas menyengat langsung menyerang ujung saraf di jari tengahnya.
Rasanya seperti ditempel setrika.
Wajah Bu Sasmi menyiratkan kepuasan sadis.
Dia menunggu Sekar memekik kaget dan menjatuhkan cangkir mahal itu. Itu akan menjadi alasan sempurna untuk melaporkan ketidakbecusan Sekar pada GKR Dhaning.
Tapi Sekar tidak bergeming.
Wajahnya sedingin es batu, kontras dengan panas yang membakar kulitnya.
Di dalam kepalanya, Sekar memutus sinyal rasa sakit dari reseptor saraf tepi menuju otak.
Dia menganggap rasa panas itu hanya sebagai data.
Input termal: Tinggi. Kerusakan jaringan: Minimal. Toleransi: Masih dalam batas aman.
Sekar mengangkat cangkir itu.
Air teh berguncang sedikit, menciptakan gelombang kecil di permukaan, tapi tegangan permukaannya menahan air itu agar tidak tumpah.
Tangan Sekar stabil. Tidak bergetar satu milimeter pun.
Dia mendekatkan bibir cangkir ke mulutnya. Uap panas menerpa hidung.
Tanpa meniup, karena itu melanggar etika keraton, Sekar memiringkan cangkir.
Cairan panas itu mengalir masuk.
Lidah manusia biasanya terbakar pada suhu di atas 60 derajat. Teh ini setidaknya masih 80 derajat.
Sekar menggunakan teknik aerasi mikro.
Dia membuka sedikit celah di antara bibir dan gigi, membiarkan udara luar ikut terhisap bersama cairan teh.
Udara itu mendinginkan cairan secara instan sebelum menyentuh lidah bagian belakang.
Slurp (Tanpa suara).
Tegukan pertama.
Panas menjalar di kerongkongan. Tapi wajah Sekar tetap datar.
Dia menurunkan cangkir sejenak, tapi tidak meletakkannya. Jari tengahnya masih menempel pada dasar cangkir yang membara.
Bu Sasmi menahan napasnya sendiri, matanya membelalak tak percaya.
Bagaimana bisa? batin Bu Sasmi. Cangkir itu seharusnya melepuhkan kulit halusnya.
Tegukan kedua.
Sekar meminumnya dengan keanggunan seorang putri raja yang bosan, bukan gadis desa yang kesakitan.
Tegukan ketiga. Habis.
Sekar meletakkan kembali cangkir kosong itu ke atas nampan.
"Ting."
Bunyi sentuhan keramik dengan nampan kayu terdengar sangat pelan. Hampir tidak ada.
Sekar menarik tangannya kembali ke atas paha, menyatukan jari-jarinya kembali seperti kuncup melati.
Ujung jari tengah, telunjuk, dan ibu jarinya memerah parah. Kulitnya sedikit melepuh.
Tapi ekspresi Sekar tetap tenang, seolah dia baru saja minum air es.
Hening.
Hanya suara burung perkutut dari kejauhan yang mengisi kekosongan di ruangan itu.
Bu Sasmi menatap cangkir kosong, lalu menatap wajah Sekar.
Dia mencari tanda-tanda air mata, keringat dingin, atau bibir yang gemetar menahan tangis.
Nihil.
Gadis di depannya ini duduk tegak seperti patung batu.
Keringat memang mengalir di pelipis Sekar, tapi napasnya teratur. Ritmis.
"Apakah... ada yang salah dengan cara minum saya, Bu Sasmi?" tanya Sekar lembut.
Suaranya halus, sopan, namun memiliki getaran dingin yang membuat bulu kuduk Bu Sasmi meremang.
Bu Sasmi berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya yang mendadak runtuh.
"Lumayan," katanya kaku, suaranya sedikit tercekat.
"Untuk pemula, lumayan. Tapi caramu meletakkan cangkir masih terlalu kasar. Bunyinya masih terdengar."
Itu alasan yang dicari-cari. Sekar tahu itu.
"Nggih. Saya akan belajar lebih giat lagi," jawab Sekar, menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat palsu.
"Kaki," sergah Bu Sasmi lagi, mencoba menyerang dari sudut lain. "Kakimu pasti sudah kesemutan. Jangan pura-pura kuat. Kalau mau luruskan kaki, bilang. Jangan sampai Njenengan lumpuh dan menyalahkan saya."
Sekar tersenyum tipis.
Sudah lima belas menit dia dalam posisi timpuh.
Asam laktat memang mulai menumpuk di otot quadriceps-nya. Aliran darah di popliteal artery, belakang lutut memang tertekan.
Namun, Sekar secara berkala melakukan kontraksi isometrik, menegangkan dan mengendurkan otot betis secara mikroskopis tanpa mengubah posisi duduk, untuk memompa darah kembali ke jantung.
"Boten, Bu," jawab Sekar santai. "Saya masih nyaman. Di desa, saya biasa jongkok berjam-jam mencari kutu beras. Duduk seperti ini rasanya... mewah."
Jawaban itu menohok logika Bu Sasmi.
Wanita tua itu mendengus kesal. Rencananya untuk membuat Sekar menangis di jam pertama gagal total.
"Baiklah. Kalau begitu, tetap duduk di situ," perintah Bu Sasmi sambil berdiri dan merapikan kain batiknya.
"Saya mau ke kamar kecil sebentar. Jangan ubah posisimu satu inchi pun. Saya akan tahu kalau Njenengan bergerak."
Bu Sasmi membalikkan badan dan berjalan menuju bagian belakang rumah.
Langkah kakinya terdengar lebih berat dari sebelumnya, tanda frustrasi.
Begitu punggung Bu Sasmi menghilang di balik tirai pintu, bahu Sekar turun satu sentimeter.
Dia menghembuskan napas panjang lewat mulut, membuang panas tubuh yang terperangkap.
Matanya melirik jari-jarinya yang memerah.
Luka bakar derajat satu. Epidermis rusak ringan. Butuh pendinginan segera.
Sekar tidak bisa masuk ke Ruang Spasial sekarang. Terlalu berisiko. Bu Sasmi bisa kembali kapan saja.
Dia hanya memejamkan mata sejenak, memfokuskan pikirannya.
Dia membayangkan air dingin dari sungai di dalam Ruang Spasialnya mengalir membungkus jari-jarinya.
Sugesti psikologis untuk meredam nyeri. Placebo effect.
Ketika dia membuka mata kembali, tatapannya bukan lagi tatapan gadis desa yang pasrah.
Itu tatapan seorang predator yang sedang mempelajari pola perilaku mangsanya.
"Data diperoleh," gumam Sekar nyaris tanpa suara.
"Subjek: Bu Sasmi. Metode: Intimidasi fisik berkedok tradisi. Kelemahan: Tidak siap menghadapi anomali data."
Sekar menyeringai tipis. Jari-jarinya memang sakit, tapi mentalnya justru semakin tajam.
Jika GKR Dhaning berpikir secangkir teh panas bisa meluluhkan seorang Profesor Bio-hayati yang pernah menghabiskan 48 jam non-stop berdiri di lab isolasi virus...
Maka sang Putri salah besar memilih lawan.
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
borongan
kena banget jebakan sekar buat rangga😄