Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!
Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.
Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.
Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.
Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika masa lalu kembali mengganggu
Seminggu berlalu sejak Dev dan Mayra memutuskan untuk membuat pernikahan mereka nyata.
Seminggu yang terasa seperti fase bulan madu, meskipun mereka sudah secara teknis menikah selama hampir sebulan.
Kehidupan mereka berubah menjadi lebih... intim. Tidak ada lagi kamar terpisah. Mereka tidur bersama setiap malam, bangun dalam pelukan satu sama lain setiap pagi. Dev masak sarapan sambil Mayra duduk di kursi tinggi dengan kopi, mengobrol tentang rencana hari itu. Mereka makan siang bersama setidaknya dua kali seminggu. Dan setiap malam, mereka akan menghabiskan waktu bersama, menonton TV, atau hanya berbincang, atau bekerja berdampingan dalam keheningan yang nyaman.
Mayra tidak pernah merasa sebahagia ini.
Bahkan hubungannya dengan Arman selama tiga tahun tidak pernah membuatnya merasa sepenuh ini.
Dengan Dev, semuanya terasa... benar. Alami. Mudah.
Sampai Jumat sore itu.
Mayra sedang di kantor, menyelesaikan detail untuk pernikahan klien besok, saat ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.
Mayra ragu-ragu sebelum akhirnya mengangkat. "Halo?"
"Mayra? Ini Nyonya Puspita."
Mayra membeku. Ibu Arman. Kenapa dia menelepon?
"Nyonya Puspita," sapa Mayra dengan hati-hati. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Mayra, aku mohon... bisakah kita bertemu? Ada sesuatu yang sangat penting yang perlu aku bicarakan denganmu. Tentang Arman," suara Nyonya Puspita terdengar... putus asa? Khawatir?
Mayra menghela napas. "Nyonya, dengan hormat, saya rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan tentang--"
"Tolong, Mayra. Ini soal hidup matinya. Genting," potong Nyonya Puspita dengan suara yang bergetar. "Aku tidak akan minta kalau ini tidak mendesak. Tolong. Hanya lima belas menit."
Mayra terdiam. Ada sesuatu di suara Nyonya Puspita yang membuatnya tidak bisa langsung menolak.
"Baik. Lima belas menit. Di mana?"
"Kafe Monopole, jam 5 sore? Aku akan tunggu di sana."
"Baik. Saya akan ke sana," kata Mayra sebelum menutup telepon.
Dia langsung mengirim pesan ke Dev:
"Nyonya Puspita minta ketemu. Dia bilang ada sesuatu mendesak tentang Arman. Aku akan ke Kafe Monopole jam 5. Jangan khawatir, hanya mendengarkannya selama 15 menit."
Balasan Dev datang cepat:
"Aku tidak suka ini. Tapi kalau kamu merasa perlu, pergi saja. Tapi aku jemput kamu setelahnya. Bagikan lokasimu."
"Akan kulakukan. Aku cinta kamu."
"Aku juga cinta kamu. Hati-hati."
Mayra tersenyum membaca "aku cinta kamu" itu. Mereka baru mulai mengucapkan kata-kata itu beberapa hari lalu, dan setiap kali mengatakan nya tetap membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
***
Jam 5 sore, Mayra tiba di Kafe Monopole, kafe yang nyaman dan relatif sepi di kawasan Menteng.
Nyonya Puspita sudah ada di sana, duduk di meja pojok. Wanita yang biasanya selalu sempurna dengan riasan dan pakaian desainer kali ini terlihat... kacau. Riasan minimal, rambut tidak rapi, mata sembab. Jelas dia sudah banyak menangis.
"Mayra, terima kasih sudah datang," kata Nyonya Puspita sambil berdiri, seolah mau memeluk Mayra tapi ragu.
Mayra hanya mengangguk sopan dan duduk di seberangnya. "Anda bilang ada sesuatu yang mendesak?"
Nyonya Puspita duduk kembali dengan tangan gemetar. Dia mendorong foto di atas meja ke arah Mayra.
Mayra meraih foto itu dan membeku.
Sosok Arman terbaring di rumah sakit. Dengan berbagai selang dan monitor terpasang. Terlihat sangat kurus dan pucat.
"Apa yang terjadi?" tanya Mayra dengan terkejut meskipun dia berusaha keras untuk tidak peduli.
"Dia... dia mencoba bunuh diri, Mayra," suara Nyonya Puspita pecah. "Seminggu lalu karena overdosis pil tidur. Kalau pembantu tidak menemukannya tepat waktu, dia sudah..."
Nyonya Puspita tidak bisa melanjutkan, menangis di atas meja.
Mayra merasakan dadanya sesak. Apapun yang Arman lakukan, dia tidak mengharapkan ini untuknya. Bunuh diri itu...
"Saya... saya turut prihatin mendengar itu, Nyonya. Tapi saya tidak mengerti kenapa Anda memberitahu saya ini," kata Mayra dengan hati-hati.
Nyonya Puspita menatap Mayra dengan mata yang merah dan bengkak. "Karena kamu satu-satunya yang dia panggil. Bahkan di ICU, saat dia setengah sadar, dia terus menyebut namamu. 'Mayra, maafkan aku. Mayra, aku mencintaimu.' Terus-menerus."
Mayra merasakan sesuatu yang tidak nyaman di perutnya.
"Mayra, aku tahu apa yang Arman lakukan padamu. Aku tahu dia selingkuh, aku tahu dia mengkhianatimu. Dan aku tidak meminta kamu untuk memaafkannya atau kembali padanya," lanjut Nyonya Puspita dengan cepat. "Tapi aku meminta, sebagai ibu yang putus asa... bisakah kamu mengunjunginya? Hanya sekali. Untuk penutupan. Supaya dia bisa melanjutkan hidup dan... dan tidak mencoba ini lagi."
"Nyonya Puspita--"
"Aku mohon, Mayra. Sebagai ibu. Aku tidak bisa kehilangan anakku. Dia satu-satunya yang aku punya. Tolong," perempuan itu hampir memohon sekarang, tangannya meraih tangan Mayra di atas meja.
Mayra menarik napas panjang. Ini rumit. Sangat rumit.
"Saya... saya perlu pikir dulu. Dan bicara dengan Dev," kata Mayra akhirnya.
"Dev tidak akan mengizinkan. Aku tahu. Tapi Mayra, tolong. Ini bukan tentang romansa atau rekonsiliasi. Ini tentang mencegah anakku dari... dari mencoba lagi," suara Nyonya Puspita putus asa.
Mayra merasakan konflik yang besar di dalam dirinya.
Di satu sisi, dia sudah melanjutkan hidup. Dia bahagia dengan Dev. Dia tidak berhutang apapun pada Arman.
Di sisi lain... dia bukannya tidak berperasaan. Dia tidak ingin seseorang mati, bahkan jika orang itu adalah Arman.
"Saya akan pertimbangkan. Tapi saya tidak bisa berjanji apapun," kata Mayra akhirnya.
Nyonya Puspita mengangguk dengan putus asa. "Itu sudah cukup. Terima kasih, Mayra. Terima kasih."
Setelah beberapa menit percakapan canggung lagi, Mayra akhirnya pamit. Dia keluar dari kafe dengan kepala pusing dan hati yang berat.
Dev sudah menunggu di parkiran dengan Bentley-nya. Saat melihat ekspresi Mayra, dia langsung turun dan menghampiri.
"Hei, ada apa? Kamu terlihat pucat," kata Dev sambil memegang bahu Mayra dengan khawatir.
"Arman... dia mencoba bunuh diri minggu lalu. Overdosis obat katanya. Sekarang di rumah sakit," kata Mayra dengan suara pelan.
Dev membeku. "Apa?"
Mayra menceritakan semuanya: foto yang Nyonya Puspita tunjukkan, permintaan untuk mengunjungi, semuanya.
Dev mendengar dengan ekspresi yang semakin keras.
"Sama sekali tidak," kata Dev dengan tegas setelah Mayra selesai. "Kamu tidak akan mengunjunginya."
"Dev--"
"Mayra, ini manipulasi. Puspita mencoba membuatmu merasa bersalah agar mau melihat Arman. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi," kata Dev dengan tegas.
"Dev, aku tahu. Aku tahu ini bisa jadi manipulasi. Tapi bagaimana kalau bukan? Bagaimana kalau dia benar-benar dalam kondisi seburuk itu dan--"
"Dan apa? Kamu bertanggung jawab atas kesehatan mentalnya? Kamu bertanggung jawab atas pilihannya? Tidak, Mayra. Tidak," potong Dev.
"Aku tahu aku tidak bertanggung jawab! Tapi aku juga bukannya tidak berperasaan, Dev!" kata Mayra dengan frustrasi. "Aku tidak mau seseorang mati karena... karena aku."
"Ini BUKAN karena kamu," kata Dev sambil memegang wajah Mayra, memaksa Mayra menatap matanya. "Pilihan Arman adalah miliknya sendiri. Dia yang mengkhianatimu. Dia yang kehilanganmu. Konsekuensi dari itu adalah tanggung jawabnya, bukan tanggung jawabmu."
"Tapi--"
"Mayra, dengarkan aku," kata Dev dengan serius. "Kalau kamu mengunjunginya, dia akan menganggap itu sebagai tanda bahwa masih ada harapan. Dia akan berusaha lebih keras untuk mendapatkanmu kembali. Dia tidak akan melepaskanmu. Dan itu akan membuat semuanya lebih buruk, bukan lebih baik."
Mayra tahu Dev benar. Secara logika, dia tahu itu.
Tapi secara emosional... ada rasa bersalah yang terus menggerogoti hatinya.
"Aku... aku perlu waktu untuk berpikir," kata Mayra akhirnya.
Dev menatapnya dengan tatapan yang tidak terbaca, lalu menghela napas. "Baik. Pikirkan. Tapi Mayra, tolong... jangan biarkan rasa bersalah mendikte keputusanmu. Pikirkan apa yang terbaik untukmu. Untuk kita."
Mayra mengangguk dan membiarkan Dev membimbingnya ke mobil.
Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan yang tidak nyaman, untuk pertama kalinya sejak mereka memutuskan untuk membuat ini nyata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
menunggu mu update lagi