NovelToon NovelToon
ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Wanita perkasa / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

"Mencintai bukan hanya soal memiliki, tapi soal memastikan duniamu tetap berputar saat kamu tak lagi ada di sana."

Canida punya segalanya: karir cemerlang sebagai penulis best-seller, suami suportif seperti Alfandy, dan dua anak yang menjadi pusat semestanya. Namun, sebuah amplop putih mengubah hidupnya menjadi nightmare dalam semalam. Vonis kanker serviks stadium lanjut datang tanpa permintaan maaf, merenggut semua rencana masa depannya.

Di tengah rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuhnya, Nida tidak takut mati. Ia hanya takut akan satu hal: Kekosongan. Ia takut anak-anaknya kehilangan arah, dan suaminya kehilangan pegangan akidah.

Maka, Nida mengambil keputusan paling gila dan paling menyakitkan yang pernah dipikirkan seorang istri: Mencarikan calon istri untuk suaminya sendiri.

Di satu sisi, ada Anita, ipar ambisius dan manipulatif siap mengambil alih posisinya demi harta. Di sisi lain, ada Hana, wanita tulus yang Nida harap bisa jadi "pelindung surga" bagi keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Kecurigaan Fandy

Malam itu, setelah kunjungan ke panti asuhan, rumah yang seharusnya menjadi tempat istirahat justru terasa panas oleh aura yang tak kasatmata. Nida duduk di tepi ranjang, tangannya gemetar saat mencoba membuka botol obatnya. Kepalanya berdenyut, dan bayangan senyum Hana yang tulus terus berputar di benaknya, memberikan rasa tenang sekaligus perih yang tak tertahankan. Namun, di sisi lain ruangan, Fandy berdiri mematung di dekat jendela, menatap kegelapan malam dengan punggung yang kaku seperti tembok karang.

"Mas, kamu tidak ingin bicara sesuatu tentang hari ini?" tanya Nida lembut, memecah keheningan yang menyesakkan.

Fandy berbalik perlahan. Matanya tidak lagi menunjukkan kesedihan, melainkan sebuah kilat kecurigaan yang selama ini ia tekan. "Bicara tentang apa, Nida? Tentang betapa sempurnanya skenariomu hari ini? Tentang betapa kebetulannya Hana ada di sana, menjadi pahlawan di depan anak-anak, dan menunjukkan sisi malaikatnya tepat di depan mataku?"

Nida tertegun. "Mas, itu bukan skenario. Hana memang sering di sana..."

"Cukup, Nida!" Fandy melangkah mendekat, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Aku mengenalmu. Kamu adalah seorang penulis. Kamu adalah ahli dalam membangun alur cerita. Tapi aku ini suamimu, bukan tokoh dalam novelmu yang bisa kamu gerakkan sesuka hati ke arah mana pun yang kamu mau!"

"Aku hanya ingin kamu mengenalnya, Mas! Apa itu salah?" suara Nida mulai meninggi, meski dadanya terasa sesak.

"Mengenalnya atau memaksaku mencintainya?" potong Fandy dengan nada sinis yang menyakitkan. "Setiap gerak-gerikmu, setiap kata-katamu hari ini seolah-olah sedang mengiklankan dia padaku. Kamu memuji dia di setiap kesempatan, kamu membiarkan Syauqi menempel padanya seolah-olah dia sudah sah menjadi ibunya. Kamu sedang mencoba 'mengusirku' dari hatimu sendiri, Nida. Kamu sedang mendorongku ke pelukan wanita lain bahkan saat kamu masih bernapas di sampingku!"

Air mata Nida luruh. "Aku melakukannya karena aku mencintaimu, Fandy! Karena aku tidak mau kamu jatuh ke tangan Anita! Karena aku takut..."

"Takut apa? Takut Allah tidak bisa menjaga aku dan anak-anak tanpa bantuan rencanamu?" Kalimat Fandy menghujam tepat di ulu hati Nida. "Kamu bilang ini soal iman, soal akidah. Tapi aku mulai curiga, ini semua adalah cara kamu untuk melarikan diri dari rasa sakitmu. Kamu ingin aku segera punya pengganti supaya kamu tidak merasa bersalah saat kamu pergi. Kamu egois, Nida!"

Nida ternganga. Kata 'egois' terasa seperti tamparan yang paling keras yang pernah ia terima selama lima belas tahun pernikahan mereka. Ia merasa seluruh pengorbanannya, seluruh upaya membunuh perasaannya sendiri, justru dianggap sebagai sebuah pelarian.

"Egois?" bisik Nida dengan suara pecah. "Kamu bilang aku egois? Aku sedang bertarung dengan rasa cemburuku setiap detik, Mas! Aku harus membayangkan kamu memegang tangannya, kamu tersenyum padanya, kamu berbagi hidup dengannya kelak. Kamu pikir itu mudah bagiku? Aku melakukannya agar Syabila tidak kehilangan arah, agar Syauqi tetap menjadi anak yang saleh! Kalau itu kamu sebut egois, maka biarlah aku menjadi wanita paling egois di dunia!"

Nida terbatuk hebat, pendarahan kecil kembali terjadi dan ia harus menutupi mulutnya dengan sapu tangan. Fandy yang melihat itu sejenak ragu, tangannya bergerak ingin merangkul, namun amarah dan harga diri yang terluka menahannya. Ia merasa seperti objek eksperimen spiritual istrinya sendiri.

"Kamu terlalu sering menjodoh-jodohkan aku dengan dia, Nida. Hingga aku mulai merasa Hana bukan lagi orang asing yang baik, tapi ancaman bagi kenanganku tentangmu," Fandy mengambil bantal dan selimutnya. "Malam ini aku tidur di ruang kerja. Aku butuh ruang untuk bernapas tanpa ada bayangan 'istri pengganti' yang kamu jejalkan ke kepalaku."

Pintu kamar tertutup dengan dentuman pelan namun berbekas dalam. Nida jatuh tersungkur di atas sajadahnya. Ia menangis sejadi-jadinya, meratapi hubungannya yang kian menegang justru di saat-saat terakhirnya. Kecurigaan Fandy adalah duri yang tidak ia perkirakan akan sedalam ini menusuk. Ia menyadari bahwa strateginya mungkin terlalu agresif, terlalu terang-terangan hingga melukai martabat Fandy sebagai seorang pria yang merasa cintanya sedang disepelekan.

Keesokan harinya, kecurigaan Fandy justru mendapat "makanan" baru. Tanpa sepengetahuan Nida, Anita mengirimkan sebuah amplop cokelat ke kantor Fandy. Di dalamnya terdapat catatan transfer dana dari rekening Nida ke rekening pribadi Hana. Anita ingin membangun narasi bahwa Hana adalah wanita bayaran yang disewa Nida untuk menggoda Fandy.

Fandy yang sedang dalam kondisi emosional yang labil, melihat bukti transfer itu dengan mata yang memerah. Ia tidak tahu bahwa uang itu adalah royalti naskah Hana yang memang dititipkan lewat rekening Nida karena Hana belum memiliki rekening bank yang aktif saat itu. Bagi Fandy, ini adalah bukti final bahwa segalanya adalah *settingan*.

Ia pulang ke rumah dengan amarah yang mendidih. "Ini apa, Nida?" Fandy melemparkan bukti transfer itu ke meja makan di depan Nida.

Nida membacanya dengan bingung. "Itu royalti buku Hana, Mas. Dia ikut menyumbang cerpen di antologi yang aku susun..."

"Jangan buat alasan lagi!" bentak Fandy. "Kamu membayarnya untuk mendekatiku? Kamu membayarnya untuk berakting baik di depan anak-anak kita? Seberapa rendah kamu menilai aku, Nida? Sampai-sampai kamu merasa perlu menyewa seorang wanita untuk mengambil alih posisimu?"

Nida mencoba berdiri, namun kepalanya berputar hebat. "Mas, demi Allah, kamu salah paham. Anita pasti yang mengirimkan ini. Dia ingin menghancurkan kepercayaanmu padaku dan Hana!"

"Cukup bawa-bawa nama Anita! Masalahnya bukan Anita, tapi kamu yang sudah kehilangan akal sehat karena penyakitmu!" Fandy menepis tangan Nida yang mencoba meraihnya.

Di tengah ketegangan itu, ponsel Nida berdering. Sebuah panggilan dari Hana. Hana terdengar menangis di telepon, mengatakan bahwa ada orang-orang yang mendatangi yayasannya dan menuduhnya sebagai perusak rumah tangga orang. Ternyata Anita sudah mulai melancarkan serangan fitnahnya secara serentak.

Nida menatap Fandy dengan sisa kekuatannya. "Hana sedang dalam masalah, Mas. Dia difitnah karena aku. Karena niat baikku yang salah di matamu. Tolong, jangan biarkan orang baik hancur karena kekacauan kita."

Fandy hanya menatap Nida dengan pandangan dingin yang asing. Ia merasa dikelilingi oleh jaring laba-laba kebohongan. "Aku tidak tahu lagi mana yang jujur dan mana yang naskah, Nida. Kamu telah membuat rumah ini menjadi panggung sandiwara yang paling menyakitkan."

Fandy pergi meninggalkan rumah, mengabaikan Syauqi yang ketakutan di balik pintu dapur. Nida jatuh pingsan di lantai ruang tamu, tubuhnya tak lagi sanggup menanggung beban emosi yang melampaui batas fisiknya. Puncak kecurigaan Fandy telah meruntuhkan benteng terakhir pertahanan Nida, meninggalkan luka yang mungkin tak akan sempat sembuh sebelum maut menjemput. Di tengah ketidaksadarannya, Nida hanya bisa berharap bahwa kebenaran akan menemukan jalannya sendiri, meski ia harus membayarnya dengan harga yang paling mahal: kebencian dari pria yang paling ia cintai.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!