Helena kira setelah ia memilih menikah dengan seorang duda beranak 3 dan juga menjadi seorang mualaf kehidupannya akan membaik, namun ia salah, karena setelah menikah pun keluarga dan saudaranya tidak pernah berhenti mengusik kehidupannya belum lagi kedua anak tirinya tidak pernah menyukai keberadaannya bahkan Helena tidak pernah mendengar kata 'mama' keluar dari bibir mereka.
Dan suatu ketika, ia mengetahui niat Farhan menikahi dirinya, bahkan alasan mengapa tidak ada satupun keluarga besar Farhan menyukak dirinya. Hatinya benar-benar terluka, cinta yang tulus ia berikan kepada Farhan ternyata hanya dianggap sampah yang menjijikan olehnya.
Helena bertekad, ia akan membalas semua orang yang melukai hatinya agar mendapatkan hal yang setimpal dengan dirinya, karena mulai saat itu, ia akan berpura-pura menjadi lemah dan memaklumi banyak hal demi bisa membalas semua rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Farhan dan Caela
Farhan tersenyum lebar begitu ia melihat istrinya yang sedang berbaring di ranjang kamarnya. Farhan menutup pintu sangat pelan agar tidak membangunkan istrinya yang sedang tertidur, lalu diam-diam duduk di pinggir ranjang sembari mengelus surai istrinya yang panjang.
Caela yang merasa tidurnya terganggu langsung terbangun, ia sedikit terkejut mendapati Farhan sudah ada di depan matanya, tapi cepat-cepat ia merubah raut terkejutnya menjadi datar.
"Mas kemana saja, sudah seminggu ini mas tidak pernah datang menemuiku," rupanya Caela sedang merajuk karena suaminya yang sudah seminggu ini tidak pernah lagi mengunjungi dirinya, padahal ia yang sudah tinggal di rumah orang tua dari Farhan.
Farhan yang tau istrinya sedang marah pun langsung terkekeh pelan dan mencium pipinya secara bertubi-tubi, gemas melihat istrinya yang semakin hati semakin cantik ini.
"Kamu tambah berisi deh sayang," Farhan baru sadar jika tubuh istrinya tidak sekurus saat ia menikahinya, tubuhnya menjadi lebih berisi dan sehat.
Caela cemberut, "aku gendut ya?" tanyanya sedih karena ia pun merasa jika mood makannya berubah sangat drastis, yang dulu ia akan makan sedikit, kini ia menjadi sangat mudah lapar dan sering makan snack yang di belikan oleh mertuanya saat ia berbelanja.
"Tidak sama sekali, kamu tambah cantik dan juga lucu,"
"Apaan sih mas, gombal," walaupun mulutnya berkata seperti itu, tapi wajahnya tidak bisa berbohong karena pipinya terdapat semburat merah yang cukup jelas.
"Kamu salting loh sama aku," goda Farhan membuat Caela langsung memeluk Farhan dan menyembunyikan wajahnya di bahu sang suami.
"Mas,"
"Ada apa?" tanya Farhan sembari mengelus pelan punggung istrinya.
"Aku punya hadiah untuk kamu,"
Farhan langsung melepaskan pelukannya dan menangkup pipi Helena dengan telapak tangannya, "hadiah apa?" tanya Farhan menahan senyumnya, tentu saja ia senang, jarang-jarang istrinya yang anti romantis ini memberikan ia hadiah karena inisiatif sendiri.
Caela tersenyum lebar, "sebentar, aku ambil dulu hadiahnya, kamu tutup mata ya mas!"
Farhan mengangguk dan langsung memejamkan kedua matanya dengan telapak tangan menutup matanya, Caela sendiri langsung turun dari atas ranjang dan berlari kecil ke arah lemari pakaian.
"Siap ya mas, kamu jangan buka mata dulu loh,"
"Iya, mas tutup mata kok ini," kekeh Farhan mendengar suara langkah kaki Caela yang semakin dekat dengannya.
"Kamu romantis banget sih kasih mas hadiah segala, padahal ulang tahun mas bulan depan loh,"
"Memangnya kasih hadiah ke suami harus tunggu ulang tahun dulu?" tanya Caela sebal.
Farhan kembali terkekeh, "Tidak, tidak, hanya saja mas sangat senang kamu bisa memberikan mas hadiah, dulu kamu paling tidak suka surprise yang sering mas kasih loh, jadi mas sangat senang ketika kamu bilang ada hadiah untuk mas, jarang-jarang loh kamu bersikap romantis sama mas,"
Caela memutar bola matanya malas, ia memang tidak suka memberikan suprise kepada Farhan, menurutnya itu sedikit menjijikkan, tapi masa sekarang tidak ia jadikan hadiah, rugi dong.
"Mas sudah siap?" tanya Caela membawa tangannya di depan wajah Farhan yang tertutup oleh tangannya sendiri.
"Siap, mas selalu siap,"
"Oke, satu, dua, ti-, tiga," teriak Cael di akhir.
Farhan langsung membuka matanya dan menatap telapak tangan Caela yang terdapat benda yang sangat tidak asing untuk untuknya.
Kedua mata Farhan menatap Caela dengan tatapan terkejut, senang, sekaligus tidak percaya, "i-ini kamu b-be-beneran?" tanya Fargan dengan suaranya yang langsung serak.
Caela tersenyum lebar dan mengangguk semangat, "sudah dia bulan, dokter bilang bayinya sehat, karena mamanya akhir-akhir ini makan banyak,"
Farhan langsung memeluk erat istrinya tapi dengan gerakan hati-hati, takut menyakiti anak yanga da di dalam kandungan istrinya.
"Aku senang mendengar ini, aku senang mendapatkan hadiah ini, terima kasih sayang," ucap Farhan mencium dahi istrinya sedikit lama, memberitahunya jika ia benar-benar menyayangi Caela.
***
Freya menatap makanan di atas meja dengan tatapan yang berbinar, banyak sekali makanan kesukaan dirinya yang terhidang di atas meja, bahkan Kenzo yang baru turun dari kamarnya langsung duduk di sebelah adiknya.
"Oma, siapa yang masak semua ini? banyak sekali," tanya Kenzo menatap omanya yang masih sibuk bolak-balik ke dapur dan ruang makan.
"Tentu saja oma dibantu oleh dua bibi di sini, oma tau jika cucu-cucu oma akan datang ke sini, jadi oma sengaja memasak makanan kesukaan cucu oma,"
Freya tersenyum, "Terima kasih oma, aku pasti akan menghabiskan makanan ini semua,"
Sang oma tertawa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa lucu dengan sikap antusias cucunya yang masih belum berubah.
"Hei, kamu tidak lihat aku di sini," ucap Kenzo menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya.
Freya tertawa, "Habisnya aku senang bisa maka menu kesukaan aku lagi di rumah oma dan opa," balas Freya.
"Kenzo," bisik Freya mendekatkan wajahnya ke telinga kakaknya.
"Untungnya, wanita itu sedang tidak enak badan, jadi tidak perlu ikut makan malam di rumah oma dan opa,"
Kenzo mengangguk setuju, ia juga senang karena istri dari papanya itu tidak ikut dengan mereka untuk menginap di rumah oma dan opanya, tidak terbayang bagaimana jika Helena ikut, pasti Freya dan Kenzo akan merenggut sepanjang makan malam melihat kehadiran Helena.
"Di mana papa kalian?" tanya opa yang baru saja datang dan langsung duduk di kursi khusus untuk kepala keluarga besar.
"Sepertinya masih di kamar, tumben loh papa bisa berlama-lama di dalam kamar, biasanya begitu sampai papa akan langsung ke belakang untuk melihat ikan hias peliharaan opa di di ding pembatasan," celetuk Freya yang belum tau apa-apa.
"Benar, papa sedikit aneh hari ini, karena betah menghabiskan waktunya di dalam kamar," tambah Kenzo membenarkan ucapan adiknya.
Opa dan Oma yang mendengarnya hanya terkekeh pelan, sepertinya Farhan memang belum memberitahu putra dan putrinya jika ia sudah menikah lagi tiga bulan yang lalu, rasanya mulut oma sangat gatal ingin memberitahu Freya juga Kenzo, tapi biarlah Farhan sendiri yang memberitahunya, mereka juga sangat yakin jika Freya dan Kenzo akan sangat menyukai Caela, istri papanya sekaligus mama baru mereka.
"Oma, Opa," panggil Freya tiba-tiba.
"Kenapa sayang?" tanya sang oma mempertahankan senyumnya karena ia melihat Farhan dan Caela sedang turun dari tangga hendak makan malam bersama.
"Ima nanti bilang sama papa ya, Freya tidak mau papa menikah lagi, dengan siapa pun, Freya juga ingin agar oma bilang dengan papa, kalau Freya benar-benar sangat tidak menyukai kehadiran istrinya itu, Freya tidak mah punya ibu baru lagi, siapapun, Freya tidak siap ada seseorang yang menggantikan mama Elnara di dalam rumah," ucap Freya tiba-tiba sedih.
Baik oma, opa, bahkan Farhan dan Caela yang sedang turun di tangga langsung diam, mematung. Tidak menyangka jika Freya benar-benar tidak menginginkan seorang ibu baru lagi, siapapun itu.